Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Rindu hangat kuku.


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak membangunkan aku Liha" ucap Abu. Ia tergesa-gesa ke kamar mandi melewati Liha yang sedang memasak.


Liha tidak menjawab menatap langkah Abu. Ia tidak percaya jika seorang almara sepertinya bisa dinikahi perjaka keren seperti Abu. Itulah yang menjadi pertanyaan Liha dalam hati. Bagaimana seandainya nanti ia dipoligmi? Padahal pria seperti Abu bisa memilih gadis yang paling cantik sekalipun. Dan tidak hanya itu mereka menikah sama-sama dipaksakan. Inilah salah satu yang mengganggu pikiran Liha.


"Liha kok bau gosong?" Bu Indah berlari mengahampiri Liha.


Ceklak!


"Astagfirrullah..." Liha menutup mulutnya, memandangi telur yang sudah berubah hitam. "Telurnya gosong Bun..." ucap Liha setelah kompor mati.


"Kamu mikirin apa? Goreng telur kok sampai gosong begitu?" bu Indah geleng-geleng kepala.


Anak dan ibu itupun tertawa lalu bu Indah melempar tatapan ke kepala Liha, yang masih mengenakan hijab. Padahal biasanya jika di dalam rumah Liha tidak memakai pakaian tersebut.


"Kenapa kamu mengenakan hijab Liha? Abu itu sekarang suami kamu" bu Indah sudah bisa menebak.


"Nggak apa-apa Bun..." sahut Liha lalu membawa hasil karya telur ceplok gosong ke meja. Eh, tetapi hanya satu yang gosong.


Jam berganti matahari sudah menunjukkan sinarnya walaupun hanya sedikit.


"Ental kita mau pulang ke Jakalta ya Umma?" Tanya Ais ketika sudah selesai dimandikan lalu salin baju. Liha mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Jakarta pagi ini.


"Iya... kamu betah di rumah Nenek, atau di Jakarta?" Selidik Liha. Liha sendiri sebenarnya memelih tinggal bersama bu Indah jika bukan karena harus mengikuti suami.


"Om Abu tinggal disini apa ikut ke Jakalta?" Cecar Ais sambil bersedekap menahan dingin.


"Ikut" jawab Liha pendek. Ia belum menceritakan jika Abu kini telah menjadi ayah sambungnya. Biar Abu sendiri yang akan menjelaskan.


"Yeee... betah di Jakalta," jawab Ais pada akhirnya.


"Liha, sudah siap-siap?" Abu menyusul Liha ke kamar, lantas mendekati Ais yang sudah cantik memakai bedak cemong-cemong kas anak-anak.


"Ini lagi siap-siap," Lihat sedang menata pakaian di koper, tanpa menatap pria yang sudah wangi aroma parfum.


"Om Abu ikut belangkat ke Jakalta kan?" Liha memastikan.


"Ikut dong... mulai sekarang... jangan panggil Om lagi ya, karena Om sekarang sudah menjadi Ayah kamu," Abu menjelaskan.


"Jadi Ayah?" Ais bingung tentu anak seusia dia belum bisa mengert. Abu mengangguk.


"Oh, kalau gitu... Ais boleh panggil Abi?" Ais berbinar-binar. Liha yang mendengar terkejut karena panggilan Abi, seketika ingat Imron.

__ADS_1


"Boleh... apa saja. Ayah, Bapak, Abi, yang penting jangan Om," Abu menjelaskan.


"Yeee... Umma... sekalang Ais punya Abi balu" Ais berjongkok di depan Liha. Tampak binar bahagia dimata biru yang belum berdosa.


Selesai berkemas, mereka sarapan pagi dulu. Rencana pagi ini sebelum berangkat akan pamit kepada Ayah Umar dan Ibu Ifah.


"Hati-hati di jalan ya Nak..." bu Indah menitikan air mata. Rela tidak rela kini putri dan cucunya yang baru seminggu berada disini. Akan pergi lagi.


"Nenek... Ais belangkat dulu, tapi jangan nangis," Ais yang sudah di gendong Aslihah salim nenek.


"Nenek nggak nangis kok," bu Indah mengusap kepala cucu nya.


"Liha berangkat ya Bun..." Liha menurunkan Ais kemudian merangkul sang Ibu. Keduanya sama-sama menangis.


"Nak Abu... saya titip anak dan cucu saya," kata bu Indah serak.


"IsyaAllah Bu..." Abu menjabat tangan mertua sebelum akhirnya naik ke atas motor. Kali ini Ais memilih duduk di depan. Sementara Liha kebelakang sambil memangku koper menuju rumah Ayahnya.


**********


Di tempat yang berbeda keluarga kecil bahagia sedang sarapan bersama. Wanita muda sedang membuat roti isi keju untuk suaminya.


"Mas... Pagi ini aku mau mengecek apotek, boleh kan?" tanya Rembulan yang tak lain rekan kerja Abu dan Udin di apotek. ( jika ingin tahu cerita tentang Rembulan. Baca juga. Takdir cinta Rembulan)


"Kan masih ada Abu Yank... percayakan saja kepadanya" saran Tara. Sudah sejak lama Tara menyarankan agar memberikan apotek itu kepada Abu.Toh Bulan selama ini tidak kekurangan masalah keuangan, tetapi Rembulan rupanya belum menanggapi.


"Abu kan lagi pulang kampung mendadak Mas, masalah yang lain kita pikirkan nanti saja,"


"Ya sudah... untuk kali ini, kamu boleh berangkat, tetapi kamu harus pikirkan rencanaku, serahkan saja apotek itu kepada Abu sama Udin," Tara tidak mau dibantah.


"Mam... Mam..." celoteh Rangga anak berusia satu tahun sedang disuapi Midah, duduk di dekat Bulan. Menyela obrolan papa dan mama nya.


"Iya... dedek lagi Mam..." jawab Midah yang sedang menyuapi bubur bergizi.


"Rangga ikut aku Mas... seperti biasa, aku akan mengajak Midah," jawab Bulan sudah biasa jika kemana-mana selalu mengajak Midah sang pengasuh.


"Midah... kamu nanti ikut saya ke apotek ya..." kata Bulan lembut.


"Baik Nona..." sumidah bersemangat hari ini sesuai rencana, Abu akan tiba. Itu artinya Midah bisa bertemu dengan pria pujaan.


"Sumidah... kamu sarapan dulu gih... biar Rangga sama saya dulu" titah Bulan. Ambil alih Rangga dari pangkuan Sumidah.

__ADS_1


"Baik Nona" Sumidah segera ke dapur.


Cintaku hanya kamu🎵


Cinta merah, merah jambu


Rinduku hanya kamu, rindu hangat, hangat kuku.


"Kamu dapat apa Sum? Senang banget?" Tanya bibi ketika melihat Sumidah sedang ke dapur beryanyi riang.


"Bi... pagi ini Non Rembulan mau mengajak aku ke apotek" kata Midah sambil menyendok nasi goreng menuang ke dalam piring.


"Terus kenapa?" tanya bibi.


"Bibi... kemarin kan aku sudah cerita sama Bibi, kalau hari ini A'a Abu tiba di Jakarta. Berarti aku nanti akan bertemu dengannya Bi..." tutur Midah lalu duduk di kursi dapur menyangga piring dengan telapak tangan, melahap nasi goreng.


"Midah... kamu ini kok ngebet banget, memang Abu sudah pernah mengutarakan cintanya sama kamu?" tanya bibi serius.


"Belum sih... sepertinya pria model A'a tidak mengutarakan cinta lewat kata-kata Bi... A'a itu model pria yang lebih menunjukkan perhatian," Sumidah yakin.


"Sum... itu kan hanya menurut pandangan kamu, tetapi kalau boleh... Bibi memberi saran, jangan mengejar-ngejar" nasehat bibi. "Ya... kalau Abu memang seperti apa yang kamu pikirkan, jika tidak... kamu akan kecewa Sum." bibi menambahkan.


Bibi menatap Sumidah yang sedang mengunyah nasi goreng, merasa kasihan. Bibi merasa tidak yakin jika pria tampan, religius seperti Abu akan mengaggumi Sumidah. Bibi pernah mendengar cerita Novi tetangga Abu dan Rembulan. Abu pernah mencintai Rembulan. Wajar, karena Bulan wanita lemah lembut, taat beribadah memang pantas jika bersanding dengan Abu. Walaupun pada akhirnya Tuan Tara yang beruntung.


Sementara Sumidah? Gadis tomboy jika makan saja satu kaki ia angkat ke atas kursi, memakai kerudung itu pun Setelah mengagumi Abu. Bibi yakin jika cinta Sumidah bertepuk sebelah tangan.


"Sudah ya Bi... saya berangkat" Sum mengejutkan lamunan bibi.


"Iya Sum..." bibi menatap Sumidah masuk ke kamar. Tidak lama kemudian sudah kembali walaupun sudah mengenakan kerudung namun tidak ketinggalan topi.


"Dada Bibi..." Sumidah kembali ke ruang keluarga.


"Mau berangkat sekarang Non?" Tanya Sumidah. "Saya panaskan mobil dulu." sambung Sumidah.


"Ayo..." bulan beranjak. Keluarga kecil itu pun berangkat ke tujuan masing-masing.


"Maaf sayang... Mas tidak bisa mengantar," Tara mencium Rembulan, lalu gantian mencium Rangga putranya.


"Dada papa..." Bulan mengangkat tangan putranya melambai kepada Tara, begitu juga sebaliknya.


Tara berangkat menyetir sendiri. Dulu sebelum Midah mengasuh Rangga. Sumidah yang bekerja menjadi supir. Namun lama kelamaan Tara menolak mempunyai supir wanita.

__ADS_1


Bulan menghampiri mobil yang sudah di nyalakan Midah, kemudian berangkat Midah yang menyetir.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2