Ayah Untuk Aisyah

Ayah Untuk Aisyah
Masuk rumah sakit.


__ADS_3

Kita tinggalkan Abu yang sedang menggarab lahan sawah. Lalu sekarang kita lihat di rumah Aslihah. Benar apa yang dikatakan Ulum, bahwa ternyata sudah ada tiga pria yang melamarnya. Kendati demikian, Aslihah tidak menerima satupun diantara mereka.


"Maafkan kami dek... saat ini Liha sudah ada calon," tolak bu Indah secara halus.


"Calon Bu, siapa? Apakah orang Jakarta?" Cecar pria yang melamar.


"Bukan... kali ini orang daerah sini kok," bu Indah menjelaskan tetapi tidak mengatakan bahwa pria itu adalah Abu. Bu Indah tahu Abu belum memberi jawaban yang jelas mengenai perjodohan ini. Namun, bu Indah menaruh harapan besar kepada Abu.


"Baik Bu Indah... saya pamit, maaf sudah mengganggu waktunya" pria itupun meninggalkan rumah Aslihah.


Sementara Aslihah memilih tidak menemui orang-orang, lebih baik memasak di dapur.


"Umma..." panggil Ais saat ini sedang duduk di dapur. Maksudnya mau membantu Liha, tetapi justeru ******* tomat hingga berantakan.


"Apa sayang... ya Allah... kok tomatnya di hancurkan," Liha berjongkok di depan Ais.


"Umma... mana Om? Kok nggak datang-datang," Ais justeru menagih janji. Sebab sudah tiga hari ini Ais menanyakan Abu, tetapi Liha hanya alasan saja.


"Sudahlah sayang... kayak nya Om sudah pulang ke Jakarta dech" Liha terpaksa berbohong, dan terus berbohong, agar anaknya tidak mencecar pertanyaan.


"Hiks hiks hiks..." Ais menangis. "Umma... kita susul Om ke Jakarta. Ayo Umma..." Ais menarik lengan Liha.


Jika sudah begini Liha hanya ikut bersedih.


"Kenapa sayang... sama nenek yuk..." bu Indah membujuk cucunya.


"Nenek... Umma nggak mau di ajak menyusul Om Abu..." adu nya sambil menangis.


"Sekarang ikut nenek kasih makan kambing yuk..." nenek menggendong Ais mengajaknya keluar. Melihat kambing di kandang tetangga sebelah.


Liha menarik napas berat bersandar di lemari dapur. "Kenapa kamu secepat ini pergi Bang Imron, meninggalkan aku dan anakmu..." sesal Liha menitikan air mata. Ia tahu yang ia lakukan ini salah, karena telah meratapi kematian suaminya. Sebenarnya Liha ingin menghapus ingatan tentang kenangan indah dengan suami tercinta, tetapi kenapa sulit begini?


Liha melanjukan memasak satu jam kemudian, masakan matang, lalu mencuci piring. Mendengar langkah kaki mendekat, Liha menoleh menghentikan kegiatanya. Menatap sang bunda seperti tidak baik-baik saja.


"Sampai kapan kamu mau keras kepala seperti ini Liha?!" ketus bu Indah seraya menuang air dari teko kemudian meneguk nya setelah duduk di kursi.


"Ais kemana Bun?" bukan menjawab pertanyaan bunda. Liha justeru balik bertanya.


"Ais bobo," jawab bu Indah kemudian beranjak merasa kecewa dengan putri nya. Mengapa Liha hanya memikirkan diri sendiri? Tidak peka terhadap anak nya yang butuh figur seorang ayah.


Dari pagi hingga malam bu Indah lebih banyak mendiamkan Liha. Jika cucunya menanyakan Abu, Indah menghibur dengan caranya sendiri. Bu Indah juga yang menidurkan Liha sebelum akhirnya beranjak pindah ke kamar sendiri.

__ADS_1


"Bun.." Liha mengejar bu Indah, tidak kuat didiamkan ibu nya seperti sekarang. Dipeluknya tubuh sang bunda dari belakang. Liha menempelkan pipi ke badan bunda masih ingin dimanja. Bu Indah memejamkan mata, masih duduk di pinggir tempat tidur. Ia merasakan bulir air mata Liha yang membasahi badannya.


Bu Indah balik badan membalas belaian kasih sayang putrinya. "Kenapa..." lirih bu Indah.


"Aku bukan tidak memikirkan Ais Bun, tapi aku sampai saat ini masih belum bisa melupakan Bang Imron" tutur Liha di sela-sela isak tangis.


"Astagfirrullah... Liha... kamu harus segera bertaubat Nak. Sikap kamu itu sama saja meratapi berlebihan suami kamu yang di takdirkan hanya sampai disini bisa menemani kalian. Dan itu haram Liha," bu Indah merenggangkan pelukan menatap lekat wajah putirnya yang sedang menyusut air mata.


"Liha... sadarlah Nak, dalam hidup ini ada rute, dari lahir, menjadi bayi, dan anak seperti Ais, nanti akan tumbuh menjadi remaja, lalu dewasa"


"Dan pada akhirnya Allah akan memanggil siapapun mahluk hanya menunggu giliran, termasuk kita. Kamu pasti tahu lebih, daripada Ibu kan Nak, pasti kita akan ditinggal dan meninggalkan orang-orang yang kita sayang" nasehat bu Indah panjang lebar.


"Liha... lihat Ibu, apa bedanya aku dengan kamu, kita sama-sama di tinggal suami. Tetapi bunda tidak mau berlarut larut. Karena bunda harus bersemangat demi kamu dan pada akhirnya kamu tumbuh menjadi remaja pintar, bahkan sekarang sudah menjadi Ibu"


"Tetapi kenapa Bunda sendiri tidak mau menikah? Pasti karena memikirkan Ayah kan," potong Liha.


"Bukan itu alasanya Liha... Ayah kamu meninggalkan bunda ketika kamu sudah SMK, bunda pikir kamu sudah cukup memahami itu. Sementara Ais? Anak kamu itu ingin seperti teman-temannya Liha... punya ayah yang bisa memanjakan dia, dan bunda pikir hanya Abu orang yang tepat" nasehat bu Indah.


"Tapi Liha malu Bun... kenapa juga bunda nekat menjodohkan kami, aku ini kan perempuan Bun" Liha merasa tidak pantas jika pihak perempuan terkesan mengejar-ngejar.


"Kata siapa bunda mengejar-ngejar, Liha... pak haji Umar sendiri kok yang datang kesini melamar kamu" jujur bu Indah.


"Ais..." Aslihah dan bu Indah bergegas menghampiri Ais yang berdiri di tengah pintu. Ais rupanya bangun kala di sebelah tidak ada Umma maupun nenek.


"Ya Allah... badan Liha panas sekali Bun," Aslihah merasa panik.


"Ya Allah... benar Liha," bu Indah mengusap dahi cucu nya.


"Sayang..." Aslihah menggendong Ais mengajaknya ke kamar. Kemudian bu Indah segera ambil kompres.


***********


Pagi hari setelah subuh tampak seorang pemuda sedang komat kamit berdzikir di masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Ia adalah Abu, bersama para jama'ah subuh lainya. Jempol telunjuk memutar-mutar tasbih hingga para jama'ah subuh lainya pulang ke rumah masing-masing.


Hingga beberapa menit kemudian ia pun akhirnya beranjak mengenakan sandal dan akhirnya pulang.


"Assalamualaikum..." salam Ulum ketika berpapasan dengan Abu di depan masjid.


"Waalakumsalam...


"Kamu tidak shalat subuh ke masjid Lum?" tanya Abu.

__ADS_1


"Sekarang baru mau shalat Ustadz," Ulum tergesa-gesa.


"Kamu kesiangan?" Abu heran biasanya Ulum rajin ke masjid.


"Tidak Ustadz... saya baru saja memulangkan mobil yang kami sewa tadi malam" tutur Ulum. "Anaknya Kak Liha kan masuk rumah sakit," tutur Ulum.


"Apa... Ais sakit?" Ulum terperangah.


"Betul Ustad, badanya tadi malam kejang-kejang," Ulum menuturkan. Ketika jam 9 malam melewati jalan depan rumah Aslihah. Ulum melihat Lihah sedang panik menangis sambil menggendong Aisyah. Di temani bu Indah yang akan berjalan kaki menuju rumah sakit.


Ulum segera membantunya mencari mobil yang bisa dipinjam. Beruntung tiba di depan kecamatan ada salah satu warga yang meminjamkan kendaraan.


"Terus bagaimana keadaan Ais Lum?" tergambar jelas rasa khawatir di wajah Abu.


"Saat ini saat belum tahu," pungkas Abu. Ia segera akan shalat karena waktu mendadak.



Abu Miftah.



Aslihah.



Aisyah.



Ananta



Sumidah.



Komaruddin.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2