Assalamualaikum Lelaki Pilihan

Assalamualaikum Lelaki Pilihan
Bab 47


__ADS_3

Icha tertawa puas dengan apa yang sudah ia lakukan, ia tidak rela ada wanita lain yang memata matai suaminya dan kehidupan pribadinya.


"Yaudah kita tidur yuk" Kata adit.


Ting tung


Ada pesan whatsapp yang masuk kedalam ponsel adit. Ia membuka nya dan membaca pesan itu.


"Cha" Kata adit, lalu menyerahkan ponsel nya pada istrinya.


"Nah kan. Apa aku bilang. Sudah jelas banget kan ini. Apaan bilang gini, mas adit aku kangen. Hiiih jijik" Kata icha. Ia melempar ponsel adit ke depan.


"Berarti bener itu renata yang hack?" Tanya adit, sambil mengambil ponsel nya yang dibuang icha.


"Ya jelas dong mas, tuh dia stress g bisa bajak lagi akhirnya chat kangen" Kata icha menggebu gebu sudah mirip seperti emak emak.


"Yaudah stop ngomongin dia, lebih baik kita bersenang senang yuk" Ucap adit sambil membelai rambut istrinya.


"Gimana bersenang senang nya? Lagi panas ini gara gara wanita itu" Ucap nya sambil mengipasi wajahnya dengan tanganya


"Bersenang senang itu hidup tentram. Nggak ada gangguan dari wanita penggoda, hiiih sebel banget kenapa sih dia nggak......" Icha tidak melanjutkan kalimatnya karena adit tiba tiba mencium bibirnya. Icha terdiam dan badan nya kaku jantungnya berdetak dengan cepat.


"Ini caranya bersenang senang sayang" Kata adit dengan tatapan yang memabukkan, ia kembali mencium istrinya, kini icha pasrah dan menikmatinya.


***


"Gara gara mas adit aku bangun kesiangan" Gerutu icha sambil mengeluarkan sepeda motornya. Setelah mengunci pagar ia segera berangkat ke kantor.


Kemarin malam adit mengajaknya bersenang senang hingga lupa waktu, akhirnya pagi ini ia bangun kesiangan. Jarak rumah icha ke kantor lumayan jauh sehingga icha harus berangkat ke kantor sebelum jam 7 pagi.


Disepanjang perjalanan ia memikirkan kejadian semalam, apa yang harus icha lakukan agar rumah tangganya selalu utuh dan tidak tergoyahkan. Icha sangat percaya pada suaminya, namun tetap ada rasa ketakutan di hatinya terlebih ia berhadapan dengan wanita yang sudah pernah merebut calon suaminya.


"Apa aku harus perawatan kesalon ya" Gumam icha dalam hati. Tidak terasa icha sudah sampai di halaman kantornya, ia pun juga kaget padahal sedari tadi ia melamun ternyata ia sukses sampai ke kantornya dengan selamat.


Icha berhenti di depan mesin absensi, ia sudah terlambat 15 menit. Kemudian ia bergegas menuju parkiran untuk memarkirkan motornya.


Ia buru buru karena hari ini ia kedatangan banyak sampel. Setelah


Setelah motornya terparkir dengan baik ia berjalan cepat menuju ke laboratorium.


" Bu ani masih disini" Kata icha saat bertemu bu ani di ruang administrasi laboratorium mikrobiologi


"Iy ada dokumen yang harus ku periksa. Segera ke lab kamu, sudah ada nisa sama rido" Ucap bu ani. Icha meletakkan tas ranselnya lalu bersiap ke laboratorium.


Dirumah, adit sedang geleng geleng dengan apa yang sudah icha lakukan. Ia hendak menelepon istrinya namun diurungkannya, toh istrinya juga tidak mengirim pesan otomatis semua baik baik saja.


"Triiiing" Ponsel nya berdering,


Adit mengambil ponsel yang ada di saku celanan nya


"dr. Sandy" Ucap adit lirih, ia mengangkat telepon itu

__ADS_1


"Iya assalamualaikum dok" Ucap adit sambil duduk di kursi teras rumahnya


"Waalaikum salam. dr. Adit. Aku sudah menemukan penyebab sakitnya inge. Dari hasil CT scan, ada tumor di kepalanya yang menekan syaraf" dr. Sandy menerangkan. Adit menghela nafas panjang


"Apakah tumor jinak atau tumor ganas dok" Tanya adit, ia memijat kening nya sendiri


"Ini masih dipastikan, semoga tumor jinak, kita tinggal melakukan operasi dan insyaallah inge akan sehat kembali" Tutur dr. Sandy.


"Baik, aku mengerti, terimakasih dokter sandy" Ucap adit. Lalu ia mematikan telepon. Adit merasa kasihan pada inge, ia selalu tidak tega melihat anak anak sakit, ia sangat menyayangi anak anak oleh sebab itu ia berkeinginan untuk menjadi spesialis anak suatu saat nanti.


Adit mengambil jaket nya, lalu bergegas ke rumah sakit ia bekerja. Setelah sampai di rumah sakit, ia segera menuju IGD, seperti biasa saat pagi pun IGD selalu ramai dengan pengunjung, namun saat ini masih terlihat kondusif karena tidak ada pasien gawat.


"Selamat pagi dok" Sapa perawat ana,


"Pagi an. Renata masuk hari ini?" Tanya adit sambil meletakkan tas nya di dalam loker.


"Renata cuti mulai hari ini dok. Sepertinya dia ada di NICU sekarang" Ucap ana menjelaskan. Adit mengangguk. Memang sebaiknya ia menemani buah hatinya.


"Pagi dokter adit" Sapa rio yang mampir ke IGD, ia memegang pundak sahabatnya itu.


"Hey bro. Lepas tugas malam?" Tanya adit, sambil memeriksa status pasien.


"Iya, aku baru nengok anak nya renata. Kamu yang ajukan pake donasi ya?" Tanya rio, ia duduk di kursi pasien di depan adit.


"Iya benar, apakah sudah disetujui? Gimana keadaan anak renata?" Tanya adit menatap rio dengan serius


"Sepertinya sudah ya, kalau keadaanya setauku tadi masih menunggu hasil. Semoga ya hanya tumor jinak. Kasian, anak sekecil itu sudah sangat menderita" Ucap rio dengan wajah menunjukkan keprihatinan kepada anak renata.


Dari arah pintu IGD terlihat seorang ibu sedang menggendong anaknya yang sedang menangis, dengan sigap perawat ana menghampiri, perawat ana kemudian membaringkan anak tersebut di ranjang IGD, dokter adit dengan sigap datang untuk memeriksa anak tersebut,


Sekitar jam 11 siang, adit berpamitan untuk menjenguk anak renata karena semua pasien sudah tertangani.


"An, aku naik dulu ya, kalau ada pasien kamu telfon aku" Ucap adit sambil menutup rekam medis pasien.


"Iya dok. Saya nanti aja" Kata ana. Adit beranjak pergi dari IGD, ia menaiki lift dan menuju ke lantai 3 ke ruangan NICU. Renata tampak sedang melamun di kursi tunggu di depan ruangan NICU. Ia termenung enatah apa yang dia fikirkan saat ini. Adit menghampirinya dan duduk disebelah renata.


"Ren, sabar ya" Kata adit sambil menepuk pundak renata,


"Eh mas adit" Kata renata saat menyadari kedatangan adit, matanya sembab ia terlihat sangat kacau.


"Kamu wanita kuat, harus kuat untuk inge" Kata adit. Renata nampak meneteskan air mata lalu ia memeluk adit dengan erat.


"Mas adit, aku takut mas , akuu.... Hikss" Renata menangis hingga dia tidak dapat berkata kata.


Adit terkejut renata berani memeluknya, namun ia juga tidak mungkin melepaskannya karena saat ini ia melihat renata yang menangis tersedu sedu. Adit mengusap punggung renata.


"Aku takut kehilangan inge mas. Aku takuut" Ucap renata


"Kamu harus kuat dan semangat demi inge, renata yang ku kenal adalah renata yang tangguh" Adit sambil melepaskan pelukan renata perlahan, ia tidak mau ada orang yang melihatnya berpelukan dengan renata.


"Aku butuh mas adit untuk jadi penyemangatku saat ini" Renata mengusap air matanya yang menetes.

__ADS_1


"Inge adalah penyemangatmu, bukan aku. Lihat wajah nya, ingat tawanya. Itu akan jadi penyemangat agar kamu lebih kuat" Adit mencoba menasehati,


"Aku akan makin kuat menghadapi cobaan ini kalau mas adit menguatkan aku" Ucap renata.


"Kami semua teman temanmu pasti menguatkanmu ren. Oya doni kemana?" Adit tidak mau terbawa oleh renata, adit sangat ingat pesan istrinya. Ia tidak mau mengecewakannya


"Dia kerja katanya, nggak jelas kerja apa, nggak menghasilkan banyak uang juga, emang laki laki nggak guna" Ucap renata sinis, bagaimanapun adit tau bagaimana doni bekerja, ia pun rela jadi tukang sapu demi anaknya.


"Dia lelaki yang bertanggung jawab, dia masih mau mengusahakan buat anakmu, hargailah dia ren" Sanggah adit, renata tersenyum sinis


"Sudah mas adit, Aku tidak mau membahasnya" Kata renata sedikit kesal,


"Okey, aku balik ya, semoga inge lekas membaik" Ucap adit, ia berdiri dari duduknya hendak berjalan pergi dari sana


"Mas adit tunggu" Renata memegang tangan adit, lalu berdiri. Ia kembali memeluk adit dengan erat.


"Ren, lepaskan, jangan begini. Tidak enak dilihat orang" Kata adit sambil berusaha melepaskan pelukan renata, akirnya renata pun pelepaskannya.


"Aku hanya rindu padamu. Tidak bisakah mas adit menemanku hemm? Kumohon" Rengek renata dengan wajah yang memelas


"Aku sedang dinas. Maaf ren" Adit menolak secara halus, sebenarnya dia sudah sangat risih dengan situasi ini namun ia berusaha menjaga sikapnya


"Setelah lepas dinas? Temani aku ya. Kehadiran mas adit membuatku lebih kuat. Pliss" Renata menelangkupkan tangannya didepan muka, memohon kepada adit.


"Aku harus pulang, istriku menunguku, dia membutuhkanku" Adit masih menanggapi dengan baik


"Aku lebih membutuhkan mu mas, dia baik baik saja, lihat aku yang saat ini sedang terluka kumohon, aku butuh kamu dari pada dia" Ucap renata menggebu, dia berbicara seolah adit miliknya, adit menarik nafas panjang ia seolah muak dengan sikap renata yang seperti itu.


"Ren, tolong. Kamu hanya rekan kerja, jangan pernah kamu samakan posisi mu sepenting istriku. Ingat itu" Tutur adit keras. Renata terdiam. Ia memandangi punggung adit yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.


"Lihat saja, aku akan membuat dia jadi tidak penting lagi bagimu. Dan aku akan menjadi yang terpenting dalam hidupmu. Tunggu saja mas adit" Gumam renata kesal, ia mengepalkan kedua tangan nya.


Di sisi lain, icha sedang merebahkan tubuhnya pada sofa, hari ini membuat ia sungguh lelah. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan suaminya. Jam 4 tepat, icha segera turun untuk pulang, ia menuju parkiran motor bersama gina sahabatnya.


"Kenapa ini anak malah celinguk an" Tutur gina saat melihat icha menoleh kesegala arah seperti orang kebingungan.


"Gin, ini motor ku kan? Kok helm nya nggak ada yah" Kata icha heran, gina ikut menoleh ke kanan dan kiri membantu icha mencari helm nya.


"Nggak ada cha. Apa mungkin dipinjam ya" Kata gina.


" Nyebelin banget sih. Udah tau waktunya jam pulang, pinjem helm nggak dibalikin" Gerutu icha kesal.


"Coba tanya tanya dulu sana" Ucap gina memberikan saran. Icha mencari helm nya dan menanyakan pada teman teman nya termasuk kepada security, namun tidak ada yang melihat helm icha, helm bergambar hello kitty bewarna pink.


"Duh, nyebelin sumpah. Siapa sih yang pinjem" Kata icha sedikit emosi, ia jadi tidak bisa pulang tepat waktu gara gara helm nya tidak ada.


"Aku ambilin helm ku satunya aja ya, dari dapa nggak pulang pulang" Kata gina lalu segera menggambilkan helm.


Beberapa saat kemudian, gina muncul dengan helm bewarna hitam ditangan nya.


"Pake ini aja. Yuk pulang" Ucap gina sambil menyerahkan helm tersebut pada icha.

__ADS_1


Dengan terpaksa icha menggunakan helm gina, dalam perjalanan pulang ia masih diselimuti rasa kesal, hingga suatu kebenaran terungkap, siapa yang sebenarnya mengambil helm icha.


__ADS_2