Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Terluka parah.


__ADS_3

Zarina bersama Ambu di temani Anda berangkat ke Jakarta dengan taksi. Yang pertama mereka tuju adalah rumah sakit sesuai alamat yang di berikan supir pribadi Zarina.


Sementara Udin setelah menutup apotek menuju apartemen xxx. Begitu tiba, Udin memarkirkan motornya lalu bertanya kepada satpam minta cek cctv. Tentu tidak semudah itu bisa melakukan seperti yang diperintahkan Abu.


"Pak, tolong saya, kemarin ketiga orang teman saya ke apartemen ini, tetapi hingga kini belum kembali dan tidak ada kabar," Udin menjelaskan panjang lebar seperti yang diceritakan Rembulan sahabatnya.


"Teman kamu kesini, terus tidak ada kabar?! Mungkin kelayapan kali?! Mana mungkin, di apartemen ini bisa hilang. Memang apartemen ini ada hantunya apa?!" Sanggah satpam, dengan nada ketus.


"Baiklah Pak, jika Bapak tidak mengijinkan saya memeriksa cctv, saya akan telepon pemilik apartemen ini agar Bapak di pecat!" Ancam Udin, tentu tidak sungguh-sungguh.


"Ahahaha... kamu ini sok akrab! Mengaku-ngaku kenal pemilik apartemen!" Satpam tertawa meremehkan.


"Bapak tidak percaya? Lihat ini." Udin membuka handphone lalu menunjukkan galeri foto bersama Tara, Nanta, Sumidah, Bulan, dan Udin sendiri..


Satpam menatap lekat wajah Udin, tanpa bicara lagi, menuju lantai 4 sesuai yang ditunjukan pemuda berperawakan sedang itu.


Udin tersenyum penuh kemenangan seraya mengikuti satpam.


"Nomor berapa apartemen nya?" Tanya satpam menghentikan langkahnya.


"Nomor 4 paling ujung," Jawab Udin. Mereka pun menuju tempat tersebut. Dari kejauhan mata Udin menyipit kala melihat anak kecil yang ia kenal sedang di ajak bicara oleh pria kira-kira berusia 60 tahun.


"Aisyah..." Panggil Udin.


"Om Udin..." Aisyah berlari meninggalkan kakek itu menghambur ke pelukan Udin. "Om... hua aaa... Ais mau pulang Om..." Tangis Ais tiba-tiba pecah.


"Ais..." Udin berjongkok mengusap punggung anak sahabatnya itu.


"Kamu baik-baik saja sayang..." Tanya Udin, ketika Ais melonggarkan pelukanya. Udin menangkap gurat kesedihan di wajah Ais.


Matanya memang tampak cekung padahal baru sehari semalam tidak bertemu Umma. Namun rupanya Ais hanya makan kemarin siang ketika di suapi Endar.


"Om, tolong antar Ais ke rumah Abi sama Umma," Rengek Ais.


"Pasti sayang... sekarang Ais jangan menangis, jangan takut lagi, kan sudah ada Om." Hibur Udin, tersenyum. Ais menjawab dengan anggukan.


Udin menatap kakek yang sejak tadi hanya berdiri menatap interaksi antara Ais dengan Udin. Kakek itu tahu jika Udin minta penjelasan darina.

__ADS_1


"Kamu siapa Nak?" Tanya pria berkumis tegas. Seperti berjiwa pemimpin.


"Saya sahabatnya Abu, suami Aslihah Pak, lalu bapak ini siapa?" Udin, bertanya balik.


"Saya Ilham, kakek nya Ais, saya minta maaf, sebenarnya ingin segera memulangkan Ais. Tetapi untuk saat ini saya tidak di ijinkan keluar kota," Pak Ilham memaparkan.


Lalu apakah Bapak melihat ketiga teman saya termasuk Tara, pemilik apartemen ini?" Tanya Udin santun.


Flashback on.


Ketika sedang dalam perkelahian Tara dan Nanta bapak belur dihajar oleh anak buah Citra. Pasalnya, anak buah bu Citra menggunakan senjata tajam untuk melumpuhkan Tara dan Nanta yang sudah dalam keadaan terdesak hingga teluka parah. Hanya tinggal Sumidah justru masih bisa menangkis serangan lawan.


HENTIKAN!" Pekik seorang kakek yang tak lain adalah Ilham suami Citra, menghentikan pertikaian. Darah sudah berceceran di lantai teras, sungguh membuat hati pak Ilham miris. Ketiga pria itu menyeringai menatap wajah pak Ilham.


"Apa kakek Tua! Anda mau mengantarkan nyawa rupanya. Hahaha..." ketiga pria itu, tertawa terbahak-bahak.


Kesempatan itu digunakan Sumidah untuk menghubungi kantor polisi, melaporkan kejadian.


Prak!"


Handphone Sumidah di tendang salah satu pria hingga hancur berantakan. Bagusnya Sumidah sudah berhasil menghubungi polisi. Bersamaan dengan itu pak Ilham pun menghubuni Satpam apartemen.


"Ringkus pria pengganggu ini." Tegas pak Ilham belum mengetahui jika ketiga pria itu adalah suruhan istri nya.


Lima satpam bertarung dengan tiga pria.


"Pak, tolong bantu mengangkat teman-teman saya." Kata Sumidah kepada empat satpam lainya yang baru datang. Ia segera mengangkat kepala Nanta yang sudah tidak sadarkan diri, menidurkan di pangkuannya.


"Baik Mbak, mari saya antar ke rumah sakit terdekat," Jawab satpam mengangkat tubuh Tara, yang tidak jauh beda dengan Nanta. Namun masih sadar.


"Pak, tolong bawa teman-teman saya ke parkiran, nomor mobil. 5**** disana ada supir menunggu."


"Baik Mbak." Empat satpam menggotong Nanta dan Tara, pergi dari tempat itu. Sum mengikuti dari belakang.


"Tunggu Mbak" Cegah pak Ilham menahan langkah Midah. "Sebenarnya ada apa ini?" Tanya pak Ilham belum bisa mencerna apa yang terjadi.


"Sebelum saya jawab, siapa Bapak ini?" Sumidah balik bertanya.

__ADS_1


"Saya penyewa apartemen ini," Pak Ilham menunjuk pintu apartemen.


"Berarti Bapak suami Bu Citra?" Tanya Sumidah, walaupun pikiranya campur aduk. Namun otaknya masih bisa berpikir.


"Betul Nak, ada apa dengan istri saya, apa yang Dia lakukan?" Tanya Ilham. Sebenarnya sudah tahu tabiat istrinya. Tetapi tidak tahu apa yang Citra lakukan.


Sumidah menatap mata pak Ilham tampak tidak berbohong. "Pak, saya hanya berharap Anda orang baik, tidak seperti istri Anda. Bu Citra menyekap Aisyah di dalam. Tujuan kami kesini sebenarnya ingin membebaskan anak sahabat saya. Tetapi rupanya Bu Citra menyuruh orang suruhannya menghajar kami. Jika sampai terjadi sesuatu dengan kedua sahabat saya, siap-siap masalah besar menghadang istri Bapak." Lantang Sumidah.


"Pak, tolong bebaskan Ais, Dia di dalam menangis terus," Pungkas Sumidah, kemudian berjalan terseok-seok karena kakinya pun sedang terluka.


Nguing, nguing, nguing.


Suara mobil polisi sudah berada di bawah apartemen. Pak Ilham segera masuk ke dalam, membiarkan satpam melawan penjahat.


Di dalam tampak sepi, pak Ilham membuka pintu kamar, tampak anak kecil sedang menangis meringkuk di pojokan.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya Pak Ilham, mendekati Ais yang sedang menutup wajahnya takut akan kehadiran Ilham.


"Jangan takut sayang... Kakek akan menolong kamu." Kata pak Ilham. Kelembutan Ilham rupanya mampu meluluhkan hati Ais.


"Kek, tolong Ais, Ais tidak mau disini, Ais mau bertemu Umma," Jawah Ais, sesekali mengusap air matanya.


"Memang Nenek kamu kemana Nak?" Pak Ilham mengusap kepala Ais yang berkerudung.


"Nenek balusan loncat dali jendela itu Kek," Polos Ais menunjuk Jendela yang sudah terbuka. Pak Ilham menarik napas panjang.


Sementara diluar, para penjahat sudah di ringkus polisi. Kemudian dua polisi lainya menggeledah ke dalam. Polisi sudah menerima laporan dari tasik bahwa Citra telah menculik Ais. Di perkuat laporan Sumidah satu jam yang lalu.


Pak Ilham bergegas keluar sambil menggendong Aisyah.


"Anda harus ikut kami ke kantor Pak." Tegas polisi. Setelah mencari keberadaan Citra namun tidak menemukan.


"Tetapi saya tidak bersalah Pak, apa Bapak tega, saya membawa cucu saya ini." Pak Ilham menunjukkan Ais, yang sedang menangis dalam gendongan.


"Kami hanya menjalankan Tugas, jika Anda terbukti tidak terlibat kami akan membebaskan Anda."


Flashback off.

__ADS_1


"Begitulah kejadiannya Nak, tadi pagi saya baru pulang dari kantor polisi. Saya di bebaskan dengan cacatan tidak meninggalkan kota ini. Tadi malam ketika kejadian saya baru pulang dari luar negeri mengurus bisnis saya. Jadi saya tidak tahu menahu jika kedatangannya istri saya ke Jakarta membuat ulah."


...Bersambung....


__ADS_2