Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Senjata makan tuan.


__ADS_3

"Sudah selesai ngompresnya, sekarang pakai lagi kaosnya," Kata Sumidah. Bukan menjawab pertanyaan Nanta tentang perasaannya justru memberikan kaos.


"Kok loe malah mengalihkan sih, Tomboy, bukan menjawab pertanyaan gw," Dengus Nanta.


"Harus gitu ya? Dijawab, dijelasin. Pertanyaan macam apa itu? Sudah mau menikah masih juga tanya." Jawab Sumidah bertele-tele. Sumidah ke belakang sambil membawa baskom bekas kompres lalu mencucinya di wastavel, sambil geleng-geleng kepala akan pertanyaan Nanta.


Padahal hanya menjawab iya, tetapi kata itu terlalu berat di lidah Midah. Midah bukan orang yang segala sesuatunya di ucap untuk meyakinkan, melainkan ia buktikan dengan tindakan. Saat di rumah sakit pun harusnya Nanta sudah bisa menyimpulkan, bahwa Midah merawatnya penuh cinta.


"Kak, aku pulang dulu." Sum sudah selesai mencuci baskom kemudian pamit pulang.


"Kok pulang?" Tanya Nanta tidak rela.


"Aku kan harus kerja Kak, besok kesini lagi," Jawab Sum ambil tas di kursi lalu menylempang.


"Sayang dulu dong, kamu kan sudah tidak mau menjawab pertanyaan gw, sebagai gantinya... sekarang loe harus cium gw untuk membuktikan cinta loe" Nanta memonyongkan bibir.


"Kamu gila ya? Nggak mau ah! Dosa tahu!" Ketus Sum hendak melangkah namun tanganya di tahan Nanta.


"Cium dulu" Paksa Nanta.


"Nggak!" Tegas Sumidah.


"Harus. Kalau nggak mau, tidak akan aku lepas." Nanta tidak main-main.


"Okay... Okay... lepas dulu." Midah menarik napas panjang. "I love you..." Selesai berucap Sumidah kemudian berjalan cepat. Entah mengapa ia merasa malu.


Nanta senyum-senyum menatap langkah Sumidah. "LOVE YOU TOO..." Jawab Nanta kencang agar Sum mendengar.


Hingga terdengar dari kamar mama Zarina menyembulkan kepadanya keluar hanya geleng-geleng menatap Nanta yang tersenyum manis menatapnya.


***********


Tiga bulan kemudian, hubungan Nanta dan Midah semakin akrab. Hanya tinggal seminggu lagi pernikahan mereka akan dilaksanakan. Undangan pun sudah tersebar sebagian.

__ADS_1


"Dulu Tante sudah berjanji akan membujuk Nanta, agar menikahi aku, tetapi kenapa justeru Nanta menikahi gadis Tomboy itu, Tan?" Tanya Amelia dengan nada kecewa.


"Maafkan Tante Amel, awalnya memang begitu, tetapi rupanya Nanta dan Sumidah sudah saling mencintai. Tante bisa apa Nak." Jawab Zarina.


"Tante kan tahu, kalau saya menyukai Nanta sejak lama." Amelia menunduk mengamati undangan. Saat ini Amelia sedang di butik. Niat hati datang ke butik ingin menanyakan kelanjutan hubungannya dengan Nanta, tetapi kenyataannya pria yang ia cintai seminggu lagi akan menikah.


"Amel... kamu cantik, semoga kamu mendapat jodoh yang lebih baik dari Nanta." Zarina memegang punggung tangan Amelia.


"Awalnya Tante ingin kamu menjadi menantu saya, tetapi ternyata kalian tidak berjodoh Nak." Nasehat Zarina diplomatis. Zarina menyesal telah mengiyakan Amel. Ketika Amel hendak pendekatan kepada Nanta, Zarina mengajak Amelia bermain ke rumah.


"Baik Tan, saya permisi." Jawab Amelia, kemudian beranjak meninggalkan Zarina. Tanganya meremas undangan hingga membentuk bulatan lalu melempar ke tempat.


"Loe sudah berani mencuri apa yang seharusnya menjadi milik gw Tomboy" Gumamnya ketika sudah di atas mobil. Mobil ia jalankan dengan kecepatan tinggi hingga melewati rumah dimana Midah bekerja.


Amel memelankan laju mobil nya matanya menoleh ke rumah Bulan. Netranya menangkap sosok yang ia benci sedang mengeluarkan mobil dari garasi rupanya Sumidah hendak pergi.


"Ini kesempatan gw." Amelia terpaksa menunggu hingga mobil itu keluar, mengamati gerak gerik Midah yang turun kembali menutup pagar sebelum akhirnya berangkat.


Amelia membuntuti mobil Sumidah yang mengendara dengan kecepatan sedang. Sementara Sumidah sudah tahu jika mobilnya di buntuti tampak santai saja.


"Tunggu." Sarkas Amelia menghentikan tangan Midah yang hendak mendorong pagar.


"Oh... kayaknya saya pernah lihat Nona, tetapi dimana ya?" Tanya Midah pura-pura lupa padahal ia tahu jika itu Amelia.


"Tidak penting! Ikut gw!" Amelia manarik lengan Sumidah kasar.


"Lepaskan!" Ketus Sum menghempas tangan Amelia.


"Ikut gw!" Amelia manarik lengan Sumidah, hingga tiba di kebun kosong, di belakang komplek perumahan Abu. Midah pun mengalah ingin tahu apa yang akan dilakukan Amel.


Tiba di dalam tanah kosong berpagar tinggi. Di atas pagar tersebut di tancapi pecahan beling. Mereka berada ditengah rerumputan, Amel melepas lengan Sumidah.


"Ngapain loe mengajak gw kemari?!" Midah bertanya ketus.

__ADS_1


"Jika loe mau selamat, jauhi Nanta, atau loe mau mati membusuk di kebun ini!" Ancam Amel.


"Kalau gw nggak mau, apa yang akan loe lakuin?" Tanya Sumidah tidak gentar. Midah menatap paha mulus Amel yang hanya mengenakan rok di atas lutut dan baju lengan pendek. Amel terus menggaruk kulit betis dan lengan yang merah-merah tergores ilalang. Berbeda dengan Sumidah yang mengenakan celana jins panjang, kaos panjang hanya tampak telepak tangan dan wajah saja.


"Gw akan merebut Nanta dari loe. Loe itu hanya kelas rendahan, tidak pantas menikah dengan pria berkelas seperti Ananta!" Kata Amel congak.


"Itu kan menurut loe, tetapi Nanta maupun Tante Zarina tidak mempermasalahkan setatus gue kok. Nyatanya Nanta sendiri yang datang melamar gw. Sementara loe? Ngaku wanita berkelas, tetapi tidak tahu tata krama, berani masuk ke kamar pria yang jelas bukan siapa-siapa loe." Jawab Sumidah panjang seperti rel kereta. Ia ingat ketika Midah pertama kali datang ke rumah Nanta, Amel mengejar-ngejar Nanta hingga ke kamar pun di ikuti.


"Jaga mulut loe!"


Plak!


Amel melayangkan telapak tangan hendak menampar wajah Midah. Namun bukan Sumidah jika tidak bisa menangkis.


"Aow" Amel meingis karena Midah memutar kedua tangan Amel ke belakang.


"Jangan macam-macan! Gw bukan wanita lemah seperti yang loe kira!" Tegas Sumidah.


"Lepas gw!" Bentak Amel menarik-narik tangannya.


Midah pun melepasnya tangan Amel sedikit mendorong, lalu balik badan hendak keluar.


"Jangan harap loe bisa keluar Tomboy! Karena gw sudah mengunci pagar ini, jangan mimpi ada orang yang akan menolong loe." Ancam Amel, mengiming-iming kunci di tangan, entah darimana wanita montok itu mendapatkan benda tersebut. Rupanya Amel sudah merencanakan buktinya memiliki kunci pagar.


Sumidah menatap pagar, lalu beralih kepada Amel tersenyum miring. "Loe pikir gw takut!" Tantangnya.


Terasa ada yang menggelitik telapak kakinya, Sumidah menunduk, ia tersenyum berjongkok ambil ulat bulu yang merayap di kaki.


"Ini hadiah untuk wanita licik macam loe." Sumidah melempar ulat bulu ke dada Amel. Binatang menjijikan itu masuk ke gunung kembar Amel.


Midah meninggalkan Amel memanjat pagar.


"Huaaaa... tolong gw... gw takut..." Amel berteriak-teriak. Berniat mengerjai Sumidah tetapi senjata makan tuan.

__ADS_1


Sementara Sumidah sudah lolos tidak ada siapa-siapa di tempat itu, karena Sum sudah turun dari pagar, kemudian berjalan kaki menuju kediaman Aslihah seperti tujuan awal.


...Bersambung....


__ADS_2