Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 71


__ADS_3

Setelah menyetujui dengan adanya perawat dirumah, merekapun beristirahat.


Keesokan paginya sekitar pukul 06 pagi perawat tersebut sudah datang kerumah.


"Assalamualaikum" Ucap santi sambil mengetuk pintu rumah.


"Waalaikum salam" Icha membukakan pintu, terlihat seorang wanita dengan kisaran usia 30 tahunan sedang tersenyum ramah.


"Sus santi?" Kata icha menunjuk pada perawat yang bernama santi


"Iya bu icha, saya santi, sus dijeda santi ya bu, bukan susanti" Ucapnya ramah


"Oh iya ya, masuk masuk sus" Kata icha mempersilahkan sus santi untuk masuk.


"Bu icha sudah sarapan?" Ucap sus santi. Ia menutup pintu rumah lalu membantu icha bergeser kedalam.


"Sudah, tadi mas adit sudah membuatkan saya makan pagi" Ucap icha


"Kita olah raga ya bu icha, biar badannya tidak kaku" Ucap sus santi. Mereka menuju ke taman belakang rumah.


"Nanti siang bu icha ingin makan apa?" Sus santi kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencari lagu di aplikasi youtub.


"Apa ya, nanti gampang saya pesan melalui aplikasi online saja sus" Ucap icha, dengan kondisinya saat ini tidak mungkin kalau icha memasak di dapur.


"Biar saya yang memasak bu, ibu harus makan makanan yang sehat biar pulih lebih cepat" Kata sus santi, ia mulai menyalakan lagu yang menenangkan untuk senam.


"Gitu ya, ngrepotin dong sus" Kata icha merasa tidak enak


"Sudah tugas saya, bu icha tenang saja. Sekarang kita senam ya bu, kita pemanasan dulu" Ucap sus santi, sambil melakukan gerakan pemanasan yang mudah diikuti oleh icha.


30 menit kemudian mereka telah selesai melakukan gerakan senam, sus santi membawa icha untuk masuk kedalam rumah.


Icha duduk diruang keluarga sambil menonton drama percintaan, sus santi hendak keluar rumah untuk membuang sampah,


Sebelum keluar, ia dapat melihat dari jendela rumah, ada wanita yang mondar mandir, sesekali ia menggigit bibirnya, seperti ragu mau masuk atau tidak.


"Bu icha, ada seseorang di depan" Ucap sus santi, icha mendorong rodanya agar bisa ke ruang tamu, ia melihat siapa yang datang kerumah nya.


"Gina?" Ucap icha


"Bukain sus tolong, itu teman saya" Kata icha, terlihat gina yang akirnya memutuskan untuk pergi, namun sus santi membuka pintu membuat gina terkejut dan akhirnya menoleh kebelakang.


Icha keluar dari pintu dibantu sus santi.


"Gina, mau kemana? Sini masuk" Ucap icha


Terlihat gina yang berkaca kaca lalu berlari memeluk sahabatnya itu.


"Maafin aku ya cha" Ucap gina sambil berurai air mata.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kita masuk dulu yuk" Kata icha, gina mendorong kursi roda icha kedalam.


"Hey kenapa?" Tanya icha.


"Aku takut sebenarnya datang kesini, aku merasa bersalah. Aku yang telah memaksa kamu untuk naik motor nya rangga" Icha memegang tangan sahabatnya yang sedang merasa bersalah.


"Kan aku udah bilang itu bukan salah kamu gin. Aku nggak apa apa. Cup cup" Icha berusaha memeluk sahabatnya. Setelah mendengar icha mengalami kecelakaan gina sangat merasa bersalah, pasalnya ia yang bersikeras agar icha membawa motor rangga.


Ia pun juga tidak berani muncul dirumah sakit, apalagi setelah tau bagaimana marah nya adit terhadap rangga.


"Maaaf ya cha" Gina mengusap air matanya.


"Udah ah, mending sekarang kamu temenin aku nonton nih drama bagus. Dari pada kamu nangis nangis" Kata icha, sus santi datang dengan membawa minuman.


Dilain sisi, di IGD rumah sakit terlihat adit yang tengah bekerja. Ia sedang menulis status pasien.


"Gimana dok keadaan icha?" Ucap renata yang tiba tiba duduk didepan adit.


"Baik" Adit melirik sebentar kearah renata lalu lanjut menulis di status pasien.


"Aku minta maaf ya dok atas sikapku selama ini sama dokter adit dan icha, aku janji nggak akan aneh aneh lagi" Ucap renata, seketika adit melirik kearah renata, betulkah yang dikatakan wanita itu.


"Baguslah kalau kamu sadar" Ucap adit menatap renata, ia kemudian fokus lagi untuk menyelesaikan status pasien.


"Yaudah aku ke lab dulu ya dok. Sekali lagi aku minta maaf" Ucap renata, ia kemudian pergi meninggalkan adit.


Semoga apa yang dia katakan benar benar serius batin adit, baguslah kalau memang renata kini telah sadar, ia dan icha bisa tenang dalam menjalani rumah tangganya.


"Halo waalaikum salam" Ucap adit saat seorang diseberang sana mengucapkan salam.


"Jangan lupa sebentar lagi waktunya istriku makan siang dan minum obat" Ucap adit pada sus santi.


"Baik dok, ini saya sedang membuat makan siang untuk ibu icha, dokter adit tidak perlu kawatir." Ucap sus santi, sus santi kemudian mematikan telepon nya saat percakapan mereka selesai.


Dari arah belakang, muncul icha yang tidak sengaja mendengar pembicaraan karena ponsel tersebut di speaker oleh sus santi yang sedang memasak.


"Mas adit ya sus?" Tanya icha


"Eh bu icha, iya dokter adit yang melenepon bu. Sebentar lagi makanannya matang bu, bu icha bisa makan siang dan minum obat" Kata sus santi.


Icha menempatkan dirinya di meja makan, ia menuangkan air putih ke gelasnya lalu meneguknya.


Setelah selesai memasak, sus santi menghidangkan makanan tersebut, daging lada hitam dan tumis pok coy.


"Kelihatannya sedap sekali ini, kita makan bersama yuk" Ajak icha yang disambut hangat oleh sus santi.


Mereka akirnya makan bersama, sus santi dengan sigap juga menyiapkan obat icha.


"Enak sekali sus, sus santi jago masak ya" Ucap icha memuji keahlian sus santi

__ADS_1


"Dulu saya pernah ikut kelas memasak bu, dan pernah bekerja merawat orang waktu di luar negeri, jadi saya biasa memasak" Ucap sus santi


"Waah, boleh dong saya diajari masak sus" Kata icha berbinar, aji mumpung baginya untuk mengisi kebosanan setiap hari. Ia pun kini juga cuti sakit.


"Boleh banget, nanti kita masak sama sama ya bu" Ucap sus santi.


Ting tung


Suara bel rumah berbunyi, icha meminta tolong sus santi untuk membuka pintu, sus santi dengan sigap menuju keruang tamu dan menoleh kearah kaca jendela sebelum ia membukanya


"Iya ibu bapak ada yang bisa dibantu?" Kata sus santi


"Icha ada dirumah? Saya tantenya" Ucap desy yang diangguki juga oleh ari.


"Ada, baik mari silahkan masuk" Ucap sus santi mempersilahkan masuk ari dan desy.


"Tante, mas rasyad" Ucap icha saat melihat kedatangan mereka. Tante desy memeluk icha lama dan mengusap punggung nya.


"Sayang, maafkan tante sama ari baru datang menjengukmu, kami baru pulang dari luar negeri" Ucap desy merasa prihatin dengan apa yang menimpa icha.


"Nggak papa tante, musibah. Icha baik baik aja kok te. Makasih banyak sudah datang" Kata icha sambil tersenyum dan tidak menampakkan wajah sedih sama sekali.


"Baik gimana cha, kamu sampai nggak bisa jalan gitu?" Ucap ari menunjuk kaki icha yang diperban.


"Ini hanya sementara mas, icha masih muda, akan cepat pulih seperti biasa nanti. Mas rasyad tenang aja. Duduk yuk" Ucap icha, icha mngajak mereka duduk diruang tengah.


"aduh sayaaang, gimana sih ceritanya kok bisa sampai seperti ini" Tante desy memegang tangan icha, icha kemudian menceritakan detile kejadian kecelakaan nya pada desy dan ari.


"Kenapa nggak minta antar jemput mas adit saja sih cha, kan mas adit suamimu" Tanya ari, ia merasa tidak tega dengan keadaan icha, kalau boleh mengantar jemput icha mungkin akan dia lakukan, batin ari. Hanya sebatas pemikiran dan tidak akan mungkin menjadi nyata.


" Mas adit kan kerja, waktu itu mas adit yang nangani aku. Nggak bisa bayangin sih gimana paniknya dia waktu lihat aku berdarah darah di IGD" Ucap nya, desy pun sampai bergidik ngeri.


"Ini cuti dong kamu?" Tanya tante desy


"Iya, saya mengajukan cuti sakit, mungkin nanti kalau kakinya lebih baik sudah diperbolehkan menggunakan tongkat kaki baru deh saya masuk kerja" Kata icha, ia sebenarnya juga merasa sungkan jika harus meninggalkan kantor dalam waktu yang lama.


"Waah biar sembuh dulu dong sayang, kalau belum sembuh jangan masuk kerja" Kata desy, saat ini ari sedang mengamati wanita cantik yang sedang tersenyum itu, dulu saat diluar negeri ia mudah sekali untuk melupakab icha, namun kenapa sekarang rasanya melihat icha membuat letupan letupan di jantung nya. Ia tau bahwa ini hal yang salah, ia pun masih bisa mengontrol semua ini.


Selama adit dapat membuat icha bahagia, ari pun juga akan bahagia. Cukup dengan memandang senyum wanita itu menimbulkan kebahagiaan juga untuk ari.


"Mas rasyad gimana usahanya, sepertinya sukses nih" Kata icha, sama sekali tidak ada perasaan apapun dihati icha, kini ia memandang ari sebagai seorang saudara, dulu kepergian ari sama sekali tidak menimbulkan luka, karena mereka sama sama mengakhirinya dengan bahagia, beda dengan hubunganya dengan doni yang pernah membuat icha susah move on lebih hampir 2 tahun lamanya.


"Kalau dibilang sukses belum lah, tapi lancar alhamdulilah. Aku seperti lihat gina ya di kantormu cha" Kata ari, ia sempat melihat gina melewatinya, namun ia tidak yakin betul dengan apa yang dia lihat, pasalnya yang ari tau gina itu berbadan besar, sedang yang ia temui berbadan langsing.


"Iya itu gina betul kok mas, beda ya sekarang? Diet dia, jatuh cinta soalnya" Kata icha sambil tertawa.


"Temen kalian? Kalau jatuh cinta gitu ya langsung berubah. Dulu tuh juga cha, awal awal ari pindah ke luar negeri, dia tuh agak termenung gitu, suka dikamar terus, penampilanya juga nggak rapi. Pas tante bilang jawabnya apa coba? Alah ma biarin, nggak punya pacar juga, ngapain ganteng ganteng, icha juga nggak lihat" Kata desy sambil tertawa, ari dan icha saling berpandangan merasa kikuk.


Ari pun berdeham untuk menyadarkan mamanya.

__ADS_1


"Aaaa, maaf maaf. Nggak ada maksud apa apa kok cha. Kalian sekarang kan sudah jadi saudara, harus rukun sebagai saudara ya" Ucap desy.


__ADS_2