Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Sifat manja Nanta.


__ADS_3

"Lalu, ketiga teman saya di rawat di rumah sakit mana Pak?" Tanya Udin, sampai lupa tujuan awal ingin mencari sahabatnya.


"Menurut satpam, di rumah sakit xxx yang tidak jauh dari tempat ini," Pak Ilham pun belum sempat menjenguk, karena harus mengurus Ais.


Udin mengangguk-angguk, lalu menghubungi tuan Bisma dan nyonya Maya, mengabarkan bahwa putranya di rumah sakit tersebut. Setelah menghubungi kedua orang tua Tara. Udin juga memberi kabar Aslihah bahwa Ais baik-baik saja bersamanya. Dan yang terakhir memberi kabar Rembulan jika Tara sedang kurang sehat. Namun tidak memberi tahu jika Tara terluka karena diserang.


"Pak, jika demikian saya akan mengajak Ais pulang ke rumah Kak Abu." Udin minta persetujuannya pak Ilham, setelah menyimpan handphone di saku.


"Silahkan Nak, Saya juga tidak tega melihat cucu saya menderita." Pak Ilham khawatir Ais akan mengalami trauma atas kejadian ini.


"Ais... kita pulang ya, tapi Ais pamit Kakek dulu." Titah Udin, mengusap kepala Ais yang tidak mau melepas tanganya dari lengan Udin. Takut di tinggal. Itulah yang ditakutkan Ais.


"Kakek... Ais mau pulang dulu ya," Ais salim tangan kakek kemudian menciumnya. Balita itu wajahnya agak berseri ketika akan diajak pulang.


"Baiklah... tapi Ais tidak boleh takut sama Kakek, besok kapan-kapan, Kakek main ke rumah kamu, boleh kan?" Tanya Kakek tersenyum.


"Boleh Kek, tapi Ais nggak mau ikut sama Nenek lagi." Polos Ais menggeleng cepat. Khawatir kakek mengajak Citra datang ke rumah Umma.


"Tentu tidak, tapi Ais harus tahu kalau Nenek sebenarnya sayang sama kamu," Pak Ilham menjelaskan.


"Nak Udin, saya belum bisa menemani Ais, karena mau membantu kepolisian mencari informasi tentang keberadaan istri saya," Tegas Pak Ilham. Ia tidak akan membiarkan istrinya menjadi wanita yang tidak bertanggung jawab. Walaupun istri sendiri jika salah tetap salah.


"Tidak apa-apa Pak, saya permisi," Pungkas Udin menggendong Aisyah ke lantai bawah menuju parkiran.


*********


Di rumah sakit, dua pria di rawat dalam satu ruangan. Hanya Sumidah seorang diri yang menemani bos dan calon suaminya itu. Walaupun sebenarnya dirinya sendiri pun tidak dalam keadaan baik.


"Tomboy, gw mau ke kamar mandi." Kata Nanta, minta diantar Sumidah. Sejak sadar tadi malam, Nanta merengek terus, seolah Midah itu mama nya.


"Ya sudah..." Jawab Sum dengan sabar memapah Nanta ke kamar mandi. Tara yang sedang berbaring, hanya menggeleng menatap sahabatnya yang selalu manja kepada Sumi.


Tara luka, bagian lengan dan betis, tidak separah Nanta yang luka bagian punggung, lengan atas, belum lagi lebam-lebam hingga tidur pun harus telungkup.


"Hati-hati..." Kata Sumidah, ketika Nanta sudah di dalam kamar mandi, lalu menutup pintu perlahan.


"Tidak usah di tutup tomboy." Cegah Nanta. Inginnya Sumidah selalu di dekatnya.

__ADS_1


"Ya" Sum membuka pintu sedikit. Lalu menunggu di luar pintu. Ia kini baru tahu jika Nanta ternyata anak manja, tidak sesuai dengan sikapnya yang selalu konyol setiap hari. Memang sakit yang dirasakan Nanta cukup parah, tetapi yang Sumidah tahu biasanya pria akan menutupi rasa itu kepada wanita. Tetapi yang dilakukan Nanta sebaiknya.


Krucuk, krucuk, krucuk!


Kran milik Nanta mancur ke closed, Sumidah hanya menggeleng. "Kenapa sih... harus bunyi begitu kalau pipis?" Sum mengingatkan dari luar pintu.


"Memang sudah dari sananya, pria itu kalau pipis begitu Tomboy... kamu ini belum jadi istri, sudah banyak aturan." Jawab Nanta sambil membersihkan anunya dengan air, agar tidak najis jika kena celana.


"Dari sananya mana? Kalau pipis tuh duduk atuh, jangan di pancurin kitu, hese atuda dibilangin. Risi mendengarnya," Omel Midah.


"Ngomong apa sih loe? Bantu gw." Sahut Nanta dari dalam, mendengar Sum bicara dua bahasa.


Midah kembali memapahnya keluar dari kamar mandi. Walaupun sebenarnya kaki Nanta masih bisa untuk berjalan sendiri, tetapi daripada berdebat, Sumidah lebih baik mengalah.


Jika dirasakan, justeru Sumidah yang kakinya bengkak karena di tendang sekuat tenaga dengan sepatu boot, hingga membengkak. Bagusnya tidak mengenai tulang nya.


"Pelan-pelan." Kata Sum walaupun jutek tentu tidak tega melihat Nanta kesakitan.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Bagaimana keadaan Tara Sum?" Tanya Maya masuk di ikuti Bisma.


"Ya begitulah Nyonya. Nyonya mendapat kabar dari mana?" Sumidah mengikuti Maya dan Bisma, mendekati ranjang.


"Udin tadi yang memberitahu kami Sum."


"Udin... Alhamdulilah... berarti Ais saat ini bersamanya," Monolog Midah. Ia sedikit lega. Sejak tadi malam Sum memikirkan keadaan Ais. Midah pun menyusul Maya yang sudah bertanya ini itu kepada Tara.


"Tara... apa yang terjadi Nak? Kenapa bisa seperti ini?" Cecar Maya. Maya masih trauma kejadian yang menimpa Tara satu tahun yang lalu karena kecelakaan, hingga menyebabkan putranya lumpuh, masih membekas di hati.


"Ceritanya panjang Ma, Pa." Jawab Tara. Lalu menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya.


"Lalu, apa kalian sudah melaporkan kepada polisi?" Tanya tuan Bisma.


"Saya sudah melaporkan Tuan, tetapi bagaimana tindak lanjutnya, saya belum mendengar kabar." Sumidah yang menjawab.

__ADS_1


"Kaki kamu juga terluka Sum, tetapi kamu jalan-jalan terus, apa tidak sakit?" Maya baru menyadari jika Sum jalan pincang.


"Sudah di periksa dokter Nyonya, tetapi alhamdulilah, tulangnya tidak apa-apa." Jawab Sum menutupi. Jika di tanya sakit jelas sakit, tadi malam saja rasanya ngebet sepanjang malam. Namun jika Sum ikut tumbang siapa yang akan merawat semuanya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Lagi-lagi ada tamu ketika Sum hendak membuka pintu dicegah Maya. "Biar saya saja." Ujar Maya, sambil ke depan tidak tega melihat Sum.


"Zarina..." Sapa Maya, ternyata Zarina bersama Ambu sudah tiba.


"May... Bagaimana anak-anak?" Tanya Zarina panik.


"Kita masuk Rin, kamu bisa lihat sendiri," Jawab Maya lalu pandanganya tertuju kepada wanita dan pria asing di belakang Rina.


"Ibu ini siapa?" Tanya Maya. kepada Ambu. Sementara Ambu hanya tersenyum rasa minder tentu yang dirasakan Ambu, bertemu wanita-wanita kaya.


"Oh iya May, ini Ambu nya Sumidah, calon besan aku," Jawab Rina, kemudian meninggalkan mereka keburu ingin melihat keadaan putranya.


"Ambu..." Sapa Sum sudah berada di depan Ambu.


"Sum... kamu tidak apa-apa Nak," Ambu memeluk putrinya.


"Aku nggak apa-apa Mbu, lihat." Midah merentangkan tangan, sambil tersenyum.


Maya tersenyum menatap sumidah kakinya sudah bengkak, bilangnya tidak apa-apa. Maya sudah paham betul siapa Sum. Karena gadis cuek itu sudah bekerja bersamanya selama dua tahun sebelum beralih mengasuh anak Bulan.


"Teteh benar tidak apa-apa?" Sela Anda, tidak mungkin teteh nya tidak kesakitan padahal jalanya pincang. Anda tahu, pasti Sum tidak ingin Ambu sedih.


"Tidak apa-apa Nda," Sumidah menutup mulutnya dengan jari, agar Anda tidak bertanya lagi.


"Kenalkan Bu... Saya Maya, Ibu nya Tara, dan yang sedang ngobrol dengan Tara disana itu suami saya" Kata Maya, menatap suami nya lalu mengulurkan tangan kepada Ambu. Ambu mengangkat ragu-ragu. Walaupun akhirnya tangan hitam dan putih itu bersalaman.


Setelah berkenalan mereka mendekati ranjang Nanta, tampak Zarina sedang menangis.


"Nanta... kenapa jadi begini Nak?" Tanya Rina menitikan air mata, ketika menyibak kaos Nanta di bagian punggung lukanya di perban dan masih ada bercak darah. Belum lagi bagian lengan dan pipi bonyok-bonyok terlihat dari samping. Rina membayangkan putra nya jika tidur terlentang punggungnya sakit. Jika telungkup pun, wajah Tara juga hanya sebelah yang bisa untuk tidur.

__ADS_1


"Sakit sekali Ma...." Rengek Nanta.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2