Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Pulang kampung.


__ADS_3

PoV Sumidah.


Gila-gila, gila. Mengapa patah hati sesakit ini? Selama ini aku tergolong wanita kuat, kalau kata temanku ketika SMK aku disebut wanita depresi melankolik, itu karena aku sulit menangis, tetapi mengapa patah hati bisa menyebabkan aku menangis sepanjang malam?


Aku juga dijuluki wanita boyish. Mungkin ini alasanya Abu tidak menyukai aku, dan mungkin juga karena penampilan aku yang identik dengan warna pakaian yang gelap, tidak suka aseksoris, muke up seperti wanita kebanyakan.


Padahal selama mengenal Abu, aku mulai merubah sedikit penampilan agar bisa mengimbangi pria alim itu, walaupun justeru malah bukan seperti diriku sendiri.


Aku wanita yang tidak senang berlama-lama di depan cermin, memilih baju yang ribet. Lebih senang tampil apa adanya mungkin ini alasan para pria hanya menganggap aku sahabat. Selama ini aku banyak bergaul dengan pria jika di bandingkan dengan wanita. Namun selama ini aku belum pernah jatuh cinta kecuali dengan Abu. Selama bersahabat dengan pria, aku belum pernah yang namanya bertengkar kecuali pria tengil yang sering membuat aku kesal itu. Kata-kata konyol itu memang cirihas aku, tetapi jika pria itu sendiri sudah memahami aku, mereka akan nyaman bergaul denganku.


Dari nama pun kata Ambu (Ibu) beliau sudah salah memberi nama. Karena tidak tahu hanya asal memberi nama, ternyata nama Sumidah mempuanyai arti (Tidak Sempurna) Nah, nama adalah doa hingga aku tumbuh menjadi wanita yang berbeda dengan yang lain. Siapa yang mau seperti ini? Tentu aku tidak mau. Namun entahlah hidupku sudah enjoy dengan keadaan begini.


"Mau kemana gais?" tanya pria berpenampilan maco di sebelah aku. Aku sampai tidak menyadari jika aku duduk satu kursi dengan seorang pria, karena aku memilih duduk di pinggir kaca menatap sawah-sawah di pinggir jalan.


"Pulang" jawabku singkat.


"Pulang kemana?" cecar nya.


"Ke rumah" jawabku asal, padahal aku tahu apa maksud Dia, namun kali ini aku sedang tidak mau berbasa basi.


"Barang kali kita satu arah, kan kita bisa barengan kalau sudah turun dari bus ini," ucapnya. Ya. Saat ini aku memang sedang dalam bus perjalanan pulang ke Tasik.


"Ke Tasik" jawabku ogah-ogahan.


"Iya gais, semua orang tahu kalau bus ini jurusan tasik, tetapi dimana Tasik nya?" Pria ini tertawa. Lama-lama pria ini asik juga bisa menghibur, kami pun akhirnya ngobrol. Begitulah sebenarnya aku lebih mudah cepat bergaul dengan laki-laki, kecuali si tengil.


"Kamu di Jakarta tinggal dimana? Kita kan satu kampung nih, berdekatan pula, siapa tahu kita bisa silaturahmi" rupanya pria ini tidak mudah menyerah ada saja caranya ingin berkenalan. Namun tentu aku tidak mungkin memberikan alamat yang bukan rumah aku.


"Atau gini saja, jika kamu keberatan memberi alamat, kita tukar nomor hp saja"


Hadew... cowok ini rupanya tidak kehabisan akal. Aku merogoh tas slempang ambil handphone yang aku beli seken dari salah satu teman, ketika pulang kampung. Namun aku baru sadar jika handphone ini mati. Wajar handphone jadul baru di charge belum ada enam jam sudah mati.


"Saya nggak hafal nomornya hp saya mati soalnya" jawabku sambil menekan hp siapa tahu bisa menyala tetapi ternyata tidak bisa juga.

__ADS_1


"Yah... sayang sekali, kalau gitu kamu simpan nomor saya saja," pria itu ambil pulpen dari saku merobek ujung bungkus rokok kemudian menulis nomor. Selama menulis aku perhatikan pria ini tampan juga. Alaah... dasar kamu Midah! Baru juga patah hati sudah jelalatan. Rutukku dalam hati.


"Terimakasih, nanti kalau hp saya sudah nyala, saya hubungi," Aku masukkan robekan kertas rokok ke dalam tas.


Tek tek tek


"Terminal-terminal" kondektur bus mengetuk pintu dengan uang logam, kemudian aku segera turun. Pemuda itu pun mengikuti dari belakang.


Tiba di pinggir jalan aku kebingungan hendak memesan ojek online menuju rumah aku namun tidak ada hp.


"Kita kan sama-sama dari desa xx, berarti kita bareng saja ya, saya sudah pesan taksi kok" ajak pria ketika berkenalan bernama Junaedi itu rupanya tulus.


"Tapi..." jawabku ragu. Masa sih aku satu taksi dengan pria yang belum aku kenal? Pikirku.


"Ayo, tidak usah banyak berpikir, jika kamu ragu, kamu boleh pegang ktp ini" Junaedi tidak main-main memberikan ktp yang dia ambil dari dompet.


Taksi pun berhenti di depan kami, tidak ragu lagi aku segera numpang taksi tersebut. Kami duduk bersebelahan, hingga akhirnya aku tiba di depan gang.


"Saya turun disini Jun, terimakasih atas tumpangnya" ucapku.


"Boleh"


Aku segera turun dari taksi masuk ke dalam gang, rumahku tidak jauh dari sini.


Tok tok tok


"Assalamualaikum..."


Aku tiba di rumah sederhana, rumah yang dulu hanya bilik, sekarang sudah aku pasang batako. Rumahku ini di kelilingi sawah jika tidak di tembok kasihan Ambu, pasti kedinginan setiap malam.


"Waalaikumsalam..."


Suara Ambu dari dalam.

__ADS_1


"Sumi... anak Ambu... kumaha damang?" Ambu memelukku erat. Beliau jika bicara dengan bahasa sunda yang kental.


"Baik Ambu..." Aku balas pelukan nya. Satu menit kemudian Ambu melepas.


"Kamu kenapa, badanmu jadi kurus begitu?" Ambu menekan kedua pipiku.


"Tidak apa-apa Ambu" jawabku. Padahal mau mencapai berat badan edeal seperti ini aku bersusah payah diet ketat. Ya... semua ini aku lakukan demi Abu, tetapi pria itu. Ah! Jika ingat aku kesal sendiri.


"Duuuh... anak Ambu teh geulies pisan, Ambu seneng. Awewe mah kudu kitu, pakai hijab jadi kan perempuan banget," Ambu memuji. Tentu Ambu ingin aku tampil seperti wanita di daerah aku yang rata-rata berhijab.


"Ini juga kadang-kadang Mbu, kalau lagi eling saja," jawabku santai.


"Heem... kamu ini" Ambu melepas topi yang masih menempel di kepalaku. Aneh memang walaupun berkerudung aku masih mengenakan celana jins, kaos, dan topi.


"Sekarang kamu makan ya... kamu pasti lapar, Ambu masak pepes ikan cere kesukaan kamu," kata Ambu memeluk pundak, mengajakku ke dapur. Tiba di dapur benar saja pepes ikan cere sudah di garang dan sudah tertata rapi di meja dapur. Ikan cere adalah; Ikan kecil-kecil yang boleh nanggok dari sawah, lebih tepatnya adalah ikan teri.


"Anda sama Endar belum pulang Mbu?" tanyaku, seraya melungguhkan bokong di kursi.


"Belum, sebentar lagi mereka pasti pulang"


Suhanda yang biasa dipanggil Anda adikku yang kedua, saat ini masih SMK kelas tiga. Sementara Suhendar yang dipanggil Endar kali ini kelas tiga SMP. Kedua adikku mereka sekolah di sekolah negeri, alhamdulillah, aku hanya membantu biaya transport setiap hari dan uang jajan. Beginilah sebagai anak pertama aku lah yang berperan sebagi tulang punggung. Sebagian gajiku aku serahkan kepada Ambu.


"Ayo kita makan dulu, nanti biar adikmu menyusul" titah Ambu.


Kami makan siang berdua. Jujur, sejak kemarin aku belum makan ditambah lagi menu lauk pepes cere ini jarang aku temui, kecuali pulang seperti sekarang. Aku makan dengan lahap sampai nambah.


Aku berbeda dengan orang kebanyakan, jika kesal lantas tidak napsu makan. Tetapi aku justeru kalap, makan yang banyak mengantuk, kemudian tidur. Biasanya bangun tidur sedikit lebih tenang.


"Oh iya Sumi, kenapa kamu pergi tidak pamit? Kata bibimu, di Jakarta semua kebingungan mencari kamu," kata Ambu.


Deg.


Aku menjadi ingat belum mengabari Non Bulan, dan juga bibi. "Nanti kalau adik-adik pulang sekolah, aku pinjam hp Mbu, mengabari bos,"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2