Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Sakit hati Liha.


__ADS_3

Jam delapan malam seorang pria yang sedang di atas menara sedang dibantu oleh pemadam kebakaran, menuruni menara tersebut.


"Lain kali jangan coba-coba mau bunuh diri, jika takut mati, lihat tuh celana kamu basah" kata pemadam, setelah tiba di bawah dengan selamat. Para pemadam menatap pria sampai ngompol karena takut ketinggian itu menahan tawa.


"Sudah berapa kali saya katakan, saya tidak mau bunuh diri Pak, tapi tadi terjadi begitu saja, maksud saya justeru ingin menolong seorang gadis yang mau bunuh diri dari menara itu" tutur pria itu. Pria itu menunduk menatap celananya memang basah sungguh malu sekali.


"Jangan banyak alasan, sekarang lebih baik kamu pulang," kata pemadam meninggalkan pemuda yang menahan malu itu.


"Awas! Kamu tomboy... kalau ketemu gw bejek-bejek!" Omel pria itu. Namun ternyata tempat itu sudah sepi. Sang pemuda pun lari ketakutan menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan.


Flashback on.


Menjelang magrib, tidak jauh dari pinggiran jalan raya banyak pejalan kaki yang melintasi trotoar. Pandangan mereka beralih ke tempat kerumuan. Tepatnya di bawah menara.


Mata mereka mendongak merasa ngeri menatap seorang wanita yang sedang bertengger di atas menara tersebut.


"Wanita gila itu kali! Cari mati, mau maghrib kok malah naik menara setinggi itu," kata mereka.


"Ya jelas cari mati lah, gw yakin tuh cewek mau bunuh diri,"


"Hii... ngeri..." ucap mereka bersamaan.


Lampu merah menyala seorang pemuda menatap dari atas motor dimana orang-orang berlarian. "Ada wanita yang mau bunuh diri" kata salah satu pria yang berlari kencang bergabung dengan kerumunan. Pria yang di atas motor pun tergerak hatinya menepikan motor kemudian mendekati kerumunan.


Pemuda tampan mendongak ke atas menara dengan mata menyipit. Ia terkejut karena mengenal wanita itu. "Tomboy... apa yang loe lakuin disitu?" teriak pemuda.


Wanita di atas menunduk merasa mendengar suara familiar memanggilnya. Namun wanita itu hanya menjawab dengan isak tangis samar-samar terdengar.


"Tomboy..." entah kekuatan darimana pemuda yang takut ketinggian itu menanjat menara hingga tiba di samping wanita.


"Ngapain kamu ikut naik?!" Ketus wanita yang tak lain adalah Midah.


"Ahahaha... wanita tomboy macam loe mau bunuh diri, mati normal saja dosa loe belum tentu diampuni, tapi loe malah bunuh diri," Pria yang tak lain Ananta menyeringai.

__ADS_1


Midah tidak mau menanggapi, niatnya mau mencari ketenangan justeru di ganggu oleh pria tengil. Midah pun turun dari menara meninggalkan Nanta.


"Tomboy..." Nanta menunduk menatap Midah turun dari menara seperti tupai tanpa ada rasa takut hingga akhirnya tiba di bawah dan pergi meninggalkan tempat itu.


Nanta menoleh kanan kiri baru sadar jika ia di atas ketinggian entah berapa puluh meter, jantungnya hampir lepas.


"TOMBOY...!!!" suara Nanta menggema.


"Haii... turun! Kenapa malah kamu yang diam di atas?" teriak salah satu bapak.


"TOLONG... TELEPON PEMADAM,, SAYA TIDAK BERANI TURUN" teriak Nanta suaranya menggema.


"Tenang saja, kamu disitu" teriak bapak dari bawah, lalu mengecek google mencari nomor telepon pemadam kemudian menghubungi.


**********


"Kak Abu, ada masalah apa antara Kakak dengan Sumidah?" tanya Bulan. Bulan rasa Midah pasti ada masalah, jika tidak. Tidak mungkin Sumidah pergi tanpa ijin, selama ini Midah bekerja dengan professional.


Semua orang yang berada disitu terperangah, termasuk Udin mendengar pertanyaan Rembulan. Udin sejak tadi sudah tidak tenang, jika sampai Bulan keceplosan dan ternyata benar. Udin tahu bagaimana perasaan Aslihah melihat Midah ada adegan memeluk Abu. Walaupun kejadian tadi hanya salah paham, semua wanita yang melihat pasti akan sakit hati. Udin tidak bisa berkata apa-apa, diliriknya wajah Liha di sebelah tentu sedang tidak baik-baik saja, Udin semakin tidak bisa berkutik.


"Tidak ada masalah apa-apa Bulan, aku hanya menyampaikan yang sebenarnya bahwa aku sudah mempuanyai istri, tetapi Midah pergi entah kemana," tutur Abu, agar jelas berbicara dengan semuanya.


"Kak Abu sudah menikah? Menikah dengan siapa? Kenapa Kakak tega, mengecewakan Midah yang sudah lama menyukai Kak Abu" Bulan kesal. Bulan tidak tahu jika ucapanya menyakiti hati Liha.


"Istri aku Liha Bulan, memang Liha sejak tadi tidak cerita sama kamu?" Abu melirik Liha di samping Udin tergambar jelas kesedihan di wajah nya.


"Bulan... maafkan aku jika pernikahan saya dengan Kak Abu banyak melukai perasaan orang lain aku yang akan mundur" Liha segera beranjak.


"Aslihah..." Abu dan Bulan tidak menyangka jika Liha akan nekat seperti itu.


"Apa? Kalian semua membohongi aku, padahal tahu jika Kak Abu sudah punya kekasih, tetapi kalian semua menutupi," hati Liha merasa sakit dan kecewa.


"Dan kamu Udin! Kak Novi! Aku kecewa sama kalian, kamu tega mempermainkan aku, mentang-mentang aku hanya bekas orang lain?! Iya?!"

__ADS_1


"ASLIHAH!" bentak Abu selama ini tidak pernah membentak tetapi mendengar ucapan Liha hatinya sedih.


"Ais, ayo sayang..." Liha menggendong Aisyah lalu masuk ke kamar menguncinya dari dalam, sebenarnya Liha tidak seharusnya memberi contoh yang tidak baik bertengkar di depan putrinya, tetapi rasa sakit hati mengalahkan logika.


Abu dan Bulan berjalan cepat mengejar Liha. "Aslihah... maafkan aku, aku tidak tahu jika yang menjadi istri Kak Abu adalah kamu" ucap Bulan dari luar pintu. Bulan merasa bersalah terlalu ikut campur urusan Abu hingga membuat Liha terluka.


"Liha... buka pintunya Liha... kita selesaikan berdua" Abu pun memanggilnya.


"Bulan... sebaik nya kita pergi, kita jangan ikut campur, ini masalah Kak Abu dengan istrinya." Tara mengait lengan Bulan mengajaknya pulang.


"Kak Abu... kami minta pamit," kata Tara.


"Maaf Tara, jika kalian tidak nyaman," Abu merasa bersalah karena sudah membuat tamunya tidak nyaman.


"Sudah... jangan pikirkan kami, selesaikan masalah rumah tangga kalian," pungkas Tara kemudian pergi. Udin dan Novi pun akhirnya pamit pulang juga.


Sementara di dalam kamar. "Umma... itu ada bintang jatuh" kata Ais ternyata Liha mengajak Ais ke ballroom agar tidak mendengar panggilan Abu. Liha saat ini butuh menenangkan diri.


"Iya sayang... bagus ya, lihat juga tuh bulanya besar" hibur Liha. Liha takut pertengkaran tadi membuat anaknya trauma.


Satu jam sudah Ibu dan anak itu, melihat bulan dan bintang tentu Ais masih betah, tetapi Liha tidak ingin putrinya masuk angin jika kelamaan diterpa angin malam. "Sudah malam sayang... kita bobo yuk..." ajak Liha. Lalu menuntun putrinya ke kamar mandi.


"Kita balapan sikat gigi yuk" begitulah cara liha agar putrinya tidak malas sikat gigi mengajaknya balapan.


"Ayuk"


Mereka sikat gigi cuci kaki tangan dan akhinya kembali ke kamar. Mereka merebahkan diri di kasur.


"Umma... Abi nggak ke kamal?" Ais menantikan Abu tidak juga masuk kamar.


"Kan di luar masih banyak tamu sayang, biarkan saja, sekarang kita tidur dulu" Tidak lama kemudian Ais pun tertidur.


Liha menatap anaknya, air bening menetes. Ia menyesal jika saja ia tidak menerima perjodohan konyol ini, hati nya tidak akan sesakit sekarang. Dulu ketika tinggal hanya berdua dengan putrinya walaupun harus berjuang mencari receh untuk mencari makan dan membayar kontrakan, tetapi hidupnya nyaman.

__ADS_1


"Bobo sayang... tempat kita bukan di rumah ini.


...Bersambung....


__ADS_2