Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Senantiasa bersyukur.


__ADS_3

"Maaasss... pelan-pelan atuh, sakit ih!" Omel Midah saat Nanta sedang main kuda. Sepanjang main kuda, Sumidah nerocos terus menerus, padahal ia menggelinjang nikmat.


"Ini juga pelan-pelan sayang, tapi jalanan sempit..." Bisik Nanta menerobos jalan sempit. Wajar, sudah menahan selama 4 tahun.


"Kalau gitu gantian kamu di atas kuda, terus aku yang jadi kuda." Maksud Nanta Midah di suruh di atas.


"Kamu nantangin, nih rasain! Kamu aku buat tidak berdaya, memang hanya kamu yang paling kuat" Saat ini Midah yang menarik tali kekang kuda sambil berisik.


"Seeettt... jangan berisik Tomboy, nanti Dito kesini loh, kamu ini kayak kucing saja. Kalau kawin bukan diam, tetapi teriak-teriak," Jawab Nanta. Tetapi dalam hati memuji kekuatan istrinya.


"Kalau gitu udahan dulu, sudah tiga kali loh," Ucap Midah pura-pura lelah, padahal masih mampu beberapa gencatan.


"Terus, terus, teruuuussss..."


Malam harinya pasutri somplak baru keluar dari kamar setelah di ketuk pintunya oleh bibi di ajak makan malam.


"Bunda tadi ngapain, lama banget di kamal Om?" Tanya Dito cemberut. Pasalnya Dito mondar mandir di depan kamar Nanta, tetapi dilarang mengetuk pintu oleh Surti. Saat ini Dito bersama Zarina sudah duduk di kursi meja makan.


Midah tersipu malu, menatap Zarina mengulum senyum mendengar celotehan Cucu nya. Zarina senang menatap rambut menantu dan putranya sama-sama basah.


"Oh, Bunda lagi jajalin baju baru," Jawab Midah tidak seluruhnya berbohong. Karena Midah menjajal pakaian yang dibelikan Nanta.


"Eeee... Dito kok cemberut," Nanta menarik kursi lalu duduk di samping istri nya dan Dito.


"Tadi Dito mau ikut Bunda ke kamal Om, tapi nggak boleh sama Mbak Sulti," Adu Dito.


"Dito... mulai sekarang panggil Om Ayah, karena Om Ayah kamu," Kata Nanta. Sumidah dan Zarina hanya mendengarkan saja.


"Ayah? Benelan Bun?" Tanya Dito menatap Midah ingin memastikan.


"Betul sayang... Om Nanta ini Ayah kamu yang pernah Bunda ceritakan." Jawab Sumidah. Mengatakan bahwa Nanta sudah pulang dari luar negeri seperti yang pernah Midah katakan kepada Dito tiap kali Dito bertanya tentang ayahnya.


"Yeee... Dito punya Ayah..." Sorak Dito. Nanta tersenyum memeluk pundak putranya.


"Terus... Oma Zarina ini Nenek Dito," Sambung Sumidah.


"Holee... punya Nenek dua..."


Kebahagiaan meliputi seluruh penghuni rumah itu.


"Ma... minggu depan aku mau mengundang teman-teman, dan kerabat dekat. Mengumumkan jika aku punya anak laki-laki," Kata Nanta bangga.


"Bagus sekali Nanta, Mama juga mau mengundang teman-teman Mama." Mama menutup pembicaraan. Mereka lantas makan malam.


**********

__ADS_1


Seminggu kemudian, di hutan puncak Bogor. Di sinilah pesta diselenggarakan. Menyambut kedatangan putra nya, Nanta tidak tanggung-tanggung mengadakan pesta selayaknya pernikahan dulu. Ia bermaksud mengulang resepsi pernikahan yang dulu sempat gagal.


"Sumidah... kamu sudah punya anak sebesar ini, tapi tidak pernah memberi tahu kami," Sesal Bulan mantan majikanya.


"Yang penting sehat semua Non," Jawab Midah menoleh ke kiri mengusap kepala putranya lembut. Saat ini Sumidah, Nanta, dan Dito sedang berdiri di panggung selayaknya pengantin, namun kali ini bersama Dito.


"Pantas, dua minggu yang lalu loe di puncak menghilang, ternyata ini penyebabnya." Tara mengusap kepala Dito.


"Begitulah Ta, gw lagi berusaha memecah hati sekeras batu," Sindir Nanta melirik Sumidah, yang hanya menjeb saja.


Setelah ngobrol sebentar, Tara dan Bulan turun dari panggung.


Ananta dan Sumidah dikejutkan oleh seorang pemuda yang tidak asing bagi mereka. Pemuda dengan senyum khasnya naik ke panggung bersama gadis cantik.


"Kak Juned, Aulia.... kalian jadian?" Tanya Sumidah. Ia tersenyum ketika dua tetangga kampungnya yakni Juned dan Aul saling melirik.


"Iya Sumidah, tidak lama lagi, aku akan menikahi sahabat kamu ini," Jawab Juned, melirik Aul di sebelah nya.


Aulia tersipu malu.


Juaedi Lalu menjabat tangan Nanta. Pria yang dulu pernah selisih paham hingga menyebabkan Sumidah dan Nanta ribut besar dan akhirnya pergi. Kini sudah tidak ada dendam diantara mereka.


"Selamat Sumidah, ternyata pria ini yang dulu sering kamu ceritakan kepadaku." Aulia berbisik sekaligus mencium pipi sahabatnya.


"Terimakasih Aul, aku doakan kamu dan Kak Juned juga lancar menjalani pernikahan nanti,"


"Siapa itu Aul?" Tanya Nanta masih menatap langkah Juned.


"Aulia itu teman SMK aku Mas, Jika bukan karena Dia, mungkin aku tidak bisa seperti sekarang," Sumidah menceritakan awal mula merantau di Bogor menemui Aul, dan di situlah memulai jualan. Sebagai balas budi Midah mengangkat Aul menjadi orang kepercayaan nya.


"Tapi setelah kita berkumpul apakah kamu masih akan melanjutkan usaha kamu Midah?" Tanya Nanta serius. Jika Midah menyetujui tentu Nanta ingin Midah berhenti bekerja cukup Nanta yang mencari uang.


"Loh... kenapa tidak lanjut? Itu sudah menjadi dunia aku Mas, jadi aku akan terus mengembangkan usaha aku," Jawab Sumidah tidak mau dibantah.


Tidak ada pilihan lain bagi Nanta selain mendukung istrinya. Nanta percaya, walaupun sambil kerja. Toh, Midah bisa merawat Dito hingga tumbuh menjadi anak yang sehat.


Obrolan berhenti karena pasutri yang tidak asing dan kedua anaknya naik ke atas panggung. Dia adalah Abu Miftah dan Aslihah. Abu menggendong putranya buah cinta nya dengan Aslihah. Sementara Liha menuntun Aisyah.


"Selamat Nanta, pesta pertama dulu di tasik, pesta kedua di Bogor, lantas pesta ketiga nanti pasti di Jakarta," Kelakar Abu.


"Usulan yang bagus Ustadz," Nanta menoleh Midah.


"Sudahlah Kak, capek deh... pesta melulu." Tolak Midah.


"Sumidah... kamu kemana saja, kami semua kebingungan mencari kamu?" Tanya Aslihah, serius. Ia heran lama tidak penah bertemu Midah begitu datang menjadi wanita sukses.

__ADS_1


"Hehehe... aku semedi untuk sementara waktu Kak." Kelakar Sumidah.


"Dan ternyata semedi kamu berhasil Midah. Pulang-pulang membawa anak yang tampan," Aslihah memegang dagu Dito.


"Siapa namanya sayang?" Tanya Aslihah menatap Dito tersenyum.


"Dito Tante..." Jawab Dito lalu pandangannya tertuju kepada Aisyah.


"Dito... kenalan sama Kak Ais," Sela Midah.


"Dito..."


"Aisyah..."


Setelah berkenalan, Dito mengajak Ais duduk di sebelahnya. Dua bocah itu cepat sekali akrab.


"Oh iya Midah, saya juga sekalian mau kasih undangan," Aslihah mengeluarkan undangan pernikahan berwarna biru dari dalam tas.


"Siapa yang menikah?" Sambar Nanta, lalu ambil undangan dari tangan Midah.


"Udin sama Novi Ta," Abu yang menjawab.


"Waah... akhirnya menikah juga mereka," Kata Nanta sambil membaca undangan.


"Undangannya di Aceh, nanti kita datang ya Mas," Midah bersemangat.


"Okay... kenapa tidak" Nanta pun antusias. Nanta ingin mengenang masa remaja ketika masih kuliah KKN di daerah tersebut.


"Kalau gitu kita barengan saja," Usul Abu. Sebelum mendapat undangan pun Abu dan Aslihah berencana pulang kampung. Karena orang tua dan mertua mereka belum pernah melihat Hafis cucu keduanya.


"Ide yang bagus Ustadz," Nanta setuju.


Setelah sepakat akan menghadiri acara pernikahan Udin. Nanta dan Abu akan berangkat bersama, dari jauh hari, Nanta akan booking pesawat.


Setelah mencicipi hidangan, Abu dan Liha pamit pulang.


"Liha..." Panggil Abu sambil menyetir, saat ini sedang dalam perjalanan pulang.


"Apa?" Liha menoleh suaminya.


"Apa kamu juga Ingin seperti Midah dan Nanta. Pernikahan kita dirayakan?" Tanya Abu serius. Abu kasihan kepada istrinya, ketika menikah dulu hanya dihadiri kerabat dekat saja.


"Pertanyaan apa sih Bi, aku tuh sudah bahagia dengan apa yang Allah berikan. Punya dua anak yang sehat, dan suami yang baik seperti Abi." Jujur Liha dewasa.


"Terimakasih Liha, kamu sudah membuat hidupku berwarna," Abu mengangkat tangan kiri mengusap kepala Liha. Abu bangga Istrinya bukan orang yang iri dengan apa yang orang lain lakukan, dan orang lain miliki. Apa pun yang Abu beri Liha senantiasa bersyukur.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2