Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Memadu kasih di atas bukit.


__ADS_3

"Assalamualaikum" Ucap Abu bersama anak dan istrinya ketika tiba di rumah panggung. Namun keadaan rumah sangat sepi.


"Ini rumah Nenek ya Bi?" Tanya Hafis begitu menanjak tangga bocah itu minta turun dari gendongan.


"Iya, ini rumah Kakek Umar, sama Nenek Ifah" Kata Abu memberi penjelasan, agar kedua anaknya tahu.


"Nanti... kalau kalian sudah istirahat, Hafis sama Kak Ais Abi ajak ke rumah Nenek Indah," Tutur sambung Abu.


"Ais sudah pernah kesini belum Ma?" Tanya Ais kepada Liha. Ais belum ingat, karena ketika Aslihah menikah dengan Abu masih berumur tiga tahun.


"Pernah, Kakak pasti nggak ingat soalnya waktu kesini dulu kamu masih kecil." Tutur Liha. Ais hanya mengangguk saja.


Mereka berempat ke kamar mandi dua tempat. Abu bersama Hafis sementara Liha bersama Ais. Masing-masing ambil air wudhu kemudian shalat dzuhur berjamaah.


"Sekarang kalian istirahat dulu," Titah Abu kepada Ais dan Hafis. Kedua anak itupun tidur siang di kamar tamu.


"Assalamualaikum..." Suara familiar dari depan ketika Abu dan Liha sedang menonton televisi di ruang tengah.


"Waalaikumsallam..." Jawab Abu dan Liha segera beranjak memberi salam bu Ifah dan pak Umar. Bu Ifah dan Liha saling berangkulan. Isak tangis bahagia dari kedua wanita menjadi perhatian Abu dan pak Umar.


"Sudah-sudah, kita ke dalam saja," Titah pak Umar.


"Ayah sama Ibu sehat?" Tanya Abu dan Liha bersamaan. Liha seraya menyusut air matanya lalu mereka sama-sama ke dalam. Pak Umar meletakkan beberapa kotak makanan yang ia bawa di atas meja.


"Alhamdulillah... Sehat Liha. Terus cucuku kemana?" Tanya bu Ifah, ia kaget tidak melihat kedua cucunya. Terutama Hafis, sejak bayi Ifah belum pernah melihatnya.

__ADS_1


"Mereka sedang bobo Bu," Jawab Liha, menunjuk kamar. Bu Ifah segera berjalan ke kamar dimana kedua cucunya tidur.


Bu Ifah berkaca-kaca menatap kedua cucunya tanpa berniat membangunkan. "Maafkan Ibu Nak, dari kamu hamil sampai melahirkan dan hingga Hafis sebesar ini pun kami tidak bisa menjenguk kalian," Bu Ifah merasa bersalah.


"Bukan Ibu yang salah, seharusnya saya yang pulang mengunjungi Ibu." Kata Liha. Sebenarnya Liha ingin sekali pulang. Namun, ada-ada saja halangannya. Mertua dan menantu itupun saling menyalahkan diri sendiri.


"Mana cucuku?" Tanya pak Umar tiba-tiba sudah berdiri di belakang bu Ifah.


"Ayah... jangan kencang-kencang suaranya. Nanti cucu kita bangun," Bisik bu Ifah. Puas memandangi cucunya yang masih pulas. Mereka ngobrol di ruang tamu.


"Ayo, ini dimakan. Ibu dapat titipan dari Ibunya Udin," Bu Ifah membuka 4 kotak nasi box karena hari ini keluarga Udin sedang selamatan sebelum acara ijab kabul esok hari.


"Jadi... Ayah sama Ibu tadi kesana?" Tanya Abu. Sambil mencicipi makanan khas daerahnya yang sudah lama tidak ia cicipi.


"Betul Ab," Jawab bu Ifah. Lalu bercerita mulai hari ini hingga selesai acara, beliau diminta membantu keluarga Udin.


Mereka berboncengan motor milik Abu. Walaupun ditinggal sejak lama motor itu masih bagus karena dirawat pak Umar.


"Bunda..." Aslihah merangkul Ibu yang melahirkan itu sambil menangis tergugu. Bu Indah pun merasakan hal yang sama. Yang namanya anak kepada ibu, walaupun kini Aslihah sudah mempunyai dua anak juga. Sikap manjanya tidak berkurang.


Abu terharu membiarkan anak dan Ibu mertua melepas kangen. Lalu Abu ke dalam meletakkan tas setelah salim tangan dengan mertua.


Bu Indah melepas pelukan lalu pandangannya beralih kepada dua cucunya.


"Cucu Nenek." Bu Indah menggendong cucu keduanya menghujani ciuman sangking senangnya. Puas mencium Hafis lalu gantian mencium Ais. Ketika berpisah dulu, Ais masih kecil bahkan bicaranya masih cadel, tetapi kini sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas.

__ADS_1


Cucu dan nenek itu pun sangat dekat, padahal baru bertemu. Wajar, bu Indah senang bercerita Ais dan Hafis mendengarkan dengan seksama.


"Nenek, Hafis boleh lihat kambing nggak?" Tanya Hafis. Ketika dalam perjalanan menuju rumah nenek Indah, Hafis melihat kambing milik warga.


"Oh, boleh, ayo Nenek temani," Nenek menuntun cucunya.


"Ais ikut Nek," Ais pun mengejar langkah nenek nya. Nenek menunggu Ais kemudian berangkat bersama-sama.


"Liha... kita jalan ke sawah yuk," Ajak Abu. Seperti biasa jika pulang ke kampung tidak melewatkan ke sawah.


"Mau ngapain kita ke sawah Bi?" Tanya Liha melirik suaminya yang berjalan di sebelah.


"Mumpung anak-anak sedang bersama Bunda, kita jalan-jalan dong," Abu merangkul pundak istrinya mesra, sambil berjalan menuju sawah di bawah bukit.


Mereka berjalan di pinggir sawah menyaksikan burung-burung yang berterbangan. Begitu melihat ada dua manusia melintas burung-burung yang sedang makan padi pun kabur.


"Kita ke atas ya, Bi," Ajak Liha bersemangat, berjalan lebih dulu menanjat tebing di susul Abu. Mereka pun tiba di atas bukit lalu duduk di atas batu. Jauh mata memandang menatap pemandangan alam lukisan sang pencipta.


"Bagus banget Bi, kita foto yuk." Ajak Liha.


"Okay..." Abu mengeluarkan ponsel lalu foto selfie berdua dengan berbagai gaya. Abu menatap wajah liha senyumnya selalu mengembang. Kini pria brewok itu bahagia telah memiliki istri seperti Liha.


"Abi ngapain ngeliat aku sampai seperti itu?" Liha salah tingkah.


"Kamu cantik," Puji Abu lalu merebahkan tubuh Liha ke pangkuanya. Abu memainkan hidung bangir Liha. Lalu menunduk mengangkat lutut, dua hidung pun saling beradu. Hingga beberapa menit kemudian, Abu kembali mengangkat kepala.

__ADS_1


"Liha, sekarang Jawab dengan jujur, apa yang tidak kamu suka dari aku?" Tanya Abu. Aslihah pun terkejut mendengar pertanyaan suaminya.


...~Bersambung~...


__ADS_2