
Midah masih betah berada dalam dada Abu, ia tidak sadar jika ada wanita yang terluka hatinya melihat kelakuanya itu. "Midah... sudahlah" Abu membangunkan pundak Midah. Midah mengangkat kepalanya menatap Abu sekilas kemudian berdiri.
"Kak Abu jahat!" Ujarnya sebelum berlalu meninggalkan rumah Abu. Gadis yang sudah berusaha lebih baik itu kini merasa percuma melakukan itu semua. Ia jalan tertatih-tatih tanpa arah sambil menangis tidak perduli mata orang-orang menatapnya.
Sementara Abu menyandarkan kepalanya di tembok sambil terpejam. Pria tampan itu instropeksi diri, apakah ia memang benar-benar jahat seperti yang dikatakan Midah baru saja.
"Abi... Abi ngantuk ya" tangan mungil telah memeluk lutut Abu. Seketika Abu sadar dari lamunan, membetulkan posisi duduknya.
"Oh iya... Abi mengantuk" jawabnya asal diusapnya lembut kepala Ais.
"Pasti tadi malam, Abi kulang tidul" ucap Ais menirukan kata-kata orang dewasa jika sedang ngobrol.
"Pintar... masuk yuk" digendongnya tubuh mungil itu masuk ke dalam.
"Umma kemana Bi? Ais caliin dali tadi nggak ada" ucapnya dalam gendongan Abu.
"Mungkin di dapur, kita cari yuk" Abu pun ke ruang keluarga disana hanya ada bu Fatimah. Bulan sedang menyusui Rangga di kamar tamu. Sementara Udin, dan Novi mereka mandi setelah sibuk merampungkan menyiapkan segala sesuatunya untuk pengajian selepas maghrib nanti. Tampak tumpukan nasi box sudah tersusun rapi. Kue-kue pun sudah selesai di kemas.
"Bu... lihat Aslihah?" tanya Abu.
"Loh, tadi bukanya ke depan mau memanggil kamu?"
Deg.
Abu terkejut, jangan-jangan Liha mendengar perbincangannya dengan Midah. Tanpa bicara Abu segera ke kamar. Abu menurunkan Ais di depan pintu, kemudian mendorong handle pintu namun di kunci.
Tok tok tok.
Abu mengetuk pintu berkali-kali tidak ada jawaban. Abu sudah bisa menyimpulkan bahwa istrinya memang sedang marah.
"Tolong panggil Umma ya" titah Abu pelan jika yang memanggil Ais tentu istrinya mau membuka pintu.
"Umma... ini Ais..."
Benar saja, tidak membutuhkan waktu lama pintu pun dibuka. Dengan mata merah baru habis menangis, Liha menyembulkan kepala mengait jemari Ais tanpa bersuara. Abu hendak menyusul namum dengan cepat Liha mendorong tubuh suaminya, secepatnya Liha menutup pintu kemudian menguncinya.
__ADS_1
"Liha... biar aku bicara Liha..." Abu mengetuk-ngetuk namun tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
Di dalam kamar. "Umma... Abi mau masuk kok pintunya di kunci..." bocah yang belum mengerti apa-apa itu bingung dibuatnya oleh orang-orang dewasa.
"Umma nangis ya? Siapa yang nakal sama Umma?" ucap Ais polos, menatap mata Liha yang merah. Liha memang menahan air bening yang menggenang di pelupuk mata agar jangan sampai jatuh.
"Tidak apa-apa sayang... Umma cuma kelilipan,"
"Oooh... kelilipan, kata Umma kalau kelilipan ditiup... sini Umma, Ais tiup," kata Ais. Liha pun menurut duduk di lantai bertumpu lutut di depan Ais. Ais meniup mata Liha, padahal tidak terasa apa apa, tetapi jangan sampai anaknya kecewa jika menolak.
"Ada ailnya Umma..." Ais melihat air bening yang menggenang. Cepat-cepat Liha mengusapnya dengan ujung jilbab.
"Sudah sembuh kan Umma..."
"Sudah..."
Liha tersenyum putri nya ini sungguh sangat menghibur. "Kita siap-siap shalat magrib yuk" Liha menuntun Ais ke kamar mandi ambil air wudhu. Di luar pintu sudah tidak ada suara lagi, mungkin Abu lelah kemudian pergi.
"Abi nggak ikut shalat Umma?" tanya Ais setelah mengenakan mukena. Ais sudah mengerti biasanya Abu menjadi imam.
"Sekarang Ais ganti baju ya..." Liha membuka lemari ambil baju ganti Ais sebentar lagi acara pengajian akan diselenggarakan.
"Ganti baju? Memang kita mau kemana Umma..." Ais sangka Liha akan mengajak nya pergi, sebab biasanya memang begitu.
"Nggak kemana-mana, sayang... kan mau pengajian, Ais biar rapi," Liha memakaikan baju putrinya.
Tok tok tok
"Ais... buka pintunya sayang... Abi mau ganti pakaian" terdengar Abu mengetuk pintu, Ais segera berlari hendak membukakan.
"Umma... susah, tolong bukain pintu," Ais menarik lengan Liha mengajaknya ke depan pintu. Tentu Liha tidak bisa menolak permintaan Ais. Di angkatnya tangan hendak menarik knop pintu tetapi Liha menurunkan membali.
"Umma... cepetan"
"Iya..." dengan wajah di tekuk Liha terpaksa membuka pintu. Kemudian balik badan menuju kaca.
__ADS_1
"Abi... baju Ais bagus" Ais memamerkan baju muslim lucu yang ia kenakan.
"Oh iya bagus, sekarang Ais keluar dulu sayang... main sama dedek Rangga ya," Abu ingin menjelaskan kepada Liha apa yang terjadi.
"Iya Abi" Ais pun akhirnya keluar.
Abi menutup pintu perlahan lalu mendekati Liha yang sedang membuka masker untuk menghilangkan sembab di mata. "Liha... kamu menangis... kenapa?" tanya Abu, lembut.
Liha tidak menjawab rasanya kesal pada pria yang katanya menjunjung tinggi norma agama, tetapi omong kosong buktinya memeluk wanita yang bukan muhrimnya.
"Liha... pasti kamu melihat kejadian di luar tadi kan? Itu semua tidak seperti apa yang kamu lihat!" Abu berdiri di samping Liha.
"Memang apa yang sudah kamu lakukan diluar?! Memeluk kekasih kamu! Iya kan?!" Ketus Liha lalu berdiri meninggalkan Abu.
"Liha... tunggu Liha... kita selesaikan masalah ini sekarang," Ibu tidak mau jika di depan orang-orang nanti akan terlihat jika diantara mereka tidak rukun.
"Tidak usah dijelaskan aku sadar kok! Aku ini memang bukan wanita yang layak untuk mendampingi pria lajang seperti kamu!" Liha pun membuka pintu lalu keluar.
"Astagfirrullah... kenapa terjadi begini sih" Abu mengacak rambutnya gusar.
Abu menarik napas panjang sebelum akhirnya beranjak ambil baju koko dan peci. Tidak menyita waktu ia pun segera menyusul istrinya.
Di luar para tamu sudah berkumpul dan acara pengajian pun dilaksanakan. Namun sebelumnya Abu memberi sambutan, dan memperkenalkan Liha kepada warga yang hadir. Sebisa mungkin pasutri itu menutupi masalahnya agar tidak terlihat oleh tamu bahwa keduanya saat ini sedang berseteru. Lebih tepatnya Liha yang menganggap jika masalah ini serius. Hingga jam delapan acara sudah selesai para tetangga pun membubarkan diri.
"Bulan... kamu tadi kemana tidak ikut ngaji?" tanya Liha. Saat ini semua sudah berkumpul santai selesai acara. Sedangkan bu Fatimah selesai pengajian segera pulang sebab perutnya terasa kencang.
"Rangga rewel terus dari tadi Liha..." Bulan mencari Sumidah sejak tadi tidak menemukan. Di hubungi handphone nya pun tidak aktif.
"Mas Tara... Sumidah tadi pamit Mas nggak?" tanya Bulan lagi.
"Nggak tahu Yank, memang Dia kemana," jawab Tara yang duduk di depan Abu. Abu diam bingung ingin menjelaskan apa.
Sementara Liha menyimak obrolan bisa menangkap bahwa wanita yang berduaan dengan suaminya tadi adalah; Wanita yang bernana Midah. Wanita yang dibicarakan Udin dan Novi tadi pagi. Itu Artinya... Mereka tahu jika Abu dan Midah ada hubungan. Midah semakin kesal ternyata semua temanya bersekongkol.
"Kak Abu, ada masalah apa antara Kakak dengan Sumidah?" tanya Bulan membuat semua yang berada di tempat itu terperangah. Kecuali Tara, karena Tara dan Bulan belum tahu jika Liha istri Abu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...