Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Kamu dimana Anakku.


__ADS_3

"Pak, Ibu Aslihah jangan diajak berpikir yang berat-berat dulu," Saran dokter Ika. Dokter Ibu dan anak yang menangani Liha, sedang memeriksa keadaan Liha dibantu perawat yang sedang mengukur tensi.


"Baiklah dok." Ujar Abu, menatap istrinya yang lagi-lagi pingsan. Tekanan darah Liha cukup tinggi, karena banyak sekali yang Ibu muda itu pikirkan.


"Setelah sadar, berikan sarapan, pihak kami nanti akan mengantarkan obat, pastikan Bu Aslihah minum dengan teratur ya Pak," Sambung dokter Ika.


"Baik Dok, terimakasih," Jawab Abu. Sambil membaluri telapak kaki istrinya yang terasa dingin dengan minyak angin.


"Kalau begitu saya permisi..." Kata dokter netranya menatap anak kecil yang di gendong Rembulan sedang memainkan kerudung mama nya.


"Aduuh... Dedek ikut kesini, hati-hati Mbak, sebaiknya anaknya segera diajak pulang. Jika di dalam sini saya rasa aman, tetapi diluar tentu banyak pasien yang mempunyai riwayat penyakit menular." Tutur Dokter panjang lebar.


"Saya mengerti Dok. Setelah Aslihah sadar, saya akan mengajak anak saya pulang." Jawab Bulan membenarkan nasehat dokter Ika.


"Terimakasih Dok," Ucap Abu ketika dokter Ika berjalan keluar ruangan, Ika menjawab dengan senyuman.


"Bulan, yang dikatakan Dokter benar, sebaiknya kamu pulang," Abu tidak tega menatap wajah Bulan yang tampak sedih, dan pucat.


Bulan hanya menggeleng, fokus menatap sendu wajah sahabatnya. Jika Liha marah kepadanya nanti, ia sudah siap menerima konsekuensinya, karena Bulan menyadari kesalahannya. Walaupun sebenarnya dia tidak salah.


"Hiks hiks hiks" Tangis Liha terdengar, itu tandanya sudah sadar.


"Sayang..."


"Aslihah..."


Ujar Abu dan Bulan bersamaan.


Aslihah memaksakan untuk bangun sambil memegangi kepalanya yang teramat sangat sakit.


"Aslihah, jangan dipaksakan sayang..." Dengan sigap, Abu membantunya untuk bangun dan meninggikan bantal di belakang istri nya agar nyaman.


"Bulan... yang kamu katakan tadi tidak benar kan, aku hanya mimpi kan..." Cecar Liha. Menangis tergugu.


"Sayang... tenangkan dirimu" Abu naik ke atas ranjang memeluk tubuh istrinya.


"Aisyah kemana Bi... anakku pasti mencari aku," Tubuh Liha berguncang hebat menangis di dada bidang Abu. Selama ini Ais tidak bisa jauh darinya, pasti saat ini Ais sedang menangis.


Sementara Bulan hanya ikut menangis entah akan memulai darimana menjelaskan kepada Liha.

__ADS_1


"Bulan! Sekarang katakan! Dimana Ais?" Liha menatap Bulan penuh harap.


"Aku... aku..." Lidah Bulan kelu untuk berucap. Hanya bisa memandangi Aslihah yang menatapnya kosong.


"Sayang... sekarang kita doakan anak kita." Abu memang selalu menyebut anak kita. Karena bagi Abu, sudah menganggap Ais anak sendiri.


"Saat ini, Nanta, Tara dan Sumidah sedang mencarinya ke Jakarta. Doa seorang ibu pasti akan cepat terkabul sayang..." Abu menatap lekat wajah Liha, jari telunjuknya membersihkan tetesan air mata di pipi istrinya.


"Hu huuuu... bagaimana aku bisa tenang Bi, Ais semalaman tidak pulang" Liha memeluk lutut menenggelamkan wajanya disana.


"Baiklah... aku akan segera telepon Udin, agar mengecek cctv apartemen yang di datangin Tara dan Nanta ya." Abu membuktikan ucapanya, kemudian menghubungi Udin.


"Sekarang kita pulang ke Jakarta saja Bi, aku mau mencari Ais," Tegas Liha. Hingga beberapa menit kemudian, tatapanya beralih kepada Bulan. Karena tidak ada jawaban dari Abu. Liha sudah tahu jawabanya, bahwa suaminya pasti tidak mengabulkan permintaan nya.


"Lan, sekarang kita pulang ya." Pinta Liha memelas.


"Liha... sebaiknya kamu tenang dulu, nanti aku akan mendatangi kantor polisi, melaporkan kejadian yang sebenarnya. Kalau kondisi kamu sudah lebih baik, kita pasti pulang Liha. Tidak hanya kamu yang sedih... aku juga memikirkan Mas Tara, hingga kini belum ada kabar. Hiks hiks hiks" Bulan yang sudah mencoba tegar di depan Liha pun, pada akhirnya tidak kuat menahan tangis.


Liha menangkap wajah sahabatnya yang tidak biasa baru menyadari. Bahwa Bulan pun sedang menahan kepedihan hati, Liha pun akhirnya terdiam.


"Sekarang kamu sarapan dulu, terus minum obat, agar cepat sembuh." Titah Abu hendak menyuapi Liha.


Liha menatap bubur dalam piring sebenarnya tidak selera untuk makan. Namun, ia bepikir lagi ingin cepat sembuh dan ingin segera mencari putrinya. Dengan terus terpuruk begini, tentu tidak akan merubah keadaan. Kini ia harus semangat demi putrinya.


**************


Sementara di kediaman Sumidah, dua janda sedang di rundung kesedihan. Pasalnya tidak ada kabar, hanya bisa menunggu anak-anak mereka yang belum juga pulang sejak kemarin sore. Zarina menghubungi Nanta dan Midah, namun kedua nomor anak dan calon menatunya tidak ada yang aktif.


"Ce Rina... terus kita harus bagaimana ini?" Tanya Ambu memikirkan anak gadisnya. Walaupun Ambu sering di tinggal Sumidah, tentu tidak khawatir seperti sekarang. Karena jelas keberadaanya tidak seperti sekarang.


"Kalau begitu saya menghubungi Bulan saja Ce E'en, mungkin mereka tahu." Jawab Zarina. Saking bingung nya sampai lupa telepon Bulan. Tidak menunggu jawaban dari Ambu Rina segera telepon Rembulan.


"Assalamualaikum..." Jawab Bulan dari seberang telepon.


"Waalaikumsalam..." Jawab Rina. "Bulan, bagaimana keadaan Aslihah?" Tanya Zarina.


"Masih di rumah sakit Tan, pagi ini saya sedang di rumah sakit."


"Semoga Aslihah cepat sembuh Lan, saya belum bisa menjenguk."

__ADS_1


"Aamiin..." Jawab keduanya. Rina kemudian menanyakan barang kali tahu jika Sumidah dan Nanta menjenguk Aslihah hingga kini belum kembali.


Bulan pun menceritakan semuanya kepada tante Rina, tidak ada yang ditutupi lagi. Dengan begini hati Bulan mungkin sedikit lega karena berbagi cerita.


"Astagfirrullah... terus supir saya kemana Bulan?" Tanya Rina. Wajahnya berubah sedih, dan tertangkap oleh Ambu. Walaupun Ambu tidak mendengar perbincangan Rina dan Bulan di telepon. Ambu sudah bisa menebak ada hal buruk yang menimpa putrinya.


"Supir Tante mengantar mereka Tan." Jawab Bulan.


"Ya sudah Bulan, saya telepon supir saya dulu," Tante Zarina menyudahi pembicaraan via telepon dengan Bulan, kemudian beralih mencari nomor supir pribadinya.


Zarina segera menghubungi supirnya, lagi-lagi Rina di hadapkan dalam persoalan pahit. Entah apa yang di bicarakan Rina di telepon dengan supir nya.


"Ce E'en, saya akan kembali ke Jakarta saat ini Juga." Tegas Rina.


"Ada apa Ce Rina, apa yang terjadi dengan anak-anak kita?" Ambu pun mulai menangis.


"Tenangkan hati Ce E'en, nanti jika tiba di Jakarta dan sudah tahu keadaan mereka, saya kabari Cece." Jawab mama Zarina.


"Jika begitu, saya ikut Ce." Ambu sudah mantap, mana bisa tenang jika hanya menunggu kabar Rina dari rumah.


"Ce E'en yakin?" Tanya Rina.


"Yakin Ce Rina"


Setelah sepakat Ambu pamit kedua putranya.


"Jadi Ambu akan pergi ke Jakarta?" Tanya Anda dan Endar terjejut, selama ini Ambu belum pernah kemana-mana.


"Iya Nda, Endar... kalian di rumah baik-baik." Pesan Ambu sambil membawa satu stel pakaian untuk jaga-jaga jika tidak langsung pulang.


"Jika begitu aku ikut," Kata Anda tidak tega melepas Ambu, walaupun perginya bersama Tante Rina.


"Tetapi..." Ambu menatap kedua putra nya bergantian.


"Kak Anda benar Mbu. Ambu jangan khawatir, biar Endar yang menjaga rumah." Imbuh Endar dewasa.


"Baiklah... tetapi kamu di rumah hati-hati ya Nak." Ambu mengusap pundak Endar.


"Jangan pikirkan aku Mbu, Endar di rumah banyak tetangga," Endar meyakinkan Ambu, agar pikiran Ambu tidak bercabang.

__ADS_1


Semua sepakat, Anda mengantar Ambu dan tante Rina. Awalnya Anda ingin memesan tiket jurusan Jakarta, tetapi Rina sudah memesan taksi online.


...Bersambung....


__ADS_2