Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Sedih, kecewa, iri.


__ADS_3

"Nak Edi... mari bergabung" titah Ambu. Ternyata Junaedi yang pagi-pagi bertamu.


"Terimakasih Bu, saya hanya ingin memastikan jika Sumidah akan berangkat besok bareng saya, soalnya saya mau pesan tiket pagi ini," rupanya Junaedi dengan Sumidah sudah janjian.


"Masuk dulu kita bicarakan di dalam" Ambu menuntun lengan Junaedi mengajak nya duduk di samping kedua putranya.


"Kak Juned maaf ya, saya nggak jadi berangkat bareng, soalnya saya dijemput" kata Midah.


"Di jemput?" Junaedi menatap kedua tamu Midah bergantian.


"Iya, kami yang menjemput Mas," pak Maman yang menjawab.


Junaedi hanya diam tergambar jelas kekecewaan disana. Disisni lain Ananta tersenyum samar. Junaedi tentu tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menunggu Midah berangkat.


"Ambu aku berangkat ya" Sumidah memeluk Ambu.


"Hati-hati sayang..." Ambu membalas pelukan putrinya sambil menangis.


Lima menit kemudian Midah pamit dengan kedua adiknya. "Anda... Endar... aku berangkat, titip jagain Ambu jangan pada nakal, belajar yang benar, jangan kecewakan Teteh" nasehat Midah.


Nanta menatap Midah, rupanya gadis ini bisa juga bersikap dewasa.


"Tenang dong Teh, jangan khawatir," jawab Anda yakin.


"Kak Nanta, saya nitip kakak aku yang baik hati dan tidak sombong ini" kelakar Endar.


"Pasti dong..." Nanta tos telapak tangan kedua adik Midah bergantian.


"Ini buat kalian jajan" Nanta memberikan uang jajan, entah berapa jumlahnya kepada Anda dan Endar.


"Yayy... terimakasih Kak"


Junaedi hanya menatap kecewa kepada Midah. Tempo hari dia memberikan uang jajan kepada kedua adik Midah, Midah segitu marahnya, tetapi mengapa jika dengan Nanta hanya diam saja.


"Nak Nanta kok repot-repot" kata Ambu.

__ADS_1


Yang terakhir pak Maman pamit kepada Ambu, kemudian berangkat berjalan menuju mobil yang pak Maman titipkan disalah satu rumah warga di pinggir jalan atas saran Ambu. Tentu pak Maman cukup memberi uang rokok kepada pemilik rumah.


Mobil berjalan menjauh diakhiri dengan lambaian tangan Sumidah sebelum menutup kaca kepada keluarganya yang semuanya mengantar ke tempat tersebut. Midah tidak tahu jika ada pemuda yang patah hati sebelum berjuang yaitu Junaedi.


"Nak Edi kita ke rumah yuk" Ambu menangkap kekecewaan dari raut wajah Junaedi.


"Terimakasih Bu saya ingin segera memesan tiket" tolak Juned. Dengan langkah lambat Junaedi naik ke atas motor kemudian berangkat.


"Mbu, kasihan ya, Kak Edi rupanya patah hati tuh" tebak Anda.


"Kamu ini, kayak yang pernah punya pacar saja" omel Ambu.


"Benar Mbu, Teteh rupanya di taksir dua pria tajir, tampan lagi" imbuh Endar.


************


Sebulan kemudian, selama itu pula Aslihah bekerja di apotek. Seperti biasa pekerjaan rumah bagi tugas. Sebenarnya Liha tidak ingin suaminya membantu pekerjaan rumah, toh ini sudah menjadi tugasnya. Namun, tentu Abu tidak membiarkan istrinya capek. Jangankan Liha bekerja, Liha nganggur pun, tetap saja pria teladan itu tidak mau diam. Tugas Abu mencuci, dan mengepel, sementara Liha memasak, dan strika pakaian. Terjadi perubahan yang signifikan bagi Aslihah setelah bekerja. Tidak hanya terus menerus inscure.


"Sudah siap... kita berangkat yuk" kata Abu setelah mengeluarkan motor.


"Abi... Ais di depan ya..." Ais berjalan mendahului Liha.


"Pasti dong"


"Hati-hati..." Liha menghampiri motor, kemudian membonceng. Begitulah keseharian keluarga kecil itu saat ini. Tidak usah diminta oleh Abu seperti dahulu, Liha sudah melingkarkan tangan ke perut suaminya tiap kali berboncengan motor. Nikmat mana lagi yang harus di dustakan oleh Liha. Bahwa memang Abu adalah suami yang patut dibanggakan.


Motor pun akhirnya tiba di depan apotek bersamaaan dengan itu Sumidah pun tiba di tempat. Namun gadis itu memilih untuk bersembunyi ingin tahu seperti apa istri Abu.


Ia memperhatikan tangan Liha yang masih di perut Abu, hati Sumidah dibakar api cemburu. Siapa yang tidak ingin punya suami seperti Abu? Mata Sumidah tidak mau berpaling, saat Abu membuka helm di kepala Liha sambil tersenyum. Sumidah menunduk air mata yang tidak pernah jatuh selain saat Abah nya meninggal dulu, tiap kali mengingat, atau melihat Abu, pasti menangis. Sebenarnya Midah ingin segera muve on tetapi ternyata tidak semudah itu.


Hingga Abu membantu Ais turun, Sumidah baru sadar jika ada anak kecil berwajah cantik di depan Abu. Midah bertanya-tanya dalam hati siapa anak itu?


Hingga akhirnya Aisyah di gendong Abu masuk ke dalam apotek, Sumidah baru menyadari. "Jadi... Kak Abu menikahi janda? Midah bergumam.


Sementara Aslihah sudah tiba di dalam. "Sekarang... Aisyah bermain disini nggak boleh rewel" pesan Aslihah.

__ADS_1


"Nggak Umma..." jawab Ais.


"Nggak dong... putri Abi, gitu loh..." Abu terkekeh mengusap kepala Ais.


Saat ini pemilik modal terbesar apotek itu bukan lagi Rembulan. Karena Bulan sudah menjual asetnya kepada Abu, tentu dengan cara menyicil. Karena Bulan menuruti kata Bumantara suaminya. Dan ruangannya dijadikan satu dengan ruangan Abu hingga Ais bisa leluasa untuk bermain.


Abu bersama Aslihah kemudian ke depan membantu Udin sudah ada beberapa pelanggan yang menunggu.


"Maaf Din, terlambat" kata Liha.


"Minta maaf tuh sama suami kamu dong Liha, masa sama aku" Udin terkekeh. Sebab pemilik aset apotek terbesar saat ini adalah Abu. Udin hanya memiliki seperempat nya saja.


"Sekarang tidak ada atasan bawahan, kita adalah keluarga" tegas Abu sambil melayani pelanggan yang mulai berdatangan rata-rata membawa resep dari dokter.


"Udin... saya mau menebus obat ini," Sumidah datang menyerahkan secarik kertas. Tidak memperdulikan Abu, yang sejak masuk memperhatikan dirinya. Semua itu tidak luput dari perhatian Aslihah. Aslihah baru tahu jika wanita ini yang bernama Sumidah. Dan suaminya memperhatikan sampai segitunya, Liha kemudian mencubit pinggang Abu di sebelahnya.


"Astagfirrullah..." Abu membatin. Menundukkan kepala, ia menatap Midah seperti itu bukan karena tergoda, namun Abu heran dengan sikap Sumidah yang mendiamkan diri nya.


"Eh, kamu Midah, sebentar ya" Udin menerima kertas lalu menyimpannya di keranjang bersama tumpukan resep yang lain.


"Biar aku yang melayani Din..." Aslihah bersikap seolah tidak mengetahui jika Sumidah dan suaminya pernah ada apa-apa. Aslihah sengaja melayani Sumidah lebih dulu padahal yang duluan saja belum.


Aslihah meracik obat puyer jika dilihat untuk penurun panas anak-anak, itu artinya untuk Rangga.


"Ini obatnya Mbak," Liha menyerahkan obat yang sudah di bungkus plastik. "Anaknya sakit ya? Sepertinya ini obat untuk anak kecil?" Liha tersenyum.


"Bukan!" jawab Midah singkat dan ketus. Midah menatap wajah Liha sekilas lalu melengos. Ternyata secantik itu istri Abu, pantas saja Abu memilihnya. Midah mengalah mengaku kalah ternyata dirinya memang tidak pantas untuk Abu.


"Maaf... kalau saya tanyakan ini, soalnya saya suka ingat anak saya kalau lagi sakit, sedih... rasanya," kali ini Liha serius.


"Saya tidak banyak waktu untuk ngobrol" Midah ambil plastik kemudian pergi. Melewati Abu yang sedang melayani pelanggan yang lain.


"Midah... sudah selesai?" Tanya Abu lembut.


"Bukan urusan kamu!" Lagi-lagi Midah ketus, sambil berlalu meninggalkan Abu. Entah setan darimana yang merasuki.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2