Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Menyogok.


__ADS_3

"Kak... boleh ya, aku kerja" Liha memohon. Karena Abu sepertinya tidak mengijinkan jika Liha bekerja. Liha selama ini sudah biasa mencari uang sendiri dan juga untuk kesibukan, jadi tidak betah jika hanya berdiam diri di rumah.


"Liha... kalau kamu kerja, Ais tidak keurus nantinya, tenang saja masalah nafkah jangan risau," Abu tentu tidak ingin jika anak-anak nya nanti terlantar tentu Abu akan mencukupi kebutuhan keluarganya.


"Kak... masalah Ais bisa aku ajak kok, ada tempat untuk bermain, ada kamar juga kan untuk Ais bobo siang," keukeuh Liha.


Abu diam, bingung memutuskan, sebenarnya cita-cita Abu punya istri cukup diam di rumah menunggunya ia pulang, tidak usah harus ikut sibuk mencari uang.


"Kak... bolehkan..." sangking inginya diijinkan bekerja Liha merangkul pinggang Abu, menempelkan kepala nya di pundak suaminya untuk yang pertama kali. Tanpa Liha tahu Abu tersenyum, membalas melingkarkan tanganya ke pundak Aslihah.


"Terserah kamu" jawab Abu. Ia berpikir lagi, sebenarnya tidak ada masalah juga jika Liha bekerja bersamanya, toh Ais ikut dengan mereka dan Abu pun bisa ikut mengawasi. Yang lebih penting dengan bekerja bersama mereka akan semakin dekat.


"Ya sudah lah! Kalau jawabnya terserah mah, sama saja, nggak ikhlas," Liha melepas rangkulan telapak tangannya beralih menopang dagu.


"Boleh... tapi ada syaratnya" jawab Abu pada akhirnya.


"Syaratnya apa?" Liha mengangkat kepalanya menatap wajah Abu.


"Aku mengijinkan tetapi kamu harus janji, anak-anak kita nanti tidak boleh terlantar," tegas Abu.


"Anak-anak?" Tanya Liha, anaknya saja hanya satu kenapa bilang anak-anak.


"Iya, kalau kamu hamil dan punya anak nanti kamu harus bisa membagi waktu" tegas Abu.


"Iya... aku janji Kak, Kakak jangan khawatirkan hal ini. Kakak tidak tahu saja, perjuangan aku agar bertahan hidup setelah suami aku meninggal, aku tuh bangun jam tiga pagi membuat kue, belum lagi aku jajakan keliling. Menenteng keranjang kue sambil menggendong Aisyah. Tetapi alhamdulillah, Ais tetap ke urus dengan baik kok," Liha sudah mulai blak-blakan.


"Masa sih..." Abu terkejut merasa kasihan mendengar penuturan Liha. "Kenapa kamu tidak pulang kampung saja Liha..." Imbuh Abu.


"Setelah Mas Imron meninggal, Bunda sih inginya begitu Kak, tapi Kakak kan tahu, di kampung aku belum pernah tani, jika bunda mengasuh Ais lantas aku berjualan kue. Sudah pasti lahan pertanian bunda akan terbengkalai"


"Ya sudah... aku mengijinkan kamu bekerja," pungkas Abu.


Siang itu waktu mereka di habiskan di rumah.


Hingga sore harinya mereka kedatangan tamu yang tak lain, Udin dan Novi. Udin menemani Novi mengantar surat pengunduran diri, walaupun bosnya sudah seperti Kakak sendiri, tetapi harus sesuai prosedur selayaknya karyawan jika mengundurkan diri.


"Kamu sudah yakin Nov?" Abu khawatir nanti Novi akan menyesal, di jaman sekarang mencari pekerjaan sangatkah sulit.


"Saya sudah yakin Kak" jawab Novi. Keputusan Novi sudah bulat lebih penting mengurus kedua orang tuanya. Karena Novi anak perempuan satu-satunya kedua kakak laki-lakinya pun tidak lagi tinggal di daerah.

__ADS_1


Selesai membicarkan pengunduran diri mereka ngobrol santai mencicipi minuman dan kudapan yang di sediakan Liha.


"Kak Novi, Udin... kemarin aku minta maaf ya, sudah berkata ketus" kata Aslihah.


"Tenang Liha... kami tahu kok perasaan kamu," Udin menjawab.


"Aku juga minta maaf Liha..."


Setelah saling memaafkan mereka pamit pulang.


**********


Di tempat yang berbeda, Anda sudah di depan rumah. Menunggu Midah akan memboncengkan teteh dan adiknya menuju mini market di pinggir jalan raya. Sesuai yang dijanjikan, Midah akan membelikan adiknya jajanan, karena tidak sempat membeli oleh-oleh.


"Mendingan kita numpang angkutan saja, terus motorkan kita titipkan di ujung gang sana, Nda" saran Midah.


"Nggak apa-apa Teh, jangan khawatir" jawab Endar santai.


"Kamu jangan ngawur Ndar, kalau ditangkap polisi bagaimana?" Sumidah tidak mau melanggar lalu lintas.


"Benar kata Teteh kalian, jangan pada ngeyel" Ambu yang baru dari dalam menengahi.


"Kalian bebas memilih jajanan masing-masing 100 ribu. Jika lebih... kalian bayar sendiri ya" tegas Sumidah ketika sudah memilih cemilan.


"Siap Teteh" mereka pun akhirnya berpencar.


Midah mendorong troli, tetapi bukan membeli jajanan seperti kedua adiknya, melainkan memilih minyak goreng dan sembako untuk Ambu.


"Puk"


Pundak nya ada yang menepuk dari belakang. Midah memutar bola matanya menangkap sosok tinggi atletis berdiri tegak. "Kak Juned" sapa Midah.


"Kamu disisni, padahal sore ini aku ada rencana main ke rumah kamu" kata Junaedi serius.


"Kak Juned yakin, mau main?" Midah pikir obrolan Junaedi tadi pagi hanya basa basi.


"Memang kamu melihat wajah aku ini bertampang bohong" Juned tersenyum.


"Nggak tahu deh" Midah pun lanjut memilih belanjaan tanpa menghiraukan pria yang sejak tadi mengikutinya.

__ADS_1


"Kak Juned nggak belanja? Kok ngikuti terus..." Midah merasa heran.


"Aku kesini cuma mau beli pulsa sudah dapat kok Sum. Oh iya, selesai kamu belanja, aku ikut kamu langsung ke rumah ya" rupanya Junaedi tidak main-main.


"Saya kesini sama kedua adik saya Kak, lagian setelah belanja, kami mau makan seblak" tolak Midah. Tetapi memang benar, setiap pulang rasanya belum puas jika belum makan makanan yang berbahan dasar kerupuk itu. Di Jakarta memang banyak penjual makanan tersebut tetapi rasanya berbeda.


"Ya sudah... Nanti aku ikut makan seblak dulu, baru ke rumah kamu" keukeuh Junaedi.


"Terserah kak Juned deh" Midah pun mengalah. Lalu kembali ambil belanjaan. Setelah mendapatkan beras, minyak, dan sembako komplit Midah menuju kasir. Midah tengok kanan kiri mencari keberadaan kedua adiknya.


"Teteh sudah selesai belanja?" Anda dan Endar menghampiri Midah yang sudah berbaris antri namun masih paling belakang.


"Sudah... mana belanjaan kalian kumpulkan disini," Midah menunjuk troli yang ia pegang.


"Kak Juned... kenalkan, ini kedua adik saya," Midah mengenalkan kedua adiknya.


"Suhanda... Suhendar..." kata Mereka mengulurkan tangan kepada Junaedi.


"Junaedi" pria itu membalas senyum Kedua pelajar itu.


"Teh... 100 rb, hanya cukup untuk membeli cemilan. Terus untuk pulsa mana?" Anda menodongkan tangan.


"Kalian ikut saya," kata Juned. Belum dijawab Midah, Junaedi mengajak kedua remaja itu menyingkir dari Sumidah.


"Ada apa Kak?" Endar dan Anda saling pandang baru kenalan pria ini sudah mengajaknya menjauh.


"Kalian mau pulsa?" Junaedi ada maksud tersembunyi.


"Iya ada apa Kak"


"Sekarang bawa belanjaan Teteh kamu pulang, saya mau ajak jalan-jalan Dia sore ini. Sebagai imbalannya... kalian masing-masing saya beri uang 200 rb. Bagaimana?" kata Juned, rupanya menyogok.



"Seperti yang Buna janjikan tempo hari rengking hadiah deretan atas 1 2 3 pulsa 50 rb.


Sementara 7 orang lainya pulsa 20 rb. Yang merasa namanya ada di atas PC nomor WA ya"


...BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2