Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Keluarga harmonis.


__ADS_3

"Liha, apa yang tidak kamu suka dari aku?" Tanya Abu ketika Liha masih tiduran di pangkuan. Abu mengusap pipi mulus istrinya.


"Maksudnya apa?" Liha balik bertanya. Dahinya berkerut kala mendengar pertanyaan suaminya.


"Liha... aku hanya manusia biasa, aku takut jika selama menjadi suami kamu berbuat kesalahan. Lalu, aku tidak menyadari," Ucap Abu diplomatis. Abu menatap jauh ke depan seraya mengingat 4 tahun yang lalu ketika menikahi wanita yang kini menjadi istrinya.


"Kemudian kamu mendiamkan saja memendam dalam hati. Hingga luka hati kamu menumpuk tanpa aku tahu. Dan pada akhirnya menjadi dendam" Tutur Abu. Ia tahu banyak sekali rumah tangga yang tidak saling terbuka menceritakan kekurangan pasangan hingga berujung perceraian.


"Banyak kekurangan Abi." Lihat bangun dari pangkuan suaminya.


"Apa?" Abu terkejut ingin segera tahu jawabannya.


"Ya nggak usah tegang begitu kali." Liha kasihan menatap suaminya. Kali ini mereka berhadapan duduk di atas batu alam.


"Okay... sekarang katakan, aku siap memperbaiki demi istri cantik aku." Abu mengalungkan tangan ke tengkuk Liha.


"Abi itu orangnya banyak aturan ini itu. Apa lagi kalau aku lagi hamil. "Liha, jangan cepat-cepat jalanya kamu lagi hamil. Jangan makan ini, makan itu, berpengaruh kepada bayi yang kamu kandung," Liha menirukan ucapan suaminya ketika Liha hamil kadang kesal. Padahal Liha tahu suaminya melakukan itu karena trauma ketika keguguran sebelum hamil Hafis. "Abi itu seringkali seperti mak-mak,"


Abu tertawa mendengarnya.


"Abi juga selalu membantah jika aku bilang jangan mencukur brewoknya. Tetapi kadang nggak bilang-bilang, tahu-tahu sudah klimis," Kelakar Liha, saat hamil Hafis Liha ingin suaminya jangan mencukur brewok.


"Jadi... kamu mencintai aku karena aku brewok?" Abu mengulum senyum.


"Iya, pasti Abi nggak tahu, waktu hamil Hafis, aku belum bisa tidur kalau belum mengusap-usap brewok Abi. Hihihi... tapi sayangnya Abi malah ngorok." Habis tertawa Liha lantas cemburut.


"Ahaha... kamu ini ada-ada saja," Abu menggendong istrinya lalu membawanya ke gubuk, merebahkan tubuh Liha disana.


"Masih ada yang akan aku katakan, tetapi untuk kali ini Abi tidak boleh ngomel-ngomel seperti mak-mak," Sambung Liha.


"Apa?" Tanya Abu.


"Janji dulu jangan ngomel."


"Iya, iya. Istriku... aku janji,"


"Aku saat ini sedang mengandung adiknya Hafis, dan sudah tiga bulan,"


Deg.


"Liha... kenapa kamu tidak bilang! Kalau tahu begitu kita jangan pulang. Kandungan kamu itu lemah Liha."


"Stop." Liha menghentikan omelan suaminya.


"Kan, kan! Baru juga janji, tapi sudah ngomel-ngomel!" Sungut Liha.


"Sayang... aku itu cuma khawatir sama kamu, dan anak kita," Abu segera mengusap perut istrinya yang belum menonjol. Abu hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja. Segala sesuatu Allah yang atur. Abu kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.

__ADS_1


Angin sore menerpa wajah pasangan halal yang sedang di mabuk cinta itu. Awal menikah memang tidak pernah merasakan apa itu cinta. Tetapi ternyata pacaran setelah menikah itu lebih indah dan cepat menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya.


"Umma sama Abi kemana... Dedek Hafis nangis terus." Begitulah suara Aisyah dari telepon, menghentikan canda tawa pasutri.


"Okay sayang... Umma sama Abi pulang," Jawab Liha. Mereka pun kembali menuruni bukit.


***********


Keesokan harinya disalah satu hotel, pasutri sedang berisik di atas ranjang. Pagi itu Nanta minta dipijit istrinya. Sejak bertemu sumidah, Nanta tidak pernah melewatkan malam panjang, hingga badanya pegal-pegal. Padahal tidak jarang juga Midah memimpin pertandingan. Namun, tenaga Nanta kalah dengan tenaga istrinya.


"Aduh Tomboy... jangan kencang-kencang!" Dengus Nanta. Kala Sumidah memijit terlalu kencang.


"Ah, kamu itu pria letoe... gitu saja sambat!" Ketus Sumidah, lalu memelankan pijitan.


"Nah gitu... enak Tomboy...heemm..." Nanta memejamkan mata. Beginilah pasangan ini berbeda dengan pasangan yang lain. Mereka seperti teman curhat kala sedih, bercanda kala senang. Bahasa yang ceplas ceplos saling sahut, tetapi tidak dimasukkan ke dalam hati.


"Yaaa... tidur..." Gumam Sumidah. Ia paham jika sudah tidak ada suara berarti suaminya tidur. Sumidah menyudahi memijit lalu mengecek handphone banyak pesan yang masuk termasuk dari Liha, dan Bulan, menanyakan sudah berangkat belum.


"Hah..." Midah terkejut kala menatap jam weker sudah jam 11 pagi. Itu artinya ia terlambat menyaksikan ijab kabul antara Udin dan Novi. Padahal ini tujuan awal sampai tiba ke daerah ini, Midah menyesal.


"Mas Nanta... bangun..." Sumidah menggoyang kaki suaminya agar bangun.


"Heemm... apa sih! Tomboy! Aku masih ngantuk nih." Jawab Nanta, yang awalnya tengkurap selesai diurut kini terlentang.


Sumidah tersenyum lalu ambil tisue ia lipat kecil memanjang. Midah memasukan tisue tersebut ke dalam hidung Nanta.


"Hihihi..." Midah terkikik lalu mengulangi lagi.


"Huacih!"


"Tomboy..." Nanta kesal. Padahal ia tahu kelakuan istrinya. Namun, Nanta pura-pura diam, lalu menarik tangan Midah hingga Midah jatuh menimpa dada tanpa pakaian itu.


"Nanta, awas! Kita mau kondangan nanti kesiangan," Midah berusaha lepas dari kungkungan Nanta. Namun, apalah daya, karena Nanta menantang justeru terjadi gelut nikmat diantara mereka.


Di tempat yang berbeda Abu sudah berdiri di depan para ibu-ibu pengajian, setelah ijab kabul selesai. Abu memberi tauziah tentang pernikahan yang harmonis.


"Udin dan kamu Novi, semoga kalian bahagia. Menikah bukan hanya lancar saat akad nikah saja lantas selesai, tetapi yang tidak mudah kita jalani adalah; bagaimana menjaga agar rumah tangga kita tetap harmonis," Nasehat Abu.


"Iya tidak Ibu-Ibu?" Tanya Abu kepada para mak-mak yang sedang mendengarkan seksama termasuk Aslihah.


"Betul Pak Ustadz." Jawab para ibu serentak.


"Menjaga keluarga agar tetap harmonis memang bukan perkara mudah. Bukan tidak mungkin, kita mengalami ujian kesabaran dan kesetiaan. Kata kunci agar rumah tangga samawa, kita harus saling menyayangi, saling melengkapi. Wajar, dalam hidup berumah tangga masalah datang. Intinya, kita harus saling terbuka dan jangan biarkan persoalan itu menumpuk dan sulit untuk diurai," Nasehat Abu panjang lebar.


Selesai mendengar ceramah, pasutri pun duduk di pelaminan. Waktu semakin siang acara berjalan lancar. Kedua pengantin Udin dan Novi kini sedang menyambut tamu-tamunya. Yang namanya jodoh seperti apapun pasangan jika sudah saling mencintai. Walaupun Udin berbadan kurus dan Novi berbadan gemuk seperti cabe numpang di tahu, pasangan ini tampak kompak, serasi, dan sempurna.


"Udin... dan kamu Novi, selamat ya," Ucap Bulan dan Tara. Di ikuti bu Fatimah dan pak Handoko.

__ADS_1


"Terimakasih Bulan, Tara, Bu Fatimah," Novi menyambut tangan-tangan mereka.


Selesai mengucapkan selamat, Tara dan Bulan menyusul Abu dan Liha bersama kedua anaknya yang sedang mencicipi hidangan makan siang.


"Tara, Bulan, kalian makan dulu" Ajak Abu.


"Iya Kak," Sahut Tara dan Bulan. Bulan minta tolong Tara agar sekalian ambil makanan. Sambil menunggu suaminya antri di prasmanan, Bulan ngobrol dengan Liha.


"Kamu lihat Sumidah enggak Bulan?" Tanya Liha.


"Aku juga dari tadi mencari terus Liha, tapi nggak ketemu tuh," Jawab Bulan menggeleng.


"Mungkin sedang ada acara lain." Abu menimpali. Abu pikir Sumidah dan Nanta jalan-jalan di sekitar lokasi.


"Mungkin juga sih, tapi kok aneh, padahal sejak terima undangan seminggu yang lalu, Midah yang paling semangat ingin menyaksikan ijab," Tutur Liha. Liha tidak tahu jika di hotel pasangan somplak sedang kejar target produksi adik Dito.


Setelah makan, Abu sekeluarga berfoto bersama pasangan pengantin. Di susul Tara sekeluarga.


"Bagaimana ini? Kita mau foto bareng, tetapi Sumidah belum datang juga." Sesal Aslihah.


"Sekarang kita foto duluan, nanti kalau Midah sama Nanta sudah tiba kita foto lagi," Saran Udin.


"Betul juga," Jawab Abu. Empat pasangan sudah mengatur posisi, termasuk keluarga pak Handoko. Cameramen sudah siap menjepret.


"Tunggu dulu, kami ikut foto," Kata wanita dan pria yang ditunggu-tunggu datang, sambil menuntun putranya.


"Kemana saja loe?" Tanya Tara ketika Nanta segera berdiri di sebelahnya.


"Hus! Ini urusan masa depan," Bisik Nanta. Namun terdengar oleh Abu. Abu hanya tersenyum.


"Semua sudah siap?" Tanya Cameramen. Setelah mengatur posisi.


..."Siap"...


...~Tamat~...


************


"Assalamualaikum... terimakasih yang masih setia dengan kisah Abu hingga bab 80 dan akhirnya tamat. Cerita Buna yang ini like nya paling sedikit, tapi ya sudahlah."


Kisah anak-anak Liha, sumidah dan Fatimah insyaallah akan aku buat cerita baru setelah kisah. "MAK NINGRUM" tamat.


Ayo, yang belum mampir kisah Mak Ningrum di tunggu ya."



❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2