Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Tidak seperti yang dulu.


__ADS_3

Pagi hari di puncak bogor udara dingin menyebabkan para wisatawan yang menginap di tempat itu masih malas untuk bangun. Justeru lebih enak menarik selimut.


Berbeda dengan pria yang satu ini, ia segera mandi shalat subuh kemudian mematut diri di depan cermin. Serasa penampilannya sudah ok! Ia keluar dari villa.


Tok tok tok.


Pria itu mengetuk pintu kamar sebelah, dimana sahabatnya tidur. Namun hingga 10 menit kemudian baru dibuka.


"Lama amat sih loe!" Tandas pria itu.


"Lagian loe ngapain pagi-pagi sudah kesini?" Tanya sahabatnya.


"Cepetan loe mandi, terus kita cari sarapan di resto yang kemarin itu," Tegasnya.


"Dasar loe Nan, loe pikir resto itu jam segini sudah buka! Ganggu orang saja!" Sungut Tara. Lalu masuk lagi.


Ya. Dua pria itu adalah Tara dan Nanta. Mereka menginap di tempat itu lantaran sedang meninjau lokasi beberapa hektar tanah yang akan mereka beli. Tanah itu mereka beli berdua agar terjangkau.


Nanta hanya diam, duduk di teras villa. Bayangan anak laki-laki yang ia temui di resto kemarin seperti menghipnotis dirinya. Entah mengapa ia ingin cepat kembali ke restoran dan bertemu dengan bocah itu.


"Ayo, kita cari sarapan lontong sayur saja." Tara mengejutkan lamunan Nanta.


"Iya, iya." Dua pria itu pun sarapan lontong sayur kemudian berjalan-jalan ke kebun teh.


"Ta, kenapa gw kepikiran terus sama anak kemarin itu ya?" Tanya Nanta. Mereka saat ini sedang duduk di saung. Lelah berjalan kemudian beristirahat.


"Terus..." Kata Tara, sambil menggoyang-goyang kedua kaki yang menjuntai ke bawah.


"Nggak tahu! Ta, gw ngerasa kayak kekat banget sama dia," Nanta tersenyum.


"Ya sih, gw kan kemarin juga bicara begitu Nan, selain wajah anak itu mirip loe namanya pun hampir sama," Tutur Tara.


"Tetapi, jangan seperti orang gila Nan, pagi-pagi mengajak ke resto. Lagi pula kan kita nggak tahu anak itu ke resto lagi atau tidak." Tara pikir Dito pengunjung restoran seperti mereka.


"Sudahlah... anak orang loe pikirin, bikin saja anak sendiri." Seloroh Tara. Dua sahabat itu seiring bertambahnya usia masih saja konyol jika bicara. Tetapi tentu hanya dengan mereka berdua.


"Gw mau ke toilet dulu," Kata Tara. Belum dijawab sudah pergi meninggalkan Nanta.

__ADS_1


Nanta mencerna ucapan Tara. "Wajah dan nama anak itu mirip loe" Ananta bertanya dalam hati pakah Dito itu anaknya. Nanta merasa tidak yakin karena saat itu Nanta melakukan hanya sekali.


Nanta merogoh coklat dari saku menatapnya lekat. Senyum mengembang di bibirnya. Tidak sabar menunggu siang hendak menuju restoran dan memberikan coklat itu.


"Om punya coklat lagi ya?" Tanya Dito yang sedang berdiri di depan saung menatap coklat di tangan Nanta.


Ya Allah... sangking inginya bertemu dengan anak itu, gw sampai berhalusi**nasi.


"Om, kok diem saja sih?" Dito cemberut menopang dagu. Om yang sekarang ia temui tidak ramah seperti kemarin.


Duh, kenapa sih, anak itu selalu membayangi gw. Nanta mengucek mata.


"Om!"


"Aoww"


Dito mencabut bulu kaki Nanta, ia greget karena tanya ini itu tidak di dengar.


"Hahaha... sholly Om." Bukan merasa bersalah Dito justeru mentertawakan Nanta yang menggaruk betis setelah di cabut terasa gatal.


"Kamu beneran Dito?" Tanya Nanta baru sadar jika ia memang sedang berhadapan dengan Dito berarti bukan mimpi.


"Nggak apa-apa, sekarang naik yuk." Nanta membantu Dito naik ke saung. Mereka ngobrol ngalor ngidul. Nanta sering tertawa mendengar ucapan Dito yang cletak cletuk memojokkan dirinya. Mereka tidak menyadari jika dua orang wanita sedang kebingungan mencari Dito.


Di tempat yang berbeda, Midah sedang memandangi luasnya kebun teh. Sungguh luar biasa di Indonesia ini banyak sekali tumbuhan yang menghasilkan miliaran rupiah. Namun belum semua tahu tumbuhan apa saja yang bisa di jual dan mengasilkan cita rasa yang enak. Contohnya teh, hanya dengan satu lembar daun bisa menjadi minuman segala rupa.


"Non Midah... Dito menyusul tidak?" Tanya Surti ngos ngosan kelelahan berjalan mencari Dito.


"Kamu ini bagaimana Surti! Tadi kan Dito bersama kamu!" Ketus Midah. Jika Surti teledor menjaga Dito pasti Sumidah marah.


"Tadi saya gandeng, tapi tiba-tiba lepas begitu saja Non." Tutur Surti begitu melepas tangan Surti, Dito tiba-tiba menghilang.


"Sudah, sekarang kita cari berpencar, kamu ke kiri biar saya ke kanan," Pungkas Midah mereka pun akhirnya berpisah.


"Ditoooo..." Panggil Midah dari kejauhan. Sayup-sayup terdengar oleh putranya.


"Om, bunda aku panggil-panggil." Ujar Dito seraya turun dari saung merosot dengan perut. Kemudian berlari menuju arah suara.

__ADS_1


"Dito tunggu..." Ananta mengejarnya.


"Bundaaaa... Dito disini..." Pekik Dito.


Bapak dan anak tanpa mereka sadari itu pun berlari.


"Bundaa..."


"Ditoo... astagfirrullah... kamu bikin Bunda khawatir tahu nggak." Midah memeluk tubuh Dito. Sangking fokus nya dengan Dito yang sudah memeluk perutnya. Midah tidak menyadari bahwa Nanta terkejut terpaku di tempat tidak percaya siapa yang ia lihat.


"Dito, lain kali kamu tidak boleh begitu, kasihan Mbak Surti. Dia mencari-cari kamu. Kalau Dito nggak mau nurut terus Mbak Surti pulang kampung, bagaimana?" Nasehat Midah kali ini berjongkok menatap Dito.


"Maaf Bun, tadi Dito lihat Om lagi duduk sendilian di saung. Telus Dito lali menemani Om." Celoteh anak balita itu.


"Om? Om siapa lagi sih?" Midah tidak habis pikir.


"Om itu." Dito menoleh ke belakang di ikuti Sumidah. Sumidah terperangah namun tidak menunjukan kepada Nanta. Berusaha untuk berekspresi biasa saja.


"Ditoo... Alhamdulillah... sudah ketemu," Surti menghampiri Dito.


"Surti... ajak Dito sarapan di villa ya,"


"Iya Non." Surti mengajak Dito pergi dari tempat itu. Hanya tinggal Nanta dan Sumidah.


"Tomboy..." Sapa Nanta lirih. Ia tidak mengira bahwa akan bertemu Sumidah disini.


Sumidah tidak menjawab, ia melipat kedua tangan memunggungi Nanta. Mendengar panggilan Tomboy hati Midah serasa sejuk. Namun kala ingat jika Nanta sudah menikah lagi Sumidah menjadi benci. Tanpa berkata apapun, Sumidah melangkah.


"Tomboy... jangan pergi. Sekarang katakan dengan jujur. Dito itu anak kita kan," Nanta mencekal tangan Midah. Midah balik badan lalu melepas tangan Nanta.


"Bukan!" Ketus Midah seraya melangkah kembali.


"Tomboy... please... jangan pergi," Nanta merangkul tubuh langsing itu erat. "Tolong jangan pergi lagi Tomboy... aku mencintai kamu," Nanta merengek seperti anak kecil.


Midah melepas tangan Nanta kemudian balik badan keduanya saling tatap.


Nanta tidak mampu bergerak kala menatap Sumidah kini tampil berbeda. Yang dulu cuek dan apa adanya. Kini Sumidah berdandan cantik dan pakaiannya pun berbeda. Kini telah berhijab tampak anggun.

__ADS_1


Sementara Sumidah menatap Nanta yang dulu selalu selenge-an kini tampak wibawa membiarkan kumisnya yang tumbuh tipis tidak di cukur. Suaminya itu tampan lebih dewasa. Terjadi perang batin di hati Sumidah. Satu sisi ia masih mencintai Nanta, namun disisi lain Nanta sudah bukan miliknya.


...~Bersambung~...


__ADS_2