
"Nanta... Kamu kenapa? Terus, istri kamu kemana?" Cecar mama Zarina, ketika Nanta tiba di rumah. Zarina terkejut melihat wajah putranya babak belur, selain itu tidak ada Sumidah di sebelahnya.
"Aku istirahat dulu Ma," Jawab Nanta, salim tangan Zarina, kemudian naik tangga.
Zarina hanya bisa menatap putranya dari bawah. Tidak mengerti apa yang terjadi. Zarina membiarkan anaknya istirahat dulu. Toh, lukanya sudah di obati.
Waktu berganti siang, Zarina kemudian menyusul Nanta ke kamar, sekailan ingin mengajak Nanta makan siang.
"Nanta... bangun," Zarina mengusap pundak putranya.
"Tomboy... maafkan gw. Gw nggak bermaksud memper**kosa, loe. Beri kesempatan gw memperbaiki semuanya. Gw janji, akan memperlakukan loe dengan baik. Menjadikan loe ratu di hati gw."
Bluk!
"Mama" Nanta yang sedang mengiggau badannya di pukul dengan bantal oleh Zarina. Seketika Nanta bangun kala menatap wajah Zarina berubah seperti monster.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Sumidah?!" Zarina berdiri di samping ranjang melotot tajam, dua tanganya nangkring di pinggang.
"Dia masih marah sama Nanta Ma, gara-gara terlambat datang saat pernikahan kemarin."
"Bohong!" Potong Zarina. "Sekarang katakan dengan jujur, apa yang kamu lakukan pada istrimu! Jika tidak mau jujur, Mama tidak segan-segan mengusir kamu dari rumah ini!" Ancam Zarina.
Nanta menunduk baru kali ini melihat mama semarah ini.
"Nanta! Jawab!!" Bentak Zarina.
"Iya Ma." Dengan terbata-bata, Nanta menceritakan kepada mama apa yang terjadi malam pertama di hotel.
"Mama kecewa sama kamu Nanta... Mama kecewaa... hiks hiks hiks" Zarina menjatuhkan bokongnya di tempat tidur, menangis sesegukan. Ia tidak menyangka bahwa putranya bisa melakukan itu. Sebagai sesama wanita, Zarina merasakan betapa sakitnya hati Sumidah sudah diperlakukan dengan tidak sopan.
"Maafkan Nanta Ma," Nanta memeluk tubuh mamanya.
"Dengan kamu tega melakukan itu kepada Sumidah. Kamu tidak menghormati Mama kamu sebagai wanita Nanta. Tanpa kamu sadari kamu sudah melakukan kdrt. Selama ini Mama tidak pernah mengajari kamu menjadi pria yang tidak hormat pada wanita. Jika sudah begini Mama tidak bisa bantu kamu. Mama malu kepada Sumidah dan juga Ambu Ta." Selesai mengucap itu Zarina keluar dari kamar.
*************
4 tahun kemudian.
"Ciiittt..." Salah satu mobil di pinggir jalan raya mengerem mendadak kala menatap balita sedang berlari mengejar bola.
"Astagfirrullah..." pengendara mobil segera turun berlari ke arah sang anak yang masih terpaku di tempat.
"Hai... kamu kenapa main sendirian di jalan?" Tanya pria itu, masih mengatur detak jantungnya yang hampir copot. Ia syok hampir saja menabrak anak tak berdosa.
"Mau ambil bola Om." Jawab balita laki-laki tampan bertubuh sedang, menatap pria yang sedang berdiri di hadapanya.
__ADS_1
"Ini bolanya." Salah satu pria yang tak lain supir pria itu ambil bola di sebelah kanan mobil, lalu memberikan kepada bocah itu.
"Telimakasih Pak," Setelah mengucap kata itu bocah pun berlari meninggalkan dua pria.
"Astagfirrullah... orang tuanya bagaimana sih, membiarkan anak sekecil itu main di pinggir jalan. Bagusya nggak banyak kendaraan," Gerutu pria itu. "Lain kali hati-hati kalau menyetir Pak." Kata pria itu.
"Iya, Tuan,"
Malam harinya di salah satu rumah, ibu muda baru selesai mandi lalu ke kamar putranya yang seharian ini ia tinggal bekerja.
"Assalamualaikum..." Wanita itu menyembulkan kepala menatap sang putra yang sedang bermain bola.
"Bunda..." Bocah berambut hitam dan bermata bulat itu segera meninggalkan pengasuh dan mainan.
"Anak Bunda..." Di gendongnnya bocah itu lalu di ajak naik ke atas ranjang, cium sana sini, si bocah tertawa kegirangan. Pengasuh pun meninggalkan momongan setelah di suruh keluar oleh majikan.
"Anak Bunda, main apa seharian tadi?" Tanya ibu muda, kepada putranya yang berumur tiga tahun itu.
"Tadi Dito main bola Bun, telus bolanya Dito tendang." Bocah bernama Dito itu, menceritakan ketika hampir ketabrak di tengah jalan dengan jujur.
"Astagfirrullah..." Ibu muda itu merangkul tubuh putranya, seketika air matanya menetes membasahi pipi putranya.
"Dito... lain kali kamu tidak boleh main di pinggir jalan, sayang..." Sesal ibu muda.
"Iya Bunda... Dito nggak nakal lagi. Tapi Bunda jangan menangis," Dito menyusut air mata bundanya.
"Mbak Surti, kenapa Dito sampai main di pinggir jalan?" Ibu muda menemui art yang sedang menonton televisi bersama Mbak Ranti.
"Maaf Non, tadi siang saya sedang ke minimarket, membeli ice cream karena Dito merengek terus. Tetapi ketika saya sedang membayar di kasir, tiba-tiba Dito lari keluar." Tutur Surti merasa bersalah.
"Kalian ini kan berdua, seharusnya bisa dong! Bagi tugas! Kalau Surti lagi ke minimarket. Seharusnya Ranti yang menjaga Dito di rumah." Omel ibu muda.
"Maaf Non." Surti merasa bersalah, meremas kaosnya karena takut. Selama bekerja sudah hampir dua tahun, majikanya belum pernah marah seperti sekarang.
"Ya sudah, lain kali jangan diulang." Pungkas ibu muda, lalu kembali ke kamar.
Ke esokan harinya jam dua belas siang, di salah satu restoran yang diberi nama "LAUK GRILLED" yang menjual ikan bakar dan ayam bakar sedang ramai pengunjung.
Restoran ini terkenal enak, Ikan bakar lengkap dengan sambal dan lalapan mentah memanjakan lidah para pencinta kuliner, aneka ikan tanpa minyak itu sangat diminati.
"Kita coba makan disini saja, kata orang. Ikan bakar disini enak sekali," Ajak salah satu pria yang sedang parkir di depan resto.
"Munkin juga sih, soalnya ramai sekali, parkiran saja sampai penuh." Jawab temannya. Netranya menatap plang bertuliskan. LAUK GRILLED.
Mereka pun penasaran kemudian masuk resto mencari kursi kosong. Dengan sangat menyesal ia hanya bisa melempar tatapan dari satu meja ke meja yang lain, siapa tahu ada yang pulang lebih cepat. Padahal aroma ikan bakar yang khas, sudah mengundang cacing di perut dua pria itu.
__ADS_1
"Om, mau makan ya? Sini Om, ikut saya," Bocah kecil merasa familar dengan wajah salah satu pria itu, merelakan kursi yang ia duduki bersama pengasuh.
"Kamu?" Tanya pria itu.
"Iya Om. Om kan kemalin sudah nolongin saya. Sekalang, Om boleh duduk." Kata anak itu menengadah ke arah dua pria.
"Loe kenal Dia?" Tanya teman pria.
"Iya, gw kemarin hampir menabrak anak ini." Sesal pria itu.
"Om, kata Bunda, ndak boleh ngomong loe, gw. Ndak sopan!" Tegasnya. Dua pengunjung restoran itu malu dibuatnya. Justru dinasehati anak balita.
"Dito..." Surti menggerakkan telunjuk memberi isyarat agar Dito tidak boleh bicara begitu. "Maaf Tuan, Dito memang selalu apa adanya." Surti minta maaf.
"Tidak apa-apa Mbak."
"Iya, iya. Om tahu, kamu anak pintar." Jawab salah satu pria menoel hidung bocah itu. "Sekarang Om boleh duduk disini kan?" Tanya pri mengulangi.
"Boleh Om" Jawab Dito, lalu menoleh Surti. "Mbak Sulti, ayo beldili, bial tempatnya dipakai Om." Dito menarik-narik tangan Surti.
"Iya" Surti pun mengalah lalu berdiri.
Dua pria itu memesan menu berbeda. Yang satu ikan bakar, dan yang satu Ayam kampung bakar.
"Dito kesini yuk, di pangku Om," Pria itu mengait jemari Dito, lalu mengangkat ke pangkuannya.
"Nama kamu siapa tadi?" Tanya Om.
"Nama saya Dito" Jawab Dito mendongak menatap wajah pria yang sedang menatapnya lekat.
"Nama lengkapnya?" Cecar om ingin tahu.
"Ladito Platama," Jawab Dito dengan bahasa cadel.
"Radito Pratama. Tuan." Surti memperjelas.
Dua pria saling pandang. "Kok namanya seperti nama gw ya?" Pria yang memangku Dito terkejut.
"Om, ndak boleh ngomong gitu." Potong Dito.
"Oh iya. Om lupa." Pria itu tersenyum.
"Kamu kesini sama Ayah Bunda kamu ya?" Tanya Om, mengedarkan pandangannya.
"Dito cuma sama Bunda, sama Mbak Sulti, Ayah Dito belum pulang-pulang, kata Bunda... Ayah kelual negli." Tutur Dito.
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...