
"Assalamualaikum... selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.❤❤❤
"Lebaran nanti, IsyaAllah... Buna akan memberikan pulsa untuk 10 orang pemenang rangking mingguan. Pemenang 1,2, 3. Pulsa 50 ribu.
Untuk 7 orang lainya. Pulsa 20 ribu. Semoga Buna sehat dan bisa menyelesaikan kisah Abu. 💪💪💪
Contoh
Sumidah menjalankan mobil nonanya, menuju apotek. Gadis tomboy itu sangat lincah menyalip mobil lain agar tidak terjebak macet. Wajahnya berseri-seri kala mengingat wajah tampan Abu, membuatnya bersemangat agar cepat tiba sampai tujuan.
Rembulan duduk di jok tengah sejak tadi memperhatikan Sumidah yang sedang tersenyum sendiri.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri Midah?" Dahi Bulan berkerut.
"Tidak apa-apa Non" wajah Midah bersemu merah.
"Memem..." kata Rangga, menghentikan obrolan, tangan mungil itu berusaha membuka kancing, namun belum bisa.
"Sebentar sayang..." Rembulan membuka kancing kemudian memberi asi eksklusif kepada putra nya.
"Kamu sudah punya pacar Midah?" tanya Bulan seraya mengusap kepala putra nya.
"Hehehe... masih Abu-abu Non," Midah menatap Bulan dari kaca spion, tersenyum malu.
"Abu-Abu... atau memang Abu Sum," Kelakar Rembulan, begitulah jika di rumah Rembulan, Midah selalu di panggil Sumi, hanya Abu saja yang memanggil Midah.
"Non bisa saja,"
"Katanya kamu sama Kak Abu pacaran, benar begitu?" Bulan pernah mendengar cerita dari Udin.
"Lebih tepatnya saya yang suka Non, selama ini A'a belum pernah memberi lampu hijau," jujur Midah.
"Tenang saja Midah, jika jodoh tidak akan kemana," hibur Rembulan. "Jika kamu sama Abu berjodoh dimanapun pasti akan di pertemukan oleh Allah" nasehat Bulan.
"Aamiin..." Midah, menatap Bulan dari kaca spion. Kali ini gantian Bulan yang senyum-senyum.
Bulan ingat banyak pria yang menyukainya ketika masih remaja, termasuk Abu, Udin, Ananta, dan pemuda kampung. Dan ternyata hati Rembulan berlabuh kepada Bumantara pria yang kini menjadi suaminya.
Bahkan ketika sekolah, Rembulan banyak disukai teman sekolah kendati harus bersaing dengan Dedeh Aslihah. Oh, mengingat Aslihah apa kabar dia? Yang terakhir Rembulan dengar sahabatnya itu telah menjadi janda punya anak satu.
"Sudah sampai Non..." Midah mengejutkan lamunan Rembulan. Ternyata sudah parkir di pelataran apotek. Midah segera turun membuka pintu untuk Bulan, kemudian menyandak Rangga dari gendongan bos nya.
"Kita lewat pintu belakang Sum" titah Bulan. Di depan apotek sangat ramai hingga memenuhi sepanjang etalase.
"Baik Non" bak mata kucing yang sedang mengincar tikus, mata Sumidah mengerling mencari sosok Abu. Namun di etalase hanya ada Udin dan Novi.
__ADS_1
"Sekarang tidurkan Rangga di ruangan saya, Sum," titah Bulan.
"Baik Non" Midah masuk ruangan Bulan, di raungan kecil terdapat meja kerja dan juga ranjang kecil untuk beristirahat. Di tempat itu ada tiga ruangan yakni milik Abu, Udin, dan Bulan sendiri.
Bahkan Udin jarang pulang ke kontrakan, pemuda begeng itu sering menginap di situ kecuali Novi. Novi saat ini tinggal di rumah bu Fatimah yakni ibu Rembulan.
Sementara Rembulan sudah bergabung dengan Udin dan Novi membantu melayani pelanggan.
Mereka belum sempat saling sapa karena ramainya pembeli hingga beberapa saat kemudian.
"Bulan, tumben... kamu kesini?" tanya Udin.
"Memang nggak boleh?!" sungut Rembulan.
"Bukan begitu Lan, biasanya kan kamu dipingit sama Bang Tara, biar nggak kemana-mana, takut diambil orang kali?" Udin terkekeh.
"Sekali-kali lah Din... aku kan ingin melihat perkembangan apotek kita?" Bulan mengalihkan karena ini tujuan pertama selain kangen juga dengan tetangga kampung.
"Lan... memang kamu nggak mengecek laporan keuangan yang sudah aku kirimkan ke email masing-masing?" Tanya Novi.
"Bukan begitu Nov, tujuan aku tuh sebenarnya mau kumpul sama kalian," jujur Bulan sesama tetangga kampung ia bermaksud silaturahmi.
"Puk!
Punggung Udin ada yang menepuk dari belakang.
"Bukanya hari ini A'a Abu seharusnya sudah sampai disini Din?" Midah tampak kecewa. Selama Abu di kampung, Midah tersiksa, mau chat malu, tetapi Abu sama sekali tidak pernah memberi kabar.
"Kamu memang benar... Kak Abu hari ini sampai disini Midah... tapi kan, nggak langsung kemari juga kali? Pulang dulu ke rumah nya, istirahat" jawab Novi panjang lebar.
"Oh... betul juga ya Nov" Midah tersenyum.
**********
Di salah satu rumah komplek asri, jika saat berangkat Abu hanya membawa satu koper. Tetapi kini ia membawa tiga koper, begitu turun dari taksi di depan pagar rumah.
Jika berangkat seminggu yang lalu hanya seorang diri, kini Abu sudah membawa anak istri. Abu bersyukur atas rezeki yang Allah titipkan kepada nya. Rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi anak dan istri.
"Kita sudah sampai..." kata Abu lalu membuka pagar. Masuk di ikuti Liha yang menggendong Aisyah. Masih seperti biasa Liha banyak diam tiap kali berbicara hanya dengan putri nya.
"Sudah sampai lumah, Om? Eh... Abi... lupa" ralat Ais tertawa kecil.
Abu melirik gemas. "Sudah cantik... ini rumah Abi, masuk yuk..." Abu membuka kunci pintu kemudian masuk.
Liha memindai sekeliling tampak kursi sofa besar di ruang tamu, hiasan dinding tidak neko-neko selain tulisan kaligrafi yang di bingkai cukup rapi. Di ruangan keluarga pun ada sofa walupun tidak sebesar di ruang tamu. Yang menjadi pertanyaan Liha adalah... Rumah siapakah ini? Kontrak atau menempati rumah orang, Liha tentu belum tahu.
Liha bertambah bingung kala melihat rumah Abu sangat rapi, walaupun di tinggal sepekan. Membuat bibir Liha bergerak untuk bertanya.
__ADS_1
"Memang rumah Kakak ada yang membersihkan?" Liha membuka percakapan.
"Tidak... kalau kamu mau ada yang membantu, nanti aku cari orang"
"Emm... bukan begitu Kak" potong Liha. "Maksud saya tuh... walaupun nggak ada penghuninya rumah Kakak bersih sekali," Liha kali ini memuji.
"Kamu suka memuji Liha... mari aku tunjukan kamar kalian," Abu menuju kamar utama yang biasa ia pakai tidur.
"Liha... ini kamar kita, tetapi tenang saja, jika kamu masih tidak nyaman berdekatan denganku, aku akan tidur di kamar sebelah," ujar Abu. Ia tahu jika Liha belum bisa menerima kehadiran dirinya.
Liha tidak menjawab, menurunkan Ais dari gendongan.
"Nanti kalau sudah istirahat... susun baju-baju kamu Liha" Abu menunjuk lemari besar hanya untuk menyimpan pakaian Abu tentu masih banyak yang kosong.
"Abi bobo disini saja" potong Ais.
"Iya... kalau sudah malam sayang... sekarang kan masih siang..." Abu mengacak rambut Ais yang sudah dibuka kerudungnya oleh Liha.
"Sekarang kalian istirahat, jika butuh sesuatu aku di kamar sebelah," kata Abu. Pulang perjalanan tentu mereka lelah.
"Kak" Panggil Liha ketika Abu hendak keluar. Abu balik badan menatap Liha.
"Terimakasih..." ucap Liha. Dan diangguki Abu sambil tersenyum sebelum akhirnya keluar lalu menutup pintu.
Abu masuk kamar sebelah membersihkan tubuhnya, salin baju. Seperti tidak mengenal lelah ia bermaksud ke apotek yang sudah seminggu ia tinggal.
Abu menoleh ke dapur ketika baru keluar kamar melihat Liha sedang memasak sesuatu.
"Liha... kamu masak apa? Memang kamu tidak capek?" tanya Abu. Maksudnya jika sudah dari apotek nanti dia akan membeli lauk untuk mereka makan siang.
"Saya memasak sayuran yang di bawain ibu," Liha menoleh Abu sudah berpakaian rapi.
"Kalau kamu capek tidak usah memasak, nanti aku membeli saja,"
"Tidak" jawab Liha pendek.
"Ais mana?" Abu menatap kamar Liha tertutup.
"Ais bobo,"
"Oh iya Liha... aku mau ke apotek dulu, nggak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Abu berdiri di samping Liha yang sedang menumis bumbu untuk membuat sup sayuran. Semua bahan sudah disiapakan bu Indah dari kampung.
"Nggak apa-apa,"
Abu pun akhirnya memutuskan berangkat.
"Kak..." Liha menghentikan langkah Abu. Salim telapak tangan kekar itu, lalu mencium nya. "Kalau sempat, nanti makan siang di rumah saja Kak," pesan Liha dan di Angguki Abu, kemudian ke garasi ambil motor berangkat ke apotek.
__ADS_1
...BERSAMBUNG....