Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Tiba di kampung halaman.


__ADS_3

Lima hari kemudian, tiba saatnya keluarga Abu akan pulang ke Aceh untuk menghadiri acara pernikahan Udin. Pag ini Aslihah disibukan dengan persiapan apa yang harus dibawa. Namun, tidak seperti keluarga yang lain. Biasanya kesibukan seperti itu hanya dilakukan seorang ibu. Tetapi, Abu antusias membantu memandikan Hafis putranya. Sementara Aslihah sedang memasukkan pakaian ke koper.


"Yang penting bawa baju anak-anak saja Umma... pakaian kita di Kampung banyak kok," Kata Abu. Ia menuntun Hafis keluar dari kamar mandi kemudian ambil baju Hafis di sofa yang sudah di siapkan oleh Liha.


"Iya Bi, aku cuma bawa ini kok." Liha menunjukan baju couple untuk keluarga tercinta yang akan di kenakan saat resepsi Udin dan Novi.


"Umma... kata Abi kita mau ke rumah Nenek ya?" Tanya Hafis.


"Iya sayang... sekarang kaos kakinya di pakai ya," Titah Abu.


"Umma sudah mandi?" Tanya Abu, sambil membantu Hafis mengenakan sepatu.


"Cek! Abi... masa nggak bisa bedakan aku sudah mandi apa belum sih!" Sungut Liha.


"Bukan begitu sayang... jam 9 nanti kita harus kumpul kan." Abu khawatir yang lain sudah memunggu.


"Betul sayang..." Hafis ikut nimbrung. Abu dan Liha tertawa mendengar ucapan anaknya. Hafis seperti anak seusianya selalu mengikuti apa yang di katakan orang tuanya.


"Tapi... mau mandi atau nggak, Umma tetap cantik kan Dek?" Kelakar Abu yang sedang menyisir rambut Hafis berkata jujur.


"Mulai deh gombal." Liha mencibir.


"Jangan begitu bibir nya sayang, nanti aku tidak tahan nih." Seloroh Abu.


"Nggak tahan apanya Bi?" Sambar anak yang usianya hampir tiga tahun itu. Abu mendengar pertanyaan anaknya tercekat. Abu dan Aslihah saling pandang, kadang tidak mereka sadari bahwa ada anak kecil yang belum seharusnya mendengar obrolan orang dewasa.


"Tidak sayang... sekarang Dek Hafis ke kamar kakak ya, suruh siap-siap." Abu mengalihkan.


"Okay Bi..." Sahut Hafis, sambil berlari-lari ke kamar Aisyah.


"Kakak sudah siap belum?" Tanya Hafis langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


"Sudah Dek, lain kali... kalau ke kamar Umma maupun Kakak, harus mengetuk pintu dulu," Nasehat Ais. Padahal adiknya sudah diajari oleh Abi dan Umma, tetapi suka nyelonong saja. Anak umur tujuh tahun itu sudah bisa berpikir lebih dewasa, walaupun kadang sikap manjanya tidak berubah.


"Iya Kak,"


Setelah semuanya rapi, mereka menunggu taksi yang sudah Abu pesan. Sekitar 10 menit taksi datang lalu berangkat ke kediaman Tara.

__ADS_1


"Bi, sampai rumah Nenek berapa lama?" Tanya Aisyah. Ia duduk di tengah bersama Hafis sementara Liha dan Abu memilih duduk di belakang agar kedua anaknya lebih nyaman.


"InsyaAllah... setelah dzuhur sudah sampai sayang..." Jawab Abu.


"Oh..." Hanya itu jawaban Ais.


Lima belas menit kemudian di rooftop rumah Tara. Helikopter yang di pesan Nanta dan Tara sudah menunggu.


"Aku di depan ya," Kata Rangga anak Rembulan yang sudah TK nol besar.


"Aku juga di depan." Sahut anak bu Fatimah, dan pak Handoko, saat ini berusia 4 tahun lebih muda dari Rangga dan sudah sekolah TK nol kecil.


"Kamu di sebelah sana ya, terus aku yang sebelah sini," Rangga yang atur. Ia ingin duduk dekat kaca.


"Yaahh... Rangga mah gitu," Muhammad merengut.


"Jangan beltengkal, dosa loh, sekalang Langga disini saja," Dito merelakan tempat duduknya di tempati Rangga.


Rangga dan Muhammad memang sering berebut padahal mereka saudara.


"Iya, jangan pada bertengkar, tempat duduknya kan masih luas," Aisyah yang paling besar menengahi.


"Kak Ais... aku mau sama Kakak," Kali ini Dito yang gantian merengek.


"Nggak boleh, ini Kakak aku," Cegah Hafis tentu tidak rela kakaknya duduk bersama orang lain.


"Kok kamu pelit" Dito kesal.


"Biarin" Hafis menjawab. Keduanya lantas berdebat meributkan Ais.


"Loh, ada apa ini, kok kalian ribut?" Lerai Abu bersama Liha baru naik di ikuti Nanta, Sumidah. Bulan, Tara. Dan yang terakhir adalah Handoko dan Ibu Fatimah. Sebab mereka baru saja ngobrol di rumah Bulan.


"Mereka berebut tempat duduk Bi," Adu Aisyah.


Keempat anak itupun mengadu kepada orang tua masing-masing.


"Sekarang begini saja. Kalian duduk bersama orang tua masing-masing," Titah Abu bijak. Mereka tentu harus di dampingi orang tua. Termasuk Ais duduk bersama Liha. Sementara Hafis berasa Abu.

__ADS_1


Riuh suara anak-anak di dalam pesawat kala sudah lepas landas. Sabuk pengaman sudah terpasang di pinggang masing-masing. Anak-anak yang awalnya bertengkar kini ngobrol bersahutan dari tempat duduk masing-masing, kecuali Dito. Bocah itu tampak gelisah di samping bundanya.


"Kenapa sayang?" Tanya Sumidah, Ibu muda itu memegang pundak Dito di sebelahnya.


"Mau pipis," Ujarnya.


"Ayo," Midah melepas sabuk pengaman kemudian bediri ketika hendak ke belakang Nanta yang sedang ngobrol dengan Tara menghentikan Midah.


"Mau kemana?" Tanya Nanta, segera membuka sabuk pengaman juga.


"Dito mau pipis katanya," Jawab Midah.


"Biar sama aku saja," Nanta menuntun Dito ke toilet pesawat, sementara Midah kembali ke tempat duduknya.


Helikopter terbang lancar, sesuai perkiraan tiba saat waktu adzan dzuhur. Di samping terbang waktu pagi hari, cuaca yang cerah juga mendukung. Ketika tiba di lapangan kecamatan dimana Abu, Liha, dan Bulan di lahirkan, pesawat mendarat di tempat itu.


"Kita sudah sampai Yah?" Tanya Dito ketika di gendong Nanta keluar dari pesawat.


"Sudah..." Nanta menjawab singkat.


"Kok nggak tulun di bandala sih Yah?" Dito merasa heran. Saat pergi bersama Midah ia turun di bandara.


"Kok Dito tahu bandara? Memang pernah pergi sama Bunda?" Nanta melirik Midah yang sedang menurunkan koper.


"Pernah ke Bali waktu itu Mas," Midah menceritakan ketika ada undangan ke pulau Bali menghadiri acara seminar.


"Midah... mampir ke rumah aku dulu ya," Ajak Bulan. Ia hendak pulang ke rumah bu Fatimah. Di ikuti Tara, bu Fatimah sendiri, dan pak Handoko yang sedang menggendong Muhammad.


"Benar Nak Midah, Nanta....lebih baik kalian menginap di rumah Ibu saja." Saran Fatimah.


"Terimakasih Bu, besok setelah dari rumah Udin, InsyaAllah saya mampir," Pungkas Nanta. Nanta dan Midah numpang ojek yang mangkal di pangkalan lalu ke bandara.


Begitu juga dengan bu Fatimah mengajak keluarganya numpang ojek melewati sawah-sawah yang hanya bisa di lalui motor dan pejalan kaki.


Di tempat lain Abu mengajak anak dan istrinya ke rumah orang tuanya dulu. Karena kediaman pak Ramli ayah Abu lebih dekat dari kecamatan hanya dengan berjalan kaki.


"Aku kangen banget sama Bunda Indah Bi," Ucap Liha ingin segera bertemu Ibu kandungnya, yang sudah hampir 4 tahun tidak bertemu.

__ADS_1


"Iya... aku mengerti Liha, setidaknya kita istirahat dulu di rumah Ayah," Jawab Abu dan angguki Liha. Abu sebenarnya kasihan dengan istrinya, karena sudah beberapa tahun tidak pulang. Berbeda dengan Abu kadang satu tahun dua kali mengunjungi orang tua dan mertuanya.


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2