
"ASLIHAH... bangun sayang..." Kata Abu menepuk-nepuk pelan pipi istrinya. Namun tidak juga bangun. Selama menikah sudah 4 bulan, Abu belum pernah melihat istri nya sakit seperti ini. Abu sebenarnya bukan orang yang mudah panik, segala sesuatunya ia selesaikan dengan tenang, tetapi tidak, jika menyangkut anak istri.
"Pak, coba pakai minyak angin" Kata supir memberikan kotak P3K kepada Abu.
"Terimakasih." Kata Abu mengambil minyak yang sudah turun temurun dari nenek moyang itu, lalu menempelkan di hidung Liha.
"Bi... perutku sakit... aku tidak kuat Bi..." Rintih Liha, ketika membuka mata, tanganya memegang perut nya.
"Tahan sayang..." Kata Abu. "Pak, tolong tinggalkan kami dulu ya." Titah Abu minta supir keluar.
"Baik Pak." Supir pun mengangguk, kemudian turun dari mobil menghampiri Bulan dan Tara yang membawa Ais dan Rangga menyingkir.
Setelah supir keluar, Abu menyingkap gamis Liha, hendak membaluri minyak kayu putih, di bagian perut. Namun, betapa terkejutnya Abu, ketika netranya menangkap betis istrinya yang sudah mengalir darah. Tangannya gemetar minyak pun lepas dari genggaman.
"Astagfirrullah... Liha..." Abu meremas mulutnya turun ke dagu. "Tahan sayang..." Imbuhnya. Tidak terasa air matanya jatuh, selama ini ia jarang sekali menangis tetapi kali ini tidak kuat. Pantas saja istrinya kesakitan ternyata ini penyebabnya. Sesaat Abu telungkup di lutut Liha, apa yang sebenarnya terjadi hingga istrinya pendarahan. Apakah Istri nya hamil dan ia sampai tidak memperhatikan? Astagfirrullah... Abu berkali-kali istighfar dalam hati.
Abu mengangkat kepala lalu beranjak turun setelah mengusap sekitar mata. Ia berbisik kepada Tara minta diantar ke rumah sakit. Abu tidak ingin apa yang terjadi diketahui oleh Aisyah.
Tara mengangguk membuntuti Abu ke mobil. Tidak buang waktu lagi supir tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
"Umma kenapa Bi?" Tanya Ais berdiri di jok sebelah Bulan, menatap Umma nya yang sedang meringis.
"Umma masuk angin sayang... kita bawa ke dokter ya." Hibur Abu kepada Ais, menutupi perasanya yang campur aduk.
"Oh... badanya panas ya Bi? Kayak Ais kemalen-kemalen itu," Kata Ais. Ingat dirinya sendiri ketika sakit.
"Iya sayang..." Abu tersenyum. Namun hanya untuk menyembunyikan rasa takutnya jika terjadi apa-apa dengan istrinya.
Mobil melaju cepat, Bulan memindai kanan kiri jalan jika ada rumah sakit. Benar saja, bangunan rumah sakit besar berada di sebelah kiri jalan. "Pak, di depan itu ada rumah sakit." Bulan menghentikan laju supir.
"Baik Non." Supir segera belok kiri menunggu sesaat plang dibuka, kemudian masuk. Bulan membuka sandaran jok agar memudahkan Abu untuk turun.
Abu segera menggendong Aslihah membawanya keluar.
__ADS_1
Bulan menutup mulut dengan telapak tangan ketika melihat darah yang membasahi gamis bagian belakang sahabatnya. Ia menyembunyikan wajah Ais di dada nya agar tidak melihat darah Umma.
"Umma... huaaa... ikut..." pekik Ais begitu mengangkat kepalanya, melihat Umma di gendong Abu menuruni mobil.
"Ais sama Tante Bulan dulu ya sayang... kasihan kan kalau Umma nggak segera di bawa ke rumah sakit." Abu menjelaskan. "Bulan... Tara... titip Ais, ya" Pungkas Abu tidak menunggu jawaban dari Bulan segera membawa istrinya masuk ke UGD.
"Ais... jangan menangis, doakan Umma agar cepat sembuh," Nasehat Bulan, mengusap sisa air mata Ais dengan jari.
"Ngis..." Ujar Rangga. Tangan mungil itu bermain-main di wajah Ais, mengikuti gerakan mama nya.
**********
Di kediaman Sumidah kini sudah ramai para tetangga pria kiri dan kanan rumah sedang bergotong royong memasang tenda. Sedangkan para mak-mak membantu memasak di dapur.
"Abi teh teu nyangka pisan, Sum suka juga dengan laki-laki, Abi pikir awewe model gitu teu bisi bebogohan," Ibu yang menguleg bumbu berbicara perlahan agar tidak terdengar keluarga Sumidah.
"Betul, sudah gitu calon suami Sumidah aku dengar orang kaya," Ibu yang sedang berdiri di depan kompor menimpali.
"Bentar lagi anak aku lulus, aku suruh merantau seperti Sum sajalah, biar dapat jodoh orang kaya," Salah satu mak nimbrung.
"Eheemm..." Ambu tiba-tiba nongol.
"Eeehh... aya Cek Een, aku jadi malu." Mak yang sedang memasak cengar cengir.
Di halaman, para bapak menghentikan kegiatanya saat motor berhenti di depan rumah. "Paket." Seru pria itu setelah turun dari motor ternyata seorang kurir. "Sumidah kan" Kurir membaca kotak tertera nama dan alamat.
"Betul" Jawab Anda, mendekati pria yang sedang mengeluarkan kotak dari karung yang di gantung di motor. Kebetulan di tempat itu ada Anda, kemudian mencoret kertas tanda bukti bahwa kiriman tepat sampai sasaran, setelah paket pindah ke tangan Anda.
"Terimakasih Pak." Pungkas Anda, sambil berlalu bermaksud memberikan paket kepada Sumidah.
Sementara Sumidah di dalam kamar sedang di dandani oleh kakak sepupunya. Yakni, keponakan Ambu.
"Aii... Aiii... kamu ternyata geulies pisan Dek," Ujar Rita. Menatap wajah Sumidah, menetili jika ada muke up yang berantakan. Sebab Rita yang bagian merias. Rita tersenyum tidak menyangka adik sepupunya yang biasa tampil tomboy kini berubah total.
__ADS_1
"Ah si Teteh bisa bae."
Tok tok tok.
"Bentar ya Dek" Rita menghentikan kegiatanya, membuka pintu terlebih dahulu.
"Ada apa Anda?" Tanya Rita pandanganya tertuju pada kotak yang adik sepupunya pegang.
"Ada kiriman paket untuk Teh Sumidah." Anda menyerahkan kotak.
"Terimakasih Dek." Ucap Rita. Ia kembali ke dalam setelah menutup pintu. Lalu memberikan kotak kepada Sumidah.
"Dari siapa Teh?" Tanya Midah membolak balik kotak yang di bungkus coklat mencari nama pengirimnya.
"Mungkin namanya di dalam Dek." Jawab Rita sambil menyisir rambut Midah, mengikatnya jika mengenakan jilbab nanti agar tidak kegerahan.
"Paling dari Tengil." Tebak Midah, tanganya merobek pembungkus kotak. Sudah tidak sabar, antara penasaran siapa pengirimnya, dan apa isi dari kotak tersebut.
"Tengil, siapa itu, nama kok aneh?" Tanya Rita, berhenti menyisir rambut Midah, turut mantengin isi kotak yang sudah dibuka sang pemilik.
"Aiii... Kebaya muslim Dek, pasti kamu lebih cantik memakai baju ini," Kata Rita kagum memegang bahan kebaya modern. "Dek Sum tahu nggak, kebaya merk ini, harganya sepotong saja bisa sampai jutaan loh," Tutur Rita yang pintar dandan dan tahu fashion itu, sering cek harga di internet walaupun belum mampu membeli.
"Masa sih Teh, kebaya mahal amat." Sanggah Midah. Ia jika beli baju harga seratus ribu sudah paling mahal.
"Beneran Dek, kamu teh teu percaya." Sungut Rita.
"Percaya Teh... jangan cemberut" Midah menoleh Rita lalu melebarkan kebaya dan ternyata ada bawahan segala.
Puk.
Sepucuk kertas jatuh ke lantai dari lipatan bawahan kebaya. Midah menunduk menatap nya lalu berjongkok di pungut dengan tangan kiri. Ia buka lipatan kertas lalu membacanya.
"Kebaya ini, aku sengaja membuatnya sendiri Midah, untuk calon menantu Mama. Sudah tidak sabar, Mama ingin melihat kamu mengenakan pakaian ini.
__ADS_1
...❤Mama❤...
...Bersambung....