
"Plak!"
Tepukan tangan Midah kepundak Nanta mengejutkan sang empu. Nanta mengalihkan pandanganya merasa malu tertangkap basah telah terkesima memandangi wajah Midah.
"Pukul saja terus... sampai bonyok" kata Nanta beranjak dari duduk nya, kemudian keluar memesan taksi. Tidak mungkin Ananta memboncengkan Midah dengan tampilan seperti ini. Riasanya tentu akan rusak dan sia-sia saja terkena helm. Jika tahu begini ketika berangkat tadi, Nanta memilih membawa mobil saja.
"Kita mau menunggu apa lagi?" Tanya Midah, karena Nanta masih mengotak atik handphone, tidak juga berangkat.
"Menunggu taksi" jawab Nanta tidak mau menoleh Midah. Nanta khawatir hanyut dan pada akhirnya tenggelam dalam kasih asmara. Padahal tanpa Nanta sadari ia sudah dalam posisi itu.
"Terus motornya?" Tanya Midah, berputar ke depan Nanta.
Nanta tetap menunduk. "Biar disini saja, nanti sore gw ambil"
"Uuuhhh..."
"Midah!"
Keduanya saling pandang kala Midah kesal yang diajak bicara tidak mau menatapnya. Midah mencubit kencang lengan Nanta. Tentu Nanta terkejut karena merasakan tanganya panas dan perih. Keempat mata saling bertemu lagi, Nanta bak terbius oleh penampilan si tomboy.
Merasa di perhatikan Midah pun melengos.
Tin tin tiiin...
Taksi pun datang dan pada akhirnya mereka numpang taksi meninggalkan motor di tempat itu.
PoV Sumidah.
Gila, Gila-gila. Demi uang mengapa aku jadi ikutan gila seperti pria di sampingku ini. Kenapa harus berbohong? Jika tidak mau dijodohkan toh, tinggal menolak perjodohan itu. Mengapa juga harus melibatkan aku dalam permainan sandiwara cinta nya.
"Tomboy... nanti kalau kita sudah tiba di rumah, kamu harus mau aku gandeng ya" pinta Nanta konyol.
"Ogah! Bukan muhrim!" Jawabku ketus. Enak saja pria ini, walaupun aku tomboy dan teman aku kebanyakan pria aku tidak mau di pegang-pegang pria.
"Kok tidak mau, ini kan satu paket pekerjaan yang harus kamu lakukan Midah" ujarnya entah mengapa ketika dia memanggilku Midah terdengar aneh di telinga. Lebih enak di dengar ketika memanggilku tomboy.
__ADS_1
Huh! Gara-gara pria ini aku jadi banyak melakukan dosa. Harus berbohong, mau di pegang-pegang, dan entah berapa kebohongan lagi yang akan aku lakukan selama setengah hari ini. Ya Allah... ampuni hambamu.
"Oh iya, Midah... selama di depan Mama, aku akan selalu memanggilmu sayang, dan kamu harus memanggilku Mas" tuturnya.
"Apa?!" suaraku menggema di dalam mobil. Kupandangi kaca spion tampak supir taksi sedang tersenyum, mungkin pria setengah baya itu merasa aneh melihat kekonyolan kami.
"Pelankan suara kamu jangan seperti toak" katanya di dekat telinga membuat aku merinding, karena kami duduk berdua di jok tengah.
"Ketika tiba di rumah nanti kamu harus bersikap santun di depan Mama, tidak boleh berbicara keras seperti sekarang" ucapnya dengan nada perintah.
Yang dikatakan memang benar, tetapi mana bisa aku bersikap seperti yang bukan diriku sendiri, dan penuh ke pura-puraan? Yah... tidak ada pilihan lain selain mengikuti skenario yang sudah dia buat. Itung-itung aku belajar bersikap santun, jika kelak aku menjadi wanita kaya dan harus mampu membaur dengan kelompok sosialita. Hahaha... aku tertawa dalam hati, mimpiku ketinggian.
Walaupun aku bekerja membantu Non Rembulan, wanita lemah lembut dan berkelas. Wanita yang selalu menjunjung etika dalam bersikap. Namun, mengapa aku belum bisa belajar banyak darinya. Non Rembulan menerima aku apa adanya. Itulah yang membuat aku betah bekerja bersamanya.
"Kita sudah sampai tomboy..." ucap Nanta, mengejutkan lamunan aku.
Kami tiba di depan rumah berlantai dua, walaupun tidak sebesar milik Tuan Tara, namun masih tergolong mewah.
Ketika taksi terbuka Nanta menggandeng tanganku. Karena ini bagian dari upah sebesar 5 juta yang akan aku terima nanti, kali ini aku tidak bisa menolak lagi walaupun di hati ini bertentangan.
"Ingat tomboy... ikuti saranku, jika kamu melanggar salah satu perintahku upahmu aku potong 10 persen setiap satu pelanggaran," ucapnya enteng. Tanganku gatal rasanya ingin menjotos pria ini namun kali ini aku harus mengalah.
Ia mengetuk pintu rumah, aku perhatikan di sekeliling sangat sepi, tidak bedanya di kediaman Non Bulan.
Ceklak!
"Oh... Den Nanta, masuk Den... Non..." ujar wanita sekitar 40 tahunan menganggukan kepala santun di depanku. Aku membalas senyuman dan anggukan sebelum akhirnya Nanta menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah mengikuti wanita yang di panggil Nanta bibi.
Dari kejauhan aku menangkap dua sosok wanita yang sedang ngobrol sambil tersenyum. Wanita yang lebih tua sudah pasti nyonya Zarina, walupun sudah lama tidak bertemu aku masih ingat betul wajahnya.
Sementara wanita yang satu lagi. Ya Allah... sungguh ciptaanMu luar biasa cantik, mirib dengan wanita yang menjadi istri Kak Abu. Hanya bedanya wanita ini tidak berhijab.
Ketika tinggal beberapa langkah kami akan mendekati keduanya. Pria di sampingku melingkarkan tanganya di pundakku. Rasanya aku ingin menepis tangan itu, jika bukan karena aku harus profesional dalam bekerja.
"Assalamualaikum..." ucap Nanta.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." kedua wanita itu menoleh ke arah kami.
"Nanta..." sapa nyonya Zarina, menatapku lekat.
"Mama... kenalkan, ini wanita yang aku janjikan kepada Mama. Ini Midah calon istri aku Ma" tutur Nanta pria ini sungguh lihai dalam berakting.
"Tante..." aku jabat tangan nyonya Zarina yang masih terus menatapku. Mungkinkah nyonya mengenali aku?
Aku tempelkan tanganya di hidung, tentu aroma harum menyeruak.
"Oh... silahkan duduk" titahnya seraya melungguhkan kembali bokongnya.
Aku menoleh wanita cantik sejak kehadiranku tadi menatapku tidak suka. Aku ulurkan tangan sebelum duduk hendak jabat tangan. Namun rupanya wanita ini tampak ragu-ragu.
"Nanta... ini loh Amelia... kenalkan kalian belum saling kenal kan..." nyonya Zarina memecah heningan.
"Mas... kenalkan, saya Lia..." Wanita yang bernama Amelia itu tersenyum manis memegang telapak tangan Nanta yang ia letakkan di lutut menjabatnya, walaupun tidak ada respon.
Aku perhatikan Nanta menarik tangannya kasar. Namun wanita itu bukanya marah justru duduk bersebelahan dengan Nanta yang seharusnya aku tempati.
Alhamdulillah... aku merasa lega, tanpa harus di peluk-peluk si pria tengil itu.
Pandanganku beralih menatap nyonya Zarina tampak gelisah entah apa yang beliau pikirkan. Aku jadi merasa bersalah kepada wanita yang lebih tua dari Ambu itu karena aku telah bersekongkol dengan putranya untuk membohonginya.
"Permisi Tante..." aku mengangguk, dengan tujuan agar diijinkan duduk di sebelahnya, bekas Amelia.
"Oh iya... duduk Nak"
"Terimakasih, Tante..."
"Kamu tinggal dimana?" Tanya nyonya Zarina. Andai saja, beliau tahu bahwa aku hanya seorang pengasuh anak, apakah beliau akan menyapaku selembut ini.
"Saya..."
"Sayang... tolong ambilkan minum air putih di dispenser ya..." Pinta Nanta. Mungkin ia tahu karena aku kebingungan memberi jawaban, berniat menyelamatkan aku.
__ADS_1
"Baik Mas..." aku segera beranjak, namun wanita itu ikut beranjak pula, tiba-tiba sudah berjalan di sampingku. "Biar saya yang ambilkan minum untuk calon suami saya!" Ucapanya ketus.
...Bersambung....