
"Sah?" Tanya penghulu kepada saksi.
"Sah" Jawab para saksi.
Bersamaan dengan itu, Junaedi yang duduk di belakang mempelai tersenyum. Semoga kamu bahagia Sumidah"
Junaedi meninggalkan tempat itu, ia merasa lega. Bukan berarti ia tidak bersedih. Wanita yang dicintai telah bersanding dengan pria lain. Tetapi yang penting bagi Juned sumidah bahagia.
Sementara Sumidah kini sedang sungkem kepada Ambu dan juga mama mertua. Dalam pangkuan dua janda secara bergantian Sumidah menangis sesegukan.
"Maafkan Mama sayang... anak Mama sudah membuat menantu Mama bersedih." Ujar mama Zarina mengusap punggung Midah. Midah tidak bisa berkata-kata ia pun bergeser pindah ke pangkuan wanita yang sudah membesarkan hingga kini.
"Maafkan Sumidah Mbu, hu huuu..." Sumidah menggengam tangan Ambu, sebelum akhirnya menjatuhkan wajahnya di pangkuan Ibu yang sudah mengantarkan dirinya hingga sampai ke titik ini. Namun kerap kali Midah menjadi anak bandel, jika Ambu menasehati. "Jangan berpakaian seperti itu, jangan berteman dengan pria terlalu dekat karena kalian berbeda jenis" Jangan-jangan dan jangan, tetapi Midah tetap tidak mengikuti nasehat Ambu. Padahal Ambu membesarkan ketiga anaknya seorang diri, sungguh berat.
Semua itu kini berputar dalam ingatan Sumidah, andai saja bisa memutar waktu Sumidah tidak akan menjadi anak pembangkang.
"Sumidah... sudah Nak. Kini kamu telah dewasa, dan taatlah kepada suamimu, karena telapak kaki Nanta adalah surgamu Nak" Ambu mengusap-usap kepala putrinya.
Banyak sekali yang Sumidah pikirkan, tidak hanya pernikahan hari ini yang banyak menguras air mata. Tetapi Sumidah juga ingat kepada almarhum Abah sudah tidak bisa menjadi wali nikahnya.
Acara sungkeman selesai, Sumidah kembali di rias dan akhirnya diantar ke pelaminan. Pasutri itupun walau duduk di dalam mobil hanya berdua, tetapi keduanya saling diam seperti tidak saling mengenal.
Kesalahpahaman ternyata membuat keduannya saling menyalahkan. Ananta masih mengira bahwa Sumidah ada hubungan dengan Junaedi. Sementara Sumidah berpikir jika Nanta sengaja mempermainkan pernikahan.
Itulah pentingnya komunikasi dalam setiap hubungan. Tidak menyangka hanya karena kurang komunikasi pasangan yang awalnya diwarnai dengan canda tawa kini menjadi abu-abu.
Hingga tiba di pelaminan semua tamu undangan sudah menunggu. Pasangan tampan dan cantik itu menjadi pusat perhatian. Tetapi tidak ada aura bahagia di antara keduanya.
Di atas pelaminan pun mereka saling diam, jika ada tamu yang datang baru menjawab.
"Sumidah... Semoga kamu bahagia," Aslihah mencium pipi Sumidah.
"Terimakasih Kak," Jawab Midah.
"Nanta... selamat ya," Abu yang sedang menggendong Ais menjabat tangan Nanta.
"Terimakasih Kak Abu." Nanta tersenyum dipaksakan.
__ADS_1
Abu menyusul Aslihah yang sudah berjalan lebih dulu. Kedua nya lantas mencari tempat duduk di depan panggung sambil mendengarkan qosidah.
"Abi... Ais mau esklim," Kata Ais, menatap anak-anak kecil yang sedang mengantri ice cream.
"Ais ikut antri sendiri ya, Abi sama Umma lihat dari sini," Kata Liha agar anaknya mandiri.
"Ya Umma..." Aisyah berlari-lari kecil lalu berdiri di belakang anak-anak yang lain. Abu mengacungkan jempol kala Ais menoleh kepadanya.
"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Abu kepada istrinya perhatian.
"Nanti dulu Bi." Tolak Liha.
"Loh, kamu makan hanya tadi pagi loh." Abu mengingatkan khawatir Liha masuk angin.
"Sebentar lagi Bi, nanti aku pasti makan." Tegas Liha kemudian memandangi pengantin. Liha menangkap tidak ada keharmonisan diantara keduanya.
"Bi, coba perhatikan Ananta sama Sumidah, sepertinya masih marahan,"
"Aku juga mikir begitu Liha, mungkin Sumidah masih syok dengan kejadian tadi. Bayangkan saja, Dia hampir menikah dengan pria yang tidak ia cintai," Abu pun sebenarnya memperhatikan tetapi tidak ia ungkapkan.
"Sebenarnya mencintai atau tidak. Tidak menjamin rumah tangga akan harmonis Bi, justeru kadang sebaliknya. Hanya tinggal bagaimana pasangan itu bisa saling melengkapi dan menciptakan suasana hati yang mampu mengikat dua belah pihak. Yang awalnya tidak ada rasa cinta sedikit pun bisa tumbuh dan saling menyayangi," Tutur Liha panjang lebar.
"Umma... Ais mau ikut di peluk," Kata Ais sudah kembali membawa ice cream di tangan.
"Sini sayang..." Abu merangkul pundak Ais dengan tangan kiri posisi Abu di tengah. Keluarga kecil bahagia itu tidak menyadari jika menjadi sorotan kamera.
Siang berlalu tergantikan malam acara resepsi sudah selesai. Nanta bersama Midah tiba di kamar hotel. Mereka masih juga saling diam sibuk dengan urusan masing-masing. Kali ini Sumidah baru saja selesai mandi tampak sudah ganti baju lalu duduk di kursi sofa.
"Sudah diapain loe sama Juned?" Tanya Nanta tanpa menatap Midah. Ananta sudah mandi lebih dulu lalu tiduran di ranjang.
"Apa maksudnya?!" Midah seketika berdiri mendengar ucapan Nanta yang sudah menyinggung perasaannya marah besar.
"Alaah... Jangan pura-pura loe! Pantas saja, gw antar pulang loe nggak mau, tapi ternyata loe janjian ketemu di terminal dengan Juned!" Tuduh Nanta. Sebenarnya Nanta sudah tidak marah ketika berangkat dari Jakarta ke tasik. Tetapi Ketika melihat Midah menerima Juned menggantikan dirinya. Emosi Nanta memuncak.
"Jangan melempar kesalahan hanya untuk menutupi kesalahan kamu, Mas!" Midah tidak terima dituduh begitu.
"Kesalahan apa yang sudah gw lakukan sama loe!" Nanta rupanya tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Setelah kamu mengabaikan panggilan aku sampai seminggu, hingga saat menikah pun datang terlambat. Kamu masih bisa menanyakan apa kesalahan kamu hah?!" Sumidah melotot tajam, berdiri di samping ranjang. Ia sulit mengontrol emosi.
"Itu juga karena gara-gara loe selingkuh makanya gw malas meladeni omong kosong loe itu," Nanta menatap Midah tajam.
"Dari tadi nuduh selingkuh, mana buktinya." Sumidah membela diri. Ia baru tahu sikap Nanta ternyata begini.
"Jika loe tidak terbukti selingkuh, nyatanya loe menerima pria itu dan hampir saja menjadi suami loe?!" Sarkas Nanta.
"Kamu nggak tahu seperti apa keadaan di rumah sejak pagi hingga siang Mas, kalau nggak tahu ceritanya jangan main tuduh!"
Mereka bertengkar hebat tidak ada yang mau mengalah.
"Sekarang buktikan!" Nanta menarik lengan Midah hingga jatuh menimpa dada Nanta. Nanta melancarkan serangan dalam keadaan emosi.
Sumidah hanya bisa menangis, ia akan menyerahkan kegadisanya kepada Nanta, tetapi bukan dengan cara paksa seperti ini.
Setelah terjadi hal yang tidak diinginkan Nanta lalu tidur. Sementara Sumidah masuk ke dalam kamar mandi. Mengguyur kepalanya sambil tergugu. "Kamu tega! Kamu tegaaa..." Jerit Sumidah.
Kini hatinya sakit karena telah mendapatkan perlakuan seperti ini dari pria yang ia cintai. Walaupun miliknya sudah menjadi hak Nanta, Midah ingin memberikan dengan cinta yang tulus.
Keesokan harinya, Nanta mengerjapkan mata, rasanya masih malas untuk bangun. Ketika bokongnya terasa gagal tanganya menggaruk. Nanta baru sadar jika ia tidak mengenakkan pakaian.
Nanta bangun cepat memindai sekeliling tidak ada Sumidah.
"Tomboy" Gumam Nanta. Jika sudah memanggilnya tomboy. Itu artinya Ananta sudah tidak marah lagi. Ia merasa bersalah akan minta maaf karena sudah melakukan yang tidak sepantasnya terhadap istrinya. Nanta memakai pakaian lalu menuju kamar mandi.
Tok tok tok.
"Tomboy..." Panggil Nanta sambil mengetuk pintu, tetapi tidak ada sahutan. Perlahan nanta membuka pintu ternyata tidak dikunci. Yang ada hanya gaun pengantin yang tergeletak di lantai kamar mandi.
"Tomboy..."Nanta memeluk gaun, aroma parfum Sumidah masih menempel. Hingga beberapa menit kemudian, Nanta meletakan gaun.
Cepat-cepat Nanta mandi, lalu ganti kaos dan celana panjang hendak mencari istri nya. Namun, sebelumnya ambil handphone di atas ranjang. Betapa terkejutnya Nanta kala pandanganya tertuju ke atas seprai putih noda merah menempel disana.
"Sumidah..." Ujar Nanta. Ia mengusap-usap noda di ranjang yang sudah mengering. Tidak terasa ia menitikan air mata. Dada Nanta sesak rasa bersalahanya bertambah. Nanta merutuki diri sendiri, karena cemburu buta merusak momen malam pertama yang seharunya ia lakukan dengan lembut, tetapi Nanta mengambilnya secara paksa.
Nanta pun keluar dari kamar hotel mencari keberadaan Sumdah.
__ADS_1
...~Bersambung~...