
"Jadi mas adit sampek rumah jam 8? Berarti dia dan renata juga langsung pulang dong, aku setuju sama kamu" Ucap gina sambil menggenggam tangan icha, seolah mereka menemukan titik terang.
"Bisa juga sih ya, nggak ada celah lah kalau mereka mau aneh aneh, aku setuju juga ini hanya jebakan" Ucap ari, mereka sama sama sepemikiran,
"Berarti memang renata sengaja menjebak adit. Dan pasti ada dalang selain renata nih, karena aku dapat chatting Yang meyakinkan lo cha, makanya aku marah banget sama mas adit" Ucap ari kemudian.
"Chatting dari nomor ini?" icha membuka ponselnya dan menunjukkan chat tersebut pada ari.
"Iya sama, dia chat aku begini. Jadi antara aku marah dan merasa bersalah" Kata ari, ia menyerahkan ponselnya pada icha.
Icha dan gina membaca chat tersebut.
"Kamu telah memberi celah untuk mereka berselingkuh, gara gara kepulangan mu" Ucap seseorang pada chat tersebut dan dilampirkan dengan beberapa foto adit dan renata. chat tersebut lah yang membuat ari menelepon icha waktu itu, dan ia sungguh merasa bersalah karena telah meninggalkan adit dan renata.
"Tapi siapa dia? Seakan memecah mecah kita ya, oya, hal ini biar kita saja yang tau, jangan bicarakan ini pada siapapun oke" Ucap icha, karena semua orang disekitar nya berpotensi untuk menjadi dalang dari semua ini.
Ari dan gina mengangguk setuju, mereka berencana untuk mengungkap semua kejahatan renata.
Dilain sisi adit merasa buntu tidak mendapatkan cara untuk mengungkap kebenaran, ini adalah ujian rumah tangga terberat untuk adit, ia menghempaskan diri di sofa ruang tamunya sambil memijat kepalanya yang terasa nyut nyut an.
Ia meraih ponsel nya di meja, mengirim pesan untuk istri yang selalu dirindukannya.
"Sayang, besok ku jemput ya, kalau kamu nggak ingin aku dirumah, biarlah aku yang menginap di rumah rio atau bobi" Ia mengirimkan pesan tersebut pada istrinya, tidak lama kemudian ponsel nya berbunyi, ada pesan dari icha
"Tidak usah mas, aku ingin menginap di rumah gina saja ya" Ucap icha membalas chat dari adit
Adit resah, gelisah dan terus memutar otak nya bagaimana caranya mengungkap kebenaran.
"Sepertinya aku harus membuat renata mengaku sendiri, tapi gimana caranya ya" Ucap adit.
Saat ini icha tengah melamun di depan cermin, ia merasa bersalah pada suaminya, ia tau bahwa adit berusaha mendapatkan bukti untuk nya.
"Kenapa?" Tanya gina yang membuyarkan lamunan icha.
"Aku chat mas adit dulu deh. Biar dia sedikit lega" Ucap icha, ia memutuskan untuk menghubungi suaminya.
"Insyaallah Aku percaya sama mas adit, semoga semua segera terbongkar. Jangan telat makan ya mas" Ucap icha,
"Alhamdulilah, tunggu aku bawa bukti ya sayang" Balas adit dalam chat nya.
Icha meletakkan ponselnya di meja, ia naik keatas kasur untuk tidur, ia memperhatikan sahabatnya yang sedang senyum senyum sendiri sambil menatap ponsel nya.
__ADS_1
"Gin, oey ginaa" Panggil icha, namun gina tidak langsung menoleh pada icha.
"Apa sih cha" Kata gina ketika icha mencubit lengan nya
"Kenapa senyum senyum sama ponsel? Rangga ya? Gimana gimana lama lo kamu nggak cerita" Ucap icha yang kini mulai penasaran dengan hubungan sahabatnya itu.
"Nggak gimana gimana sih, alhamdulilah rangga udah mulai perhatian gitu sih, dia ngajak lebih serius aja" Ucap gina dengan malu malu
"Cieeeeh, ikut seneng ya gin. Akhirnya nggak bertepuk sebelah tangan lagi" Kata icha, ia turut bahagia saat gina juga bahagia.
"Dapat salam dari doi, semoga masalahnya cepet selesai katanya" Ucap gina
"Ciiieh udah panggil doi segala, aamiin deh. Tapi jangn bilang ya kalau aku sudah percaya sama mas adit gin" Kata icha mengingatkan.
"Aman cha, kamu tenang aja" Ucap gina
***
Icha berkemas karena hari ini ia harus chekout dari hotel tersebut, gina sudah memberikan kunci kosnya sebelum ia pergi. Ia ada janji dengan sepupunya untuk menemaninya ke makam kakek nya.
Sedangkan adit sedang menyusun rencana dengan rio dan bobi untuk membuka mulut renata.
"Gini aja dit, kita culik aja renata, kita siksa sampai dia mengaku" Ucap bobi brutal dengan ekspresi geram
"Bercandaa, otak ku lagi buntu soalnya nih" Ucap bobi
Adit melamun memikirkan sesuatu sambil melihat kearah lorong rumahnya yang kosong.
"Dit" Panggil rio.
"Hey iya, aku sepertinya punya ide" Ucap adit, ia menepuk kedua tangan nya dan berdiri. Rio dan bobi saling berpandangan.
"Gini gini, aku butuh bantuan bobi nih" Ucap adit menunjuk salah satu sahabatnya itu
"Aku? Suruh ngapain?" Ucap bobi binggung,
Adit menjelaskan tugas nya pada bobi untuk menjebak renata agar mengatakan yang sejujurnya, karena ini adalah satu satunya cara yang bisa dilakukan.
Bobi mengangguk setuju, mereka langsung melancarkan aksinya.
Ari keluar dari toko roti, ia hendak mengambil motor sport nya, tidak sengaja ari melihat gina yang nampak menunggu taksi lewat. Ia kemudian menghampiri gina.
__ADS_1
"Ehm" Ari berdeham, membuat gina menoleh kearah nya.
"Ngapain kamu disini?" Ucap gina sedikit ketus, menoleh sebentar lalu pandanganya kembali menelusuri jalanan
"Ketus banget sih, cantik juga ya kamu kalau ketus gitu. Apalagi kalau senyum" Ucap ari santai, ia menggoda sahabat icha yang lama lama terlihat menarik untuk ari
"Udah deh syad, jangan sok deket gitu. Ngapain kamu kesini sih" Ucap gina merasa risih dengan kehadiran ari, ia juga belum percaya bahwa ari memang tidak bersalah
"La kamu ngapain lo berdiri pinggir jalan gini panas panasan?" Tanya ari
"Nyari ojek atau taksi. Nggak punya paketan buat buka taksi online" Ucap gina datar, ia merasa tidak nyaman di dekat lelaki tersebut
"Yaudah mas rasyad anterin aja gimana dek" Ajak rasyad sambil menebar senyum pada gina.
"Iih ogah" Kata gina ketus. Apa apaan dia harus membahasakan dirinya mas dan memanggil gina dek. ilfee banget batin gina, ia memandang sekitar
"Syad, lihat syad" Ucap gina sambil menunjuk seseorang yang baru keluar dari apotek di seberang jalan
"Renata kan?" Ucap ari menatap nya dengan tajam.
"Motor, motor ayo.cepet" Ucap gina, mendorong dorong ari agar segera mengambil motor nya
Ari segera berlari untuk mengambil motor nya, memberikan gina helm yang tadinya digunakan ari untuk mengantar mamanya. Mereka mengikuti renata dari belakang,
"Cepet sad, jangan sampek ketinggalan" Ucap gina. Menepuk pundak ari
"Kenapa coba kita harus ikuti dia" Tanya ari menoleh gina lewar spion motor nya
"Ini bukan daerah rumah dia, kita ikuti siapa tau dapat petunjuk" Kata gina. Ia punya feeling kalau mereka akan mendapatkan suatu bukti
Mereka sampai disebuah tempat makan, renata memarkirkan motor nya disana lalu masuk kedalam tempat makan tersebut. Ari juga memarkirkan motor nya, gina kemudian mengenakan kerudung yang sedari tadi di sampirkan di lehernya, lalu ia mengenakan kaca mata juga masker. Sedangka ari menutup kepalanya dengan tutup jaket hoodie nya.
"Nooh dia mau makan. Ngapain sih kita ikuti, " Ucap ari.
"Ngapain makan jauh banget disini coba. Udah ah ayo" Ucap gina. Ia melihat renata duduk di kursi no 10, dimana tempat duduk tersebut bersekat dengan tempat lainya, ada tembok penghalang antar meja makan 1 dan lainya kira kira sebatas leher,
Gina menoleh sekilas pada sosok yang ada di depan renata tersebut saat melewatinya, hatinya langsung deg deg an saat mengetahui siapa laki laki yang ada di depan nya tersebut. Ia berfikir positif, mungkin hanya teman ucap gina dalam hati
Ia duduk dengan ari di kursi panjang tepat dibelakang laki laki itu, untung saja tempat makan nya bentuknya tertutup sehingga hanya terlihat kepala saja, dan pastinya renata tidak akan curiga.
"Kenapa ekspresimu begitu? Kamu kenal?" Ucap ari lirih agar suara mereka tidak terdengar, gina hanya mengangguk lemah. Mereka diam sambil memilih menu makanan.
__ADS_1
"Senyum terus kamu ren. Kenapa? Bahagia ya?" Ucap laki laki tersebut, gina mulai menekan tombol recorder di ponsel nya.
"Bahagia dong, kita berhasil memisahkan adit dan icha, ha...ha..ha" Ucap renata dengan tertawa renyah. Membuat ari dan gina saling menatap. Gina sungguh syok dengan apa yang ia dengar dan lihat, hingga matanya memerah.