
Di salah satu rumah dimana penghuninya selalu adem ayem. Pasutri ini selalu seiya, sekata. Mewujudkan rumah tangga impian bagi mereka dan menjadi tauladan para tetangga komplek. Mencurahkan kasih sayang kepada kedua anaknya.
"Ais, sudah siap belum sayang... kita sarapan dulu..." Panggil Aslihah dari luar kamar. Ibu muda dan cantik itu sejak bangun tidur sudah disibukkan dengan tugas ibu rumah tangga. Selesai membantu bibi memasak kemudian mandi lalu memanggil Ais.
"Ya Umma..."
Ceklak.
Ais keluar sudah mengenakan pakaian merah putih. Saat ini Aisyah sudah kelas satu SD. "Dedek hafis kemana Umma?" Tanya Ais karena tidak mendengar celotehan adiknya yang sudah berumur dua tahun.
"Lagi jalan-jalan ke depan sama Abi, paling sebentar lagi kembali," Jawab Liha merangkul pundak Ais menuju meja makan.
"Mam, mam, mam" Celoteh Hafis baru masuk rumah di gendong Abu.
"Abi sama dedek darimana?" Ais menciumi kaki adiknya, yang masih dalam gendongan Abu. "Jalan-jalan kok nggak ajak-ajak kakak." Protes Ais.
"Kakak kan sibuk mau sekolah, hari minggu baru kita jalan-jalan." Abu mengusap kepala Ais.
"Ya kan Umma... hari sabtu kita ke puncak ya," Ajak Abu seraya menarik kursi untuk putri nya duduk.
"Nginap tidak Bi?" Tanya Liha menatap suaminya yang sedang tersenyum kala jenggotnya dimainkan oleh Hafis.
"Menginap dong... kalau nggak nginap, waktu kita habis di jalan." Kata Abu memang benar adanya.
"Ya, mau ya. Sekali-kali sayang... biar kamu tidak suntuk di rumah terus. Ke dapur, ke sumur, ke kasur." Kata Abu tiap kali di ajak jalan-jalan Liha selalu banyak alasan.
"Kok Abi malah nyanyi dangdut sih." Imbuh Ais.
"Nyanyi dangdut?" Abi tidak mengerti apa yang di katakan Ais.
"Heeemmm... Abi Mah, ketinggalan. Lagu itu ngetop loh, tahun 90 han." Jawab Ais.
"Darimana kamu tahu kalau lagu itu ngetop tahun 90 han?" Tanya Abu terkejut, Ais tahu soal lagu padahal Abu memberikan handphone hanya untuk belajar, jika ingin melihat sesuatu harus diawasi.
"Suka di ajak nonton sama nenek Citra di Youtube. Hihihi..." Ais cekikikan.
__ADS_1
"Jadi kamu kalau lama-lama di kamar sama nenek Citra suka nonton dangdut?" Tanya Abu, lalu melirik liha.
"Sudah, yang penting hanya lihat lagu, bukan yang aneh-aneh... sarapan dulu nanti Ais kesiangan." Potong Liha. Liha menyendok nasi goreng buatan bibi ke piring suaminya. Saat ini Liha dibantu bibi beres-beres. Setelah Liha mengandung Hafis, Abu mencari ART tidak membiarkan istrinya lelah.
"Bagaimana usulan aku tadi Liha, mau kan?" Abu masih memikirkan tentang ke puncak.
"Iya mau" Jawab Liha melegakan Abu.
"Sini dedek sama Umma, biar Abi sarapan." Liha hendak menggendong Hafis.
"Tidak usah Liha, Hafis kan anteng, lebih baik kamu juga sarapan," Cegah Abu.
Mereka pun sarapan dalam diam, kemudian Abu salin baju setelah selesai sarapan. "Aku berangkat dulu ya." Abu mencium istrinya.
"Umma... Ais juga berangkat ya," Ais salim tangan kemudian naik ke atas motor. Abu masih memilih mengendarai motor walaupun sudah mempunyai mobil. Dengan mengendarai motor bisa menghemat waktu. Mobil hanya di gunakan ketika pergi sekeluarga.
"Iya hati-hati" Liha mengantar sampai halaman rumah sambil menggendong Hafis. Menatap suami dan anaknya hingga tidak terlihat lagi. Seperti biasa Abu berangkat ke apotek, namun sebelumnya mengantar Ais ke sekolah dulu.
Sejak hamil, Abu tidak mengijinkan Liha bekerja ke apotek lagi. Karena Abu tidak ingin istrinya terlalu capek dan ingin Liha fokus mengurus anak.
PoV Ananta.
"Sumidah... kamu tidak usah berbohong, aku tahu jika Dito itu anak kita." Kataku. Rupanya Sumidah kekeuh tidak mau jujur ketika aku desak. Saat ini kami duduk di saung hanya berdua.
"Sok tahu! Sudah berapa kali aku katakan! Dito bukan anak kamu!" Ucapnya ketus lalu membuang wajah.
"Okay... sekarang jawab dengan jujur, jika Dito bukan anakku, lalu anak siapa? Anak Juned?" Pancingku. Midah seketika menatap aku tajam.
"Bukan urusan kamu!" Ketusnya lagi.
"Jelas urusan aku Midah, karena kamu masih sah istri aku," Kataku. Midah hanya diam entah apa yang dia pikirkan. Aku yang awalnya duduk ada jarak lalu merapat hingga nempel. Rasa ini masih seperti dulu cintaku tidak berubah. Tidak aku sia-siakan kesempatan ini, tanganku seketika melingkar di pundaknya.
Midah terkejut hendak melepas tanganku. Namun justeru aku mendekapnya erat. Selama 4 tahun aku mencarinya tentu aku tidak mau wanita ini lepas lagi.
"Dengarkan detak jantung aku Midah, aku masih mencaintai kamu," Aku tempelkan telinganya di dadaku.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks" Dia menangis sesegukan. Ketika aku usap-usap pundaknya kali ini dia membiarkan.
"Katakan Midah, apa yang harus aku penuhi, asalkan kita bisa hidup bersama saling mencintai seperti dulu. Aku rindu Tomboy yang dulu. Ijinkan aku untuk menebus kesalahan yang dulu pernah aku lakukan. Tetapi kamu harus tahu Midah, dulu itu aku hilap. Karena terlalu mencintai kamu sampai aku tidak rela jika kamu dekat dengan pria lain," Aku keluarkan semua isi hatiku.
"Bohong! Jangan bicara tentang cinta, nyatanya kamu tidak mau berjuang mencari aku. Tetapi kamu menyerah dan pindah ke lain hati kan?! Hiks hiks hiks."
"Hehehe... pindah ke lain hati?" Aku tertawa mendengar ucapannya. Selama ini aku tidak pernah mencintai seseorang selain dia, tetapi kenapa Midah bicara begitu.
"Jangan ketawa, kamu sudah menikah lagi kan?!" Ketusnya sambil menangis.
"Menikah lagi? Ngawur kamu! Sumpah Midah, selama kita berpisah aku tidak pernah mencintai wanita lain, tetapi kenapa kamu bisa menuduh aku begitu?" Cecarku heran. Selama ini aku selalu sibuk mencari-cari dirinya tetapi kenapa dia bisa menuduh aku seperti itu.
"Buktinya kamu tidak mau mencari aku kan?!" Ia berusaha lepas dari rangkulan aku, tetapi aku mengeratkan lagi.
"Kata siapa aku tidak mencari kamu Midah." Aku menjelaskan kemana saja selama 4 tahun. Aku selalu mondar mandir Jakarta tasik tetapi Midah justeru menghilang. Terakhir aku ke tasik, rumah Sumidah sudah dijulal.
Saat itu aku benar-benar prustasi, tiap kali aku curhat dengan mama. Mama hanya berkata "Itu salahmu" Aku baru tahu, ternyata begini jika wanita sudah kecewa. Aku kehilangan dua wanita yang aku sayang sampai bertahun-tahun.
"Begitulah Sumidah jangan bilang jika aku tidak mencari kamu,"
Kruk... kruuk...
Saat aku sedang cerita perut Sumidah berkokok, secepatnya ia mendorong aku. Aku sampai terjengkang. Ternyata kekuatan Tomboy sudah kembali lagi.
Aku tersenyum menatap langkahnya dari belakang, mungkin ia malu karena perutnya bersenandung. Langkahnya semakin cepat setengah berlari.
Aku yang masih tergeletak di saung segera bangun lalu mengejar.
"Midaaah... tunggu..."
Midah berhenti di depan salah satu villa kemudian masuk.
"Holee... Om kesini... mana Om, coklatnya?" Tanya Dito satu telapak tangannya menengadah.
Bukan memberikan coklat justeru aku gendong Dito, lalu aku hujani ciuman di seluruh wajahnya. Anak itu merasa aneh dengan sikapku.
__ADS_1
...~Bersambung~...