Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Siap Tempur.


__ADS_3

"Kita harus tenang Tara." Nasehat Nanta. "Loe sudah minta satpam cek CCTV belum." Sambung Nanta.


"Astagfirrullah..." Sangking panik Tara melupakan yang satu itu. "Gw sampai lupa Nan." Kata Tara meraup wajahnya.


"Tunggu dulu Tara, jika loe lupa, seharusnya satpam di parkiran ini mengingatkan." Nanta merasa curiga, kepada satpam.


"Namanya orang bingung nggak memandang bulu Kak, Entah Tuan, Nona, Satpam semua tidak bisa berpikir cepat, jangan berburuk sangka," Sumidah mengingatkan calon suaminya itu.


"Benar kata Sum, sekarang kita menemui satpam agar mengecek cctv." Pungkas Bulan.


Mereka menemui petugas keamanan bersama-sama mengecek cctv. Samar-samar dua pria yang mengenakan penutup kepala, tentu tidak terlihat wajahnya selain postur tubuh tinggi tegap. Dengan cepat pria itu menyandak tubuh mungkil Aisyah. Dalam hitungan detik, Ais sudah dalam gendongan salah satu pria tersebut dan membawanya pergi.


"Tidak meyakinkan orangnya, terus bagaimana ini Nan?" Tanya Tara. Ia begitu prustasi dan paling merasa bersalah diberi tanggung jawab Abu, namun tidak bisa menjalankan dengan baik.


"Tidak ada jalan lain, kita harus mengerahkan orang-orang kita Ta." Nanta lebih cepat berpikir.


Nanta menghubungi orang suruhannya agar mencari Aisyah. Begitu juga dengan Tara, segera menghubungi orang suruhan papa nya yang sering mengatasi hal seperti ini.


"Lalu bagaimana kita akan memberi tahu Kak Abu Mas?" Tanya Bulan. Matanya masih sembab kebanyakan memangis.


"Sebaiknya kita cari dulu, jangan memberi tahu Abu, apa lagi Aslihah." Ujar Tara.

__ADS_1


"Oh iya Mas, aku ingat, ketika itu bukankah mertua Liha pernah ingin mengambil alih hak asuh Ais. Kenapa aku jadi bodoh." Rutuk Bulan pada dirinya sendiri.


"Mertua Kak Liha? Maksudnya Non?" Tanya Midah belum bisa mencerna.


"Neneknya Aisyah dari suami Aslihah yang dulu Sum."


"Oh..." Sum manggut-manggut. "Eeemm maaf Non, apakah Kak Liha pernah cerita dimana Nenek Aisyah tinggal?" Tanya Midah.


"Menurut cerita Lihah, beliau tinggal di apartemen xxx Midah, kenapa?" Kali ini Bulan yang tidak mengerti kemana arah pertanyaan asistenya itu.


"Kak Nanta, kita ke apartemen itu sekarang." Tegas Sumidah.


"Mau ngapain Tomboy! Jangan aneh-aneh deh." Cegah Nanta.


"Tunggu dulu," Cegah Tara. Sumidah menghentikan langkahnya.


"Aku ikut." Tara sudah mengerti maksud Sumidah.


"Sayang... kamu menunggu di hotel saja ya, sebisa mungkin kamu cari alasan jika Abu telepon menanyakan tentang Aisyah." Kata Tara panjang.


"Iya Mas." Jawab Bulan, sambil menggendong Rangga yang sedang tidur, kembali ke kamar hotel. Tiba di kamar, Bulan menidurkan putranya kemudian ambil air wudhu. Ia membuka koper ambil sadjadah dan mukena lalu mengenakan, setelah menggelar sadjadah. Bulan menghadap kiblat menjalankan shalat isya.

__ADS_1


Selesai shalat, Bulan berdoa dengan deraian air mata. Memohon kepada Allah agar Ais cepat di ketemukan sebelum Liha tahu apa yang terjadi dengan putri nya. Bulan tidak ingin penderitaan sahabatnya semakin parah. Ia merasa bersalah telah teledor menjaga harta paling berharga yang di titipkan sahabatnya.


Sementara di dalam mobil, Nanta merasa gerah melihat tomboy sibuk dengan dirinya sendiri.


"Tomboy, loe mau ngapain sih?!" Sungut Nanta kesal. Pasalnya Midah tahu di jok depan ada Tara, tetapi Sumidah membuka baju menyisakan kaos, kemudian membuka rok menyisakan celana panjang. Nanta menarik napas berat sambil memperhatikan Midah seperti sudah siap tempur.


Nanta tidak tahu apa yang di pikirkan Sumidah. Jika sudah begini Sumidah berubah dari kura-kura menjadi kelinci kembali.


"Sumidah... loe sibuk amat deh! Dari tadi! Dengar kata-kata gw nggak sih!" Geram Nanta karena ucapanya tidak di gubris oleh Midah.


"Diam dulu atuh Kak, dari tadi ngomel-ngomel melulu, ketularan Ambu ya," Jawab Sum.


Jika bukan sedang banyak pikiran Tara rasanya ingin tertawa melihat Nanta seperti kebakaran jenggot.


"Okay... sekarang gw mau tanya, jika tiba di apartemen Nenek Ais, terus apa yang akan kita lakukan?!" Nanta benar-benar tidak bisa berpikir apa yang akan di lakukan Midah.


"Kita itu kesana mau menyelidiki apartemen Nenek nya Ais Nan, loe kenapa kalah pintar dari Sum sih," Tara yang menjawab sekaligus menghentikan perdebatan.


Merasa penampilannya sudah berubah, Sumidah duduk menyandarkan kepala, sambil memangku satu kaki.


Hingga tiba di apartemen alamat yang tertera, mereka pun turun dari mobil.

__ADS_1


"Loh, ini bukanya apartemen milik Tuan Tara?" Tanya Sumidah. Sumidah pernah menghadiri peresmian bersama Bulan dan Tara sendiri ketika apartemen ini akan di sewakan.


"Iya" Jawab Tara pendek.


__ADS_2