
Pagi ini Ananta mencari Sumidah di dalam maupun di luar hotel, namun tidak Nanta temukan. Telepon pun hanya operator yang menjawab. "Aaggghhh..." Pekik Nanta di dalam kamar, ia menjatuhkan dahinya ke tembok. Berapa menit kemudian, Nanta kembali ke luar meunuju parkiran. "Kita pulang Pak," Titahnya kepada supir.
"Baik Tuan" Jawab Supir. Tidak ada pilihan lain bagi Nanta, selain mengajak supir pulang ke rumah Sumidah.
Di dalam mobil pak Budi tidak berani berkata apapun, melihat tuan mudanya sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Sumidah hanya mengurung diri di dalam kamar. Gadis yang jarang sekali menangis itu seolah air matanya terus mengalir. Bagai air hujan setelah musim kemarau panjang, gambaran air mata Sumidah.
Sedih, kecewa, sakit hati, itulah yang Midah rasakan. Tidak menyangka pria yang bernama lengkap Randito Ananta Pratama itu bisa berbuat seperti ini kepadanya. Sebenarnya Sumidah bukan orang yang mudah sakit hati, tetapi kenapa ketika Nanta yang melakukan itu rasanya takkan terobati.
"Sumidah... kamu sarapan dulu sayang..." Ambu membujuknya agar Sumidah makan sedikit, tetapi Midah hanya menggeleng sebagai ganti jawaban.
Ambu hanya bisa menarik napas berat, apa yang sudah Nanta lakukan hingga putrinya terluka begini. Ambu tahu, Sumidah wanita kuat menghadapi masalah apapun. Tetapi kali ini Ambu menangkap adanya kekecewaan yang luar biasa di hati Sumidah.
Tok tok tok.
Terdengar pintu di ketuk Ambu meletakan piring kemudian membuka pintu.
"Mbu, ada Bang Nanta," Kata Anda. Mengantar kakak iparnya ke depan pintu, lalu kembali ke bawah.
"Masuk Nak Nanta." Titah Ambu. Nanta mengangguk mengikuti Ambu. Inilah yang pertama kali Nanta masuk ke kamar Sumidah.
"Sumidah... ada suami kamu Nak," Kata Ambu. Tidak ada jawaban dari Sumidah. Tubuhnya tampak bergetar karena menangis.
"Tomboy... maafkan aku," Tanpa malu lagi di depan mertuanya, Ananta merangkul tubuh Sumidah.
"PERGI!" Sumidah mendorong tubuh Nanta hingga terjengkang ke lantai.
"Sumidah..." Ambu terkejut, memandang Sumidah tidak percaya.
"SURUH PERGI PRIA INI MBU, PERGIIIIIII.... Hu huuu..." Usir Sumidah tanganya menunjuk pria yang baru kemarin siang sah menjadi suaminya itu.
Ananta menatap sendu wajah Sumidah matanya sembab kebanyakan memangis. Hati Nanta mencelos.
__ADS_1
Ambu menepuk pundak Nanta agar mengikutinya. Ambu keluar kamar Nanta menurut lalu tanganya menarik handle pintu. Sesaat Nanta berhenti menatap istrinya tidak lama kemudian menutup pintu.
Tiba di lantai bawah, Ambu mengajak menatunya ngobrol di ruang tamu.
Rumah Ambu sudah sepi, semua keluarga sudah pulang saat subuh tadi. Begitu juga dengan mama Zarina, Abu dan rombongan sudah kembali ke Jakarta.
"Ananta... sebenarnya ada masalah apa di antara kalian Nak, tidak mungkin jika hanya persoalan kemarin, Midah sampai semarah ini?" Tanya Ambu. Nanta menunduk sikap tengilnya entah kemana. Lagi pula dia takut menceritakan yang sebenanya kepada mertuanya.
"Ini pelajaran untuk kamu dengan Sumidah agar kedepanya berpikir secara dewasa. Bukan seperti anak kecil menyelesaikan dengan marah," Sindir Ambu. "Wajar jika anak-anak yang melakukan itu Nanta, tangisnya belum hilang mereka sudah melupakan masalah dan sudah kembali bermain."
"Tetapi orang dewasa, sekecil apapun itu masalahnya jika tidak mau saling bicara dan membiarkan persoalkan yang kecil itu menumpuk akan seperti ini jadinya." Nasehat Ambu.
"Sepertinya Sumidah belum mau bertemu kamu hari ini Nak, sebaiknya kamu kembali ke hotel dulu. Ambu akan berusaha membujuk Sumidah." Kata Ambu bukan mengusir, tetapi melihat keadaan Sumidah Ambu akan membujuknya perlahan-lahan.
Hari berganti hari, sudah tiga hari Ananta mondar mandir hotel ke rumah istrinya, berusaha membujuk Sumidah. Namun Sumidah belum juga mau menerima Nanta.
Pagi ini Ananta dengan wajah lesu, berjalan melewati Gang. Ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk beberapa hari. Bukan menyerah, tetapi Ananta akan memberi kesempatan istrinya untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
"Ini semua gara-gara loe!" Tuding Ananta.
"Loe itu belum bisa menjaga perasaan wanita sudah kebelet kawin! Yang ada Midah yang menjadi korban!" Juned marah besar. Selama tiga hari ini, ia selalu melihat gerak gerik Nanta. Tanpa ada yang cerita Juned bisa menangkap jika ada masalah di antara keduanya.
"Gw rela Sumidah menikah sama loe karena gw kira loe orang baik. Tetapi gw menyesal karena loe tidak lebih dari seorang pecundang!"
"Bilang saja loe iri, karena Sumidah sudah menjadi istri gw!" Jawab Nanta sinis.
Buk!
Tinju melayang ke pipi Nanta, padahal bekas tinju Tara kemarin belum sembuh. "Ini pelajaran untuk pria yang sudah menyakiti wanita yang gw cintai."
Buk!
"Ini balasan untuk pria yang ikut campur urusan rumah tangga orang lain!" Nanta pun membalas. Adu jotos dua pria yang sama-sama mencintai Sumidah itu tidak terelakkan lagi. Keduanya sama-sama mempertahankan ego. Lebam-lebam di wajah kedua belah pihak, tidak mereka rasakan lagi.
__ADS_1
"STOP!!!" Teriakan pria menghentikan keduanya, masing-masing ngos ngosan napasnya naik turun.
"Kakak sama Abang ini ada apa?" Tanya Suhanda yang baru turun dari motor berboncengan dengan Suhendar.
"Maafin Kakak Anda, saya hanya ingin memberi pelajaran Kakak ipar kamu ini!" Juned menunjuk Nanta.
"Memang apa yang sudah Abang Nanta lakukan Kak?" Tanya Anda.
"Tanyakan sendiri sama Kakak ipar kamu ini Nda." Punkas Juned. Lalu kembali menjalankan motornya meninggalkan tempat.
"Bang, sebaiknya kita pulang, biar luka Abang kami obati," Kata Anda. Tidak tega melihat wajah Nanta.
"Tidak usah Anda, saya mau berangkat ke Jakarta,"
"Abang... masa pulang dalam keadaan begini sih..." Cegah Anda.
Nanta hanya tersenyum kecil lalu menemui supir yang menunggunya di pinggir jalan.
"Tuan... wajahnya kenapa itu?" Tanya Supir, terperangah kala Nanta sudah masuk ke dalam mobil.
"Tidak apa-apa kok, Pak."
"Ya Allah... ini harus di obati dulu," Supir segera ambil P3K.
"Tidak usah Pak, sebaiknya kita segera berangkat," Tolak Nanta, sebenarnya Nanta yang manja itu, senang jika yang mengobati dua wanita yang ada di hatinya. Yakni mama Zarina atau Sumidah. Namun rupanya sang supir tidak memperdulikan tuanya itu. Supir membersihkan luka wajah Nanta sebelum akhirnya mengobati.
"Sebaiknya Tuan istirahat," Titah Supir menata bantal agar Nanta tidur di jok. Supir pun kembali ke depan menjalankan mobil.
Sementara Nanta merebahkan tubuhnya di jok. Seluruh tubuhnya terasa sakit semua, sebelum adu jotos pun beberapa hari ia tidak bisa tidur dengan pulas. Banyak sekali persoalan yang ia hadapi.
Nanta hanya bisa menyesali, karena sudah menyakiti istrinya dan juga mertua. Belum lagi ketika tiba di Jakarta nanti. Nanta harus berhadapan dengan sang mama, karena pulang dalam keadaan seperti ini terlebih tidak mengajak menantunya pulang bersamanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1