Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 78


__ADS_3

"Cha, are you okay" Ari memastikan kondisi icha, pasalnya icha tidak menjawab pertanyaan nya.


"Yaah, aku nggak papa kok. Doain aj yang terbaik buat aku" Ucap icha dengan suara parau, ari dapat mendengar suara tangis yang tertahan.


"Hubungi aku ya kalau kamu butuh apa apa,atau hubungi mama" Kata ari, lalu ia menutup teleponnya. Semua sudah jelas, bahkan ari yang bersama suaminya saja mengatakan begitu. Kalau benar adanya, kenapa suaminya sampai hati menyakiti perasaan icha.


Untuk ke dua kalinya icha merasa kalah dari renata, bukan......ia bukan kalah, hubungan ini bukanlah suatu kompetisi yang harus memperebutkan kemenangan.


Pernikahan adalah suatu yang sakral yang harus dijaga keutuhanya. Tidak, ia tidak bisa menangisi semua ini terus menerus. Ia menghela nafas dalam berulang kali namun sulit, semua terasa sulit untuk ia hadapi.


Tangisnya pecah kembali hingga sakit rasanya di dada. Ia bangkit untuk mengambil air wudhu, ia hendak menunaikan shalat ashar.


Selesai shalat ia menghubungi gina, mengundang gina turut menginap bersama nya.


Kini adit ditemani oleh rio pergi kerumah desy, bagi adit, arilah saksi bahwa adit dan renata tidak ada hubungan. Setelah dipersilahkan masuk oleh desy adit dan rio duduk di teras rumah.


"Mas adit, ngapain kesini?" Ucap rio dengan tatapan sinis, ia duduk di depan adit


"Ri, aku mau minta tolong sama kamu buat jelasin ke icha bahwa aku sama renata ...." Adit belum sempat melanjutkan kata kata nya namun ari sudah lebih dulu menjawab nya


"Bahwa mas adit sama renata tidak selingkuh? Itu maksud mas adit?" Ari tersenyum masam


"Betul, kamu kan tau kemarin kita mau jenguk pak hasyim kan" Kata adit


"Bukanya itu memang rencana mas adit sama renata ya?" Ucap ari,


"Maksudmu?nggak mungkin lah ri" Ucap adit menyangkal pertanyaan ari


"Awalnya aku juga nggak percaya sih mas, tapi lihat bukti dan fakta yang ada aku jadi merasa itu bukan kesalahpahaman" Ucap ari hati hati, ia tidak mau menyinggung perasaan saudaranya


"Udah lah yo percuma kita kesini, orang dia aja kerjasama sama renata. Percuma" Adit berusaha menaham amarah, ia berdiri dan hendak pergi


"Kok mas jadi memutar balikkan fakta gitu" Ucap ari yang merasa tidak terima dituduh oleh adit


Adit tidak menanggapi, ia berlalu pergi meninggalkan ari diikuti oleh rio. Semua diluar dugaan nya, ternyata ari tidak bisa dijadikan bukti oleh adit. Ia kini frustasi.


"Sabar bro. Masih banyak jalan menuju roma" Ucap rio mencoba menenangkan


"Sayangnya kita nggak lagi menuju roma yo" Ucap adit lemas.

__ADS_1


"Besok kamu ke hotel tersebut, cari cleaning service nya. Kemungkinan dia yang fotoin" Ucap rio


"Bener juga kamu, kenapa nunggu besok? Sekarang aja" Ucap adit.


"Duuuh liburanku jadi detektif ini" Kata rio, pasalnya hari ini adalah hari libur nya, namun ia harus membantu adit untuk menyelidiki masalah tersebut.


Dilain sisi renata sedang tertawa sambil memegang ponsel nya.


"Berhasil dong kita, aku yakin sih si icha ogah balik sama adit, dan adit tidak bisa menemukan bukti karna kita main cantik ya kaaan" Ucap renata


"Gila sih, ide mu memang cemerlang ren" Ucap laki laki diseberang sana


"Ya kan juga berkat kamu. Aku yakin sih kamu akan dapetin icha dan aku bisa dapatkan adit, ha..ha..ha"renata tertawa puas


" Iya, aku nggak sabar" Ucapnya sangat bersemangat.


Kini icha ditemani oleh gina di kamarnya, ia hendak makan malam di resto. Karena adit telah memesan paket dinner, icha dan gina menuju ke resto di hotel tersebut.


Sesampainya di resto, pelayan mengantarakan mereka ke tempat yang privat, rupanya mereka tidak makan di resto dengan banyak orang.


"Silahkan bu" Ucap pelayan tersebut. Sebuah ruangan privat di design sebagai caddle light dinner, sungguh romantis sekali jika saat ini icha bisa bersama adit.


"Suamimu sudah menyiapkan ini dengan sempurna cha, apa kamu yakin bahwa dia selingkuh? Dia bukan tipe seperti itu deh" Ucap gina, ia memegang tangan icha.


"Aku juga ragu, tapi buktinya jelas gin" Ucap icha, tak terasa air matanya kembali menetes.


"Nggak capek apa itu mata dipakai nangis terus. Heeyyy ini bukan sinetron dimana pemain utamanya itu lemah. Kamu harus kuat dong, kalau ragu kamu harus bantu suami mu. Apa sih gunanya nangis? Nggak guna tau" Ucap gina memberikan semangat.


"Terus maksudmu aku harus apa?" Tanya icha


"Stop nangis, stop lemah. Kalau kamu masih ada keyakinan sama suamimu, bantuin dong. Jangan pasrah nunggu bukti. Kamu juga bisa kan cari tau," Ucap gina menggebu gebu.


"Telpon renata sudah, telpon mas rasyad sudah, sama semua jawabannya gin. Kurang apa lagi" Ucap icha.


"Haa...haa.. Renata kamu percaya? Heyyy kamu nggak inget gimana dia pura pura jadi sahabat padahal main api? Dia itu licik. Bodoh banget kalau kamu percaya omongan dia" Ucap gina lebih kasar, ia merasa kadang icha harus disentil seperti itu agar fikiranya terbuka.


"Kalau rasyad. Duuuh, dari tatapannya ke kamu aja kelihatan masih ada sayang chaa. Nggak nutup kemungkinan kan dia juga bisa memanfaatkan momen ini agar kamu pisah sama adit. Yuk mikir cerdas" Kata gina lagi yang langsung menusuk ke hati icha.


"Iya sih. Kata katamu kayak pisau tapi masuk di otakku." Ucap icha dengan tersenyum.

__ADS_1


" Makan dulu deh biar dapat nutrisi" Kata gina saat pelayan mengantarkan makanan spesial.


Icha kini sudah dapat tertawa karena gina terus saja menghiburnya dengan cerita lucu, setelah makan merek kembali ke kamar.


"Ya ampun pengen rebahaaan" Kata gina yang mau mendaratkan diri di kasur.


"Jangaaaan" Ucap icha menghentikan gina


"Sayang banget kasur nya, nanti rusak gambar hatinya ini" Ucap icha menunjuk hati dari bunga mawar.


"Ya elaaah, terus malam ini kita tidur di lantai? Kamu milih bunga mawar tidur kasur terus kita masuk angin dan pegel pegel gitu?" Kata gina dengan menggelora


"Ya enggak sih ya. Yauda bentar aku pindahin dulu ya bunga nya, biar gina bisa tidur enak. Atau mau tidur diatas mawar?" Tawar icha.


"Ogah, yang ada nanti malam di gelitiki mbak kunti" Ucap gina, icha tertawa. Bagaimana pun gina satu satunya sahabat yang paling paham cara mengembalikan mood icha.


Adit memarkirkan mobil nya, lalu dengan tergesa gesa menuju ke lobby.


"Pelan pelan dong diiit" Kata rio setengah berlari mengejar adit.


"Selamat malam pak, ada yang bisa dibantu" Ucap reseptionis.


"Mbak, saya mau ketemu cleaning service" Ucap adit yang membuat reseptionis tersebut nampak binggung.


"Gini gini mbak, jadi sekitar 2 hari yang lalu teman saya ditipu sama cleaning service yang kerja disini, tapi kami tidak tau siapa dia. Mungkin bisa di tunjukkan cctv mbak, soalnya ini berkaitan dengan penipuan" Ucap rio,


"Baik, sebentar kami hubungi bagian keamanan dan manajemen" Ucap reseptionis tersebut, adit dan rio menunggu di sofa ruang tunggu.


"Kok kamu bilang penipuan sih. Belum tentu lah" Ucap adit


"Diiit terus mau bilang apa? Ini caranya biar kita bisa lihat cctv.ikut aja deh, kepalamu tu lagi buntu, nggak bisa cerdas kayak aku" Kata rio yang ceplas ceplos.


"Silahkan pak bisa mengikuti kami" Ucap seorang laki laki, adit dan rio mengikuti orang tersebut ke ruang cctv.


Adit tidak sabar melihat nya dan menemukan bukti, sebentar lagi ia bisa mendapatkan maaf dari icha, fikirnya.


"Rekaman 2 hari lalu sekitar jam 18.20 ya pak" Ucap adit bahagia, ia mengusap usap tangannya.


"Yang ini mas" Ucap operator cctv tersebut.

__ADS_1


"Loh kok, pinjem mas" Adit meraih mouse monitor tersebut. Menggerakkannya sendiri


__ADS_2