
Usai main petak umpet pasutri pun akhirnya mandi bersama. "Kakak sih! Jadi mandi dua kali kan!" Bibir Aslihah manyun.
"Siapa suruh punya wajah cantik, jadi aku nggak bisa nahan nanti malam" Abu gemas menatap Liha yang masih tampak malu-malu menunjukan organ tubuh di depan suami barunya.
"Cantikan mana sama Sumidah Kak?" Aslihah bertanya serius.
"Liha... stop untuk membahas Midah, sudah berapa kali aku katakan jika aku sama sekali tidak ada rasa dengan Sumidah" jujur Abu. Abu memandang Liha yang sedang mengguyur tubuhnya dengan air shower. Ia senang, bahwa Aslihah sedikit-sedikit menunjukan rasa posesif. Itu Artinya, Liha sudah mulai ada rasa cinta padanya.
"Ngapain nglihatin gitu" Aslihah menyemprokan air selang ke tubuh Abu.
"Kamu mulai nglunjak sama suami" Abu nguyek-uyek kepala Liha dengan sampoo. Mereka seperti remaja saja tidak mendengar jika Aisyah mengetuk pintu kamar berkali-kali.
"Ais... mungkin Umma sedang mandi, sekarang Ais sama Tante Bulan saja" Bulan memegang pundak Ais mengajaknya ke ruang tamu.
"Akak" Panggil Rangga mengajak Ais bermain. Bocah itu berjalan jatuh bangun hendak menghampiri Ais.
"Dedek Langga jalanya belum lancal" kata Ais.
"Main" Rangga menunjukkan mainan di tangan.
"Iya, kita main disini" Ais duduk di karpet diikuti Rangga. Dua bocah itu bermain bersama.
"Memang kemana Abu sama istri nya Yank?" Tanya Tara mereka mengawasi anak-anak dari kursi.
"Kayaknya mandi berdua Mas, biasa lah pengantin baru" Bulan senyum-senyum.
"Memang kalau pengantin baru begitu ya, seperti kita dulu" Tara membalas senyum Bulan.
"Heem... pengantin baru yang paling nelangsa di dunia semoga hanya aku yang mengalami, nikah baru sebulan suami aku pergi tidak ada kabar" Bulan sedih mengingat kala itu.
"Sudah... jangan dibahas," Tara merangkul pundak istrinya.
"Kita ke masjid dulu Tara" kata Abu. Dua orang yang baru di bicarakan sudah tampil cantik dan keren. Tara dan Bulan tidak mau menyinggung keduanya saat Ais memanggilnya.
"Ayo" Tara melepas tangannya dari pundak Bulan kemudian mengikuti Abu.
"Abi mau ke masjid ya?" Ais tidak boleh melihat Abi nya keluar rumah sudah pasti akan mencecar pertanyaan.
"Iya... Ais shalat sama Umma ya, kan ada dedek Rangga, kasihan kalau di ajak ke masjid, nanti rewel,"
__ADS_1
"Iya deh" padahal dalam hati Ais ingin ikut.
"Papa ana?" Rangga ikut keppo.
"Papa shalat dulu" Tara mengecup pipi putranya kemudian berangkat.
"Lan aku shalat dulu, nanti gantian ya" kata Aslihah, mengait lengan Ais mengajaknya ambil air wudhu. Setelah di angguki oleh Bulan.
"Umma... tadi Ais panggil-panggil di kamal, Umma nggak dengel..." protes Ais.
"Oh... kan Umma lagi mandi sayang..., ya nggak kedengaran lah kalau dipanggil dari luar, maaf deh, sekarang kita shalat dulu" cepat-cepat Aslihah mengalihkan pembicaraan sebelum seperti biasa Ais bertanya lebih lanjut.
Mereka shalat manggrib bergantian dengan Bulan, Liha yang menjaga Rangga. Tidak lama kemudian para suami mereka pun pulang dari masjid lanjut makan malam.
Satu jam kemudian.
"Aslihah... kami sudah kenyang terimakasih untuk makan malam dan semuanya, kami pamit pulang," kata Bulan.
"Loh kirain kalian mau menginap, besok kan hari minggu" Abu menjawab.
"Lain kali saja Kak" Tara menjawab.
Rumah yang tidak jauh dari persawahan seorang gadis yang hanya mengenakan celana selutut, dan kaos yang pas di badan termenung di luar rumah seorang diri. Ambu sedang ada acara kumpul di balai desa, sementara kedua adiknya seperti biasa jika malam minggu begini jalan-jalan selayaknya anak muda. Dengan pendar lampu teras menyorot wajah ayu nya, ia menatap langit.
Ia duduk di pagar rumah yang tinggi nya selutut bersandar tiang. Gadis itu melipat kedua tangan di depan dada mengurangi hawa dingin. Jelas dingin, jangankan hanya mengenakan pakaian seperti itu, mengenakan jaket pun angin malam di daerah itu masih tembus.
Tak tak tak.
Sepatu pantofel terdengar nyaring, samar-samar dua orang pria yang satu berpakian putih, dan yang satu lagi hanya terlihat bayangan saja. Wajar saja, lampu di tempat itu rata-rata hanya dipasang lampu redup. Dua orang itu jalan ke rumahnya. "Mungkinkah Kak Juned kesini lagi, padahal dia baru pulang sebelum magrib tadi" gumam Sumidah.
Pikiran buruk bermunculan ia seketika ingat. Konon katanya dulu di temukan mayat pria yang berpakian rapi dan masih mengenakan sepatu pantofel. Usut punya usut ternyata pria itu sedang berwisata dan mempunyai riwayat penyakit jantung, hingga meninggal di pinggir pantai. "Siapa malam-malam mengenakan sepatu pantopel, jangan-jangan mayat pria itu yang menjadi hantu. Astagfirrullah... serem amat ya" Ia bicara sendiri.
Sepatu pantofel semakin mendekat, Sumidah segera bangkit dari duduknya masuk ke kamar akan lebih baik. Tanganya terulur hendak membuka pintu.
"Tomboy..."
Suara familiar menghentikan tanganya, ingin menoleh tetapi takut, hantu kampung itu bahkan sudah berubah suara menjadi orang yang ia benci.
"Tomboy..." pria itu mengulangi Midah mematung menghadap pintu rumah. Kaki nya seolah tidak mampu untuk melangkah.
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Mendengar salam Midah seketika menoleh, hantu tidak akan mungkin mengucap salam. Pikir Sumidah.
"Pak Maman..." Sumidah terkejut menatap kehadiran Pak Maman supir tuan Bisma, dan yang lebih mengejutkan pria yang saat ini menjadi musuh besar nya yang tak lain Ananta berdiri di samping pak Maman.
"Saya di utus Nyonya Bulan, agar menjemput Mbak Sum" kata Maman.
"Silahkan masuk Pak" Sumidah segera membuka pintu di ikuti dua pria tersebut. Midah berlari ke kamar salin baju yang sopan. Ia tidak menyangka akan ada tamu malam-malam begini maka ia mengenakan pakaian seperti itu.
Tidak lama kemudian, Sumidah sudah kembali dengan penampilan yang berbeda.
"Loe itu nyusahin tahu Nggak! Semua kebingungan mencari loe, malah enak-enakan disini!" Damprat Ananta menoyor kepala Sumidah yang berjalan di sampingnya hendak menutup pintu.
"Ih..." Midah mendelik, jika bukan karena menghormati tamunya pasti sudah mencak-mencak.
"Maaf Pak Maman... tadi saya tinggal sebentar, silakan duduk" Midah tidak menghiraukan Nanta.
"Terimakasih Mbak" pak Maman melungguhkan bokongnya di kursi.
"Bapak benar-benar mau menjemput saya," Midah merasa bersalah nona Bulan memang baik menjemput nya kesini.
"Loe pikir kita main-main tomboy!" ketus Nanta. Pria itu sudah menahan segala rasa, ingin kebelakang megeluarkan isi perut. Tetapi mau bicara bingung hingga main ceplos saja.
"Bisa diam nggak sih... orang lagi ngomong sama pak Maman juga" Midah cemberut, pak Mamam tersenyum menatap kedua remaja itu bergantian.
"Benar Mbak, malam ini saya mau mencari penginapan di daerah ini, besok pagi baru kita pulang, kira-kira ada nggak ya?" Pak Maman serius.
"Nanti saya tanya Ambu dulu ya Pak" Midah tidak tahu dimana ada penginapan di daerah ini.
"Abu?" tanya Nanta.
"Ambu Tuan, Ambu itu sama dengan Ibu," pak Maman menjelaskan. Nanta menyikut pak Maman agar segera ijin ke toilet.
"Mbak... boleh numpang kamar mandi? Hehehe... Tuan Nanta sudah tidak tahan sejak sore"
...BERSAMBUNG....
__ADS_1