
Melihat wajah itu adit terkejud seketika dan melangkah mundur, ia mengucek matanya takut salah mengenali seseorang. Namun wajah itu tetep sama.
"Don...doni" Ucap adit terbata, icha pun juga terperangah saat melihat doni.
"Eh kalian rupanya, kalian kaget ya lihat aku jadi tuang sapu jalanan? Ya beginilah nasibku sekarang" Doni sangat malu pada icha, tapi bagaimana lagi, ia ingin mengumpulkan uang untuk pengobatan inge.
"Inge siapa yang nunggu don?" Tanya adit.
"Sama sepupuku" Jawab doni singkat.
"Istrimu?" Tanya icha singkat
"Hahaha, renata? Mana mau dia ngurusin inge. Dia hanya peduli dengan hidupnya sendiri" Icha memandang nanar kearah doni.
"Bawalah ke RS ku bekerja, aku punya teman dokter yang bagus, tidak perlu memikirkan biayanya" Kata adit
"Tidak perlu, aku akan berusaha untuk anakku"
Doni merasa malu saat ini
"Ini kartu namaku, hubungi aku kapan saja, aku akan membantu. Kami permisi" Ucap adit sambil menyerahkan kartu namanya yang diterima oleh doni.
Doni memandang kepergian mereka berdua, ia memandang punggung icha lekat lekat, dia wanita yang pernah dicintainya bahkan sampai saat ini. Ia menyesal telah meninggalkan permata indah seperti icha. Andai waktu dapat diputar, doni tidak akan sudi berbuat hal itu dengan renata. Kalau saja dulu ia menikahi icha, ia yakin hidupnya saat ini bahagia.
"Mas adit kenapa sih bantu bantu gitu" Tanya icha
"Aku nggak tega lihat anaknya aja cha. Kita boleh benci orang tuanya. Tapi tidak dengan anaknya kan" Tutur doni
"Tapi icha nggak suka" Ucapnya sambil tangan dilipat didada.
"Aku hanya akan membantu inge. Aku kan dokter. Kamu percaya sama aku ya" Ucap adit.
Sebenarnya icha juga merasa kasihan pada inge, ia memiliki ibu yang kurang baik padanya, namun disisi lain icha sudah tidak ingin berhubungan dengan doni dan renata.
Satu minggu kemudian
"Icha, buruan yok udah siang" Teriak adit ia sudah di dalam mobil bersiap mengunjungi orang tua icha.
"Iya mass bentar" Jawab icha dari dalam rumah.
"Ngapain aja sih kamu lama banget" Ucap doni yang sedari tadi sudah lama menunggu istrinya.
"Aku kan ngecek semua mas, listrik kompor dan lain lain. Harus aman sebelum ditinggal pergi" Kata icha sambil memakai sabuk pengaman nya.
Ya begitulah para ibu ibu selalu rempong kegika akan bepergian. Apalagi mereka akan menginap di rumah icha. Perjalanan kira kira 2 jam untuk sampai dikampung halaman icha. Sesampainya disana mereka di sambut oleh pak rahmat dan bu milda.
"Assalamualaikum" Kata adit dan icha bersamaan
"Waalaikum salah. Anak ibuk sudah datang. Ibuk kangen sekali sama kamu lo nduk" Tutur bu milda sambil mencium kening putrinya. Icha merangkul bu milda sambil tersenyum
__ADS_1
"Pak" Icha mencium tangan pak rahmat.
"Kamu sehat kan nduk? Adit juga sehat" Tanya pak rahmat
"Sehat pak" Kompak mereka berdua menjawab pak rahmat.
Mereka semua masuk kedalam rumah,
"Langsung makan ya, ibuk sudah siapin makanan kesukaan mu" Bu milda sangat bersemangat.
"Kami ganti baju dulu ya bu nanti langsung makan. Yuk mas" Icha mengajak adit berganti pakaian dulu.
"Ini pertama kali aku masuk kamar mu. Dulu setelah akad nikah aku langsung kabur" Adit terkekeh
"Kamu dulu tuh sengaja menghindari aku ya mas?" Tanya icha penasaran sambil membereskan baju dan berganti pakaian.
"Ya enggak sih, aku memang ada penerbangan kan, tapi aku bersyukur karena bisa meninggalkan mu waktu itu. Siapa coba yang nggak syok lihat pengantin nya jelek" Ucap adit terus terang.
"Yeee, nggak menerima apa adanya" Icha memukul adit dengan guling.
"Aduh sakit, lah salah sendiri kamu jelek dandannya kayak nenek nenek" Adi memukul badan icha dengan bantal
"Sakit, kamu ya. Sini aku pukulin" Ucap icha sambil memukul adit dengan guling. Aditpun tidak mau kalah, ia juga memukul icha.
"Nggak kena. Weeek" Kata icha saat bisa menghindar dari pukulan adit.
"Sini kamu" Adit menarik tubuh icha dan terjatuh pada tubuh adit. Ia mendekap istrinya lalu menggelitiki icha
"Wah pak, lagi buat cucu pak" Ucap polos bu milda.
"Iya buk. Yaudah ayo kita ke meja makan dulu. Bapak ngeri dengernya" Kata pak rahmat yang sedang salah paham.
"Tapi alhamdulilah ya pak berarti mereka rumah tangganya baik baik saja" Tutur bu milda senang.
Di dalam kamar adit dan icha masih tempur,
"Sini aku pukul pantat mas adit biar kecilan" Kata icha sambil memukul pantat suaminya
"Enak aja. Kamu pikir pantat ku segede balon udara?" Icha tertawa.
"Eh mas. Kita kan ditunggu bapak ibu buat makan" Mereka baru ingat.
"Kamu sih ngajakin perang, yasudah ayo keluar" Mereka keluar dan menuju meja makan.
Pak rahmat dan bu milda sudah duduk rapi menunggu anak dan menantunya
"Pak, buk kok belum makan" Tanya icha seraya duduk di samping bu milda, sedangkan adit duduk disamping pak rahmat.
"Iya nunggu kalian selesai nganu" Bu milda melirik kearah pak rahmat dengan wajah memerah
__ADS_1
"Selesai nganu apa buk?" Icha dan adit tampak bingung.
"Sudah, ayo kita makan saja ya. Yuk yuk" Mereka makan bersama. Icha mengambilkan adit nasi dan lauk. Masakan ibu icha memang enak dan tiada duanya. Mereka makan dengan sangat lahap.
Malam harinya mereka duduk duduk di gazebo, adit dan pak rahmat menangkap ikan untuk di bakar, bu milda dan icha sudah menyiapkan bumbu.
"Nah ini sudah dapat" Pak rahmat membawa ikan itu kepada bu milda kemudian di bersihkan dan dibumbui oleh icha dan bu milda, ikan tersebut ditaruh diatas panggangan.
"Wah seru ya pak bisa mancing dikolam sendiri terus bakar bakar ikan gini" Ucap adit
"Iya dong. Makanya kalian sering sering main kesini ya" Pak rahmat senang.
"Nah tuh mas, sering sering kesini. Biar kamu bisa mancing ikan bukan mancing amarah terus" Kata icha sambil membalikkan ikan, pak rahmat dan bu milda saling berpandangan sedikit syok. Aditpun melonggo dengan pernyataan icha.
"Sayang" Adit mengkode icha yang kemudian menoleh, ia menyadari ekspresi bapak dan ibuknya
"Eh, bukan seperti itu pak, buk. Maksud icha karna mas adit ini suka usil orang nya. Icha pernah ditakut takutin hantu kuntilanak sampek nggak bisa tidur. Nyebelin kan pak. Buk" Tutur icha mengadu
"Betul itu dit?" Tanya bapak menyelidik.
"I....iya pak, tapi saya kena batunya juga pak. Mbak kuntinya juga datengin saya pak" Ujar adit terbata sambil wajahnya memelas memohon ampunan pak rahmat.
"Iya pak buk, ekspresi mas adit lucu banget waktu ketakutan, aku sampek ketawa ngakak. Kalau bapak ibu lihat pasti ketawa. Hahahaha" Icha tertawa menceritakan kejadian itu.
"La kamu kok bisa tau ekspresi adit?" Tanya bu milda, semua orang lalu menatap icha.
"Eeh, itu. Sebenernya yang jadi kunti itu aku buk" Icha menggaruk kepalanya.
"Astagfirullah" Bu milda mengelus dada
"Oooh jadi kamu yang jadi kuntilanak. Itu pak, buk. Icha ini juga sering jahilin adit lo" Adit baru tahu ternyata kuntilanak dirumahnya adalah icha, pak rahmat dan bu milda tertawa karena anak dan mantunya ternyata memang serasi
"Ya ampun. Kalian ini sudah menikah kok kelakuanya kayak anak kecil sih. Yaaah ngga apa buat hiburan. Tapi pesan bapak, kalian harus membangun cinta yang kuat, biar tidak tergoyahkan. Dulu bapak juga sering jahilin ibu, tapi justru ibu tambah sayang sama bapak. Kalau bapak nggak ad tuh. Ibumu bingung" Pak rahmat menceritakan kisah nya bersama bu milda.
"Iya pak. Minta doanya ya pak" Kata adit.
Adit merasa bahagia diterima dengan baik di keluarga pak rahmat, keluarga ini penuh dengan kehangatan. Ke esokan harinya, icha akan pulang lagi ke surabaya, adit memasukan tas dan kardus berisi buah mangga kedalam mobil, kebetulan buah mangga di rumah pak rahmat sedang berbuah banyak.
"Jadi merepotkan pak, kami datang tidak membawa apa apa, eh pulang dibawain banyak" Kata adit
"Ya nggak apa to le, kan memang ada. Kalau nggak ada ya bapak nggak bawain." Kata pak rahmat.
"Kamu jaga diri baik baik ya nduk, yang rukun sama adit. Jangan ngusilin adit terus kasihan" Tutur bu milda sambil memegang tangan putrinya.
"Iya ibuk doain icha ya. Bapak ibu juga jaga kesehatan" Icha memeluk bu milda.
"Kami pamit dulu buk, pak. Assalamualaikum" Kata adit. Mereka kemudian masuk kedalam mobil dan perjalanan menuju ke surabaya, ditengah perjalanan handphone adit berbunyi.
Ada telepon dari nomor yang tidak ia kenal.
__ADS_1
"Halo assalamualaikum" Jawab adit
"Waalaikum salam, dit tolong" Kata seseorang dalam telepon itu