
"Benar apa yang kamu katakan Amel?" Tanya mama Zarina ketika Amel sudah keluar dari kebun.
"Hiks hiks hiks, masa saya bohong, Tan. Tante bukanya sudah mengenal saya sejak kecil," Tutur Amelia di sela-sela isak tangis. Melirik Nanta yang sama sekali tidak menghiraukan dirinya rasanya kesal sekali.
"Mari ikut Tante." Ajak Zarina meninggalkan lokasi. Tiba di depan kediaman Abu, mobil yang di kendarai Midah masih di parkir di tempat itu.
"Mama lebih baik pulang sama Pak Budi, biar aku pulang bareng Tomboy." Saran Nanta, ketika mamanya berhenti mengamati rumah Abu. Nanta yang akan berbicara sendiri dengan Midah, tidak mau bikin rusuh di rumah orang gara-gara Amel.
"Nanti dulu Nanta, masalahnya belum selesai. Kita cari kebenarannya selagi kita masih berkumpul disini. Apa benar yang di katakan Amelia." Tegas mama Zarina.
Dut dut dut.
Ketika sedang ngobrol sebuah motor berhenti di depan mereka. Pengendara motor tersebut ternyata seorang pria membuka helm lalu menyangkutkan di motor.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Tante Rina..." Sapa pria itu yang tak lain adalah Abu, langsung salim tangan Zarina. Semua mata beralih menatap Abu. Terutama Amel, melihat ketampanan Abu di atas Nanta matanya tidak berkedip. Semua itu tidak lepas dari pandangan Nanta.
Dasar wanita bengal, nggak boleh melihat pria tampan.
"Kamu sudah pulang Abu?" Tanya mama Zarina.
"Biasa Bu, ingin makan siang di rumah. Lebih enak masakan istri daripada jajan," Jujur Abu.
"Hehehe... kamu ini Abu..." Mama Zarina salut kepada pria di depanya.
"Nanta... kenapa Ibu tidak di ajak masuk, mari masuk," Abu segera membuka pagar.
"Baru sampai kok Bang, saya mau menjemput Tomboy, kebetulan dia ada perlu sama istri Abang."
"Mari-mari." Ajak Abu. Semua mengikuti Abu, termasuk Amel berjalan di sebelahnya.
"Ini rumah Abang?" Tanya Amel basa basi.
"Oh bukan, rumah ini milik istri saya, saya hanya numpang," Kilah Abu kemudian mendorong handle pintu seraya mengucap salam.
"Holee... holee... Abi sudah pulang," Sorak Ais kegirangan.
"Iya sayang... Uma mana? Panggil gih." Titah Abu setelah mengangkat Ais tinggi-tinggi kemudian menurunkan lagi.
"Iya Bi," Ais berlari ke belakang memanggil Liha. Sementara Zarina lagi-lagi terharu, memperhatikan Abu dan Ais dari luar. Abu ternyata sayang sekali kepada anak tirinya.
"Masuk Bu." Abu mempersilahkan semua tamunya masuk, tidak lama kemudian Aslihah keluar menyambut tamunya dengan senyuman ramah.
__ADS_1
"Tomboy bukanya lagi disini Liha?" Tanya Nanta. Karena tidak melihat Sumidah.
"Sumidah ke toilet Ta, tadinya sudah mau pulang, tetapi ke belakang dulu." Tutur Liha. Ia meletakkan minuman di depan para tamunya. Sekilas Liha pandanganya tertuju kepada wanita yang belum pernah Liha lihat sedang mengajak ngobrol suaminya sambil cengar cengir.
"Mama...." Sapa Midah. Ia terkejut ketika tiba di ruang tamu banyak tamu. Ia menatap Amel ternyata berada di situ juga. Midah sudah bisa menerka apa yang terjadi.
"Duduk dulu Sum," Titah Zarina.
"Baik Ma," Sumidah duduk di sebelah Nanta. Pria itu pura-pura angkuh ngerjain Sumidah. Padahal Nanta yakin jika yang dikatakan Amel hanya pura-pura.
"Mas, ada apa sih?" Bisik Sumidah. Wanita itu sebenarnya tidak gentar akan menghadapi karena dirinya tidak bersalah.
"Tanya saja, sama dirimu sendiri, apa yang sudah kamu lakukan!" Ketus Nanta. Langsung kena sikut Sumidah. "Awas saja nanti." Ancam Sumidah, entah apa yang akan dia lakukan.
"Nak Abu... Liha... kedatangan kami kemari ada yang ingin saya luruskan." Kata Zarina lembut.
"Memang ada apa Bu?" Tanya Abu dan Liha bersamaan.
Zarina menceritakan jika Sumidah mengurung Amel.
Sementara Sumidah mendelik gusar. Menatap Amel mengepalkan tangan.
"Apa benar yang kamu lakukan Sumidah?" Tanya Abu. Abu sebenarnya tidak percaya karena sudah mengenal Sumidah sejak lama.
"Dia bohong Kak Abu, justeru Amel yang mengunci saya, tapi saya memanjat pagar agar bisa lolos," Sumidah menjelaskan.
"Benar apa yang kamu lakukan Sum?" Tanya mama Zarina melempar tatapan ke arah Sumidah.
"Saya melempar ulat bulu karena ada alasan Ma, jika tidak, saya tidak akan bisa keluar. Padahal saya masih banyak urusan," Jujur Sumidah.
"Kenapa kamu malah menyudutkan saya Sum, kamu kan tadi yang mengurung saya," Amel meluncurkan jurus air mata buaya. Agar menarik simpati semua.
"Baiklah, kamu sekarang berdiri!" Perintah Sum mendekati Amel. Semua yang berada di situ turut berdiri, ingin tahu apa yang akan di lakukan Sumidah.
"Untuk apa Sum, kamu mau menyakiti saya lagi. Hiks hiks hiks." Amel kembali menangis.
"Berdiri! Kata gw" Sentak Sumidah menarik kedua lengan Amel.
"Sumidah..." Mama Zarina mengingatkan.
"Biar saja Ma." Ujar Nanta. Memegang lengan mamanya. Mereka memperhatikan Amel, dengan perasaan campur aduk.
Amel pun terpaksa berdiri.
Midah memeriksa kantong rok mini Amel. Selayaknya pak pol memeriksa penjahat. Abu yang berada di samping Amel, menatap gerakan tangan Sumidah kesana kemari.
__ADS_1
"Ini apa?!" Midah mengangkat kunci gerbang antara jempol dan telunjuk, setelah menemukan yang dicari.
Amel tidak bisa berkutik lagi. Mama Zarina mengaga lebar.
"Ma, ini yang sebenarnya terjadi," Kata Sumidah, tidak banyak bicara.
"Jika kurang bukti, di belakang rumah kami ada cctv Bu." Aslihah menimpali.
Tidak mengucap salam atau permisi, Amel meninggalkan rumah Abu.
Sumidah merasa lega. Ia sempat takut jika mama Zarina tidak mempercayainya lagi. Pasalnya pernikahan sebentar lagi akan di laksanan.
"Sum, Mama minta maaf karena sempat tidak percaya sama kamu," Sesal Mama Zarina.
"Tidak apa-apa Ma." Sumidah kembali duduk ke tempat semula. Setelah ngobrol sebentar semuanya lantas pulang. Zarina kembali ke butik bersama Supir. Sementara Nanta, pulang bersama Sumidah.
"Kamu jahat! Sudah nggak percaya sama aku!" Sungut Midah ketika mobil milik Bulan itu sudah berjalan, Nanta yang menyetir.
"Iya, Iya. Gw tahu kok kalau loe nggak salah." Nanta terkekeh melirik sekilas wajah Sum yang sedang cemberut.
"Terus, kenapa tadi kamu sewot?!" Sumidah melotot tajam.
"Hanya ngerjain loe saja,"Jawab Nanta kembali terkekeh.
"Awas nanti kalau sudah nggak nyetir, kita bertarung." Tantang Sumidah.
"Jangan dulu Midah, pertarungan kita masih seminggu lagi, nanti loe gw buat tepar. Ahahaha..." Nanta mentertawakan kata-katanya sendiri.
"Nggak jelas." Dengus Midah.
"Oh iya Tomboy... loe sudah ijin berhenti kerja sama Bulan kan?" Nanta kali ini bertanya serius.
"Sudah... hari ini sebenarnya aku sudah tidak kerja, tapi hanya membereskan pakaian," Jawab Sumidah juga serius.
"Ya sudah, kita pulangin mobil ini. Terus aku nanti menjemput kamu sekalian ambil pakaian."
"Menjemput, terus aku mau kamu ajak kemana?" Dahi Midah berkerut.
"Tinggal di rumah gw lah," Nanta menjawab enteng.
"Ngaco! Ambil pakaianya setelah aku dari kampung saja, aku sudah bicara dengan Non Bulan kok. Lagian besok pagi kan aku sudah berangkat ke tasik,"
"Memang kenapa kalau nanti malam menginap di rumah gw? Loe pasti khawatir, gw icipi kan? Hahaha..."
"Ih! Ngeselin. Nggak lucu!" Midah melengos kesal.
__ADS_1
**********
Di apartemen seorang pria merasa kecewa, sesih, dan galau. Tatkala membaca surat undangan yang baru saja di terima lewat paket. Ia pukul pelan dadanya yang terasa sesak, tidak menyangka wanita yang ia cintai hanya tinggal menghitung hari akan menikah. Selama ini ternyata hanya mimpi berharap bisa menimbang gadis pujaan.