
Motor matic pria menembus jalanan kota menuju tempat makan. Namun bukan restoran, maupun rumah makan, melainkan lesehan autdoor yang hanya menggunakan tenda di pinggir taman bermain. Namun makanannya terkenal enak. Tampak Abu sedang berjalan bersebelahan dengan Liha mencari tempat tikar kosong. Mereka masuk ke dalam salah satu tenda di bawah pohon yang mampu melindungi dari teriknya matahari di siang bolong.
"Kamu mau pesan apa Liha?" tanya Abu setelah duduk santai, ia menulis menu ikan bakar kesukaannya. Namun tidak ada jawaban dari Liha. Abu mengangkat kepala menatap istri cantiknya.
"Aslihah... hee... melamun" di tepuknya pundak Liha. Sang empu terjingkat kaget.
"Apa kak?" Liha rupanya sedang menatap pasangan di depan tampak sang suami sedang membantu istrinya membuang duri ikan seketika Liha ingat almarhum suaminya.
"Kamu mau pesan apa?" Abu mengulangi.
"Kakak pesan apa?" Liha balik bertanya.
"Ikan gurami bakar, sambal, dan lalap" Abu menunjukan secarik kertas.
"Oh... samain punya Kakak saja" jawab Liha, Abu pun mengganti bobot ikan bakar yang lebih berat dari yang ia tulis semula.
"Ais mau pesan apa sayang?" Abu mengusap punggung Ais di sebelah nya. Anak itu tidak mau sedikitpun menjauh dari Abu. Mungkin sangking bahagianya mempunyai ayah seperti anak-anak di sekitar kontrakan tempo hari.
"Ais mau sayul sop" jawabnya asal. Sebab di tempat itu tidak ada penjual sop.
Abu terkekeh. "Kalau soto Ais suka nggak Liha?" tanya Abu pada Aslihah. Tentu Liha lebih tahu apa kesukaan Ais.
"Suka Kak, yang penting tidak pedas"
Abu memesan soto hingga beberapa saat kemudian pesanan datang. Satu ikan gurame bakar, sambal, lalap, dan soto telah tersaji.
"Ais mau Abi suapin?" tanya Abu.
"Jangan" Reflek, Liha memegang lengan Abu. Abu tersenyum menatap lengannya lalu beralih ke wajah Liha.
"Maaf" Liha melepas tanganya menunduk malu. "Biarkan Ais makan sendiri Kak, karena ini salah satu membentuk karakter Ais agar lebih mandiri." Liha meneguk teh tawar sedikit.
"Bagus sekali cara kamu mendidik anak kamu, Liha" Abu salut dengan Liha. Memang cocok menjadi istriku. Abu membatin.
"Oh iya Liha, di komplek perumahan kita... ada sekolah tk dan paud bagaimana menurut kamu jika Ais kita masukkan sekolah disana?" tanya Abu.
"Tidak usah Kak, nanti saja kalau sudah tk" Liha tidak ingin merepotkan.
"Kamu yakin Liha, masalah biaya jangan kamu pikirkan," Abu sungguh-sungguh.
"Saya tahu Kak, tetapi pendidikan Ais lebih baik aku saja yang ajari, kecuali sudah tk,"
__ADS_1
Abu mengangguk-angguk mereka pun menyantap makanan dalam diam. Hingga satu ikan bakar habis mereka makan berdua.
"Liha... sekarang kalian aku antar pulang" Abu bermaksud kembali ke apotek setelah mengantar Liha dan Ais agar anak istri nya segera istirahat.
"Aku pulang pesan ojek online saja Kak" Liha tentu kasihan jika Abu harus bolak balik.
"Hus! Kamu ini!" Abu tidak mau dibantah.
"Ais mau makan apa lagi?" tanya Abu.
"Nggak Bi, sudah kenyang" jawabnya
"Kalau gitu... sekarang kita pulang" pungkas Abu. Mereka pun akhirnya pulang, kali ini Ais tidak duduk di depan seperti biasa. Khawatir Ais mengantuk Liha lebih baik menggendongnya. Benar saja dalam perjalanan Ais sudah tidur hingga tiba di rumah.
"Liha, aku tidak mampir ya, mau langsung berangkat" pamit Abu ketika sudah tiba di luar pagar.
"Iya Kak, hati-hati" Liha salim tangan Abu kemudian hendak membuka pagar.
"Oh iya, tunggu Liha, kamu nanti sore bersiap-siap ya, kita mau berkunjung ke rumah bu Fatimah" Abu bermaksud mengundang bu Fatimah ibu nya Rembulan, dalam acara syukuran pernikahan. Sebab bagi Abu dan Udin bu Fatimah sudah mereka anggap orang tua sendiri.
"Bu Fatimah..." Liha terkejut. "Bu Fatimah ibu nya Rembulan, Kak?" Liha tidak percaya.
"Sarat?" dahi Liha berkerut.
"Sayang dulu dong" Abu memajukan wajahnya.
"Iih..." Liha meraup wajah suaminya dengan satu tangan. Namun, Abu dengan cepat menangkap tangan Liha lalu menciumnya.
Abu terkekeh meninggalkan Aslihah yang masih menatap motor suami nya hingga menjauh. Liha tidak lagi memikirkan kekonyolan Abu, melainkan bertanya-tanya dalam hati sambil membuka pagar. Mengunjungi bu Fatimah itu artinya, Liha akan bertemu sahabatnya. Liha mengulas senyum merekah, ternyata suaminya selama ini berkumpul dengan orang-orang terdekatnya. Hanya Aslihah yang tidak pernah bertemu siapapun selama di Jakarta. Wajar karena almarhum suami Liha orang asli Jakarta.
*********
Di tempat yang berbeda motor pria melaju sedang menuju kediaman salah satu sahabatnya. Pria 25 tahun itu hendak mengembangkan bisnis properti yang baru ia jalani selama dua tahun, masih tergolong baru. Namun dengan belajar kepada pembisnis properti senior kini pria itu sudah mempunyai hotel dan apartemen cukup untuk biaya hidup bersama sang ibu.
Teng tong... teng tong!
Pria itu memencet bel.
Grendeeeenng...
Bibi membuka pagar. "Oh... Den Nanta, masuk Den" titah Bibi.
__ADS_1
"Terimakasih Bi, Tara ada di rumah?" tanya pria itu yang tak lain adalah Ananta, sahabat Tara.
"Ada Den... sepertinya Tuan Tara sedang menunggu Aden," jawab bibi sambil menutup pagar kembali. Setelah motor Ananta masuk ke dalam pagar.
"Assalamualaikum..." ucap Nanta di depan pintu, menatap Tara dan Rembulan sedang mengajak Rangga bermain.
"Waalaikumsalam..." Jawab Rembulan dan Tara bersamaan.
Tanpa di suruh Ananta segera masuk karena sudah biasa.
"Hai keponakan" Nanta langsung menoel gemas pipi Rangga.
"Hait! Kebiasaan! Cuci tangan dulu" sergah Tara. Tentu tidak ingin anaknya terkena penyakit. Bulan hanya tersenyum saja melihat dua sahabat ini jika bertemu pasti konyol.
"Hahaha..." Nanta tidak marah justeru tertawa, segera menuju wastavel hendak mencuci tangan. Di tempat itu gadis tomboy pun sedang melakukan hal yang sama.
"Hai tomboy" sapa Ananta sudah biasa begitu jika memanggil Midah. Nanta langsung berdiri di samping Midah tanpa memutar kran karena Nanta menggeser tangan Midah.
Midah mendelik gusar. "Tomboy-tomboy! Huh!" Sungut Midah menyiprat air ke wajah Nanta. Midah kesal tiap kali mendengar Nanta memanggilnya itu.
"Sweek... kurang asem! Basah tomboy!" ketus Nanta. "Memang kamu tomboy kenapa musti marah" ujar Nanta sambil mengusap air di wajah.
"Bodo... rasain! Wleee..." Midah melet-melet sambil berlalu. Begitulah Ananta dan Sumidah jika bertemu seperti Guguk dan Meong.
"Awas tomboy!" Ananta pun kesal, melanjutkan mencuci tangan setelah mengeringkan dengan handuk kecil, kemudian kembali menemui Tara, tetapi di ruang tamu sudah tidak ada Bulan dan Rangga.
"Kemana bocil?" tanya Nanta kepada Tara. Nanta kecewa sebenarnya sebelum membahas masalah pekerjaan akan menggendong Rangga lebih dulu, tetapi sudah tidak ada.
"Bobo, biar saja, sekarang kita ke ruang kerja saja" ajak Tara. Kedua sahabat itu ke ruang kerja membahas proyek pembuatan gedung perkantoran. Tentu Tara yang banyak menanam modal di proyek tersebut.
Sementara di dapur.
"Sum, tolong antar minuman ini keruang kerja Tuan Tara" titah bibi.
"Yah... Bibi, malas aku?" Sumidah kesal, di ruang kerja nanti pasti akan bertemu pria yang paling menyebalkan didunia. Menurut Midah.
"Hus! Kita ini disini kerja Sum, bukan Nyonya jadi tidak ada penolakan!" omel bibi.
"Iya... iya... " tak urung, Midah membawa nampan ke ruang kerja.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1