
"Aku takut Bi, jika kedua orang tua Imron ingin merebut Aisyah" Liha menatap putrinya yang berlari kesana kemari tidak ingin berpisah barang sejengkal pun denganya.
"Liha... mungkin orang tua Imron ingin bertemu Ais, hanya untuk mengobati rasa kangen pada cucunya, kamu jangan berprasangka buruk dulu" nasehat Abu bijaksana.
"Mengobati rasa kangen? Huh! Kok aneh kedengarannya ya" Liha membuang napas kasar. "Tidak mungkin Bi. Semenjak aku sah menjadi istri Imron, dan kami kontrak rumah petakan. Hingga aku hamil dan melahirkan, bahkan Imron meninggal pun mereka tidak pernah menunjukkan batang hidungnya! Kok bisa, tiba-tiba kangen" Liha sedih mengingat itu, mana ada orang tua ketika anaknya meninggal pun tidak mau hadir.
"Bagaimana aku tidak curiga coba Bi, mau apa lagi dia ngotot ingin bertemu cucu nya jika bukan karena ingin merebut dari aku, dari pembicaraan di telepon yang selalu ketus pun, semua sudah bisa menyimpulkan kok, jika dimasa tuanya merasa sepi lantas berniat merebut Ais dari aku," Liha kesal sekali.
"Tidak semudah itu Liha... kamu itu ibunya, anak di bawah umur tidak boleh dipisahkan dari ibu kandungnya" Abu menenangkan istrinya.
"Tetapi mereka banyak uang Abi... yang aku khawatirkan beliu akan leluasa bertindak" Liha menjambak rambutnya gusar.
"Liha... kamu tidak sendiri, sekarang ada aku yang akan melindungi kalian" Abu berkata sungguh-sungguh.
"Terimakasih" Liha menoleh Abu, mata teduh suaminya selayaknya air yang meneduhkan siapapun, termasuk dirinya.
"Umma... ada telepon" kata Ais dari kamar dalam keadaan pintu terbuka.
"Tolong dibawa kesini sayang..."
"Ya, Umma..." Ais ambil handphone yang masih bergetar, berlari-lari kecil menghampiri Abi dan Umma, kemudian menyerahkan benda tersebut. Ais langsung duduk di pangkuan Abu tanpa permisi.
"Bi... mantan mertua aku" Liha seolah minta pendapat apa yang harus dilakukan.
"Angkat saja" Abu menempelkan jempol dan telunjuk antara dagu dan telinga. "loudspeaker" sambung Abu tentu ia ingin mendengar apa yang mertua Liha bicarakan sebab menyangkut Aisyah.
Liha menggangguk kemudian menggeser tombol hijau.
📞 "Haĺlo" suara tegas di seberang telepon.
"Assalamualaikum..." Liha menjawab sopan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..."
"Aslihah, kenapa kamu tidak segera telepon saya, bukankah kamu tadi siang sudah berjanji akan menjawab permintaan saya!" Tegas wanita paruh baya, tadi siang meminta Liha ingin bertemu dengan cucu nya. Tetapi Liha beralasan akan telepon balik setelah berunding dengan suami barunya, tetapi di tunggu-tunggu Aslihah tidak segera menghubungi.
Liha melirik Abu. Abu mengangguk membolehkan Liha bertemu dengan mantan mertuanya.
"Baik Ma, tetapi saya minta, Mama mau menunggu waktu saya libur kerja dulu, IsyaAllah saya berjanji akan bertemu Mama. Atau begini saja, Mama datang saja sekarang ke rumah" pinta Liha bicara baik-baik.
"Tidak bisa, besok pagi saya tunggu di mall xx, karena waktu saya di Indonesia tidak banyak" perintah wanita itu setengah memaksa.
Liha menoleh Abu kembali. Abu lagi-lagi mengangguk menyetujui.
"Baik Ma" Liha menutup handphone karena si penelpon sudah memutus sambungan.
"Sekarang kamu tenang saja Liha, besok pagi kamu aku antar kesana menemui mantan mertua kamu," Abu mengakhiri perbincangan karena sudah tiba waktu adzan magrib.
Abu kemudian berangkat ke masjid, sambil berjalan ia pun sebenarnya resah memikirkan Ais. Abu akan berusaha melindungi anak sambungnya itu bagaimana caranya. Mendengar perbincangan yang selalu ketus dari mantan mertua Liha. Abu bisa menyimpulkan jika mantan mertua Liha tidak bersahabat.
Jari telunjuk Liha mengusap pipi putrinya hingga tangan kekar merangkul tubuh Istri nya dari belakang. "Sudah malam Liha... jika terus begini, nanti kamu malah sakit. Kamu tidak percaya denganku, jangan terlalu risau semua bisa kita rundingkan dengan matang"
"Iya Bi" Liha lantas menarik selimut, tidur dalam pelukan Abu.
Malam berganti pagi sebelum menemui mantan mertuanya Liha memutuskan ke apotek dulu. "Udin... maaf ya, kamu jadi sendirian lagi menjaga apotek. Tetapi aku berjanji ingin urusan ini cepat selesai dan kembali kesini" tutur Aslihah.
"Jangan khawatir Liha... aku akan berusaha sebisa mungkin" jawab Udin saat menyerahkan beberapa kwitansi kepada Liha.
"Terimakasih Din, kamu yang terbaik" Liha tersenyum.
Liha bekerja sampai jam 10 pagi, kemudian hendak berangkat ke mall seperti yang dijanjikan mantan mertuanya.
"Kita mau kemana Abi? Jalan-jalan ya?" Ais yang belum mengerti apa-apa merasa senang pergi bersama Umma dan Abi nya naik motor, yang anak itu tahu adalah jalan-jalan.
__ADS_1
"Betul, kita akan jalan-jalan" Abu membantu Ais naik ke atas motor duduk di depan. Jika Ais sedang senang. Tentu berbeda dengan wanita yang duduk di belakang Abu, ia merasa gelisah.
"Liha... Jangan murung begitu..." Abu mengingatkan Aslihah, menatap dari kaca spion.
"Aku deg degan Bi" lirih Liha.
"Yang sabar..." pungkas Abu. Tidak sampai 10 menit mereka sudah tiba di mall, yang dijanjikan oleh bu Citra istri Chandra orang tua Imron.
"Katanya beliu mau menunggu di sebelah mana Liha?" Abu mengedarkan pandangan.
"Katanya di cafe mall ini Bi" jawab Liha yang sejak tadi pikiranya kemana-mana. Sambil menggendong Aisyah, Abu menggandeng tangan Liha berjalan menuju cafe mall.
Tiba di cafe, Liha mencari sosok Citra namun diantara pengunjung tidak ada wanita tersebut. "Coba kirim pesan saja Liha, tanyakan di sebelah mana beliau berada" saran Abu.
Liha mengangguk ambil handphone di dalam tas, membuka WA ternyata Citra sudah menulis pesan, beliau berada di lantai atas yang dipesan hanya untuk pribadi.
"Di atas Bi" Liha segera naik tangga menuju lantai atas, ternyata cafe tersebut berada di rooftop sambil menikmati pemandangan. Tampak wanita rambut tergerai ikal terlihat dari belakang, dari postur tubuh nya Liha sudah bisa mengenali kemudian menghampiri.
"Permisi..." sapa Liha dari belakang.
Wanita itu menoleh perlahan hingga pandanganya tertuju kepada tiga sosok yang di tunggu. "Aslihah..." kata Citra tatapanya tertuju kepada anak dalam gendongan Abu, anak cantik foto kopi Imron ketika Imron masih bayi berada di depanya. Citra merasa jatuh cinta kepada cucu nya itu. Hingga seberapa detik kemudian saling diam pandangan Citra beralih kepada pria yang menggendong, yang terakhir kepada wanita cantik yang tak lain adalah Aslihah.
"Silahkan duduk" Citra menunjuk kursi yang mengelilingi meja berbentuk bulat.
"Mama apa kabar?" Tanya Liha sopan salim tangan menyembunyikan kekhawatirannya.
"Seperti yang kamu lihat Aslihah" Citra tersenyum palsu.
"Liha... kamu ditinggal Imron baru selama satu tahun, rupanya sudah menggandeng pria lain, cek, cek, cek" Citra tersenyum masam.
...BERSAMBUNG....
__ADS_1