
"Mbak, boleh kami numpang kamar mandi? Tuan Nanta sudah tidak tahan" pak Maman melirik Nanta tersenyum.
"Oh, silahkan Pak, mari saya tunjukan..." jawab Midah, segera berlalu ke kamar mandi, akan menyingkirkan jika ada barang rahasia. Maklum kamar mandi Midah hanya satu untuk 4 orang.
"Tuan... cepat ikuti Mbak Sumi" pak Maman menepuk pundak Nanta. Rupanya Nanta bingung entah harus mengalah mengikuti Midah tapi perut nya lega, atau mementingkan ego tetapi tidak tahan.
"Ditemani Pak Maman ya" ajak Nanta seperti anak kecil.
"Saya mau merokok dulu Tuan, tidak tahan, ini" pak Maman pun mengeluarkan rokok dari saku dengan korek kemudian duduk di teras.
Mau tak mau, Nanta pun akhirnya ke dapur dimana Midah tuju. Rupanya kamar mandinya berada disana. Di dapur yang hanya diterangi cahaya lampu 10 watt, Nanta yang pada dasarnya penakut mencari sosok Midah dengan cepat menghilang entah kemana, Nanta merinding sendiri.
"Tomboy..." pangilnya, namun sepi.
"Puk!
"Aaaahh..." Nanta berteriak pasalnya seekor cecak jatuh kepundak.
"Tomboy..." Nanta bingung antara takut, dan menahan rasa buang air keduanya sama-sama tidak bisa ia tolak. Nanta mengedarkan pandangan mencari letak kamar mandi namun belum ia temukan.
"Puk!
"Aaahhggh..." Nanta benar-benar dibuat jantungan jika tadi cicak yang ingin mencium aroma parfum tubuhnya, kini kecoak pun genit juga tidak tanggung-tanggung mencium pipi nya sebelum ia tangkis.
Midah yang baru keluar dari kamar mandi terkikik geli. Nanta menoleh ke belakang dimana sumber suara. "Tomboy..." seketika Nanta mengait lengat Midah, tidak ada jalan lain selain membaiki si tomboy daripada kencing di celana.
"Awas, ih!" Midah ingin melepas tangan Nanta namun Nanta menahan lebih kuat.
"Kamar mandi nya mana? Gw nggak tahan" Nanta seperti anak kecil.
"Ini kamar mandi, lihat nya pakai mata dong, jangan pakai dengkul" tunjuk Sum, walaupun tinggal di kampung kamar mandi Sum sudah direnovasi hingga layak untuk dipakai. Nanta tidak mau bertanya lagi segera ke kamar mandi. Tiba di dalam menyembulkan kepala sedikit.
"Tomboy... tunggu di depan pintu ya, awas loh kemana-mana" perintah Nanta kembali menutup pintu.
"Dasar orang kaya, tapi songong!" Sumidah ngedumel sendiri. Ia ambil dua gelas lalu di masukan teh celup, di tuangi air panas dari termos lalu menambahkan gula satu sendok. Setelah di aduk-aduk meletakan ke atas nampan.
"Pak Maman... teh nya..." Panggil Midah dari dalam, melihat pak Maman sedang menghisap nikotin.
"Iya Mbak..." pak Maman segera mematikan rokok yang tinggal di ujung lalu masuk ke dalam.
"Di minum ya Pak, teh nya"
"Mbak Sum, maaf, saya merepotkan" pak Maman tidak enak hati.
"Jangan dipikirkan Pak, cuma teh kok" Midah ambil satu gelas meletakkan di depan pak Maman.
"Oh iya, Nanta kemana?" satu batang rokok terhisap habis, tetapi Nanta belum keluar juga.
__ADS_1
"Masih di kamar mandi Pak," Sumidah mememani Pak Maman ngobrol.
"Rangga rewel nggak Pak?" Tanya Midah, sejak bayi mengurus Rangga tentu sangat kehilangan ketika pergi seperti sekarang.
"Iya Mbak, tadi pagi saja rewel banget mencari Mbak ke kamar nggak ada, terus akhirnya di ajak jalan sama Mama Papa nya," tutur Pak Maman.
Midah menarik napas panjang, ingin cepat-cepat kembali ingat anak asuhnya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Saat sedang ngobrol Ambu tiba di rumah, menatap pria yang berhadapan dengan putrinya. Ambu terkejut mengalihkan pandangan ke arah midah minta penjelasan. Pria paruh baya berada di rumahnya. Selama Sumidah pulang banyak pria yang datang berkunjung.
"Mbu... kenalkan, ini Pak Maman, disuruh Non Bulan menjemput aku" Midah menyadarkan lamunan Ambu.
"Oh, ya Allah... maaf Pak, anak saya jadi merepotkan," Ambu bernapas lega. Ambu pikir Midah memasukan om-om ke dalam rumah selagi dirinya tidak ada.
"Tidak apa-apa Bu, saya kan bisa sekalian jalan-jalan," pak Maman terkekeh.
"Kalau gitu saya ke dalam sebentar" pamit Ambu. Segera ke dalam.
"Tomboy... jangan kemana-mana loh... awasss" ancam Nanta dari dalam kamar mandi.
Ambu terperangah mendengar suara laki-laki dari dalam kamar mandi. Rasa terkejutnya dengan Junaedi, pak Maman, belum hilang kini sudah di kejutkan lagi suara pria yang berteriak dari kamar mandi.
"Tomboy... gw boleh pinjam kaos loe, nggak?" Tanya Nanta saat keluar dari kamar mandi sambil menjinjing kemeja yang sudah basah. Saat ia gantung tadi belum nyangkut karena terburu-buru, rupanya jatuh ke ember.
"Tomboy... jawab kek!" Dengus Nanta.
"Anak ini siapa?" tanya Ambu lembut.
Nanta terperangah baju yang ia pegang terlepas dari tangan. "Maaf Bu... saya pikir tadi Sumidah" Nanta sungguh sangat malu.
"Saya teman Pak Maman menjemput Sumi Bu" Imbuh Nanta.
"Oh ya Allah... baju anak kenapa?" Ambu menatap tamunya yang hanya mengenakan celana bahan kemudian memungut kemeja.
"Maaf Bu... tadi baju saya jatuh..." Nanta ambil alih kemeja dari tangan ibu 45 tahun itu.
"Ya sudah... Kalau begitu saya sampaikan ke Sumidah dulu" Ambu meninggalkan Nanta yang masih merasa tidak enak hati karena sudah teriak-teriak. Ia pikir yang berada di dapur adalah Sumidah.
Sumidah setelah diberi tahu Ambu ambil kaos miliknya yang belum dipakai. Sebelum memakai jilbab, kaos Midah lengan pendek semua. Ada beberapa kaos baru yang belum sempat ia pakai Midah ingin merubah penampilan sedikit demi sedikit. Walupun belum nyaman mengenakan pakaian gamis setidaknya saat ini mengenakan pakaian panjang.
Sumidah ambil kaos yang belum dicuci karena masih dalam bungkusan plastik, melangkah menuju dapur. Ia memindai dapur mencari sosok Nanta.
"Tomboy..." panggil Nanta dibelakang telinga Midah. Seketika sang pemilik telinga balik badan.
__ADS_1
"Aahhh kamu!" Midah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kala menatap dada bidang tanpa pakaian hingga kaos yang ia pegang jatuh ke lantai.
"Ini kaosnya gw pakai ya" tanpa mengucap terimakasih Nanta segera memungut kaos merobek plastiknya kemudian mengenakan.
"Bukaaa... tangan loe jangan lebai" Nanta membuka telapak tangan Midah.
"Bagus Nggak?" Tanya Nanta.
"Jelek!" sungut Midah, meninggalkan Nanta.
Drama malam telah usai, Ambu menyarankan pak Maman agar jangan mencari penginapan. Ambu minta Anda dan Endar tidur di kamar Midah. Midah tidur bersama Ambu, sementara pak Maman dan Ananta menempati kamar Anda dan Endar.
Keesokan harinya Sumidah sudah siap-siap berangkat kembali ke Jakarta, tidak banyak yang ia bawa, karena datang pun tidak membawa apapun. Namun sebelumnya semua berkumpul di meja makan sang tamu pun ikut bergabung selayaknya keluarga.
"Mari-mari sarapan dulu seadanya" titah Ambu. Sejak subuh Ambu sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk menjamu tamunya.
Ketupat yang dipotong-potong ditata dalam piring, ditambahkan tahu di atasnya, sayuran tauge, dan disiram sambal kacang. Itulah sarapan kas Tasik.
"Maaf Bu... kami merepotkan" kata pak Maman. Sebelum makan dengan lahap makanan yang di sajikan Ambu. Sarapan seperti ini sudah jarang Maman santap selama menetap di Jakarta.
"Tidak ada yang repot, saya senang sekali karena saya kedatangan tamu jauh," tulus Ambu.
Lain halnya dengan Ananta yang hanya memandangi tampilan sarapan yang belum pernah ia cicipi sebelumya.
"Nak Nanta... ayo makan, tidak enak ya?" tanya Ambu perhatian.
"Oh tidak Bu, pasti saya makan," Nanta gugup tangan kiri memegang garpu, tangan kanan memegang sendok, sudah siap menyuap, menghargai pemilik rumah
"Dia kan orang kaya Mbu, biasa makan steak daging, mana mau masakan begini" Sumidah menyahut enteng sambil makan.
"Sumidah..." Ambu mengingatkan agar putri nya sopan.
"Makanya Teh... aku doakan menjadi orang kaya, biar nanti kami bisa makan steak, tidak setiap hari hanya makan pepes cere" kelakar Endar.
"Berdoanya jangan tanggung-tanggung Endar, belajar yang rajin supaya kamu bisa menjadi pengusaha sukses, jangankan hanya ingin makan steak, gedung-gendung bertingkat pun bisa kamu beli seperti kacang goreng" nasehat Midah.
Midah melirik piring Nanta ternyata sudah kosong.
"Mau nambah... ini masih ada" Midah mendekatkan satu piring lagi, karena Ambu memasaknya lebih.
Nanta dengan cepat menyantapnya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...."
Semua mata menoleh pria yang berdiri di depan pintu. Sebenarnya pria itu sudah memperhatikan sejak lama. Namun karena sedang sarapan ditambah lagi ada tamu, sang pria hanya bisa menatap wajah Sumidah dari kejauhan.
__ADS_1
...Bersambung...