Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Bertemu mertua.


__ADS_3

"Ambu," Sapa Nanta. Setelah keluar dari kamar Dito, Nanta menghampiri Ambu yang sedang berbincang-bincang dengan Sumidah sambil berdiri.


"Nanta, benar ini kamu Nak." Ambu terkejut bukan main. Entah bagaimana ceritanya pertemuan itu yang jelas, Ambu bersyukur ternyata doanya di kabulkan. Menantu yang selama ini ia harapkan agar datang kini berada di hadapanya, dan yang membuatnya bahagia Nanta datang bersama anak dan cucu nya.


"Kabar baik Ambu," Nanta salim tangan mertuanya. Kemudian ngobrol tentang kabar masing-masing.


"Deerrtt... dreettt..."


Selama 10 menit, Nanta ngobrol dengan Ambu. Namun ketika mendapat telepon segera pamit pulang tanpa pamit Sumidah.


"Kemana Nanta Mbu?" Tanya Sumidah baru keluar membawa nampan berisi juice buah untuk bertiga namun tidak melihat Nanta.


"Dia sudah pulang," Jawab Ambu.


Midah meletakan buah, lalu hendak kembali ke dapur mamun di cegah Ambu.


"Sumidah... duduk Nak, Ambu mau bicara," Tegas Ambu. Midah menatap Ambu tampak serius kemudian duduk berhadapan.


"Sumidah, kamu sudah menceritakan siapa Dito, kepada suami kamu?" Tanya Ambu.


"Belum Mbu." Jawab Midah singkat menatap juce berwarna hijau. Yakni juice buah melon kesukaan Nanta belum di minum namun sudah pergi, tampak kecewa.


"Midah... tidak ada alasan lagi untuk tidak menceritakan kepada suami kamu bahwa Dito itu darah dagingnya. Kamu jangan egois Nak, Dito membutuhkan figur ayah. Kamu tidak mau kan, anak kamu nanti dibuli sama teman-temannya karena tidak pernah diantar ayahnya sekolah. Padahal sebentar lagi Dito masuk tk," Nasehat Ambu panjang lebar.


Midah menarik napas berat. Lalu ia ambil juce berwarna merah, yakni stroberi menyecap sedikit. "Tetapi, Nanta kan sudah menikah lagi Mbu." Lirih Midah menunduk. Sebenarnya ia pun senang anaknya berkumpul dengan ayahnya. Namun, Midah tidak ingin ada orang ketiga di rumah tangganya.


"Midah... itu kan hanya kamu dengar dari telepon, dan belum tahu juga siapa perempuan itu. Bisa jadi wanita itu hanya memanfaatkan perpisahan kalian agar jangan sampai berkumpul lagi," Kata Ambu yakin.


"Dan nyatanya, wanita itu sudah berhasil membuat kamu mempercayai kata-katanya. Mungkin wanita itu saat ini sudah tertawa atas keberhasilannya untuk memisahkan kalian," Sambung Ambu.


"Midah... sudah waktunya kalian berbicara berdua. Saling terbuka. Tanyakan masalah yang sebenarnya. Jika kalian hanya diam dan perang dalam hati. Yang ada hati kamu yang akan merasakan sakit. Ambu yakin, Nanta bukan pria seperti itu Nak,"


"Tapi... kalau memang benar Nanta sudah menikah lagi, aku nggak mau dimadu Mbu." Jujur Sumidah.


"Semua wanita Ambu rasa perasaanya sama seperti yang kamu rasakan Midah. Tidak mau dimadu. Makanya bicarakan berdua jika memang benar Nanta sudah menikah lagi. Keputusan apa yang akan kamu ambil Ambu tidak akan ikut campur lagi Nak." Ambu pun tidak rela jika putrinya di duakan.


"Iya Mbu..." Jawab Midah melegakan Ambu.


"Sekarang kamu istirahat gih, pasti kamu capek," Ambu menutup pembicaraan.

__ADS_1


************


Siang hari tepatnya di depan restoran, lauk Grilled. Mobil berwarna merah marun parkir di depanya.


"May, ini loh... restoran yang sedang hangat di bicarakan di internet. Katanya masakanya enak sekali," Kata Zarina kepada Maya sahabatnya. Dua wanita itu baru saja menjadi nara sumber di salah satu kampus di Bogor, sebagai pengusaha butik dan hasil rancangannya sudah di kenal sampai manca negara. Lebih tepatnya Maya hanya menemani Zarina.


"Masa sih? Kok aku nggak tahu ya." Maya menatap plang bertuliskan LAUK GRILLED.


"Lauk Grilled. Wah... dari namanya saja sudah mengiurkan," Maya sudah membayangkan masakan ikan yang tidak menyebabkan badan melebar walapun makan banyak.


"Aku akhir-akhir ini jarang googling Rin, paling-paling buka wa," Jujur Maya.


"Iya, kamu nggak bakal tahu berita di medsos May, pasti kamu kalau main handphone di cemberutin Bisma suami kamu kan? Hehehe." Kelakar Zarina.


"Nggak usah dibahas." Jawab Maya, mengikuti Zarina dari belakang.


Tiba di dalam, Zarina dan Maya langsung di datangi pelayan. Dua wanita yang masing-masing sudah mempunyai cucu itu menulis pesanan di kertas lalu memberikan kepada pelayan. Mereka menunggu sambil ngobrol.


Dua gelas juce datang lebih dulu. Sebab ikan pesanan mereka belum selesai di bakar.


"Ngeeeennng..."


"Pyuk!


"Oma... Dito minta maaf," Bocah itu berucap sedih berdiri menatap baju Zarina yang sudah basah.


Zarina bengong menatap bocah itu bukan karena bajunya yang basah, tetapi seperti melhat Nanta kecil.


"Tidak apa-apa sayang..." Maya yang menyahut. Melihat wajah Dito murung, Maya merasa kasihan.


"Dito... lain kali hati-hati sayang... baju Oma basah kan." Kata Surti. Surti yang sedang membereskan kertas di salah satu meja melihat anak asuhnya kena masalah cepat-cepat menghampiri.


"Tidak apa-apa Mbak, jangan dipikirkan, namanya juga anak-anak." Maya menambahkan.


Sementara Zarina masih menatap wajah Dito tidak berkedip. Merasa dipandangi terus, Dito takut ia pikir oma marah.


"Dito... sini yuk" Surti segera mengajak Dito menjauh. Surti menoleh ke belakang dimana Zarina masih mengawasi Dito. Surti pun berpikiran sama dengan Dito.


"Rin, kamu ngapain sih?! Lihat bocah itu sampai segitunya, kalau hanya gara-gara baju kotor mah, tidak usah dijadikan masalah. Bukannya di mobil kamu membawa ganti..." Maya menepuk pundak sahabatnya, berkata panjang lebar.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya May." Bukan menjawab, pertanyaan Rina. Zarina justru mengejar Dito menapaki anak tangga ke lantai dua. Namun, karena Dito masuk ruangan, Zarina menghentikan langkahnya.


"Permisi Mas." Kata Zarina mendekati kubikel yang bertuliskan menejer di atas meja.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Menejer restoran yang masih muda itu berdiri.


"Anak kecil yang bernama..." Zarina mengingat-ingat nama yang di ucap Surti, di bawah tadi.


"Dito. Maksudnya Bu?" Tanya menejer.


"Iya, Dito itu ada orang tuanya tidak disini?" Tanya Zarina benar-benar penasaran.


"Oh, Dia itu putra pemilik restoran ini Bu,"


"Kalau boleh saya tahu, siapa nama pemilik restoran ini?" Cecar Zarina.


Sang menejer restoran ragu untuk menjawab pertanyaan wanita tidak ia kenal ini mencurigakan.


"Jangan khawatir Mas, saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin tahu orang tuanya. Soalnya, anak itu sudah menumpahkan juce ke baju saya sampai basah begini." Kilah Zarina menunjukkan bajunya yang berwarna putih itu basah dan berwarna oranye.


"Oh, mari Bu, sebaiknya Ibu berbicara langsung kepada beliau," Jawab menejer lalu berjalan lebih dulu di ikuti Zarina.


Tok tok tok.


Manajer mengetuk pintu ruangan Midah.


"Masuk saja." Sahut Midah dari dalam.


"Bu... ada yang ingin bertemu Ibu," Kata menejer berdiri di depan meja kerja Sumidah.


"Siapa? Suruh masuk saja" Midah menatap menejer sekilas lalu menunduk.


"Bu, silahkan masuk," Menejer mempersilahkan Zarina.


"Terimakasih," Zarina masuk menatap wanita berhijab yang sedang sibuk di depan komputer tidak mengenali menantunya.


"Permisi Mbak." Sapa Zarina.


Sumidah mengangkat kepalanya terkejut, ketika sang mertua mendatanginya. Sumidah merasa bersalah dan tidak sopan karena selama ini tidak pernah memberi kabar. Apa lagi sampai mengunjungi. Padahal jarak antara Jakarta dan Bogor tidaklah jauh.

__ADS_1


"Ma-Mama..." Sapa Sumidah gagap.


...~Bersambung~...


__ADS_2