
PoV Aslihah.
Perasaan tidak menentu di hatiku kala Abu melepas helm dari kepala ini, dan juga apa yang di lakukan Abu kepadaku ketika di kamar tadi. Perhatian-Perhatian kecil lainya yang Abu berikan jujur membuat aku merasa bersalah karena telah mengabaikan hal itu. Aku sadar bahwa Abu ingin menciptakan suasana harmonis diantara aku dan dirinya. Namun, tentu tidak secepat itu aku bisa bersikap sama dengannya. Berbeda dengan pernikahan aku yang terdahulu sangat mudah aku jalani dan cepat menyesuaikan diri. Karena memang kami sama-sama mengenal dan saling mencintai. Tentu berbeda dengan pernikahan yang kedua ini lantaran di jodohkan mungkin masih butuh beberapa hal untuk memperkuat.
"Kenapa wajah kamu merah begitu?" Abu terkekeh.
Aku hanya diam, pria itu selalu tertawa, tersenyum, menyikapi dengan enteng walaupun aku sadar selalu berkata ketus. Aku memindai apoteker yang cukup besar dan luas setelah helm terbuka memperjelas penglihatanku.
"Ini apotek Kakak?" Aku lirik Dia sedang tersenyum kepada putri ku. Pria itu memang sangat menyayangi Ais, jika aku bisa berpikir dewasa harusnya aku cepat menerima Abu dengan mudah, karena Ais adalah kebahagiaan aku.
"Bukan punya aku sendiri Liha, tetapi milik kami bertiga," jawabnya masih merahasiakan rekan bisnis nya. Pantas saja, ia sudah mempunyai rumah sendiri, ternyata begini usahanya.
"Kita masuk yuk..." Abu menggendong Aisyah lalu mengait lengan aku. Aku lepas tanganya lalu mengikuti langkahnya masuk melalui pintu samping apotek, melewati mushalla yang menyatu dengan bangunan tersebut. Sungguh luar biasa bangunan usaha yang terkonsep hingga ada musholla sesuai pemiliknya adalah pria religius.
"Bangunannya sewa atau milik sendiri Kak?" aku penasaran juga.
"Punya kami bertiga, dua tahun yang lalu kami membeli apotek ini bangunan bersama isinya. Hanya kami menambahkan mushola," ia melirikku. Kebetulan mata kami bertemu wajahnya itu loh mirip pria arab. Konon menurut cerita bunda, daerah kami blasteran Arab, Cina, Eropa, Hindia. Wajar jika penduduk kami cantik-cantik dan tampan.
Tiba di depan pintu ia berhenti melepas sepatu menyimpannya di rak. Tentu aku mengikuti melepas sandal yang aku kenakan.
Tiba di dalam selain yang di etalase, tampak stok obat-obatan masih dalam kardus-kardus. Itu Artinya apotek ini sangat ramai. Aku jadi ingat ketika sekolah dulu ambil jurusan farmasi. Tetapi tidak mengembangkan ilmu karena aku begitu lulus SMK kemudian dinikahi relawan asal Jakarta yakni almarhum suami aku.
"Novi... Udin..." sapa Abu. Lalu pandanganku beralih kepada kedua manusia yang tidak asing bagiku.
Mimpi atau nyata? Itulah yang menjadi pertanyaan aku, kala aku bertemu dengan Udin dan Novi. Aku diam membisu menatap dua orang Udin teman aku sekelas dan Novi kakak kelas aku. Mungkinkah dua orang ini yang menjadi rekan bisnis suami aku?
"Aslihah," sapa Udin. Ia rupanya terkejut juga tidak ada bedanya dengan aku.
"Udin..." aku mendekat lalu berjabat tangan. "Kak Novi..." pandanganku beralih kepada Novi kemudian Novi menghambur ke pelukan aku.
"Liha... kamu bertambah cantik saja" ucap Novi.
"Kamu bisa saja Nov, tambah tua kalii?" kami sama-sama tertawa. Lalu bola mataku beralih kepada Udin tampak sedang menginterogasi Abu tentu saja tentang kami. Siapa lagi?
"Din, kamu apa kabar?" tanyaku. Udin, Rembulan dan aku sendiri, dulu selalu bersama ketika sekolah. Namun rupanya Udin mencintai Rembulan, tentu Rembulan memilih untuk menjadi sahabat daripada kekasih, sempat aku dengar, terjadi konflik diantara mereka.
"Alhamdulillah, Liha... Kita ngobrol di kursi saja," kami mengikuti Udin duduk di sofa.
"Hai... cantik, siapa namanya?" tanya Udin kepada Ais dalam pangkuan Abu.
__ADS_1
"Aisyah Om" anakku menjawab lalu Udin, dan anakku berbincang sesaat.
"Kak, kenapa Kakak tiba-tiba bisa menikah sama Liha?" tanya Udin.
"Ceritanya panjang," suamiku menjawab pendek. Tidak banyak yang kami bicarakan karena rupanya ada beberapa pembeli datang.
"Kamu tunggu di ruangan aku saja Liha" Suamiku menggendong Ais masuk ke ruangan. Aku mengikuti saja. "Sayang, kamu bisa main disini, Abi kerja dulu ya..." ya Allah... seperti anak sendiri saja, Abu memperlakukan putriku.
"Iya Bi"
"Liha, kalau kamu bosan, bisa menonton di komputer" pesanya sebelum keluar, ia memberi nomer pin. "Terimakasih... " aku mengangguk saja.
"Oh iya lupa"
"Cup" terkekeh sambil berlalu telah mencuri bibir ini. Astagfirrullah... aku bengong tidak percaya sambil memegangi bibir. Semakin lancang pria ini walaupun yang dia lakukan tidaklah salah.
"Umma... ini lumah siapa?" Ais tiba-tiba bergelayut di lengan aku.
"Ini bukan rumah, tapi apoteker tempat kerja Abi,"
"Oh... kalau tempat kelja itu kayak gini ya," putriku memutar bola matanya memindai sekeliling.
Author PoV.
Abu, Udin, bersama Novi sudah berinteraksi dengan pembeli, berhadapan dengan para pelanggan masing-masing. Begitulah yang namanya berdagang apapun, jika sedang banyak pembeli selalu di kerubutin, tetapi kadang kosong mereka bisa mengerjakan yang lain. Biasanya jika sepi Abu bersama Udin di depan komputer masing-masing. Pekerjaan mengecek laporan keuangan masih bisa mereka lakukan sendiri, tanpa mencari pegawai lain tentu akan menambah pengeluaran. Lain halnya dengan Novi kadang membantu klening service membersihkan etalase.
"Kak Abu, bagaimana Kakak bisa menikah dengan Liha?" Udin menagih jawaban yang sempat tertunda karena di potong Liha.
"Kami di jodohkan Udin," Abu menceritakan semuanya.
"Waah... luar biasa kalau aku di jodohkan sama wanita model Liha, tak gendong kemana-mana" Udin tertawa.
"Ngawur kamu," tandas Abu.
"Oh iya Kak? Lalu bagaimana dengan Midah, bukankan dia ngebet sama Kakak?" Pertanyaan ini sebenarnya sudah sejak tadi ingin Udin lontarkan.
"Biar nanti aku yang akan bicara kepadanya, pelan-pelan Din, tapi tolong kalian jangan katakan apapun," Abu bermaksud menjelaskan sendiri kepada Sumi, jika sampai mendengar dari orang lain pasti Midah akan membencinya.
"Tetapi apakah Kak Abu ada perasaan sama Midah?"
__ADS_1
"Tidak" tegas Abu.
"Duh, kasihan Midah Kak, pasti hancur hatinya," Udin geleng-geleng kepala.
"Sama kamu saja Din" Abu serius.
"Itu lebih tidak mungkin Kak" jujur Udin.
"Kenapa? Apa kamu mencintai wanita lain, sepertinya Novi suka sama kamu Din?" cecar Abu.
"Kok jadi malah membahas aku sih Kak" kilah Udin, selama di tolak cintanya oleh Rembulan. Udin belum terpikirkan untuk mencintai orang lain. Pria kecil dan awet muda itu saat ini fokus dengan usahanya. Udin saat ini sedang mengumpulkan uang agar bisa membangun rumah yang lebih layak untuk ibu kandungnya.
"Din, aku mau mengajak anak istriku makan siang" pamit Abu.
"Perasaan selama punya istri Kak Abu sering ijin deh," kelakar Udin.
"Nanti kalau kamu sudah menikah, akan tahu jawabanya Din" Abu beranjak ke ruang kerja menghampiri Liha.
"Ais nggak bobo?" tanya Abu kepada Liha yang sedang membereskan mainan.
"Sudah bangun Bi, masa Ais mau kelual ketemu Abi, nggak di bolehin sama Umma" Adu Ais. Memang benar adanya tentu Liha tidak mengijinkan Ais mengganggu Abu bekerja.
"Ya sudah, sekarang kita cari makan di luar yuk" Abu mengelus kepala Ais yang tertutup kerudung bergo kecil. Liha memang membiasakan Ais mengenakan hijab sejak bayi ketika pergi keluar, hingga kini jika hendak pergi anak itu sudah inisiatif mencari kerudung sendiri.
"Ayo Liha, kok kamu diam saja" sekarang gantian Abu menggoyang pundak Liha.
"Iya..." Liha pun beranjak mengikuti Abu yang sudah berjalan lebih dulu menggendong Aisyah.
"Din, Kak Novi... aku pamit ya, maaf sudah merepotkan" pamit Liha.
"Tentu tidak Liha, sering-sering ajak kemari ya Kak Abu" saran Novi.
Abu hanya mengacungkan jempol.
Udin tersenyum menatap Abu dan Liha tampak pasangan yang serasi. Tidak di duga dan dinyana jodoh memang rahasia Allah. Muve on dari Rembulan Kak Abu ternyata mendapatkan Liha. Udin pun hanya bisa berdoa setelah muve on dari Rembulan, semoga suatu saat nanti bisa mendapatkan pasangan yang sholehah. Monolog Udin.
Puk!
"Bengong!" Novi menepuk pundak Udin.
__ADS_1
...BERSAMBUNG....