Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 65


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 16.00 dimana membuat para pegawai bersuka cita termasuk icha, saat ini rumah adalah hal yang selalu icha rindukan, karena didalam nya ada suami yang ingin ia lihat setiap waktu,


"Kenapa cha?" Tanya gina yang sedang memperhatikan icha duduk jongkok di samping sepeda motor nya.


"Eh gin, ini nih, motor ku kok ban nya kempes gini yah, bocor deh ini sepertinya" Ucap icha sambil menggaruk kepalanya. Ia sedang berfikir bagaimana rencananya untuk pulang.


"Wah iya sih. Ini bocor cha. Apa ku anter pulang aja kamu?" Gina menawarkan bantuan.


"Nggak usah, kan rumah kita nggak searah sih gin" Ucap icha.


"Gimana dong, kamu mau dorong motor ke bengkel? Atau naik ojek?" Tanya icha dengan opsi yang ia punya.


"Kalau dorong motor ke bengkel agak jauh sih dan lama gin, aku pengen cepet pulang, kalau naik ojek, terus motor aku gimana ya? Apa besok aku minta tolong OB bawa ke bengkel ya" Ucap icha sambil berfikir.


"Ya boleh aja sih cha" Kata gina. Dari arah belakang, ada rangga yang menghampiri mereka berdua.


"Kenapa?" Tanya rangga.


"Ini motor icha ban nya bocor" Ucap gina.


"Ooh. Aku bawa ke bengkel aja gimana?" Rangga menawarkan bantuan kepada icha."


"Nggak usah ngga, ngrepotin kamu. Aku naik ojek aja deh. Aku pengen cepet pulang soalnya" Kata icha.


"Gini aja deh cha, kita tukeran motor aja, motor mu biar ku bawa ke bengkel, kamu pulang pakai motor aku. Enak kan besok kamu ke kantor motor kamu udah beres" Rangga mencoba memberi solusi untuk icha.


"Wah ngrepotin kamu lah ngga. Kamu dorong dorong motor jauh" Kata icha merasa sungkan pada rangga.


"Iya aku setuju sama rangga cha, kalian tukeran motor aja. Nggak papa nanti aku yang bantu rangga. Aku temenin sekalian deh di bengkel" Ucap gina yang jadi antusias sekali.


"Itu mah alesan kamu gin biar bisa sama rangga kan. Yauda sih ngga papa kalau emang kalian mau merawat motor aku. Haha" Ucap icha. Kini ia menerimanya karena ia melihat tatapan gina yang seolah memohon. Icha menganggapnya sebagai simbiosis mutualisme dimana icha untung karena tidak perlu membawa motor nya ke bengkel dan bisa segera pulang dan gina diuntungkan karena dapat berduaan dengan pujaan hatinya.


Icha akhirnya bertukar sepeda motor dengan rangga, ia berpamitan dengan kedua teman nya.


"Thanks ya sobat sobat ku. Selamat dorong motor dengan romantis. Aku pulang dulu. Da...daa" Ucap icha bahagia.


"Iyaaa daa. Hati hati yaa" Jawab gina tidak kalah bahagia.


Icha melajukan motor rangga dengan kecepatan sedang. Ia tidak berani mengendarai motor dengan kecepatan tinggi apalagi menggunakan motor teman nya.

__ADS_1


Ditengah perjalanan ia menyadari ada motor yang mengikuti dia, dari jalan keluar kantor nya ia sudah melihat orang tersebut, namun kenapa mereka berbarengan hingga saat ini, icha bergumam sendiri dalam hati, atau memang kebetulan arah nya sama.


Icha menurunkan kecepatanya, namun ternyata orang tersebut juga menurunkan kecepatannya. Padahal ada kesempatan orang tersebut untuk mendahului icha namun kenapa tidak ia lakukan.


Icha jadi yakin kalau orang tersebut mengikutinya. Jalanan mulai agak sepi, icha menaikkan kecepatanya. Ia kini bisa dibilang ngebut, bahkan orang tersebut malah lebih cepat dari pada icha seolah mengejar icha.


Icha semakin panik dan terus menambah kecepatan, ia kini tidak fokus pada jalanan, ia fokus melihat kearah spion nya, saat orang tersebut hampir dekat, icha menaikan lagi kecepatannya, ia bahkan bergeser ke jalur yang tidak seharusnya.


Dari arah depan ada mobil yang melaju dengan kecepatan lumayan tinggi, mobil tersebut menekan klakson nya, ichapun terkejut dan hilang keseimbangan, mobil bewarna hitam itupun tidak dapat menghentikan mobilnya secara tiba tiba dan tidak bisa menghindari icha, akhirnya mobil tersebut menabrak motornya hingga terpental beberapa meter, icha terjatuh dan kepalanya terbentur aspal jalanan, ia juga terguling beberapa kali.


Icha merasakan kesakitan disekujur tubuhnya, ia masih sadar saat itu, ia masih melihat awan yang cerah saat itu, lalu berubah jadi kerumunan banyak orang, icha menitika air matanya.


"Apakah ini akhir hidupku? Aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku, aku belum cukup amal untuk menghadapmu ya Allah. Berikan aku kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik" Gumam icha, lama lama semua terasa semakin gelap dan gelap dan akhirnya ia sudah tidak sadarkan diri.


Semua orang panik, lalu menelepon ambulan.


"Ya ampun kasian sekali. Dia masih muda ya" Ucap seorang ibu ibu.


"Harus bagaimana ini?" Suasana semakin riuh.


Sedangkan pengemudi mobil tersebut nampak syok, orang orang mengetuk ngetuk mobil nya untuk turun, namun ia masih saja terdiam didalam mobil.


"Saya tidak tau, mbak nya tiba tiba ada di jalur saya. Saya harus bagaimana sekarang" Ucap seorang gadis yang usianya kisaran 20 an itu sambil menangis, ia pun binggung harus bagaimana, ia ketakutan, takut korban yang ia tabrak meninggal, takut ia akan masuk kedalam penjara.


"Makanya dong mbak kalau naik mobil jangan kenceng kenceng" Ucap salah seorang ibu ibu, gadis tersebut hanya bisa menggigit bibirnya.


Ia menyadarkan dirinya, ia tidak boleh seperti itu, ada korban kecelakaan yang harus ia tolong,Dengan gontai ia berjalan menuju ke tubuh icha sambil menahan air matanya,


"Permisi" Ucap gadis itu, ia kini tengah memeriksa keadaan icha.


"Apa yang dia lakukan?" Bisik bisik salah satu ibu ibu disana.


"Tolong carikan saya kayu sama tali apapun" Ucap gadis itu, kemudian seseorang memberikan apa yang gadis itu minta, ia membalut kaki icha dengan kayu dan pasmina. Selain itu ia juga menyangga leher dan kepala icha dengan bahan seadanya.


Beberapa saat kemudian ambulan datang, petugas medis dengan sigap langsung mengeluarkan brankar, mereka memindahkan icha kebrankar tersebut, memasang oksigen lalu Icha dibawa masuk kedalam ambulan. Gadis itupun juga ikut masuk kedalam nya.


Ia berdoa agar wanita yang didepan nya selamat dan akan baik baik saja. Betapa merasa bersalahnya ia saat ini.


Di perjalanan, kondisi icha sempat menurun, membuat gadis itu dan perawat takut, ia dan perawat tersebut berusaha untuk menormalkan tanda vital icha, mereka akhirnya bernafas lega ketika melihat tanda vital icha yang sudah normal.

__ADS_1


Ini pengalaman pertama bagi gadis itu, gadis fakultas kedokteran yang saat ini masih berada di semester 5. Ia harus menangani pasien darurat yang ia tabrak.


Akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit, beberapa petugas medis sudah siap disana. Pintu ambulan segera dibuka, brankar diturunkan dan icha segera dilarikan kedalam IGD, gadis itupun menunggu di luar dengan cemas.


Seorang dokter juga turut mendorong icha masuk kedalam igd, dokter adit mendorong dengan kuat agar pasien itu dapat segera tertangani.


"Ayo pindahkan, 1,2,3" Mereka telah memindahkan pasien ke brankar IGD, adit kemudian memandang wajah wanita yang telah lemas tak sadarkan diri itu.


Betapa terkejutnya ia saat memandang wanita itu, jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyaksikan wanita yang tergulai lemah itu adalah wanita yang ia sayangi.


"Icha?" Ucap adit dengan mata yang terbelalak. Salsa dan perawat randi menoleh kearah adit, merekapun juga terkejut ternyata pasien itu adalah istri dari adit.


Dengan tangan gemetar, ia memeriksa kondisi istrinya, ia kemudian hendak memasangkan infus.


"Sudah dok. Ini tugas saya" Ucap perawat randi, ia tau dr. adit ingin mengerjakan semua yang terbaik untuk istrinya, namun tangan nya terus gemetar. Fikiranya juga kacau.


Adit menghela nafas, dan langsung melakukan pemeriksaan terhadap istrinya. Beberapa saat kemudian datanglah dokter hendra.


Adit menceritakan kondisi istrinya.


"Oke, segera kita siapkan ruang operasi" Ucap dokter hendra.


"Aku akan melakukan yang terbaik. Jangan kawatir" Ucap dokter hendra sambil meremas pundak adit.


Adit kemudian mengurus administrasi selagi menunggu ruang operasi siap. Ia berlari dan hampir terjatuh karena hatinya kini serasa patah melihat separuh jiwanya yang terbaring tidak sadarkan diri, dan sebentar lagi harus di operasi.


Setelah selesai dengan administrasi, ia segera menuju IGD lagi, hendak mengantar istrinya keruang operasi.


"Dok, tanda tangan persetujuan dulu" Kata randi. Adit segera menandatangani nya.


"Dok, kami akan memindahkan bu icha ke ruang operasi" Ucap randi lagi.


"Iya oke, ayo" Kata adit yang berencana ikut mengantar istrinya.


"Dokter, ada pasien lansia" Ucap salsa yang datang kepada adit untuk memberitahukan ada pasien datang.


"Biar aku saja" Ucap dokter rio.


"Tungguilah istrimu. Sana" Ucap rio menepuk pundak adit yang wajahnya saat ini terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Makasih ya bro" Adit berlari dan ikut mengantar icha keruang operasi.


__ADS_2