
"Tangan saya kaku sus" Ucap ibu tersebut sambil menahan sakit.
Renata berusaha untuk melepaskan rambutnya sedikit demi sedikit. Dan akhirnya ia pun sudah terlepas dari jambakan ibu hamil. Setelah menghubungi ruang persalinan akhirnya ibu hamil tersebut dibawa keruang persalinan.
Renata menghela nafas, ia melihat dokter adit yang sedang menangani pasien anak. Ia menghampiri adit. Disana ada suster risa yang sedang membantu.
"Biar aku saja, kamu bantu yang lain saja" Ucap renata, risa menurut pada renata yang tak lain adalah seniornya.
Kini adit berusaha menenangkan anak laki laki tersebut. Adit hendak mengobati luka dikaki anak laki laki tersebut, kakinya sobek sehingga membutuhkan jahitan. Namun anak tersebut terus menangis sambil memeluk ibunya.
"Nggak mau...haaaaa, sakiiit. Huaaaa" Air matanya terus mengalir dengan derasnya.
"Hey, ijin kan om dokter obati lukamu. Om janji setelah ini kamu tidak akan kesakitan lagi" Ucap adit. Anak laki laki yang kira kira berusia 5th tersebut tetap menangis dan mengeratkan pelukannya pada ibunya. Kakinya tidak mau disentuh oleh adit.
"Ayo didit, nggak boleh begitu ya" Ucap mamanya, ia juga menahan sakit akibat kepalanya terbentur saat kecelakaan, hanya luka sobek sedikit dan tidak ada luka serius.
"Nggak mau mama. Takuuut" Ucap didit. Tanganya menyingkirkan tangan adit. Ia menolak untuk disuntik dokter adit.
Renata hanya memandang dan menunggu instruksi dari dr adit. Adit kemudian menyuruh renata untuk mengambil sesuatu di tas nya.
"Ini dokter" Kata renata. Adit menerima benda itu. Sebuah boneka jari yang berbentuk kelinci, ia memasangkanya pada pegangan spuit.
"Lihat ini, kelinci ingin menyembukan mu. Kelinci mau jadi teman kamu. Apakah kamu mau disembuhkan kelinci?" Didit menoleh kearah spuit yang sudah dipasang kelinci. Didit pun mengangguk pelan.
"Kalau gitu kelinci sembuhkan ya. Didit tidak boleh menangis. Apa didit suka mobil mobilan?" Tanya adit pada anak kecil itu.
"Iya" Kata didit sambil mengusap air matanya.
"Kelinci punya hadiah. Ini dia. Didit tidak boleh nangis lagi ya" Adit memberikan sebuah mobil mobilan berukuran sedang. Didit menerimanya dengan bahagia.
Kini adit dapat menyuntikkan obat bius kepada anak kecil tersebut tanpa drama.
Didit sibuk memainkan mobil mobilan
"Bagus ya mobil nya" Kata mama didit. Didit fokus pada mainan nya sehingga adit leluasa untuk menjahit kaki didit.
Renata begitu kagum pada adit. Ia sangatlah cerdas menurut renata. Setelah selesai menjahit adit meminta renata menyelesaikan lainya.
Adit mengecek korban kecelakaan mobil lainya. Semua sudah tertangani. Ia menuju ke ruang jaga dokter, mengambil air minum nya.
"Mas adit tadi keren sekali" Ucap renata yang tiba tiba muncul dibelakang adit.
__ADS_1
"Sudah tugas dokter, nggak ada yang keren" Kata adit, ia memasukan minuman kedalam lokernya.
"Iya tapi mas adit keren bisa punya ide seperti itu" Kata renata.
"Kalau dirumah sakit bisa panggil dokter adit saja?" Ucap adit memberi teguran secara halus.
"Oh iya maaf dok" Kata renata. Adit berlalu meninggalkan renata.
"Ren" Adit menoleh memanggil renata. Renata pun seketika senang dan berbalik badan.
"Iya dok" Kata renata dengan sumringah.
"Ada kaca di situ" Kata adit sambil menunjuk kaca. Renata yang bingung merasa kesal dengan kata kata adit. Maksudnya apa menunjukkan kaca padaku batin renata.
Renata kemudian mendekati kaca. Ia pun terkejud saat mendapati rambutnya yang berantakan.
"Si^al gara gara ibu hamil tadi. Duuuh malu nya aku terlihat jelek begini di depan mas adit" Rancau renata sambil membetulkan rambutnya yang berantakan akibat di jambak oleh ibu hamil.
IGD sudah lebih kondusif dari sebelum ny. Adit beristirahat sejenak di ruangan dokter karena sudah ada dokter lain yang standby. Ia memijat mijat pelipis nya.
"Dokter adit lapar ya" Tanya renata yang tiba tiba duduk di depan adit.
"Ren. Kamu ngapain? Bukanya harus menaikan pasien ke rawat inap?" Tanya adit yang heran kenapa renata bisa ngintilin dia terus.
"Taraaa, aku buat sandwich. Rasain dong" Ucap nya girang
"Enggak lapar, nanti saja aku ke kantin" Ucap adit.
"Ayo dong mas. Aku sudah buatin spesial lo ini buat mas adit" Ucap renata berusaha untuk memaksa adit. Ia menampakkan wajah sedih karena adit menolaknya.
"Buat kamu saja. Aku sedang tidak ingin makan" Tolak adit.
"Ini aku buat memang kusus untuk mas adit. Kita makan sama sama saja gimana mas, mas adit renata suapin ya. Aaaaa" Ucap renata. Ia masih berusaha keras untuk membujuk adit. Ia bahkan mencoba menyuapi adit dengan sandwich buatanya
"Ren. Tolong" Adit menepis tangan renata.
"Maaf ya, menurutku ini sudah diluar batas. Selama ini aku diam karena aku masih menghargai rekan kerjaku. Tapi kurasa kamu semakin berlebihan" Ucap adit.
"Maksud mas adit?" Tanya renata dengan wajah sendu.
"Aku minta mulai sekarang kamu jaga sikap. Kamu tidak perlu membuatkan aku apapun itu. Maaf aku harus menjaga perasaan istriku. Tolong lah bersikap wajar selayaknya rekan kerja" Ucap adit tegas, ia sudah muak dengan perhatian perhatian renata, bahkan ia menjadi gosip hangat dirumah sakit
__ADS_1
"Aku hanya senang membuatkan mu sesuatu mas. Aku hanya ingin dekat sama mas adit" Ucap renata, ada air mata tertahan yang hendak jatuh
"Aku pria ber istri. Sepantasnya kamu tidak melakukan itu padaku. Apa lagi ingin dekat denganku. Jangan ngaco ren" Ucap adit dengan sinis.
"Aku bisa kok menjadi lebih baik dari pada icha" Ucap renata, ada air mengalir dipipinya. Ia berharap adit merasa iba padanya. Namun semua itu malah membuat adit merasa muak.
"Tidak ada yang lebih baik dari pada istriku. Dia yang terbaik sampai kapanpun. Jangan pernah berpikir untuk membandingkan icha dengan mu" Ucap adit, ia tidak suka jika istrinya harus dibandingkan apalagi dengan renata.
"Oya satu lagi. Hargai aku sebagai dokter saat aku bekerja" Ia risih di panggil dengan panggilan mas saat sedang berada di rumah sakit. Seakan menunjukkan kalau mereka ada kedekatan yang spesial.
Renata menatap kepergian adit dengan nanar, ia tidak terima diperlakukan begitu. Kalau tidak bisa mendapatkan adit, ia akan membuat icha yang meninggalkan adit batin renata.
Ia mengusap air matanya. Ia mengepalkan tangannya. Renata sangatlah ambisius dalam segala hal, kali ini ia mau mendapatkan adit. Ia akan berusaha mewujudkannya.
"Adiiiit" Bobi memeluk sahabatnya yang sudah lama tidak ia temui itu.
"Ya Allah bob, aku nggak nyadar ini kamu. Kirain siapa orang yang menghalangi jalan ku" Ucap adit, ia baru sadar orang dihadapannya adalah bobi setelah ia dipanggil dan dipeluk sahabatnya.
"Kamu sih nglamun aja. Apa kabar adit?" Tanya bobi.
"Alhamdulilah sehat. Kita makan yuk. Aku laper. Kita ngobrol ngobrol" Ucap adit. Merekapun menuju ke tempat makan karyawan yang ada di rumah sakit.
Bobi saat ini tengah melanjutkan spesialis obgyn, sehingga ia sudah tidak bekerja lagi.
"Gimana gimana? Seru kuliah spesialis?" Tanya adit.
"Seru lah. Kamu harus nyusul dit. Kapan kamu mau spesialis? Kurasa uang mu pasti sudah cukup lah" Tutur boby
"Semoga bisa tahun ini ya. Bekerja rasanya juga kurang kondusif" Ucap adit. Ia memang berencana untuk melanjutkan spesialis nya tahun ini, ia juga sudah lelah dengan drama drama terkait renata. Mungkin lebih baik melanjutkan spesialisnya.
"Memang apa sih yang nggak kondusif? Gara gara dikejar si renata?" Tanya bobi. Adit tersedak saat minum ketika mendengar nama renata disebut oleh bobi.
"Tau dari mana? Kirain kamu fokus belajar, ternyata masih cari gosip" Ujar adit. Bobi pun tertawa mendengarnya.
"Gini bro, menggosip itu salah satu nutrisi otak agar nggak stress, kamu tuh kurang asupan gosip jadi gampang stress" Ucap bobi
"Alhamdulilah aku punya guling bicara dirumah, bisa diajak banyak hal. Kenapa juga aku stress" Balas adit.
"Ngledek niiih?" Mereka tertawa bersama.
"Ngomong ngomong aku punya teman kencan baru. Ya baru chatting aja sih. Anak kedokteran juga. Lihat bro. Cantik ngga?" Bobi menunjukkan sebuah foto gadis cantik.
__ADS_1
"Ini kaaan......" Adit sontak kaget saat melihat wajah gadis itu. Ia memandang sahabatnya lekat lekat dengan tatapan penuh peringatan.
Gadis tersebut tak lain adalah......