
Sumidah ke tempat parkir menjalankan mobil milik Bulan yang ia kendarai. Sepanjang jalan pikiranya berkecamuk memikirkan saat cinta nya ditolak. Sakit hati berkepanjangan memendam rasa rindu yang tak terbalas menjadi siksaan hari-harinya. Midah menarik napas berat, mungkin hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka semacam ini. Berlebihan memang jika dipikir secara logika namun semua terjadi dengan sendirinya tanpa bisa diminta maupun ditolak.
"Ciiiiitttt... tin tiiin tiiiinnn...
Brakk!"
Sumidah menyetir dalam keadaan melamun akibatnya hampir saja tabrakan beruntun. Mobil yang ia kendarai hampir mencium sesama mobil di depan. Pikiran Sumidah buntu tidak ada pilihan lain, ia mengerem mendadak.
Sum tidak sadar karena ulahnya nyawa taruhanya. Motor yang di belakang mobil Sum di seruduk sesama motor dari belakang pula, hingga keluar jalur.
Tok tok tok.
"Turun!" bentak salah satu pria yang menabrak. Namun motor miliknya tidak terjadi apa-apa.
"Saya minta maaf" jawab Midah ketika sudah menutup pintu mendekati kerumunan.
Tidak bisa menolak lagi bagi Sumidah selain menurut. Matanya menangkap tatapan pria bertampang preman sudah mengajaknya duel. Jika bukan karena dirinya yang salah, tangan Sum gatal ingin menghajar pria itu melampiaskan kekesalanya.
"Lihat! Karena ulahmu, motor Mas ini rusak!" pria itu menunjuk pengendara motor yang dibantu para pedagang kaki lima di tempat itu.
"Maaf, saya akan bertanggungjawab" Sumidah berjalan cepat menghampiri pria yang duduk memandangi motornya yang ringsek.
"Mas tidak apa-apa?" Sum berjongkok di depan pria itu.
"Midah"
"Kak Juned" keduanya saling pandang terkejut mengapa bertemu dengan cara seperti ini.
"Kak Juned nggak apa-apa?" Midah menelisik seluruh tubuh tetangga kampung halaman itu.
"Tidak apa-apa, Midah" jujur Junaedi. Dia hanya mengalami lecet-lecet saja. Namun motornya mengalami kerusakan bagian samping. Mungkin karena syok maka ia tidak segera bangun dari duduknya.
"Bapak-bapak... saya tidak apa-apa kok, terimakasih karena sudah menolong saya" Junaedi menganggukan kepala sopan. Kerumunan pun membubarkan diri.
"Ayo Kak, saya antar ke rumah sakit" Sumidah membantu Juned berdiri.
"Tidak usah Midah, sudah ku bilang tidak apa-apa"
"Ya sudah... Kak Juned tunggu disisi, aku bawa motor Kakak ke bengkel" Sumidah mendorong motor ke bengkel terdekat. Junaedi memanggil berniat membantu namun rupanya Midah benar-benar ingin bertanggungjawab akan kesalahanya. Yah, mungkin begini jika orang mendahulukan emosi hanya penyesakan yang Midah dapatkan.
Tiba di bengkel, Sumidah menjelaskan kerusakan bagian-bagian tertentu tidak lama kemudian sudah kembali. Syukurnya bengkel tidak terlalu jauh.
__ADS_1
"Kak, ayo ke rumah sakit nanti khawatir ada tulang yang keseleo," Midah membujuk Juned. Namun Juned merasa baik-baik saja.
"Baiklah, kalau gitu... aku antar ke rumah Kakak saja," Midah membukakan pintu untuk Juned. Juned kali ini menurut, ia masih syok dengan kejadian ini ada yang menemani akan lebih baik.
"Kak Juned tinggal dimana?" Tanya Midah ketika mobil sudah berjalan.
"Aku tinggal di apartemen xxx Midah, apa kamu tidak repot jika mengantar saya?" Juned tahu jika Midah sedang bekerja apa majikanya tidak akan marah nantinya.
"Tidak" Midah menjawab satu kata. Sesaat di dalam mobil saling diam larut dalam pikiran masing-masing.
Juned merasa beruntung bisa bertemu dengan wanita yang ia rindukan setiap saat. Namun mengapa pertemuanya dengan cara seperti ini? Juned melirik Midah baru ngeh jika Midah sedang gelisah memikirkan sesuatu. Apakah ada yang ia pikirkan sejak tadi, hingga dia menyetir tidak konsentrasi, atau baru saja karena waktunya terbuang untuk mengantarkan dirinya? Pertanyaan bermunculan di benak Juned.
"Midah kamu kenapa?" Juned tidak tahan akhirnya bertanya juga.
"Memang kenapa?" Midah bertanya balik, tanpa menoleh. Matanya fokus ke depan, bayangan kecelakaan yang baru saja terjadi membuatnya lebih hati-hati.
"Kamu dari tadi melamun terus Midah, jangan-jangan... ketika hampir menabrak tadi karena kamu melamun?" selidik Junaedi.
"Apa kamu sedang bertengkar dengan pacar kamu?" Juned kepikiran seseorang
"Pacar?" Kali ini Midah menoleh, sedetik kemudian kembali menatap jalanan.
"Hihihi... si tengil itu? Hihihi..." Midah terkikik geli merasa terhibur dengan pertanyaan Junaedi.
"Kok malah tertawa, aku tanya serius Midah"
"Aku menjawab duarius Kak Juned" Kelakar Midah. Keduanya lantas tertawa.
"Midah, aku mau tanya jawab dengan jujur," Junaedi merasa ada celah untuk masuk ke ranah pribadi Midah.
"Saya jawab Pak Guru, jika pertanyaan nya tidak sulit"
"Jika kamu dengan Nanta tidak ada hubungan apa kamu sudah punya kekasih?" Junaedi menatap Midah ingin terus berdekatan seperti ini jika Allah berkehendak.
"Selama ini aku belum pernah punya pacar Kak, kalau mencintai seseorang pernah, tetapi cintaku tidak terbalas," Midah mulai blak-blakan merasa ada teman curhat.
"Oh... memang kamu mengutarakan cinta kepadanya?" Dahi Juned berkerut-kerut, ternyata Midah pun mengalami seperti apa yang ia alami.
"Tidak sih, selama ini aku pendam dalam hati, awalnya aku yakin jika pria itu menyukai aku, karena Dia selalu memberi aku perhatian. Tetapi ternyata cinta aku bertepuk sebelah tangan. Dan yang lebih menyakitkan adalah; tanpa sepengetahuan aku, pria itu sudah menikah secara diam-diam, kesel nggak tuh," Midah tidak merasa malu lagi untuk menceritakan semuanya.
"Kalau gitu nasip kita sama Sum, aku mencintainya tetapi ternyata wanita itu menyukai pria lain," Juned menundukan kepala.
__ADS_1
"Oh orang mana Kak" Midah merasa penasaran.
"Ada sih" Juned menoleh menatap jalanan.
Deertt derrtt.
"Bentar Kak, aku angkat telepon dulu" Midah menepikan mobil mengangkat handphone ternyata Bulan orangnya.
"Sumidah... kamu kemana saja?! Rangga rewel ini obatnya kan mau diminum!"
"Baik Non, sedang di jalan" Sum ingin bicara lagi tetapi keburu ditutup. Jika Bulan sudah marah begitu berarti Sum sudah kelewatan. Sum mempercepat laju kendaraan.
"Bos kamu yang telepon Sum, kalau gitu aku turun disisni saja" Junaedi merasa bersalah.
"Tenang saja Kak, kita kan satu arah" pungkas Sum selap selip namun tetap waspada hingga tiba di depan apartemen.
"Terimakasih Sum" kata Juned ketika sudah turun dari mobil.
"Sama-sama Kak, biaya bengkel sudah aku bayar, ini kwitansi nya" Sum menyerahkan bukti pembayaran sebelum akhirnya melaju cepat, tidak menghiraukan ucapan Juned yang intinya akan mengembalikan uang untuk membayar bengkel.
Sumidah pun akhirnya sampai tujuan.
Grendeeennng...
Dengan perasaan bersalah Sumidah membuka pagar kemudian kembali memasukan mobil. Bersamaan dengan itu, motor pria sudah di belakang.
Brakk!
Sumidah menutup pintu mobil setelah kakinya berpijak ke konblok. Tanpa menghiraukan si pengendara motor. Setengah berlari Sum ingin cepat memberikan obat kepada non Bulan.
"Tomboy... loe nebus obat, atau cari gebetan?!" ketus Nanta. Pria itu baru datang juga, rupanya disuruh menyusul Midah ke apotek, namun menurut penjelasan Udin sudah pulang satu jam yang lalu.
Karena Midah tidak menyahut, Nanta merasa aneh dan ada yang hilang. Jika sudah diam begini itu artinya kemarahan Midah sudah memuncak.
...Bersambung....
Selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir batin 🙏🙏🙏 bagi yang merayakan.
Semoga hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari sekarang💪💪.
Hanya cerita aku di bulan ramadhan kali ini yang kurang baik. Nyatanya mengalami penurunan pembaca yang signifikan 😭😭😭. Niat bikin cerita yang adem, eh... ternyata malah tidak disukai. Tetap semangat 💪💪💪Author tidak ada apa apanya tanpa kalian. ❤❤❤.
__ADS_1