
Setelah Liha menceritakan kepada Abu jika Midah menghilang wajah Abu tampak berubah. Sesaat di meja makan menjadi hening.
"Kenapa Kak Abu diam, takut jika Midah hilang? Jika ingin mencari Midah, lakukan saja," tukas Liha, tentu hanya di mulut dalam hati tidak ikhlas baru saja Liha lega sedikit kini menjadi sesak, ternyata Abu masih memikirkan Midah.
"Liha... jika terjadi apa-apa dengan Sumidah, aku pasti merasa bersalah karena gara-gara aku dia sampai pergi" jujur Abu.
"Gara-gara Kakak? Memang Kak Abu pernah berjanji ingin menikahi lantas berkhianat? Nggak kan?!" Liha merengut kesal.
"Liha... Bukan begitu juga kali?" Abu salah lagi.
"Terus... apa yang akan Kakak lakukan?" Liha mencoba untuk tenang.
"Mungkin sebaik nya aku ikut mencari dulu ya, jalan-jalanya nanti kalau sudah agak siang," ijin Abu, ia tahu jika Liha tidak suka dengan keputusan nya, tetapi Abu merasa harus bertanggungjawab akan hilangnya Midah.
Liha hanya diam, sebenarnya bukan jawaban itu yang Liha inginkan, toh mencari Midah bisa menyuruh orang, bukan lantas Abu sendiri yang pergi. "Tadi Kak Abu sudah berjanji dengan Ais, sebaiknya Kakak ijin kepadanya, bukan kepadaku," Liha segera berdiri membawa piring kotor kemudian mencucinya.
Tidak lama kemudian, Abu sudah ganti baju menghampiri Liha yang sedang menyusun piring ke dalam Rak.
"Liha... aku sudah ijin Ais, aku pergi dulu ya"
Liha tidak menjawab mengelap tangan dengan handuk kecil yang di gantung, kemudian salim tangan Abu. Jika ditanya ikhlas atau tidak, Abu mencari Midah sudah pasti tidak ikhlas. Tetapi nyatanya Abu tergesa-gesa meninggalkan rumah. Liha menarik napas berat mendengar Abu starter motor menahan sesak.
Liha kembali ke kamar disana ada Ais sedang bermain masak-masakan, menyebabkan kamar sedikit berantakan.
"Umma.. hp Umma tadi belbunyi," kata Ais.
"Oh iya, Umma lihat dulu ya" Liha kemudian ambil handphone miliknya melihat siapa yang telepon ternyata bu Fatimah. Liha segera telepon balik.
📞"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
"Maaf Bu... Ibu tadi telepon saya, saya sedang di dapur jadi tidak mendengar panggilan Ibu"
📞"Tidak apa-apa Liha... Ibu hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja kan Nak? Bulan sudah cerita sama Ibu, katanya ada salah paham, yang sabar. Rumah tangga itu menyatukan dua hati yang berbeda. Tidak lantas sehari dua hari bisa klop, bisa-bisa satu hingga dua bulan bahkan lebih rumah tangga kita bisa seirama" nasehat bu Fatimah dalam telepon.
"Kami tidak ada apa-apa Bu"
"Ya sudah Nak, gitu saja, hanya satu pesan Ibu. Yang sabar."
"Terimakasih Bu..."
"Sama-sama Nak"
Tut.
Liha menutup handphone, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Ia merasa tidak nyaman masalah rumah tangganya diketahui banyak orang. Bukan bermaksud membandingkan rumah tangga nya yang terdahulu. Rumah tangganya dengan Imron bukan tanpa masalah, tetapi cukup ia dan Imron yang tahu. Tentu bukan masalah kesetiaan yang menjadi persoalan, karena Imron pria yang cukup setia. Namun Liha dan Imron di uji dengan masalah keuangan yang pas-pasan hanya cukup untuk makan.
Tak jarang membayar kontrakan terlambat, kadang Ais sakit pun tidak ada uang untuk berobat. Namun semua tidak ada yang tahu, termasuk bunda Indah. Dan pada akhirnya Liha memutuskan untuk berjualan makanan online ketika Imron masih hidup untuk membantu suaminya. Ketika Imron meninggal tentu penghasilan nya tidak cukup jika Liha hanya mengandalkan berjualan online. Liha terpaksa berjualan kue keliling sambil menggendong Aisyah tentu bukan hal yang mudah.
10 menit kemudian, Ais beranjak dari lantai bosan bermain, gadis cilik itu merasa sepi, karena Umma tidak ada suara. Ais pun ikut naik ke atas ranjang tidak mau mengganggu tidur Umma, memelih tidur di samping Liha hingga anak dan Ibu itu tidur bersama.
Di depan rumah, tampak Abu mengurungkan niatnya mencari Midah. Ia memilih membayar orang daripada mengingkari janji dengan anak dan istrinya. Abu merasa bersalah pasti istrinya saat ini sedang marah, padahal susah payah ia membujuk Liha. Namun ketika berhasil justeru mengecewakan Liha kembali.
Setelah memasukan motor ke garasi, Abu segera masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah cukup sepi Abu deg degan ia pikir Liha dan Aisyah meninggalkan rumah.
Abu mengecek seluruh kamar, dengan perasaan campur aduk, dan yang terakhir adalah kamar Ais. Perlahan Abu membuka pintu mengintai sedikit, senyum merekah kala menatap Aslihah dan Aisyah tidur pulas. Abu melebarkan pintu kamar masuk ke dalam, lalu menutup pintu kembali. Kakinya berjalan perlahan agar langkahnya tidak berbunyi menuju kamar mandi, cuci kaki dan tangan kemudian menyusul tidur di belakang Liha dengan tangan melingkar di pinggang Liha, mungkin sangking pulas tidur nya hingga Liha tidak terusik.
************
"Bibi sudah telepon keluarga Sumidah belum?" Tanya Bulan barang kali Midah pulang ke kampung.
"Sudah Non, tetapi Sumi tidak pulang kampung" jawab bibi yang sedang membereskan meja makan.
__ADS_1
Obrolan Bulan dan bibi terdengar oleh Ananta, yang sedang berbincang-bincang dengan Tara mengenai pembelian hotel dari salah satu pengusaha yang sedang menghadapi masalah keuangan dan saat ini masih menawar harga. *Jangan-jangan tomboy benar-benar bunuh diri jadi hantu, terus... gw di cekik. Hiii... serem.
"Kenapa loe?" Tara mengerutkan kening menatap Nanta yang sedang menggerak-gerakan bahu selayaknya orang yang ketakutan.
"Nggak" Nanta meneguk kopi buatan bibi*.
"Terus... Midah kemana ya Bi" Bulan pagi ini sudah mencari keliling Jakarta dengan motor bersama Tara, tetapi tidak menemukan keberadaan Sumidah.
"Memang tomboy kemana?" Tanya Nanta kepada Tara. Akhirnya penasaran juga.
"Kayaknya lagi ada masalah tuh anak, sampai kabur gitu," jawab Tara, namun tidak menceritakan secara detail. Tara sendiri tidak begitu bingung seperti Bulan.
"Tomboy kabur?" Intonasi suara Nanta agak meninggi, hingga terdengar oleh Bulan.
"Iya Kak, saya mau mencari Dia lagi, tetapi menunggu supir Papa Bisma," jawab Bulan. Saat ini ingin mengajak Rangga ikut, jika mengendarai motor tentu tidak tega.
"Kemarin sore saya bertemu Dia Lan,"
"Ketemu dimana Kak?" Bulan terkejut.
Nanta menceritakan ketika Midah naik ke atas menara dan ketika Nanta ingin menolong justru di tinggal turun Midah. Alhasil Nanta yang justru terjebak di atas menara tidak berani turun hingga menghubungi pemadam, tidak ada yang di tutupi.
"Hahaha... jadi loe ngompol gara-gara takut Ta? Ahahaha payah loe!" ledek Tara, karena Nanta buka kartu.
"Mas... kok ketawa nya sampai gitu sih..." Bulan mengingatkan suaminya.
"Sekarang gw mau mencari Midah, loe mau pulang atau menunggu disini?" tanya Tara.
"Gw ikut, biar gw yang nyetir nggak usah menunggu supir," Nanta antusias.
...Bersambung....
__ADS_1