
Di apartemen seorang pemuda yang tak lain adalah Junaedi hari ini malas untuk melakukan aktivitas. Junaedi hanya gulang guling di kasur, padahal jika hari minggu begini biasanya mencari tempat yang ramai untuk menghibur diri. Namun kali ini ia memilih mengurung diri di kamar.
Ke esokan harinya, tepatnya hari senin, Junaedi mengajukan cuti selama sepekan. Ia hendak pulang ke kampung menenangkan diri disana. Walaupun tidak rela jika gadis yang dicintainya menikah dengan orang lain. Bukan berarti Junaedi lantas tidak akan menghadiri pernikahan Sumidah. Namun setidaknya Juned harus mempersiapkan mental ketika melihat wanita yang dicintai bersanding di pelaminan dengan pria lain.
Juned merasa menjadi pengecut, karena tidak cepat mengutarakan cintanya. Kini yang ada diambil pria lain.
Setelah pulang dari kantor mengajukan cuti, Juned menyiapkan pakaian beberapa potong lalu memasukkan ke dalam ransel. Junaedi kemudian, berangkat setelah mengenakan sepatu.
Di tempat yang berbeda sepasang calon pengantin sedang berdebat. "Kenapa sih loe, nggak mau naik taksi saja?" Tanya Nanta ketika Sumidah memilih numpang bus.
"Nggak apa-apa lah, kalau naik bus tuh aku senang saja Mas," Sumidah memang senang beramai-ramai numpang bus ketika pulang kampung, daripada kendaraan yang lain.
"Bukan janjian sama pria lain kan loe?" Tanya Nanta asal, kali ini sudah berada di dalam mobil hendak mengantar Sumidah ke terminal.
"Cek! Biasa deh kalau bicara nggak di saring dulu." Sungut Midah.
"Ya kali? Loe ternyata selingkuh di belakang gw." Jawab Nanta enteng sambil menyetir.
"Tengil, seminggu lagi tuh kita menikah loe, masa... pikiranya masih negatif terus," Sum geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka, Nanta yang slenge-an itu cemburunya selangit.
Keduanya saling diam hingga tiba ke tempat yang di tuju. "Tomboy... hati-hati loe ya," Pesan Nanta ketika Sumidah hendak turun.
"Iya" Hanya itu jawaban Sum.
"Sayang dulu dong." Seloroh Nanta. Senang sekali menggoda Sumidah.
"Ini sayang..." Sumidah menempelkan handphone ke hidung Nanta.
Nanta lantas mencekal lengan Sumidah menariknya hingga wajah mereka bertubrukan.
"Aow!" Pekik keduanya. Mereka sama-sama memegang dahi. Tidak Sumidah sadari wajahnya dekat sekali dengan wajah Nanta. Seketia Midah mundur cepat-cepat turun dari mobil.
__ADS_1
Midah menutup pintu melangkah cepat menuju agen akan segera ambil tiket yang ia pesan online. Midah tidak ingin terlihat wajahnya yang sudah matang itu oleh Nanta.
"Sumidah." Sapa seorang pria yang berjalan ke arahnya. Tujuanya sama yakni memesan tiket.
"Kak Juned," Sahut Sumidah mengulas senyum. Lagi-lagi bertemu tetangga nya itu disini.
"Kamu sudah memesan tiket Midah?" Tanya Junaedi basa basi. Ia heran mengapa Sumidah tidak di antar oleh calon suaminya dengan mobil mewah.
"Sudah Kak, hanya tinggal ambil saja,"
"Oh, kalau gitu sama, kita ke loket barengan saja," Kata Junaedi. "Kita seperti janjian saja Midah, sudah dua kali loh kita pulang bersama," Sambung Juaendi. Gurat bahagia terlihat nyata di wajahnya.
"Hehehe..." Sumidah terkikik menoleh Juned yang berjalan di samping nya. Tidak Midah sadari, Nanta masih memperhatikan dari dalam mobil. Melihat siapa pria itu dari kejauhan Nanta memukul stir. Ia marah kemudian menjalankan mobilnya kembali pulang.
"Kamu ke terminal sendirian Sum?" Tanya Juned mengedarkan pandangan ke sekeliling, ketika sudah berada di depan loket. Juned masih tidak percaya jika Midah pulang sendiri.
"Tadi di antar sama Mas Nanta, tapi Dia sudah pulang Kak." Jawab Sumidah. Setelah membayar tiket kemudian mereka sama-sama masuk ke dalam bus.
"Kamu dapat nomor berapa?" Junaedi melirik tiket di tangan Sumidah sambil berjalan.
"Nomor 6, berarti aku di belakang kamu Sum."
Sumidah hanya mengangguk-angguk lalu melirik tempat duduknya di dekat jendela, memang itu yang Sumidah inginkan. Dengan duduk di dekat jendela bisa melihat pemandangan di luar. Apa lagi duduk bersebelahan dengan seorang Ibu. Midah menyadari jika duduk bersama pria sudah pasti calon suaminya akan cemburu buta.
"Bu... saya permisi ya." Ucapnya kepada Ibu berkaca mata. Sumidah hendak lewat.
"Silahkan Neng," Jawab Ibu, menggeser kaki nya memberi jalan Sumidah.
Sumidah lalu foto selfie membelakangi ibu itu. Dengan sengaja memperlihatkan ibu agar Nanta tahu, bahwa ia duduk berdua bersama wanita. Kemudian, mengirimkan foto tersebut kepada Nanta.
Sementara Junaedi di belakang, mengamati Sumidah yang sedang menatap jalanan. Junaedi walaupun sedih, menyembunyikan perasaannya kepada Sumidah.
__ADS_1
Namun, Junaedi semalaman sudah berpikir secara dewasa. Lebih baik mengiklaskan Midah. Mengingat siapa yang akan menjadi suami Midah ia menciut. Junaedi sadar siapa dirinya jika di bandingkan Nanta.
Semoga kamu bahagia Sumidah, Nanta memang jodoh kamu. Wanita baik dan apa adanya seperti kamu, akan mendapatkan yang paling baik juga.
Dua orang yang duduk berlainan kursi itupun larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Midah melihat foto yang ia kirimkan kepada Nanta. Namun hingga tiba di rumah belum juga dibuka.
"Sumidah... lihat barang-barang kamu semua Ambu simpan di kamar tamu." Ambu mengajak Midah ke kamar. Baju pengantin berwarna putih dan mewah rancangan mama Zarina sudah Ambu gantung dengan rapi.
Barang-barang Sumidah untuk perlengkapan pernikahan yang sudah di siapkan oleh mama Zarina di kirim dengan mobil mengutus orang. Kamar tamu itu penuh sampai sekecil-kecilnya. Rupanya mama Zarina tidak mengijinkan Ambu mengeluarkan dana sepeser pun.
"Sum, kata calon mertua kamu serahanya akan tiba besok." Ambu menirukan ucapan Zarina melalui telepon kemarin.
"Barang segini banyak belum termasuk serahan Mbu?" Sum tak kalah terkejut.
"Begitulah Sum" Ambu geleng-geleng."Sebaiknya kamu ke kamar kamu gih, istirahat. Sampai tiba waktu nya ijab kabul nanti, kamu lebih baik di rumah, tidak usah kemana-mana. Kamu mulai di pingit." Nasehat Ambu.
"Hehehe... Ambu... jaman sekarang itu nggak ada istilah pingit." Sanggah Midah.
"Hus, jangan ngomong gitu Sum, pamali." Ucap Ambu keukeh dengan kata orang tua nya dulu.
"Iya Mbu, lagian aku juga nggak bakal kemana-mana kok." Apa salahnya Sumidah menurut.
"Oh iya, kapan datangnya barang-barang ini Mbu?" Tanya Midah, mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum sambil memilin gaun cantik itu. Midah tidak menyangka ia akan mendapatkan semua itu.
"Tiga hari yang lalu Midah, Ambu sampai kaget begitu menerima semua ini," Ambu memindai sekeliling.
"Aku juga nggak nyangka kok Mbu," Imbuh Sumidah.
"Makanya Midah, kamu sekarang akan menikah dengan pria gedongan. Jangan malu-malu-in. Rubah sikap kamu yang suka ngejeplak asal bicara. Kamu harus bisa mengimbangi mertua kamu yang lembut itu. Terus sedikit demi sedikit kamu juga harus bisa merubah penampilan kamu Nak. Ambu memang orang bodoh, sekolah hanya tamatan SD. Makanya Ambu menyekolahkan kalian walaupun hanya sampai SMK. Ambu ingin kalian tumbuh lebih baik dari orang tua kamu Nak," Nasehat Ambu panjang lebar.
"Ambu..." Sumidah merangkul Ambu, menumpahkan tangis. Sumidah ingat ketika Ambu bersusah payah membiayai sekolah nya. Kadang mencangkul sawah sendiri, karena tidak mampu membayar tenaga pria untuk mencangkul. Lebih baik uangnya Ambu gunakan untuk biaya sekolah ketiga anaknya.
__ADS_1
"Sumidah... tidak usah menangis Nak, Ambu tidak kecewa sama kamu sayang... Ambu hanya ingin kamu bisa menghargai pria yang akan menjadi suami kamu Nak. Ingat, seburuk apapun suami, kepala rumah tangga. Jadi kamu tidak boleh membantah jika suami kamu menasehati yang baik," Ambu sering memergoki Midah jika berbicara kepada Nanta selalu ketus. Ambu hanya ingin putrinya berubah.
...BERSAMBUNG....