
Di tempat tidur Liha gelisah membayangkan yang tidak-tidak. Jangan-jangan kehidupan Abu di kota ini tidak sebaik yang orang kampung duga. Liha tahu dari Bulan sahabatnya jika Abu orang paling baik yang pernah Bulan kenal. Tetapi Liha tidak begitu saja percaya jika tidak melihat nya sendiri. Wajar, sebab Liha belum pernah saling mengenal pria yang selalu dipanggil Ustadz itu, hingga kini menjadi suaminya.
"Astagfirrullah..." Liha istighfar karena sudah berprasangka buruk. Liha pun mencoba untuk tidur.
***********
Di apotik tepat jam 12 malam, Abu membuka mata, kala telinganya mendengar suara berisik. Ia menoleh sumber suara di sofa sebelah, ternyata Udin masih main gim disana.
"Astagfirrullah... jam berapa ini?" Ia melirik jam tangan, matanya melebar kala waktu sudah terlalu larut.
"Kakak kenapa, sampai kaget gitu?" tanya Udin, menghentikan main gim, beralih menatap Abu yang sudah bangun cepat. Sebab sudah tidak aneh bagi mereka jika terlalu malam menutup toko obat, tidak jarang menginap di apotek. Tetapi kali ini Udin menangkap penyesalan di wajah Abu.
"Aku harus pulang Din" Abu beranjak ke kamar mandi. Tidak lama kemudian kembali dengan wajah basah tampak selesai mencuci muka.
"Nggak usah pulang Kak, sudah tengah malam kok, kakak kenapa sih?" selidik Udin.
"Anak Istri aku menunggu Din" ucap Abu ambil kunci motor lalu keluar.
"Hahaha...kak Abu nglindur, hahaha..." Udin terbahak-bahak mengejar langkah Abu sambil menahan lengan pria yang sudah seperti kakak sendiri itu.
"Awas Din! Aku terburu-buru" Abu melepas tangan Udin, yang menahan langkahnya.
"Kakak jangan pergi Kak, bisa bahaya, Kak Abu sedang nglindur" cegah Udin mengejar hingga parkiran motor.
"Ada apa Pak?" tanya satpam yang menjaga apotek.
"Tidak apa-apa Pak," jawab Abu kemudian starter motor lalu ngebut, meninggalkan Udin yang masih bengong. Sepertinya Kak Abu tidak mengigau tetapi mengapa tadi menyebut anak istri?
Tidak mau ambil pusing, Udin masuk ke dalam kemudian tidur. Besok pagi baru akan Udin tanyakan lagi.
Sementara Abu memperlambat laju motornya sebab jalanan cukup lengang. Jika tidak ia kontrol, mengendara tengah malam begini bisa berbahaya.
Tak lama kemudian Abu akhirnya tiba di rumah, mendorong pagar, dan membuka garasi, memasukan kendaraan roda dua itu. Lalu menutup pagar kembali.
Abu bergegas membuka kunci pintu doplikat agar tidak mengganggu tidur Liha dan putri sambungnya. Namun tidak bisa, lantaran di dalam masih ada kunci yang menggantung.
Tok tok tok
Abu memutuskan mengetuk pintu, tiga kali ketukan terdengar langkah kaki. Abu menarik napas panjang akan segera minta maaf karena sudah menyadari kesalahanya.
Ceklak!
__ADS_1
Pintu pun terbuka. Muncul wanita cantik, tertangkap wajah si wanita sedang tidak baik-baik saja.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsallam..."
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada suami Liha mencium punggung tangan Abu. Sebelum akhinya balik badan tanpa berkata-kata.
"Liha... maaf. Aku..." Abu tidak melanjutkan ucapanya karena Liha sudah menjauh dan masuk kembali ke kamar.
Abu pun menyusul ketika melewati meja makan ia baru ingat jika tadi pagi berjanji kepada Liha akan makan siang bersama.
Abu membuka penutup saji, tampak hidangan masih belum di sentuh, rasa bersalah mendominasi. Terbersit keinginan untuk mengajak Liha makan, bersamaan dengan langkah kaki nya menuju pintu kamar.
"Liha... kita makan yuk... kamu pasti lapar?"
Tok tok tok.
Tidak ada sahutan dari dalam, Abu mengurungkan niatnya daripada membangunkan Ais.
Abu menyimpan masakan ke dalam kulkas baru kemudian masuk ke kamar sendiri. Mandi itulah tujuanya, walaupun hampir dini hari rasanya badanya lengket sekali.
Abu pun akhirnya tidur selama dua jam karena jam 4 pagi ia bangun, mandi dan bersiap-siap berangkat ke masjid.
Dengan mengenakan surban dan sadjadah yang tersampir di pundak. Sungguh luar biasa keren pria itu. Hanya wanita bodoh yang menolak pesonanya termasuk Rembulan dan Liha. Dengan langkah lambat agar tidak mengganggu tidur istri dan anaknya Abu berangkat ke masjid.
"Assalamualaikum wr wb..." Abu mengucap salam kepada tiga bapak yang berada di masjid.
"Waalaikumsalam..." jawab ketiga bapak. Belum banyak jemaah yang hadir karena adzan subuh belum berkumandang.
"Bang Abu katanya pulang kampung, kapan kembali kesini?" tanya pak haji.
"Tadi pagi Pak haji..." Abu menjabat tangan ketiga sesepuh itu.
"Pak rt, saya bermaksud silaturahmi ke rumah Bapak, kapan Bapak ada waktu?" tanya Abu.
"Saya ini pengangguran sukses Bang Abu, kapan pun Anda akan datang saya selalu di rumah," pak rt terkekeh.
"Ada apa Bang Abu? Sepertinya penting sekali?" pak haji menimpali.
"Saya pulang kampung kemarin sudah menikah dengan tetangga pak haji, jadi saya bermaksud mengadakan syukuran agar tidak terjadi fitnah," Abu bermaksud memperkenalkan Liha kepada warga sekitar.
__ADS_1
"Oh, ide yang bagus, selamat Bang Abu" ketiga bapak itu menjabat tangan Abu. Mengakhiri perbincangan karena sudah tiba waktu adzan subuh.
Dengan suara memukau Abu mengumandangkan adzan subuh.
*********
Di rumah, Setelah sholat subuh Liha menggulung baju piama hingga siku, dan menggulung celana hingga selutut. Dengan papan penggilesan Liha mencuci pakaian.
"Liha... kamu disini? Pantas... aku mengucap salam tidak kamu jawab," kata Abu lembut.
"Tidak mendengar" jawab Liha pendek.
"Kamu tidak usah mencuci Liha... biar aku saja yang mengerjakan," Abu berjongkok di belakang Liha.
Liha tidak menjawab tetap menggilas pakaian tanpa menoleh ke belakang.
"Maaf Liha... kemarin siang aku tidak sempat pulang, soalnya apotek sedang ramai, jadi aku membantu Udin" Abu juga menceritakan tadi malam kelelahan hingga akhirnya ketiduran di apotek. Namun Liha diam membisu.
"Ya sudah, aku hangatkan masakan kamu terus nanti kita sarapan bareng" Abu beranjak.
"Sudah basi kali!" ketus Liha.
"Tentu tidak Liha, sudah aku masukan ke kulkas kok"
Abu menghangatkan masakan. Liha melanjutkan mencuci. Beberapa saat kemudian Abu mencuci piring bersamaan dengan Liha yang baru selesai menjemur pakaian tentu belum ada matahari. Namun setidaknya cucian pun tiris.
"Biar saya yang mencuci piring," Liha berdiri di samping Abu yang sedang menggosok penggorengan dengan sabut.
"Tidak usah Liha, kamu kan sudah capek mencuci pakaian, terimakasih ya, kamu sudah mencuci pakaian kotor aku," Abu tersenyum melirik Liha di samping baru kali ini mereka berdekatan.
Abu menghentikan tanganya menggosok penggorengan. Menatap lekat wajah putih kemerahan, bulu mata lentik tanpa maskara, hidung mancung, dan bibir merah alami. Jika pria menatap Liha pasti tidak menyangka, bahwa sudah mempunyai anak.
Deg deg deg
Jantung Abu berdegup kencang.
Liha menyadari jika Abu menghentikan tanganya menggosok penggorengan. Liha mendongak menatap wajah Abu yang sedang menatapnya. Liha menunduk kemudian menjauh dari tempat itu bermaksud salin baju yang basah karena mencuci.
Abu tersenyum menatap Liha dari belakang hingga masuk ke kamar.
...BERSAMBUNG....
__ADS_1