
"assalamualaikum readers, lama tidak update kira kira kalian rindu nggak ya. yuks support biar aku semangat update nya. jangan lupa tinggalin jejak dengan like dan comment ya. trimakasih"
"Ituu.." ucap icha menggantung. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan membuka lemari. Ia mengambil kotak rahasia yang selama ini ia simpan rapat rapat. Kotak yang dulu selalu membuat ia tersenyum lalu menangis histeris, kotak yang seharus nya ia buang dari dulu. Namun ia masih saja tidak bisa membuang nya
Icha menghampiri suaminya, duduk disamping adit dan menyerahkan kotak itu.
"Kamu buang mas, ini kotak tidak penting kok" ucap icha sambil menyerahkan kepada adit. Adit menerima kota tersebut dari istrinya dan membolak balikkannya.
"Apa ini?" Tanya adit.
"Buka aja" kata icha, adit membuka kotak tersebut karena rasa penasaran yang sudah tidak tertahankan. Ia membuka pelan kotak tersebut, lalu menyipitkan mata sesaat setelah menemukan apa isi dari kotak tersebut. Adit menemukan cincin dan beberapa foto.
"Aku sampai lupa punya ini. Itu semua dari doni. Maaf ya. Awal menikah sama kamu aku masih menyimpan ini karena aku masih suka sama doni. Aku selalu mengingat masa masa indahku sama dia" ucap icha sambil menunjukkan seulas senyum.
"Tapi. Lama lama aku bisa melupakannya berkat suamiku. Dan aku lupa kalau ada kotak ini. Jadi kamu yang buang ya"kata icha.
"Tapi sekarang kamu sudah tidak ada perasaan kan sama dia?" Tanya adit. Icha menggelengkan kepalanya dengan mantap. Adit pun tersenyum.
"Enggak kok, sama sekali tidak" ia tersenyum penuh ketulusan
"Kamu yang buang, aku tidak berhak. " kata adit sambil menyerahkan kotak itu.
"Makasih ya mas. Segera aku buang. " icha meletakkan kotak itu dimeja samping tempat tidurnya. Ia memandangi wajah suaminya lekat lekat lalu tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa" tanya adit
"Trimakasih sudah jadi suami terbaik" kata icha lalu mencium tangan suaminya.
"Aku yang berterimakasih. Lucu juga ya dulu kita sering berantem lo" ucap adit tersenyum senyum. Adit naik ketempat tidur dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
"Iya juga ya, sampek kamu beri nama kontakku astagfirullah, nyebelin banget kan. Haha" icha tertawa diikuti adit, mereka bercerita masa lalu dan tertawa bersama kemudian tertidur dengan berpelukan.
***
Doni melirik kearah wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya, ia mengingat betapa bahagianya dulu ia saat awal menikah dengan rena, bahkan dia lebih bersyukur batal menikah dengan icha dan mendapatkan renata, wanita yang bagi doni sangat mengagumkan. Cantik, lembut dan sangat perhatian. Kalau diingat, icha memang tidak seperhatian renata waktu itu, ia lebih terlihat cuek namun diam diam memperhatikan. Berbeda dengan renata yang memperhatikan doni dari hal hal yang kecil dan nampak dimata. Namun kesalahan itulah yang membuat saat ini doni menyesal memilih renata. Tidak semua perhatian harus ditampakkan bukan? Dan tidak semua perhatian itu penuh ketulusan. Yaa, doni menyelas salah menilai itu semua. Ketulusan sebenarnya ada pada icha yang selalu memperhatikannya diam diam dan sederhana, namun cara nya selalu istimewa.
Doni menghembuskan nafas kasar, lalu menyandarkan kepalanya pada tembok. Saat ini ia sedang duduk di lantai.
"Kamu sendiri tau sekarang aku tidak kerja, ini saja aku dipinjemin papa. Dia anakmu lo, harus nya kamu juga bantu" kata doni melirik kesal kearah renata.
"Kamu ayahnya, sudah tanggung jawab seorang ayah kan masalah uang" renata melotot melihat kearah doni.
"Kalau begitu kamu yang jaga inge, aku akan cari kerja" tantang doni
"Enak saja, nggak bisa, aku kan kerja" protes renata. Memang dia sangat egois, dan selalu melihat semua beres, ia tidak bisa mengurus rumah tangga dengan baik.
"Hahaha, mau kamu apa? Ibu tak berprasaan" doni tertawa melihat renata yang seakan tidak bertanggung jawab terhadap inge. Doni bangkit dari duduk nya, melihat kearah langit langit dan ia berkaca kaca, ia tidak menyangka istrinya memiliki sifat yang tidak berperikemanusiaan.
__ADS_1
Setelah jatuh miskin renata mencampakannya, bahkan tidak mau mengurus inge. Anak yang ia lahirkan.
"Kamu ayah yang tidak bertanggung jawab, tidak bisa membahagiakan aku sama inge" teriak renata dan berdiri dari duduk nya. Renata masih tidak rela suaminya bangkrut, ia dari dulu sudah membayangkan hidup dengan bergelimang harta jika ia menikah dengan doni. Ia akan bahagia meski ia harus merebut kebahagiaan sahabatnya.
"Kamu bilang aku tidak bertanggung jawab? Sampai detik ini aku tetap berusaha bekerja yang ada demi inge, kamu yang keterlaluan tidak membuka matamu" doni melemparkan handphone yang ia pegang karena sangat emosi hingga ponselnya berhamburan dilantai.
Memang saat ini ia bekerja menjadi kurir, tukang bersih bersih. Dan itupun ia membawa inge bersamanya. Sungguh remuk hati doni saat renata tidak pernah memandangnya. Tidak terasa air matanya menetes.
"Bekerja apaan? Mana uang nya? Buat makan saja tidak cukup. Itu yang namanya tanggung jawab?" Tanya renata dengan suara tinggi.
Doni sungguh geram. Ia mengepalkan tanganya hendak berjalan dan ingin menampar wanita yang tidak jauh darinya.
Tiba tiba inge menangis histeris membuat doni langsung berlari kearah inge begitupun renata.
"Sayang, kenapa. Maaf ya papa berisik" doni kebingungan dan mencoba menenangkan inge, renata sibuk meng cek keadaan anaknya, kemudian inge kejang.
"Inge kenapa ingee" kata doni.
Inge semakin mengejang sambil menangis histeris. Renata memencet tombol memanggil perawat sambil ia berusaha merawat inge.
"Ingeeee" teriak doni. Renata pun berhenti dan memandang anaknya. Inge sudah berhenti kejang namun saat ini ia diam dan tidak menangis lagi.
"Inge, inge" teriak renata yang melihat anaknya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ingeeee"