Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Teteh mau kawin.


__ADS_3

"Midah, jika saya merestui kalian, apakah kamu bersedia menikah dengan Ananta?" Tanya mama Zarina. Wanita berwajah tegas namun tampak mengayomi itu, menunggu jawaban dari gadis tomboy.


Mendadak ruangan menjadi sunyi senyap, Midah tidak menyangka bahwa nyonya Zarina akan bertanya seperti itu. Terkejut jelas iya, Sumidah merenung. Jika menjawab iya, mampukah dirinya masuk ke kalangan orang-orang berkelas? Walaupun selama ini Ia sudah berada di tengah-tengah mereka, tetapi hanya sebatas kerja. Bukan sebagai istri konglomerat. Beberapa pertanyaan muncul di benak Midah.


"Sumidah... kamu mendengar pertanyaan saya?" Tanya Zarina menatap mata Midah tampak penuh keragu-raguan.


"Bolehkah hal ini saya rundingkan dengan Ambu terlebih dahulu nyonya?" Midah balik bertanya.


"Itu sudah pasti Midah... tetapi jawab dulu, apakah kamu bersedia."


Midah menatap Nanta di sampingnya, apakah ini benar? Atau sekedar bermimpi. Pria yang tidak pernah bicara serius itu melamarnya. Batin Midah


"Jawab iya, Midah... gw sayang kamu," bisik Nanta agar tidak terdengar mama Zarina.


"InsyaAllah nyonya..." Mendengar bisikan cinta, naluri Midah yang mejawab tanpa ragu lagi.


"Yayyy..." sorak Nanta seperti bocah kecil yang di belikan balon. Seketika pelukan hangat merengkuh tubuh Sumidah tanpa aba-aba.


"Iihh... lepas!" Sewot Midah. Perasaan risi karena belum pernah melakukan itu dan malu kepada Zarina bertumpuk menjadi satu.


"Nanta... dengar Kan!" Omel mama, menatap tajam wajah Nanta. Asumsi Mama jika putranya sudah biasa melakukan itu semakin kuat.


"Nanta, kamu bisa sabar tidak." Dengus mama, nyambung ucapan di atas.


"Iya Ma, reflek" Nanta terkekeh menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, lalu menunduk. Tatapan dua wanita yang seperti burung hantu membuatnya ngeri.


"Sebaiknya kalian makan malam dulu" merasa sudah cukup menanyakan ini itu, mama mengajak Midah ke meja makan.


"Sebelum kesini tadi saya sudah makan Nyonya" tolak Midah secara halus. Memang benar, untuk mempertahankan diet nya, Midah selalu makan sebelum jam tujuh.


"Tidak boleh menolak." Ditariknya lengan Midah melanjutkan ke meja makan. Demi rasa hormatnya Midah menurut. Midah hanya makan sayur dan buah.


"Kok cuma makan sayur saja Tomboy?" Tanya Nanta melirik Midah di samping nya.


Midah hanya menoleh sekilas, tidak menjawab. Untuk menurunkan berat badan hingga mencapai 10 kg, tidaklah mudah bagi Midah. Maka Midah tidak akan goyah. Berat badan Midah yang awalnya 60 kg, kini menjadi 50 kg. Padahal tinggi badan hanya 160 cm.


"Tomboy? Panggilan apa itu?" Zarina terkejut.


"Ngga Ma, hanya untuk seru-seru-an" jawab Nanta.


Midah hanya tersenyum menatap mama Zarina. Mereka pun makan bersama. Setelah makan ngobrol santai sejenak, kemudian Midah pamit pulang, tentu di antar Nanta.


"Sampai besok Tomboy" kata Nanta ketika tiba di depan rumah Tara. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Midah. Kini Midah merasa canggung di perlakukan seperti itu. Mungkin karena tidak biasa di layani jadi terasa seperti bukan dirinya.


"Sampai besok" jawab Midah pendek, seraya melangkahkan kaki begitu saja.

__ADS_1


"Tomboy... begitu saja..." kata Nanta masih memegangi pintu.


"Begitu saja apanya?" Midah menghentikan langkahnya. Tidak mengerti apa yang di maksud Nanta.


"Tanda jadinya mana?" Kelakar Nanta.


"Tanda jadi apa sih... ribet amat dech." Omel Midah.


"Uummm..." Nanta terpejam seraya memonyongkan bibirnya. Satu menit kemudian, sesuatu yang hangat menempel di bibirnya. Bau martabak terendus di hidung Nanta lantas membuka mata perlahan.


"Ahahaha..." tawa renyah terdengar menyebalkan di telinga Nanta.


"Ah loe Ta! Merusak momen romatis gw saja loe." Nanta pura-pura kesal. Ternyata Tara yang baru pulang membeli martabak sengaja menjahili sahabatnya. Lalu menyuruh Midah masuk dengan kode mengangkat tangan.


"Lagian loe! Awas macam-macam sama Sum, gw aduin bini gw." Ancam Tara.


"Biarin! Calon bini gw ini." Nanta bersandar di mobil melipat kedua tangan di depan dada.


"Loe jadian sama Sum?" Tara sudah menduga bahwa Nanta selama ini mencintai asistennya itu.


"Begitulah kira-kira"


"Sebaiknya kita masuk Ta, jangan ngobrol di pinggir jalan begini." Kata Tara balik badan.


"Gw kali ini nggak masuk Tara, nyokap sudah wanti-wanti. Masa gw tidak boleh di rumah loe malam-malam. Takut Midah gw apa-apain kali, padahal kalau gw mau nakal, bisa saja kan saat di perjalanan tadi mengajaknya mampir ke hotel." Kelakar Nanta.


Sementara di dalam, setelah salin baju, Midah menemui Bulan yang sedang makan martabak isi keju. Midah menceritakan jika keluarga Nanta bermaksud silaturahmi ke Tasik.


"Jadi... Nanta mau melamar kamu Sum, secepat itu?" Tanya Bulan.


"Sebenarnya belum melamar Non, hanya silaturahmi," imbuh Midah. "Jika Nona mengijinkan, besok saya mau ijin pulang dulu Non, paling hanya dua hari." Tutur Sumidah, masalah seperti ini tentu tidak bisa hanya bicara melalui telepon.


"Iya... kamu pulang di antar Nanta kan" Bulan memastikan.


"Tidak Non, saya mau naik bus saja"


Bulan hanya menganggukan kepala.


Selesai berbicara, Midah kemudian ke kamar. Ia memutuskan untuk tidur agar bisa bangun pagi-pagi sekali.


Keesokan harinya, setelah subuh. Sumidah menyelesaikan pekerjaannya agar tidak merepotkan bibi. Mencuci dan menggosok pakaian khusus untuk Rangga. Sebab pakaian yang lain sudah ada yang setrika pulang pergi.


"Kamu jadi pulang Sum?" Tanya bibi mengejutkan Midah.


"Jadi Bi, maaf, akhir-akhir ini aku sering meninggalkan bibi kerja sendiri," kata Midah. Midah kasihan bibi. Beliu jarang sekali pulang kampung.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Sum, kamu hati-hati di jalan" pesan bibi. Bibi menatap gadis yang rambutnya di kuncir kuda itu tersenyum.


"Bibi kenapa senyum-senyum?" Midah mendongak, setelah mencabut kabel strika.


"Sumidah... bibi teh seneeeng... banget. Karena kamu sabar dan menyadari bahwa jodoh itu sudah di atur oleh Allah. Sekarang ini kamu telah memetik hasilnya." Tutur bibi.


"Maksudnya Bi" Midah tidak paham.


"Bukankah kamu dulu tergila-gila dengan Abu, dan ternyata kalian tidak berjodoh kan. Tetapi... Allah telah menggantikan jodoh seperti Nanta, siapa yang tidak mau sama pria itu" kata bibi bangga.


"Iya Bi, saya mengerti"


"Benarkan kata saya Midah, dicintai itu lebih indah daripada mencintai," Nasehat bibi panjang lebar.


"Iya Bi, sekarang semua sudah selesai saya pamit ya."


"Iya Sum, semoga kalian di lancarkan"


"Aamiin..."


Midah pamit Rembulan dulu sebelum akhirnya berangkat, tidak membawa apapun selain tas yang di slempang. Sebab di Tasik, baju-baju Midah masih tersimpan rapi di lemari.


Midah memesan taksi menuju terminal, 30 menit kemudian tiba di tempat. Midah memui agen dimana ia pesan tiket online.


"Bus nya sudah siap Mbak, sebentar lagi berangkat" kata penjual tiket.


"Baik Pak" jawab Midah berjalan cepat masuk ke dalam Bus. Di dalam bus tidak banyak penumpang. Wajar, karena bukan hari libur. Begitu bus berjalan Midah pun tidur pulas.


"Mbak, bangun Mbak. Sudah sampai" Kernet bus membangunkan Midah. Sumidah mengucek matanya menatap luar kaca, ternyata sudah tiba di terminal Taksik.


"Teteh..." panggil Anda dari kejauhan. Rupanya Midah minta di jemput kira-kira jam 10 dan ternyata tepat waktu.


"Anda..." Midah tersenyum senang.


"Naik Teh, Ambu sudah menunggu" kata Anda. Adik Midah yang kedua itu sudah di atas motor. Midah pun segera naik dengan mengenakan celana jins memudahkan midah untuk duduk.


"Gas." Kata Midah.


"Siap... pegangan Teh."


Motor pun melesat pergi meninggalkan termisal. Di atas motor kakak adik itu pun ngobrol, walaupun keras-keras.


"Teteh tumben cepat pulang, ada apa?" teriak Anda.


"Teteh mau kawin Nda" sahut Midah asal.

__ADS_1


"Apa Teh, mau kawin?"


...Bersambung....


__ADS_2