Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Tangis di tengah sawah.


__ADS_3

Sumidah bersama Anda dalam perjalanan pulang ke rumah, melewati salah satu pasar tradisional. Midah menepuk pundak adiknya agar menghentikan motornya.


"Kenapa Teh?" Tanya Anda, ketika motor matic itu sudah berhenti.


"Teteh mau beli oleh-oleh, pasti Endar pulang sekolah nanti nagih." Jawab Midah seraya turun dari motor.


"Si Teteh mah, ayak-ayak bae, dimana-mana yang namanya beli oleh-oleh itu dari kota asal, bukan di kampung kita sendiri" protes Anda.


"Kamu kuno Nda, sekarang itu mau mencari kue dari daerah asal tidak harus ke tempatnya. Disini juga banyak kok, ngapain kita bawa berat-berat." Kata Sumidah sambil memilih makanan di toko khusus penjual oleh-oleh.


"Benar juga ya Teh, makanan khas Jakara banyak juga yang di jual disini," Jawab Anda melihat-lihat roti buaya mini dengan tampilan yang menggiurkan.


"Makanya Nda, Teteh bilang juga apa" Midah berdecak. "Oh iya Nda, terus kamu mau yang mana pilih saja." Titah Sumidah. Sembari memasukan makanan kering ke dalam keranjang.


"Aku mau roti saja Teh" Jawab Anda, pilihanya mantap pada roti buaya. Awalnya hanya ambil 4 untuk mereka, tetapi Midah ambil satu pak yang berisi satu lusin roti mini.


Setelah membayar ke kasir, Midah bersama Anda melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian tiba di rumah.


Midah tersenyum kala netranya menangkap sosok wanita yang ia rindukan sedang menjejer ikan mujair yang sudah di bumbui dendeng ke dalam tampah.


Tangan Midah sebenarnya gatal ingin menyandak tampah menggantikan pekerjaan Ambu. Hanya saja, tidak kejutan lagi pikir Midah. Tangan Midah kemudian membantu Ambu mengangkat tampah, menjemur ikan ke atas genteng.


"Midah..." Sapa Ambu, ketika ada tangan putih bersanding dengan tangan hitam miliknya. Hingga ikan sudah berada di atas genteng segera menghambur ke pelukan putrinya. Padahal baru satu bulan tidak bertemu, tetapi yang namanya ibu terhadap anak rindunya sudah membuncah.


"Tumben kamu pulang cepat Nak, ada apa?" Tanya Ambu setelah melepas pelukan.


"Nggak boleh ya, aku pulang." Midah pura-pura manyun.


"Hehehe... kamu ini" Ambu melingkarkan tanganya di pundak putrinya lalu sama-sama berjalan masuk ke rumah.


"Tangan Ambu bau ikan" Kata Sumidah.


"Hehehe... iya" Ambu terkekeh, melepas tanganya dari pundak putrinya kemudian ke kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Midah menuju meja makan menuang air dingin dari dispenser yang ia beli ketika mendapat tunjangan hari raya dari bos beberapa bulan yang lalu. "Alhamdulillah... segeer..." Ucapnya dengan rasa syukur.


"Endar belum pulang Mbu?" Tanya Midah kemudian nggelosor tiduran di lantai depan televisi. Setelah gantian kamar mandi dengan Ambu.


"Sudah... Dia sedang istirahat di kamar" Jawab Ambu dari dapur.


"Nanti aku ajak ke keluar Teh" sambung Anda yang baru masuk sambil membawa oleh-oleh di dalam plastik menimpali.


"Ya, tapi kalau lagi tidur jangan dibangunkan Nda. Kasihan Dia" pesan Midah, kepada adiknya yang sedang mengeluarkan oleh-oleh kemudian meletakan di atas meja. Anda hanya mengacungkan jempol.


"Kamu makan dulu Sum... " panggil Ambu dari dapur. Ambu sedang menata makan siang ikan dendeng yang sudah di goreng tidak terlalu garing, sambal, dan lalapan mentah.


"Nanti dulu Mbu, tunggu adik-adik." Jawab Midah. Obrolan jarak jauh berhenti kala Ambu sudah menghampiri.


"Katakan ada apa?" Tanya Ambu lembut. Bukan tidak senang kehadiran putrinya. Namun, Ambu masih ingat satu bulan yang lalu ketika Midah pulang ternyata ada masalah. Dan untuk kali ini Ambu berpikiran sama.


"Ambu pasti ingat kan? Pemuda yang menjemput aku satu bulan yang lalu?" Tanya Midah. Ia segera bangun dari lantai ingin bicara serius dengan wanita yang melahirkan dirinya itu.


"Oh, pria kaya yang suka memanggil kamu tomboy itu, kenapa?" cecar Ambu.


"Jadi... orang kaya itu, ingin melamar kamu Midah." Ambu melebarkan mata tida percaya.


"Iya Mbu" lirih Midah.


"Apakah kalian saling menyayangi Nak?" Tanya Ambu menegaskan. Ambu tidak ingin jika anaknya memutuskan menikah hanya karena untuk pelarian karena gagal mendapatkan pria yang bernama Abu.


"Aku nggak tahu Mbu, ini cinta atau bukan, tetapi pria itu selalu menghibur tiap kali aku bersedih dengan bahasa konyol nya," Papar Midah.


"Lalu apakah Ambu merestui kami?" Tanya Midah tentu restu dan doa Ambu yang akan melancarkan segalanya.


Namun tidak ada jawaban dari Ambu, tergambar jelas di wajah beliau bahwa sedang memikirkan sesuatu.


"Ambu tidak setuju? Jika iya, aku akan mundur, Mbu." Kata Midah, sebelum semuanya terlambat, ia akan membicarakan dengan keluarga Ananta.

__ADS_1


"Tentu Ambu setuju Midah... yang penting kamu bahagia. Tetapi bagaimana dengan Junaedi, Nak?" Seketika Ambu ingat putra sahabatnya itu. Ambu tahu jika Edi mencintai putrinya.


"Aku dengan Kak Juned tidak ada apa-apa Mbu. Aku hanya menganggap Dia sebagai kakak." Jujur Sumidah.


"Jika kamu sudah yakin dengan keputusan kamu. Ambu mendukung Nak, walaupun Ambu baru bertemu Nanta sekali. Ambu sudah bisa menilai, Dia itu pria baik." Ambu merasa yakin.


"Terimakasih Ambu..." Midah menyusupkan wajahnya di pangkuan Ambu. Walaupun tomboy sikap manja-nya tentu masih ada.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu, kalau belum mau makan sekarang." Ambu mengusap kepala putrinya lembut.


"Aku sudah tidur sepanjang jalan di bus tadi Mbu" jawab Midah, mengangkat kepalanya dari pangkuan Ambu. Sedetik kemudian, Ambu beranjak.


"Ambu mau kemana?" Tanya Midah melihat ibunya sudah mengenakan topi kebesaran, yang biasa beliau gunakan ketika ke sawah. Tetapi saat ini belum waktunya menanam atau memanen padi.


"Ambu mau angkat ikan yang Ambu jemur di pinggir kolam Nak." Jawab Ambu lalu mengenakan sarung tangan plastik.


"Aku ikut Mbu" Kata Midah bersemangat mengikuti Ambu ke kolam ikan yang berada agak jauh dari rumah.


Midah mengabadikan beberapa gambar sawah yang di tanami padi baru menghijau belum berbuah. Kolam ikan, dan juga Ambu yang sedang membolak balik ikan untuk koleksi galeri, pengobat rindu kala kangen Ambu dan kampung halaman.


Berulang kali, Midah ambil foto Ambu yang sedang mengangkat dendeng ikan yang beliau jemur dengan jaring-jaring.


"Ambu, umpan ikanya masih ada nggak?" Tanya Midah kegirangan seperti anak kecil kesana kemari. Sudah lama ia tidak pernah memanjakan mata melihat sawah-sawah di bawah bukit. Tambak ikan milik Ambu yang menjadi sumber pencaharian.


"Di gantung di saung Nak" Jawab Ambu.


Midah naik ke atas saung bambu, disilah yang biasa Ambu guanakan untuk beristirahat. Ingat Ambu, Midah menatapnya bersedih. Senyumnya seketika menghilang tergantikan tetesan air mata. Betapa tidak, setiap pulang kampung perubahan Ambu sangat cepat. Kulit keriputnya semakin nyata. Beliau terlihat lebih tuwa dari usianya karena sering berjemur di teriknya matahari.


Jika dibandingkan dengan nyonya Zarina tentu usia mereka terpaut sekitar 8 tahunan lebih tua Zarina. Tetapi jika nyonya Zarina masih glowing berbeda dengan Ambu kulit nya sudah bertotol-totol hitam.


Sering merasakan sakit pinggang, sakit kaki. Namun tidak pernah beliau mengeluh demi membiayai sekolah dan membesarkan ketiga anaknya seorang diri.


Tanpa di undang air mata Midah tumpah ruah, karena tidak tahan hingga menimbulkan suara.

__ADS_1


"Midah... kamu kenapa Nak?"


...Bersambung....


__ADS_2