
Aslihah PoV
Mimpikah? Ketika bangun dari tidurku aku sama sekali tidak memakai selembar kain pun. Ya Allah... Kenapa aku mendadak amnesia jika tadi malam telah melakukan adegan 20 +. Mungkin karena aku belum siap melakukan ini hingga menjadi tidak berkesan, jika bukan karena aku takut dosa. Karena melayani suami adalah tugas istri.
Ya Allah... aku mencoba mengingat-ingat ternyata aku dibuat meleleh oleh pria ini, dengan kelembutanya menggauli aku, dan berdoa dulu sebelum melakukan, mungkin begini punya suami Ustadz. Ia melakukan dengan lembut dan tidak mengumbar nafsu. Padahal sumiku baru pertama kali melakukan adegan panas. Mungkin ini salah satunya mengapa aku pasrah menerima hasratnya. Dan tidak ada nilai tawar lagi, karena ia melakukan dengan cinta menurut penuturannya, semoga memang benar. Walaupun sebenarnya aku masih belum mempercayai seratus persen tentang kedekatannya dengan wanita yang bernama Midah hanya sebatas adik kakak, entah benar atau tidak, toh ia sudah mengatakan semuanya tentang kisah cinta nya. Tentu saja aku masih ada setitik keraguan untuk mempercayai.
Aku melirik pria tampan tidur miring ke arahku masih sangat lelap. Tumben pria ini belum juga bangun. Biasanya dia akan bangun lebih dulu ketimbang aku, mungkin karena dia lelah karena melakukan itu semalaman.
Aku singkirkan perlahan lengan dan kakinya ingin segera mandi.
"Mau kemana" tanganku dicekal olehnya.
"Mau mandi, sebentar lagi adzan subuh," jawabku.
"Memang sudah pagi ya?" Abu melirik jam di tembok, kemudian bangun. Aku singkirkan selimut setelah mengenakan pakaian, hendak ke kamar mandi.
"Liha" ia menggengam tanganku. Aku tidak menyahut hanya memandangnya, entah mengapa mulutku seolah irit bicara kepada pria yang satu ini, padahal aku tipikal orang yang senang ngobrol.
"Terimakasih" ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk entah terimakasih untuk apa, kemudian melanjutkan tujuanku untuk mandi wajib. Setelah 15 menit aku keluar dari kamar mandi, rupanya Abu sudah duduk di sadjadah, mungkin ia mandi di kamar mandi Aisyah atau di dapur.
"Sudah Adzan Liha, kita segera shalat" ucapnya rupanya ia menunggu aku, biasanya pria ini selalu shalat subuh ke masjid tetapi saat ini memilih shalat subuh di rumah.
"Tumben nggak ke masjid?" tanyaku seraya mengenakan mukena.
"Kali ini aku ingin shalat bersama kamu" jawabnya sambil tersenyum. Ia segera berdiri kemudian menjadi imam. Selesai shalat dan berdoa aku segera ke dapur membiarkan dia yang masih berdzikir. Suamiku itu jika berdzikir selalu lama sekali dan tampak khusyuk.
Sebelum ke dapur aku membuka kamar Ais, menengoknya. Anakku ini semalaman tidur sendiri. Aku nyalakan lampu rupanya Ais masih terlelap.
Dreett... deeeerr...
Handphone aku berbunyi ingin segera aku angkat, tetapi keburu mati. Nomor yang tidak aku kenal ini sudah berkali-kali menghubungi. Selain itu banyak sekali pagi ini nomor yang menghubungi. Bunda aku, bu Fatimah, dan yang terakhir adalah nomor yang tidak aku kenal. Aku biarkan saja tidak berniat menghubungi balik. Namun rupanya ia telepon lagi. Aku geser tombol hijau siapa tahu memang penting.
📞 "Assalamualaikum..." rupanya wanita yang telepon.
"Waalaikumsalam wr wb"
📞 "Liha... maafkan aku atas ucapan aku kemarin, gara-gara itu jujur tadi malam tidak bisa tidur, memikirkan kamu Liha..."
__ADS_1
"Bulan ya?" aku langsung paham dari ucapanya walaupun aku tidak begitu mengenali suaranya.
"Iya Liha... kamu baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa Lan, justeru aku yang minta maaf, karena aku sudah tidak sopan kepada tamu-tamu aku, termasuk kamu," kami ngobrol panjang lebar di telepon, saling memaafkan.
"Oh iya Liha... Aku juga minta maaf atas nama Sumidah,"
Aku hanya diam, bayangan Dia memeluk Abu, nasih belum hilang dari ingatan. Walaupun bagaimana, seharunya ia tahu aturan memeluk pria yang bukan muhrimnya.
"Liha... hallo!"
"Iya Lan, aku mendengar."
'Oh iya Liha... besok aku main ke rumah kamu lagi ya... aku belum puas ngobrol,"
"Kenapa tidak sekarang saja Lan?" Aku sudah tidak sabar ingin ngobrol sama Dia lagi.
"Rencananya hari ini aku akan mencari Sumidah sejak kemarin itu, dia tidak pulang Liha... tidak bisa di hubungi juga, kami khawatir sebab Sum sudah aku anggap keluarga aku sendiri,"
Tutur Bulan belum sampai aku jawab, dia sudah memutuskan sambungan.
Aku ke dapur ternyata masih ada kue-kue dan lauk pauk sisa acara tadi malam hanya tinggal menghangatkan saja. Menyiapkan makanan untuk Abu ternyata tidak sulit. Walaupun makanan sudah di hangatkan tetapi masih mau makan. "Biar tidak mubazir" begitu katanya.
"Masak apa?" Tangan kekar tiba-tiba merangkul pundakku.
"Nggak masak, makanan kemarin masih banyak," jawabku. Aku susun kue dalam langseng tanpa menoleh, kue buatan bu Fatimah masih bagus sekali walaupun sudah menunda satu malam.
"Teruskan aku yang mencuci pakaian" ucapnya melepas tangannya dari pundakku sungguh masih terasa grogi tiap kali pria ini mendekati aku.
"Tidak usah Kak, biar nanti aku saja yang mencuci" Aku merasa bersalah tiap kali ia mencuci pakaian. Abu tidak seperti pria kebanyakan, tidak membiarkan aku mengerjakan pekerjaan rumah, mengepel kadang ia yang melakukan.
"Tidak apa-apa Liha... besok aku mau beli mesin cuci biar memudahkan kita, dulu aku tidak membeli mesin karena aku pikir belum perlu banget," pungkasnya sambil berlalu ke tempat pencucian pakaian di luar kamar mandi dapur.
Setelah selesai memasak cepat-cepat aku menyapu jangan sampai ia yang mengerjakan tugas aku.
"Umma..." anakku rupanya sudah bangun.
__ADS_1
"Iya sayang... kamu baru bangun."
"Sudah dali tadi, tapi malas kelual" ucapnya jujur. Aku tersenyum.
"Abi kemana?"
Ah, anak itu kadang aku iri, mengapa anakku lebih dekat dengan ayah sambungnya daripada aku ibu kandungnya sendiri.
"Abi sedang mencuci,"
Ais segera berlari menghampiri nya. Bersamaan dengan aku selesai bebenah, aku lihat Abu juga selesai mencuci.
Pagi ini kami sarapan bersama di meja makan aku banyak diam, hanya terdengar celotehan Ais tanya ini itu kepada Abu.
"Sekarang sarapan dulu, Ais baca doa" kataku.
"Abi beldoa" ujar Ais.
"Okay..." Abu memimpin doa. Kami pun akhirnya sarapan.
"Liha... kamu capek tidak?" tanya Abu selesai sarapan.
"Nggak kok, kenapa?" Aku menoleh Abu di sampingku menghabiskan sisa air putih dalam gelas.
"Hari ini kan apotek masih tutup kita jalan-jalan ya"
"Kita mau jalan-jalan Bi?" tanya Ais. Sebelum sempat aku menjawab Ais sudah semangat lebih dulu.
"Iya... Abi libur masih dua hari, Abi mau ajak kalian jalan-jalan ke ancol"
"Holeee... jalan-jalan..." Ais bersorak gembira.
"Oh iya Kak, Rembulan tadi telepon aku," aku beralih obrolan.
"Bicara apa Dia?" tanya Abu serius.
"Banyak, tapi intinya, Bulan mengatakan bahwa Midah hingga sekarang belum pulang," tutur aku seperti apa yang Bulan katakan. Abu menatap aku cepat. Sepertinya terkejut wajah ceria yang ia tampilkan sejak bangun tidur pun menghilang.
__ADS_1
...Bersambung....