Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Masalah datang lagi.


__ADS_3

Nanta menawarkan kerja setengah hari. Hari minggu besok kepada Sumidah dengan imbalan uang 5 juta.


"Pekerjaan apa?" Midah mulai tertarik. Namun tentu ia ingin tahu pekerjaan seperti apa yang akan diberikan Nanta.


"Tunggu saja hari minggu besok Tomboy, kamu akan tahu jawabanya"


"Nggak mau ah! Nanti saya dimarahi Non Bulan" tolak Midah. Padahal setiap hari minggu biasanya Midah diberi libur. Tetapi ia sudah berniat dalam hati untuk tetap bekerja, sebab bulan ini Midah sudah banyak waktu bolos.


"Tenang saja, tomboy... nanti gw akan minta ijin Rembulan. Ya... mau ya..." Nanta menggoyang lengan Midah.


Midah menarik tanganya cepat. "Iya... gw mau" pada akhirnya Midah menyetujuinya. Lumayan juga uang tersebut bisa ia gunakan untuk membeli motor seken untuk Endar.


"Okay... sekarang loe gw antar pulang" Nanta bersemangat.


"Tidak usah saya numpang ojek online saja" Sumidah tidak mau merepotkan Nanta, rupanya pria itu banyak pekerjaan.


"Loe mau gw dimarahin Bulan, gara-gara membiarkan loe pulang sendiri. Ayo" Nanta berjalan lebih dulu diikuti Sumidah.


**********


"Din, aku ke toilet dulu ya" kata Liha saat ini sudah waktunya shalat dzuhur.


"Iya Liha..." jawab Udin jika sedang shalat, maupun makan siang biasanya mereka bergantian agar penjaga jangan sampai kosong.


Liha segera melakukan ritualnya ke toilet, kemudian shalat lebih dulu. "Ais... kita shalat duluan sayang..." ajak Liha.


"Ya Umma... Abi beli makan siang ya?" Ais menebak sebab tidak shalat dzuhur berjemaah.


"Iya..." pungkas Liha setelah membantu Ais mengenakan mukena lalu shalat dzuhur, hingga 10 menit kemudian.


Deeerrrtt... deeerrrtt...


"Telepon Umma bunyi" kata Ais menunjuk sumber suara handphone dari dalam tas Ummanya.


"Ais mainan saja sambil menunggu Abi, Umma angkat telepon dulu ya" kata Aslihah, setelah diangguki oleh putrinya. Liha kemudian mengamati si penelpon ternyata bu Eli pemilik kontrakan dimana Liha tinggal sebelum menikah dengan Abu. Jemari lentik menggeser tombol hijau kemudian menempelkan ke telinga.


📞 "Assalamualaikum..." Bu Eli mengucap salam dari seberang telepon.

__ADS_1


"Waalaikumsalam salam..."


"Ibu apa kabar?"


"Alhamdulillah baik Liha... ini loh ada yang mau bicara sama kamu" kata bu Eli.


"Siapa Bu..."


"Ini... bicara saja sendiri"


(....)


Di luar, pria tampan baru saja pulang membeli makan siang untuk keluarga kecilnya, kemudian memakirkan motor. Setelah menyangkutkan helm, ia ambil kantong plastik putih yang disangkutan di depan. Dengan langkah tergesa-gesa ia masuk ke dalam apotek.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam..."


"Abi dalimana?" Tanya Ais menyambut kedatangan Abu.


"Abi beli makan siang, kita makan dulu yuk... Umma kemana?"


"Abi... beli sop ayam kesukaan Ais, kita makan dulu" Abu mengeluarkan makan siang dari kantong plastik.


"Abi sudah sampai?" Tanya Liha menghampiri anak dan suaminya. Aslihah sudah tidak kaku lagi memanggil Abu dengan panggilan Abi.


"Sudah... sini duduk" titah Abu.


Liha pun duduk di sebelah Abu, yang sedang meletakan nasi kota satu persatu. Abu beranjak memberikan makanan milik Udin, sedangkan Liha memberikan satu bungkus kepada cleaning service.


Abu kembali ke sofa lalu makan siang bersama. Netra Abu tidak berpaling dari Liha tampak istrinya sedang tidak berselera makan.


"Liha... kamu kenapa? Kok makanannya nggak dimakan sih..." ucap Abu perhatian.


"Iya Bi" Liha pun akhirnya makan walapun hanya sedikit.


"Sekarang Ais bobo siang dulu ya..." titah Abu.

__ADS_1


"Iya Bi..." selesai makan, Ais bergegas ke ruangan. Sementara Liha dan Abu kembali ke depan. Liha kemudian duduk di depan loket kasir ini lah tugas Liha saat ini. Abu sengaja menempatkan Liha di tempat itu, agar tidak terlalu lelah, tentu dengan persetujuan Udin.


Hingga jam 4 sore mereka pulang, bergantian dengan dua karyawan pria yang bertugas sift malam, hingga jam 11 malam nanti. Apotek yang awalnya hanya sampai jam 4, atas saran Liha agar dibuka sift malam, selain menambah omset penjualan juga menambah lapangan pekerjaan. Ide Midah di setujui oleh Abu maupun Udin.


Tiba di rumah selesai menenami Ais mandi, Liha kemudian memasak. Seperti tidak merasa lelah, ibu muda ini seperti ibu pada umumnya selalu memanjakan anak dan suaminya dengan menyajikan makanan yang enak.


"Liha..." Abi yang baru selesai mengepel menghampiri istri nya di dapur.


"Iya Bi..." Liha menoleh sebentar kemudian beralih ke penggorengan tampak sedang membuat masakan segar, yakni capcay.


"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi siang banyak diam?" Tanya Abu lembut mengusap bahu Liha.


Liha tidak menjawab justeru mematikan kompor, karena masakan sudah matang. Aslihah ambil wadah dalam lemari, memasukan sayur ke dalamnya, langkah selanjutnya meletakkan di meja makan. Semua masakan sudah tersaji Liha kemudian duduk di kursi sofa diikuti Abu.


"Liha..." lirih Abu. Ia sudah paham jika diam begini pasti istri nya memendam suatu masalah.


"Bi... tadi siang, mantan mertua aku datang ke kontrakan bu Eli, mencari aku, kemudian bu Eli memberikan alamat kita," tutur Liha menatap Abu menyimpan kekhawatiran dimatanya.


"Mantan mertua kamu? Memang beliau masih ada?" Tanya Abu. Abu mengira jika mertua Liha sudah meninggal.


"Beliu bukan tinggal di Jakarta Bi, tetapi di luar negeri," Liha menceritakan tentang mertuanya dengan suaminya yang terdahulu. Saat ini tidak ada yang harus ditutupi lagi tentang masalalu nya. Hanya Abu yang pantas Liha jadikan tempat untuk mengadu.


Saat hendak menikah dengan Imron, Liha bukan tidak menghadapi masalah. Justeru masalah Liha sangat rumit ketika itu. Kedua orang tua Imron sebagai pengusaha restoran di negara tetangga maju pesat dan meraup keuntungan yang menggiurkan.


"Dulu... mertua aku melarang Imron untuk menikahi aku Bi, karena aku hanya anak yatim, dan bukan terlahir dari orang kaya," Liha sesak mengingat itu.


"Karena Imron nekat memelih aku, Imron rela diusir kedua orang tuanya" Liha menitikan air mata.


Abu tidak memotong curhatan istrinya, merangkul pundak Liha. Sungguh Abu tidak tahu jika istri nya mengalami permasalahan yang rumit .


"Lalu?" Tanya Abu.


Liha melanjutkan ceritanya. Tidak cukup Imron diusir dari rumah peninggalan nenek Imron, tetapi orang tua Imron juga menjual rumah tersebut, dan mencoret nama Imron dari daftar keluarganya. Membiarkan Imron hidup menderita agar mau berpisah dengan Liha. Namun walaupun sulit sekali, Imron dan Liha menjalani hidup paspasan. Namun, cinta mereka semakin kuat dan pada akhirnya. Allah lebih menyayangi Imron hingga Imron meninggal diusia 27 tahun.


"Astagfirrullah... jadi gara-gara harta, kedua orang tua almarhum suami kamu setega itu?" Abu tidak habis pikir.


"Sudahlah Liha... Karena kamu sabar, kamu mendapatkan ganti mertua yang sangat menyayangi kamu, bahkan saking sayangnya mempertemukan kita hingga menjadi satu keluarga, itu bukan suatu kebetulan Liha. Karena Allah sudah atur" Abu menyandarkan kepala Liha di pundak Abu, mengelus-elus pundak Liha lembut.

__ADS_1


"Aku tahu Bi, dan aku terimakasih karena Ayah Umar dan Ibu Ifah sangat menyangi aku. Tetapi bukan ini masalahnya Bi, aku takut jika sampai mantan mertua aku mengambil Ais." Liha ketakutan.


...BERSAMBUNG....


__ADS_2