
"Haaaa" Hanya kata itu yang keluar dari mulut adit sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.
"Mas adit" Teriak icha, ia melajukan kursi rodanya mendekati adit yang saat ini pingsan di lantai
"Mass, bangun mas, maafin icha mas" Icha panik, ia menepuk nepuk tangan suaminya, ia bingung bagaimana cara mengangkat adit, mengangkat dirinya sendiri saja ia tidak bisa.
"Duh, icha harus ambil minyak angin ini, tapi gimana ya" Icha menengok kanan dan kiri mencari jalan untuk dapat masuk kedalam rumah. Namun tidak ada akses, karena adit terdampar disana yang menghalangi jalan icha.
Ia tidak tau kenapa suaminya setakut itu dengan hantu hingga membuatnya pingsan, icha jadi merasa sangat bersalah pada suaminya karena telah acting kesurupan di depan adit
"Maas, bangun mas, aku kan tadi bercanda. Aku nggak bisa ambil minyak angin loh, masak iya pakek bau ketek ku, bangun dong" Ucap icha sambil mengoyak kaos adit hingga molor.
Adit yang mendengarnya tidak dapat menahan lagi, ia tertawa tertahan mendengar icha yang akan membangunkannya menggunakan bau ketek,
"Ha..ha ha...." Adit berbalik sambil tertawa, ia melihat ekspresi istrinya.
"Mas adit pura pura? Nggak boleh gitu dong mas. Bikin istrinya kawatir" Ucap icha kesal, adit duduk dan memandang kearah icha.
"Kamu sih yang mulai, buat aku kawatir, ini jam 10 malam lo, malah nakutin aku dengan pura pura kesurupan. Dosa tau" Ucap adit.
"Loh mas, aku kan tadi acting, bukan pura pura, lagi casting untuk membuktikan ke mas adit kalau aku berbakat" Ucap icha membela diri.
"Sudah ya, jangan gitu lagi, takut tau" Ucap adit, ia memegang dadanya, ia kemudian berdiri dan mendorong kursi roda icha kedalam rumah.
"Mas adit juga jangan gitu lagi, nggak boleh pura pura pingsan lagi, eh tapi lumayan juga sih acting mas adit, apa kita di amerika casting bareng saja" Ucap icha memberikan ide.
"Gitu ya? Aku nggak usah kuliah spesialis anak, tapi spesialis film horor gitu?" Tanya adit, ia mendorong kursi roda icha kedalam kamar, lalu menggendong istrinya dan dibawa ke ranjang berukuran king size.
"Jangan deh, mas adit tetep kuliah aja, biar aku yang casting. Ha...haa" Ucap icha
"Baiklah, istriku atur saja. Aku mau ganti baju dulu, kotor kan habis pingsan di lantai tadi" Ucao adit yang sedang menunjukkan baju dan celana nya yang berdebu lantaran ia pingsan di luar rumah yang bercampur dengan tanah
Beberapa minggu setelah nya, icha memutuskan untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya, ia yang ditemani suaminya datang ke kantor icha.
Hatinya telah mantap untuk resign dan akan ikut adit ke amerika.
Ia sudah bercerita pada gina tentang rencananya untuk resign. Adit mendorong istrinya menuju keruang HRD setelah melapor di security.
"Ichaaaa, kangen" Ucap gina sambil membungkuk untuk dapat memeluk icha.
"Bu melda ada kan? Aku mau kasih surat resign ku nih. Deg deg an" Kata icha sambil memegangi dada nya.
__ADS_1
"Ada, yuk aku antar sekalian. Yuk dok" Ucap gina. Mereka menuju keruangan bu melda.
"Nggak ke resepsionis dulu nih gin?" Ucap icha.
"Ya ampun cha, kamu kan pegawai disini masih an, langsung aja ke ruangan nya. Kayak tamu aja" Ucap gina.
"Haay icha, kamu sudah masuk? Maaaf ya saya nggak nengokin kamu" Ucap pak darso staff keuangan.
"Enggak masuk sih pak, mau ketemu bu melda. Doanya saja pak biar icha cepat sembuh" Ucap icha, adit pun bersalaman dengan pak darso.
"Ada diruanganya, masuk saja sana" Kata pak darso.
"Yaudah, aku tunggu disini ya" Ucap gina, adit mengetuk pintu ruangan bu melda yang saat ini sedang terbuka,
"Haii ichaa, gimana kondisinya?" Ucap bu melda, ia berdiri dari duduknya dan menghampiri icha.
"Baik bu. Sudah jauh lebih baik. Oya bu kenalkan ini suami saya" Ucap icha memperkenalkan adit pada bu melda.
"Hai, ini dokter adit itu ya. Mari silahkan duduk" Ucap bu melda. Ia duduk kembali di kursinya sambil merapikan berkas berkas yang ada diatas meja.
"Gimana gimana, kok tumben kesini bareng suami?" Kata bu melda yang merasa heran, apakah icha mau memperpanjang cutinya atau bagaimana.
"Iya bu, saya mau menyerahkan surat pengunduran diri saya" Kata icha sambil menyerahkan amplop berisi surat pengunduran dirinya.
Icha menoleh pada suaminya yang di balas senyuman oleh adit.
"Iya bu milda, saya ingin icha fokus pada pengobatannya, dan kesembuhan icha ini kan memang membutuhkan waktu beberapa bulan juga" Kata adit menjelaskan keadaan istrinya.
"Iya bu, saya juga tidak dapat bekerja selama beberapa bulan itu kan, jadi saya memutuskan untuk resign" Kata icha menyambung penjelasan dari adit.
"Kami tidak apa apa sebenarnya icha, kami bisa menunggu, eman lo kalau kamu resign" Ucap bu melda.
"Iya bu, dan sebenarnya mungkin sekitar 5 bulan lagi saya mau ikut suami saya keluar kota untuk kuliah lagi" Ucap icha.
"Loh kan masih 5 bulan lagi cha, kok resign nya sekarang" Tanya bu melda
"Iya bu, kan saya penyembuhannya kemungkinan bisa 4 bulan, jadi sekalian bu resign dari sekarang, eman kan bu uang nya buat gaji saya yang nggak masuk, eh ujung2 nya resign" Ucap icha, bagaimana pun pegawau yang cuti sakit masih menerima gaji pokok.
"Luar biasa kamu. Saya merasa sangat kehilangan kalau kamu resign" Ucap bu melda
"Tapi oke, ini saya proses ya cha, kalau berubah fikiran kamu bisa menghubungi saya ya" Ucap bu melda, icha dan adit mengangguk.
__ADS_1
Setelah selesai dengan bu melda, adit dan icha keluar dari ruangan tersebut. Disana ada gina dan rangga sedang duduk, entahlah sekarang melihat rangga membuat adit merasa sebal.
"Cha" Panggil rangga.
"Hey ngga, lama ya nggak ketemu" Ucap icha dengan sumringah
"Baik cha, maafin aku ya cha" Kata rangga penuh penyesalan
"Apa sih ngga, nggak ada yang salah, udah biasa aja. Kan aku udah bilang, kalian berdua nggak ada yang salah" Ucap icha sambil tersenyum sedangkan adit memalingkan wajahnya.
"Ayo sayang, kita pulang. Kamu harus istirahat, harus minum obat juga biar cepet pulih" Ucap adit,
"Aku duluan ya gin, ngga" Kata icha sambil melambaikan tanga nya, adit merasa ada sesuatu yang salah pada rangga dan ia merasa tidak menyukai rangga sejak kejadian pencururian C*lana Dal*am waktu itu.
Kini icha sudah memutuskan akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi, waktu nya ia gunakan untuk belajar memasak bersama sus santi, ia juga ingin sekali mendapatkan momongan, namun hampir 1 tahun menikah mereka belum kunjung mendapatkan momongan.
Terkadang hal tersebut membuat icha kawatir, ia takut jika ia tidak dapat memberikan keturunan untuk suaminya, terlebih mertuanya sering menanyakan tentang kehamilan.
2 bulan telah berlalu, icha kini sudah diperbolehkan menggunakan penyangga kaki karena kaki nya sudah lebih kuat, namun harus tetap melakukan fisioterapi agar kakinya makin kuat.
Sedangkan renata selama itu juga sudah menunjukkan sikap baiknya, ia sama sekali tidak menggoda adit, bersikap biasa layaknya seorang rekan kerja, hal tersebutlah yang membuat adit kini percaya pada renata.
"Ren, tolong dong bolpen" Ucap adit, yang saat ini sedang kehabisan bolpoin, renata mengambilkan bolpoin untuk dokter adit.
"Ini dok" Ucap renata sambil menyerahkan bolpoin bewarna biru kepada dokter adit.
"Makasih ya ren" Ucap adit.
"Ren, kamu nggak pernah buat brownis lagi. Open BO dong ren" Ucap salsa asal ceplos.
"Open PO sal, bukan open BO" Ucap rendi sambil mengusap wajah salsa
"Aduh rendi, kan maksud aku ya itu" Salsa melempar tangan rendi dengan kesal.
"Kalian ini kenapa sih nggak akur, nanti jatuh cinta baru tau rasa" Ucap adit sambil memandang serius kearah 2 perawat tersebut.
"Kayaknya sih aku juga mencium bau bau asmara sih dok" Ucap renata yang kemudian duduk didepan adit, mereka bergurau bersama. Begitulah suasana IGD saat semua kondusif.
Dilain sisi, terlihat tita yang saat ini sedang berada di bioskop, ia sedang menunggu kehadiran seseorang.
Tita duduk di kursi tunggu di depan pintu bioskop sambil menyerupit es yang sedang ia pegang.
__ADS_1
"Ta, yuk masuk" Ucapnya