Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 48


__ADS_3

Icha tidak mempermasalahkan jika ada yang meminjam helm nya, namun tidak bisakah dikembalikan sebelum jam pulang. Batin nya, ia kini sudah berada di depan pagar rumah, icha membuka pagar dan memasukan motor nya di garasi. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dengan menggunakan helm gina


"Mas adit, assalamualaikum" Kata icha yang sedang masuk kedalam rumah.


"Waalaikum salam" Jawab adit, adit duduk di ruang tamu dan sedang membaca koran, kini ia menutup koran tersebut dan meletakkanya di meja.


"Helm siapa yang kamu pakai" Tanya adit


"Huuh nyebelin tau mas, ada yang pinjam helm ku dan tidak dikembalikan" Ucap icha sambil melepas helm nya.


"Ooh dipinjam ya." Ucap adit manggut manggut


"Iya, kesel banget aku. Jadi telat pulang gara gara cari helm" Icha meletakkan helm gina di rak helm, ia pun terkejut kemudian.


"Loh mas" Ucap icha, adit kemudian menghampiri istrinya


"Kamu kan berangkat tidak membawa helm sayang, bagaimana kamu bisa tidak sadar?" Kata adit


"Oya? Aku pakai kok mas tadi, masak iya aku nggak pakai helm. Jauh lo kantorku" Sanggah icha sambil mengamati helm miliknya.


"Nah itu yang jadi pertanyaan. Bagaimana bisa kamu tidak sadar kalau tidak memakai helm" Adit menatap istrinya lekat lekat. Icha nampak berfikir


"Berarti tadi aku pakai helm virtual ya. Aku bener nggak sadar mas, aku malah sampek emosi karna kupikir helm ku dipinjam orang. Hahah" Icha tertawa, ia sungguh tidak menyadari dan tidak mengingat kejadian tadi pagi. Bahkan ia merasa menggunakan helm. Entahlah, sepertiny gara gara memikirkan renata otak nya jadi sedikit heng.


"Hmmm ternyata istriku jago ngelawak juga ya" Ucap adit sambil mengerlingkan matanya.


"Siapa juga yang ngelawak, aku memang nggak sadar kok" Kata icha sambil berlalu masuk kedalam kamar, ia hendak berganti pakaian dan mandi.


"Mas adit ngapain ngikutin aku, aku mau mandi" Kata icha.


"Ikutan boleh?" Ia menggoda istrinya.


"Apasih mas" Kata icha


"Oke mandilah, aku akan siapkan makan malam" Ucap adit, dia berlalu pergi ke dapur sedangkan icha membersihkan diri di kamar mandi.


Icha memang beruntung, ia memiliki suami dokter yang tampan yang dapat diandalkan. Ia bisa merawat dikala dirinya sakit, ia pandai memasak dan ia mau melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel lantai. Icha berterimakasih kepada bapaknya yang telah menjodohkan nya dengan adit.


"Mas, aku bantu apa?" Tanya icha saat ia sudah selesai mandi dan berdandan tipis dirumah. Ia mengenakan shortdress polos bewarna lilac dengan rambut yang digerai,


"Siapkan piring saja" Kata adit sambil menoleh kearahnya.


"Mas adit masak apa?" Icha memeluk suaminya dari belakang dengan manja.


"Udang saos tiram sama cah kangkung" Kata adit, icha memperhatikan adit memasak dengan lihai nya, kini adit sedang menumis kangkung. Icha masih saja memeluknya dari belakang


"Aduh sakit, hahaha" Kata icha saat tangan adit menyodok wajahnya. Ia pun malah tertawa

__ADS_1


"Hmmm salah sendiri ya. Kan aku lagi numis, tanganku pasti gerak gerak. Duduk saja sana. Nanti nggak enak" Ucap adit, ia memang tidak suka diganggu ketika memasak.


"Padahal biar romantis seperti film film, ternyata tidak sesuai harapan" Icha duduk di meja makan .


"Ini dunia nyata bukan film. Oh atau kamu mau kita melakukan adegan film? Nanti malam ya, kita buat adegan seperti di film" Kata adit sambil tersenyum nakal.


"Adegan seperti apa maksud mas adit?" Icha nampak kebingungan.


"Adegan seperti tadi malam. Kita buat yang lebih seru" Adit mengedipkan sebelah matanya sambil melirik istrinya. Icha langsung mematung seketika tanpa jawaban, katanya menolak suami itu dosa. Tapi icha sangat lelah untuk berolahraga malam ini.


Setelah shalat magrib berjamaah adit dan icha makan malam dimeja makan. Icha tidak sabar merasakan masakan adit, dari baunya saja sudah menggoda.


"Mas adit belajar dari mana sih kok bisa masak enak" Tanya icha sambil mengambilkan nasi kepiring suaminya.


"Aku kan sudah hidup sendiri lama, jauh dari orang tua. Otodikdak belajar masak lah" Ucap adit yang membuat istrinya jadi makin terpesona, sedangkan icha saja tidak bisa masak.


"Aku jadi minder sama mas adit, aku beruntung banget dapat suami ganteng, dokter dan serba bisa. Nah, mas adit? Dapat istri yg g jago masak, pelupa dan nggak sempurna" Icha terlihat lemas dan wajahnya sedih.


"Hey, kenapa bicara begitu. Aku menikah bukan mencari pembantu, kamu sangat cantik dan menggemaskan" Ucap adit sambil mencubit gemas pipi icha.


"Sakit, tapi ada rasa minder aja sih. Dan takut suamiku tergoda sama dia" Kata icha lagi.


"Nggak sayang, oya aku mau bicara serius boleh?" Tanya adit. Tangan nya dilipat di depan dada.


"Tentu saja, mas adit mau bicara soal apa?penting sekali?" Jawab icha sedikit deg deg an.


"Sangat penting. Ini soal perasaanku yang sesungguhnya" Ucap adit dengan wajah yang serius, kini tangan nya sudah bergerak bebas


"Icha, sebenarnya aku sangat...." Adit menghela nafas, wajah nya berubah sedikit marah. Melihat itu Icha jadi menciut, apakah icha bersalah pada adit ataukah ada sifat icha yang tidak adit sukai.


"Aku tuh sangat lapar lo cha sebenarnya, boleh nggak kita makan dulu, dari tadi cuma pegang sendok sambil menatap makanan tapi nggak makan makan" Ucap adit sambil memelas, ia memegangi perutnya yang sedang keroncongan.


"Ya allah, maaf mas. Aku terbawa suasana. Kasian perut suamiku. Makan makan. Hahaha" Icha tertawa lega. Sedari tadi mereka hanya menatap makanan tanpa menyentuh nya.


Setelah icha selesai semua mencuci piring dan membersihkan dapur ia segera melaksanakan shalat isya, kemudian icha berganti pakaian mengenakan kulot tebal, atasan sweeter tebal lalu mengenakan kerudung instan. Ia sudah siap untuk memulai mimpinya di pulau busa ber pirr. Adit kemudian masuk kedalam kamar, ia mendapati istrinya sedang mengenakan baju yang tebal.


"Kamu mau ke mana berpakaian seperti itu?" Tanya adit sambil menutup pintu kamar.


"Aku sedang kedinginan" Jawab icha. Adit mendekati istrinya dan memeriksa kening istrinya.


"Kamu tidak panas kok sayang, apa yang sakit?" Tanya adit. Icha sedikit salah tingkah


"A...aku, badan ku terasa linu linu sih" Ucap icha, adit menangkap gelagat bohong dari istrinya, sepertinya adit tahu kenapa istrinya memakai pakaian tebal dan panjang. Pakai kerudung pula. Adit tersenyum. Padahal ia hanya bercanda soal membuat adegan film yang lebih panas dari semalam tapi icha sudah termakan omongan adit.


"Sini biar aku periksa, lepas dulu sweeter sama jilbab nya" Kata adit


"Nggak usah mas. Aku ngga apa. Butuh istirahat aja sepertinya" Kata icha

__ADS_1


"Aku kan seorang dokter, aku tidak akan membiarkan istriku kesakitan" Icha membuka kerudung dan sweeternya, ternyata rencananya salah, ia lupa bahwa suaminya seorang dokter.


"Sebelah sini yang sakit?" Tanya adit sambil menekan perut icha asal namun dengan lembut. Icha menggeleng.


"Atau yang ini yang sakit?" Adit memegang dada icha yang membuat icha makin deg deg an.


"Bukan itu mas yang sakit" Bantah icha, ia menyingkirkan tangan suaminya.


"Bentar bentar, tapi jantungmu berdetak sangat cepat. Ini sangat berbahaya. Biar aku periksa lebih dalam" Adit semakin menekan nekan dadanya membuat icha semakin gelisah, fix ini dia malah terjebak dalam sangkar harimau.


"Mas sudah, aku tidak apa apa. Lepaskan tanganmu" Kata icha


"Yakin sudah tidak sakit? Tapi ku belum selesai memeriksanya, aku harus teliti dalam memeriksa istriku, apa sebaiknya baju ini dibuka saja? Aku harus langsung menyentuhnya agar bisa memeriksa dengan teliti" Ucap adit menggoda istrinya.


"Jangggaaaan" Kata icha langsung duduk dan menutupi dadanya dengan tangannya yang menyilang.


"Ha ha ha ha ha" Adit sudah tidak bisa menahan tawa, wajah istrinya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Kenapa mas adit tertawa? Ngerjain aku ya?" Kata icha dengan tatapan penuh selidik.


"Kamu sih lucu sekali, gimana sekarang? Mau lanjut membuat adegan film?" Tanya adit sambil memegang kedua pundak istrinya. Icha menggeleng.


"Oke istirahat ya" Ucap adit dengan lembut lalu mencium kening istrinya


***


Doni sedang memandangi wajah putrinya. Ia sedang syok bahwa ternyata inge mengidap tumor otak ganas. Ia tak henti hentinya mengeluarkan air mata. Doni keluar dari NICU, ia duduk disamping renata.


"Ini semua salah kamu" Ucap renata datar


"Bagaimana ini bisa kesalahanku?" Tanya doni sambil melirik istrinya dengan tatapan yang marah


"Kalau kamu tidak bangkrut ini semua tidak akan terjadi" Kata renata tanpa menoleh sedikitpun kearah doni.


"Ha...ha.. Dasar wanita mata duitan" Ucap doni. Renata tidak pernah berubah, semua hal selalu disangkut pautkan dengan uang uang dan uang.


"Kita tidak usah datang ke mediasi perceraian kita, biar prosesnya lebih cepat. Aku sudah tidak sabar cerai sama kamu" Ucap renata yang membuat doni tersenyum sinis.


"Di saat anak sedang sekarat, ada ya seorang ibu yang malah membahas perceraian. Tenang aja. Aku juga sudah tidak sudi jadi suamimu" Doni bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan renata, sebaiknya ia banyak banyak berdoa.


Doni melangkah menuju masjid rumah sakit, saat ini hanya allah satu satunya tempat curhat bagi doni. Ia ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk kacaunya rumah tangganya dengan renata. Setelah shalat dhuha ia berserah diri kepada allah, adit bersujud bersimpuh memohon yang terbaik untuk inge.


"Ya allah, hamba tau hamba bukan lelaki yang baik, hamba penuh dengan dosa. Hamba pernah berbuat jahat dan menyakiti hati banyak orang. Terutama icha. Hamba mohon ampun ya allah" Adit mulai meneteskan air mata. Saat itu suasana sepi, hanya adit yang berada di dalam masjid.


"Hamba juga tau selama ini hamba terlena oleh kekayaan, hamba menjadi serakah. Mungkin semua cobaan ini adalah peringatan darimu ya allah. Hamba mohon ampunn, hamba sangat menyayangi anak hamba ya allah. Kasihan dia. Hamba tidak tega melihatnya. Angkatlah penyakitnya ya allah. Hamba mohooon" Doni menangis tersedu sedu. Ia mengangkat kepalanya.


Doni mengucek matanya . Ia melihat seorang anak perempuan berdiri di depannya.

__ADS_1


"Inge?"


Hai readers, mohon like dan komen nya yah.


__ADS_2