
Abu Miftah PoV
Badanku terasa gatal-gatal lalu membuka mata menatap sekeliling. Pantas saja digigiti nyamuk ternyata ketiduran di depan kamar Liha. Aku bangun duduk bersandar di pintu, mengingat semua kejadian tadi. Beberapa kali mengetuk pintu dan memohon agar Liha membukanya, niat baik ingin bicara berdua agar persoalan ini jangan sampai melebar, tetapi ternyata Liha keukeuh dengan pendirian.
"Astagfirrullah... kenapa rencanaku malam ini menjadi berantakan seperti ini? Maksudku ingin membuat kejutan, tetapi justeru aku yang terkejut, hingga hampir pingsan. Kata-kata "aku yang akan mundur" dari mulut Liha membuat aku takut, saat ini aku tidak hanya mencintai Ais tetapi juga Umma nya. Namun ternyata tidak mudah menyatukan hati Liha dengan hatiku. Aslihah wanita yang lemah lembut itu, tidak menyangka akan mempunyai watak keras kepala.
Aku pikir menikahi wanita sepertinya akan mudah meluluhkan hati nya, tetapi aku salah. Ya... aku memang yang salah, seandainya aku dulu jujur pada Liha, siapa Midah, tentu tidak akan menjadi masalah seperti ini.
Tanpa tenaga aku bangun menatap pintu kamar Liha lalu berjalan ke kamarku yang hanya bersebelahan. Aneh jika dipikir masa aku punya istri tetapi tidur terpisah. Aku sadar ternyata belum becus mengurus rumah tangga sendiri.
Klak
Mendengar pintu dibuka tanganku yang hendak mendorong handle pintu aku tarik kembali. Alhamdulillah... ternyata Aslihah keluar kamar menuju dapur. Entah melihat aku atau tidak, yang jelas ia nyelonong saja. Dengan langkah lambat aku ikuti Dia ternyata ambil air minum dari kulkas kemudian meneguknya setelah duduk di kursi meja makan.
"Liha..." Aku lingkarkan tangan di perutnya entah keberanian darimana melakukan ini. Selama menikah dua minggu belum pernah aku seberani sekarang. Aroma tubuh wanita cantik ini sungguh menggoda, membuatku berpikir yang aneh-aneh jiwa kelelakian aku bergejolak. Ah, andai saja wanita ini mau di ajak kompromi alangkah bahagianya aku.
"Lepas!" Ia berdiri berusaha lepas dari pelukanku. Mana bisa? Tanganku begitu kuat.
"Liha dengarkan aku" Aku tempelkan dagu di pundaknya sungguh aku terlena dengan deru nafasnya. "Liha, aku akan melepaskan kamu asalkan kamu mau berjanji," sedikit mengancam mungkin bisa menjelaskan padanya.
"Nggak ada yang perlu dijelaskan! Lepaskan saya!" Ia menyikut perutku seraya berteriak.
"Suuutttt... Liha... pelankan suara kamu, atau... Ais akan bangun dan melihat Umma nya sedang marah-marah"
Ia kembali duduk dan menangis sesegukan. Tanpa berpikir lagi aku gendong Dia ke kamar aku. Tentu Dia meronta-ronta ingin turun namun aku tidak menghiraukan. Aku dorong handle pintu dengan satu kaki menidurkan tubuhnya di ranjang. Ia segera bangun hendak keluar namun dengan cepat aku mengunci pintu, dan menyembunyikannya di kantong celana boxer.
__ADS_1
"Baiklah aku akan bicara, sekarang ceraikan aku!" Tegasnya. Aku maju dan menyumpal mulutnya dengan mulutku. Aku dorong tubuh nya hingga terlentang lalu ku tidih. Aku hukum dengan ciuman rakus. Air matanya mengalir deras sungguh aku tidak tega. Namun tidak ada pilihan lain.
"Dengarkan aku Liha! Aku menikahi kamu bukan untuk main-main, tetapi aku menjalankan ibadah. Tidak semudah itu menuruti apa yang kamu minta" Aku jatuhkan kepalaku didadanya.
"Sekarang deangarkan aku. Aku akan jujur" melihat wajahnya lebih tenang aku merosot ke samping. Namun aku kunci perutnya dengan kaki, dan mengunci dadanya dengan tangan. Sepertinya ia menyerah buktinya tidak berontak lagi.
"Liha... sekarang aku akan ceritakan dengan jujur, tetapi tolong jangan memotong" mungkin harus sejak awal aku ceritakan agar wanita dalam dekapan aku ini percaya.
"Dulu pertama kali aku ke Jakarta bukan tujuan untuk merantau mencari uang. Tetapi demi Rembulan" Ia tampak terkejut melirikku cepat namun segera membuang pandangan.
"Pasti kamu tahu itu kan, Liha? Dan semua orang kampung juga menjadi saksi. Wanita yang aku cintai satu-satunya adalah Bulan ketika itu. Tetapi aku hanya mimpi Liha... Setelah sadar dari mimpi, cintaku bertepuk sebelah tangan. Seperti yang kamu lihat tadi, Bulan dipersunting pria tajir. Tetapi aku ikhlas yang penting Bulan bahagia saat itu. Tetapi ternyata Bulan tidak mendapatkan kebahagian seperti yang aku harapkan"
Liha melirik aku sepertinya kaget.
Singkat cerita karena ingin memastikan bahwa sahabat kamu itu bisa menemukan suaminya dalam keadaan selamat, aku menyusul Bulan, dan saat itu aku rela menjadi supir taksi membuntuti Bulan kemanapun dia pergi.
"Nah saat itulah aku menyelamatkan Bulan yang hendak di celakai wanita yang bernana Keke, padahal saat itu Bulan sedang hamil. Mertua Bulan senang sekali aku berhasil menyelamatkan cucu dan menantu nya. Karena ucapan terimakasih mertua Bulan memberi aku pekerjaan menjadi supir pribadi pak Bisma, suami bu Maya, mertua Rembulan ternyata berhati baik,"
"Begitulah Liha... awal aku bertemu dengan Sumidah. Sumidah itu art bu Maya, rupanya Dia suka padaku hingga saat ini. Tetapi jujur Liha... setelah muve on dari Rembulan. Aku mencoba mencintai Midah, wanita yang sudah jelas mencintai aku. Jujur aku merasa kasihan dengan kegigihan Dia, namun rupanya Midah tidak mampu menggetarkan hati aku, sumpah Liha," aku pun menceritakan hingga detail.
"Tetapi kenapa wanita itu sampai memeluk begitu?!" ketus nya.
"Liha... aku juga nggak nyangka jika Midah akan melakukan itu"
"Tetapi kamu senang kan?" tanya Dia merengut kesal.
__ADS_1
"Ciee ciee... cemburu..." aku menggodanya.
"Nggak lucu!" Walaupun menjawab ketus kali ini hanya di mulut saja. Tentu terlihat dari matanya.
"Sudah... jangan marah-marah terus, nanti cepat timbul kerutan di pipi," aku usap pipi halusnya.
"Memang aku sudah keriput Kok, sudah tua dan sudah jan--" aku tahu apa yang akan ia ucapkan makanya kembali ku bekap mulutnya. Dia menggerak-gerakan kepalanya ke kiri, kanan ingin lepas. Akhirnya ia dorong pundakku dengan kedua telapak tangan.
"Masih mau bicara begitu lagi nggak?" tanyaku. Liha hanya diam saja.
"Liha... bukankah sudah aku katakan, aku menikahi kamu tidak memandang status, tetapi karena Allah. Kamu harus tahu Liha, saat pertama kali aku melihat kamu ketika akan melamar, aku langsung jatuh cinta. Walaupun kamu selalu ketus," tutur aku panjang lebar.
"Iya, Iya... aku percaya, tapi aku minta sekarang lepas tanganmu" ia hendak mengangkat tanganku yang melingkar di dada.
"Tidak, aku mau begini," tolakku.
"Aaahhh... nanti Ais bangun" ia beralasan.
"Jangan Alesan Liha, jika Ais tidak melihat kamu di kamar sudah pasti akan mencari aku ke sini," ucapku memang begitu adanya.
Author PoV.
Mereka malam itu tidur berdua, hingga seperti biasa saat sebelum adzan subuh Liha membuka mata. Merasakan benda berat mengunci pergerakannya ternyata tangan dan kaki pria masih dalam posisi yang sama ketika awal tertidur. Namun Liha merasa aneh hawa dingin di ruangan kamar semakin membuat nya menggigil dan pada akhirnya Liha memutuskan untuk mandi air hangat. Namun betapa terkejutnya Liha ketika membuka selimut, mereka tidak memakai selembar kain pun.
...Bersambung....
__ADS_1